Pasangan Yang Sepadan

Kejadian 1:27-28 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Pertama-tama, laki-laki dan perempuan harus diberkati dalam pernikahan, kemudian beranakcucu dan bertambah banyak, bukan sebaliknya.

Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Selama masa penciptaan, Tuhan melihat semuanya baik kecuali ketika melihat manusia seorang diri saja. Jadi, pernikahan adalah ide Allah bukan manusia.

Kalimat ‘penolong yang sepadan’ [ezer keneg’do, Ibr.] memiliki arti:

  • Wanita adalah seorang penolong yang tepat bagi pria.
  • Tidak memiliki inferioritas maupun superioritas; wanita itu kedudukannya setara dengan pria.
  • Penolong berarti seseorang yang memberikan dukungan atau kekuatan, yang memungkinkan orang lain mencapai tujuannya.
  • Oposisi (lawan), yaitu penolong yang berlawanan; berarti seorang istri dapat menempatkan dirinya sebagai penyeimbang dimana pemikirannya harus didengar oleh suaminya, sekalipun berseberangan dengan suaminya.

Kejadian 2:22-25 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Bagaimana menemukan pasangan hidup?

  1. Memulai dari diri sendiri (berdoa – berusaha – bercermin).
  2. Pasangan hidup, pilihan atau ketentuan Tuhan? Pernikahan merupakan pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Tujuan pernikahan adalah proses pengudusan kita di hadapan Tuhan hingga serupa dengan Kristus.
  3. Prinsip pasangan yang sepadan (ezer keneg’do).
  4. Prinsip pasangan yang seimbang: 2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Beberapa tips dalam menemukan pasangan hidup:

  • Ujian waktu.
  • Ujian pertengkaran.
  • Ujian karakter dan sikap dalam hal seksualitas.
  • Suara hati menegur, nafsu seksual bangkit, melepaskan pakaian.
  • Hindari situasi yang menggoda (tentukan standar). Kidung Agung 8:8-9 — Kami mempunyai seorang adik perempuan, yang belum mempunyai buah dada. Apakah yang akan kami perbuat dengan adik perempuan kami pada hari ia dipinang? Bila ia tembok [tidak mudah ‘dimasuki’, punya standar hidup yang kuat], akan kami dirikan atap perak di atasnya [dipandang berharga]; bila ia pintu [mudah ‘dimasuki’, tidak punya standar hidup yang kuat], akan kami palangi dia dengan palang kayu aras [harus dibatasi gerak-geriknya]. Akibat tidak menentukan standar, yaitu: hilangnya damai sejahtera, hubungan dengan Tuhan terganggu, fungsi kita di hadapan Tuhan berkurang, prasangka buruk, kepahitan, hilangnya rasa hormat dan komunikasi, kecenderungan perselingkuhan, kehamilan di luar nikah, hukum tabur tuai.
Advertisements