Intercessor Prayer (Pendoa Syafaat)

Pendoa syafaat itu mengajukan permohonan-permohonan kepada Tuhan bagi kebaikan hidup orang lain (pengantara), beberapa contoh di Alkitab yaitu: Daniel, Musa, Ester, Abraham, bahkan Tuhan Yesus. Tokoh-tokoh yang dipanggil Tuhan sebagai pendoa syafaat hidupnya penuh pengorbanan.

Keluaran 32:32 Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu — dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Doa Musa ini mencerminkan pengorbanannya sebagai pendoa syafaat). Bentuk pengorbanan lain dilakukan oleh Abraham ketika ia tawar-menawar demi keselamatan penduduk Sodom dan Gomora.

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Yesus mengorbankan hidupnya demi keselamatan umat manusia). Hal serupa dilakukan Ester di mana ia memberanikan diri menghadap raja tanpa dipanggil (mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan bangsanya).

Berdoa dan berdoa syafaat adalah hal yang berbeda. Semua orang bisa berdoa tetapi tidak semua orang dipanggil sebagai pendoa syafaat. Seorang pendoa syafaat secara otomatis memiliki belas kasih atas jiwa-jiwa yang ‘berkebutuhan khusus’ meskipun tidak mengenal mereka. Kita akan semakin exciting dengan hal tsb, bukan terbeban.

Pendoa syafaat memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan dan mendapat pewahyuan khusus tentang orang-orang yang didoakan serta menyampaikan pesan Tuhan tsb dengan tepat. Disinilah karunia hikmat dan berkata-kata dengan pengetahuan kita berfungsi (tidak semua hal harus diberitahukan kepada orang-orang). Tuhan beri kita solusi atas permasalahan orang lain, dan kita perlu peka akan hal ini. Sebagai pengantara antara jiwa-jiwa dengan Tuhan, kita harus membawa masalah mereka kepada Tuhan dan membawa pesan khusus dari Tuhan kepada mereka. Namun kita harus hati-hati dengan roh kesombongan ketika kita merasa ‘dipakai’ Tuhan. Bagian kita hanya berdoa, bukan ikut campur menyelesaikan masalah orang-orang tanpa memperhatikan privasi mereka.

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah maksud Tuhan di balik setiap peristiwa. Tidak semua “hal yang menyenangkan” berasal dari Tuhan, mungkin Tuhan izinkan “hal tidak menyenangkan” terjadi pada kita agar kita terhindar dari “jebakan iblis” yang berselubung “hal yang menyenangkan” tsb. Orang-orang yang berpotensi dipakai Tuhan akan selalu dicobai iblis. Disinilah roh yang peka terhadap tuntunan Roh Kudus itu bekerja!

Kita harus sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan dan mendapatkan kepastian dari-Nya. Adalah lelah jika kita hanya berdoa dan berdoa tanpa mendapat kepastian apakah Tuhan akan menjawab doa kita atau tidak. Kita harus mendapatkan solusi dari Tuhan atas setiap doa-doa kita!

Kita harus membuka telinga rohani kita terhadap suara Tuhan dan berjalan dalam ketaatan untuk melakukannya. Yohanes 10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,

Contoh peristiwa: ketika mendoakan seseorang yang sakit jantung, mungkin saja seorang pendoa syafaat merasakan sakit yang dialami orang tsb (bukan mengidap penyakit tsb, tetapi turut menanggungnya). Hal ini sejenis ‘peralihan beban’ yang Tuhan izinkan dialami pendoa syafaat.

Ketika kita mendapatkan sebuah penglihatan, kita harus berhati-hati mengujinya. Jika memang hal tsb dari Tuhan, tentu Ia akan semakin memperjelas hal tsb kepada kita dan meneguhkannya. Jika hal tsb selalu samar-samar, tentulah bukan dari Tuhan.

Advertisements