Mentalitas Kristus

Shalom!

Memiliki mentalitas Kerajaan Surga berarti memiliki pikiran seperti Kristus. Filipi 2:5 berkata “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Ketika kita memberitakan Injil, maka kita harus memberitakan tentang Yesus sebagai Juru Selamat dunia. Yesus telah mengalahkan segala sesuatu bahkan dosa dan maut sebab Ia telah bangkit dari kematian. Menjadi Kristen berarti hidup bagi Kristus. “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.” (Filipi 1:27-30) Gereja adalah ‘jajahan surga’ di bumi, raja kita adalah Kristus sehingga kita harus tunduk di bawah pemerintahan surgawi dengan hidup seperti Kristus. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Filipi 3:20) Kita harus berdiri teguh dengan memegang janji Tuhan sehingga ketika ‘musuh’ menyerang kita, kita tidak kompromi lagi dengan dunia yang membawa kita kepada kebobrokan di masa lalu. Menjadi Kristen bukan hanya tentang berkat semata tetapi berbicara mengenai suatu kesediaan untuk berdiri teguh sebagai perwakilan Kristus di dunia (mengikuti teladan Kristus dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Kristus sepenuh hati). Memikul salib berarti memikul kematian. Mengikuti Kristus berarti harus bersedia memberikan diri untuk mati bagi Kristus (martir). Itulah mentalitas murid Kristus yang sejati, yaitu memiliki mental bukan hanya sebagai penerima berkat semata tetapi juga ikut menderita bersama Kristus. Filipi 1:6,8,9 berkata “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” Tuhan Yesus tidak merendahkan diri supaya ditinggikan, melainkan agar tujuan Injil terselesaikan yaitu menyelamatkan umat manusia. Itulah mentalitas Kristus, yaitu memikirkan keselamatan orang lain bukan hanya kepentingan diri sendiri, agar nama Tuhan dimuliakan oleh semua umat manusia. “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:4,10,11)

Filipi 2:12-15 berkata “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” Hidup berpadanan dengan Injil Kristus berarti rela berkorban demi melayani orang lain tanpa bersungut-sungut, hidup berbuah bagi Kristus. Ulangan 32:5 berkata “Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.” Tuhan ‘membentuk’ kita selama hidup di bumi agar kita menjadi pribadi yang ‘benar-benar layak’ hidup dalam Kerajaan Surga kelak. Kita harus menjadi saksi Kristus melalui cara kita membawa diri dalam setiap aspek kehidupan kita, itulah bagaimana kita menjadi terang dalam gelap. Mari kita belajar dari teladan tiga tokoh Alkitab berikut:

1)       Paulus. “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” (Filipi 2:17) Mentalitas Kristus selalu berpikir: setiap hal yang saya lakukan adalah untuk perluasan Kerajaan Allah meskipun saya harus menderita.

2)       Timotius. “Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus. Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya.” (Filipi 2:19-22) Mentalitas Kristus selalu memikirkan kepentingan orang lain, bukan hanya dirinya sendiri. Relakanlah diri kita untuk hidup memberitakan Injil agar semakin banyak orang yang diselamatkan.

3)       Epafroditus. “Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah. Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku. Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia. Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.” (Filipi 2:25-30) Kita harus memiliki gaya hidup yang memuliakan Kristus sebagai raja kita dengan mengerjakan keselamatan kita bagi keselamatan orang lain juga. Tuhan akan menghormati orang-orang yang tulus hati melayani-Nya.

karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:2-4)

Advertisements

Change Your Mind, Change Your Life

Shalom!

“Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan [jasmani & rohani] mereka di sana.” (Matius 19:1-2) Mungkin secara jasmani kita sehat, namun bisa saja kita sakit secara rohani. Bagaimana menerima kesembuhan rohani? Change the way you think, so you can change the way you live. Gereja dipanggil keluar dari gelap menuju terang Kristus yang ajaib. Menjadi Kristen adalah mengikuti Yesus setiap hari, bukan sekedar ‘tiket’ untuk masuk surga. Jika kita mau disembuhkan, kita harus rela menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang dituntun oleh Roh Kudus. Berikut adalah beberapa kelompok orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus untuk disembuhkan, yaitu:

1)       Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:3) Hal pertama yang mau Tuhan sembuhkan adalah pernikahan. Kekerasan hati menjadi inti permasalahan dalam pernikahan sehingga kita sudah memutuskan untuk ‘tidak mau tahu lagi’ tentang pasangan kita dengan berdalih ‘tak ada penyelesaian’.

2)       Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 19:13-14) Kelompok yang kedua dimana orang banyak bergumul adalah anak-anak. Banyak orang bingung bagaimana mengurus anak-anak mereka yang memberontak. Satu hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan itu semua adalah izinkan anak-anak datang pada Yesus karena itu lebih penting, dibandingkan mereka menghabiskan banyak waktu di luar Tuhan meskipun hal tersebut sepertinya penting dan positif. Biar mereka ada dalam pergaulan di gereja, karena mereka menghabiskan banyak waktu bergaul di luar gereja sehingga lebih banyak kesempatan untuk disesatkan oleh pergaulan dunia. Tetapi jika mereka menghabiskan waktu di gereja, mereka akan terus berfokus kepada Tuhan. Tidak ada gunanya anak-anak kita mendapatkan pendidikan terbaik di dunia tetapi kehilangan keselamatan kekal. Didiklah mereka untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu sehingga mereka tidak murtad ketika menghadapi banyak masalah dalam kehidupan mereka. Anak-anak yang tidak mengenal Tuhan akan mempermalukan orang tua yang melayani Tuhan.

3)       Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Matius 19:16) Kelompok ketiga adalah tentang orang kaya. Orang ini adalah seorang pemimpin yang ternama tetapi ada suatu kekosongan dalam dirinya yang tak bisa diisi oleh apapun. “Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Matius 19:21-22) Ketika kita ikut Yesus, kita bisa menjadi kaya tanpa mengalami kekosongan dalam diri kita, bukan kaya dengan segala permasalahan dalam keluarga yang membuat kita hidup tanpa sukacita. Segala sesuatu ada harganya, ikutlah Yesus dan biarkan Ia menyembuhkan kita.

4)       Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?””(Matius 19:20) Kelompok keempat yang perlu disembuhkan adalah murid-murid Yesus, mereka menginginkan jabatan dan kehormatan karena mereka tidak berpikir apa yang Tuhan Yesus pikirkan (Matius 20:21,22,24). Kingdom mentality is about thinking as Jesus thinks. Pikiran Kristus itu mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati dan menyangkal diri, berkorban bagi Tuhan sehingga kita mengalami hidup yang kekal. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Matius 20:25-26) Ikutlah Yesus dengan ketaatan yang sempurna, percayalah bahwa Ia sanggup melakukan lebih dari yang kita pikirkan atau doakan. Penghalang kita dengan berkat bukanlah masalah tetapi mentalitas kita. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. (Matius 19:29)

The Servant King

Teladan yang dapat kita ambil dari Tuhan Yesus sebagai ‘Raja yang melayani’, yaitu:

  1. Tuhan Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menindas orang lain, melainkan untuk melayani. “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”” (Markus 10:42-45)
  2. Tuhan Yesus melayani dengan semangat. “Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” (Lukas 22:25-27)
  3. Tuhan Yesus rela menjadi hamba tapi tetap bermental raja. “Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”” (Yohanes 6:5-7)

Kingdom Mentality

Shalom!

Sebagaimana Tuhan Yesus naik ke surga, demikian pula Ia akan datang pada kedua kalinya kelak. Di hari Pentakosta, hanya murid Tuhan yang begitu menanti-nantikan janji Tuhan akan pencurahan Roh Kudus-lah yang menerima baptisan Roh Kudus sehingga kehidupan mereka setelah itu pun berubah total dan dimampukan untuk menjadi saksi Kristus yang sejati. Baptisan Roh Kudus hanya terjadi sekali seumur hidup dalam kehidupan orang percaya, namun kepenuhan Roh Kudus harus terjadi secara terus-menerus dalam diri kita.

Kisah Rasul 10:38 berkata “yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” Kata ‘kuasa’ pada ayat tersebut berbicara tentang kapasitas, perkasa, kemampuan, kelimpahan dan kesanggupan. Sebagaimana kuasa Roh Kudus dalam diri Tuhan Yesus, demikian pulalah kuasa tersebut ada dalam diri kita sebab Roh Kudus ada dalam diri kita. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”” (Yohanes 14:12-14) Kita hidup dalam sebuah kerajaan, baik kerajaan realitas yang sekarang ini kita hidup di dalamnya, maupun kerajaan manifestasi (kerajaan 1000 tahun) dimana kita akan memerintah bersama Tuhan kelak. Kita adalah imamat yang rajani, maka kita harus memiliki mentalitas kerajaan. Inilah tandanya bahwa kita memiliki mentalitas kerajaan, yaitu:

1)       Yakin bahwa kita telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. 2 Petrus 1:4 berkata “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima.” Keselamatan memang diterima secara cuma-cuma namun kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan pengorbanan, bersungguh-sungguh dan berwaspada agar tidak disesatkan oleh pengajaran yang ‘meringankan’ arti keselamatan sejati. Keselamatan bukanlah hal yang mudah, pengenalan akan Kristus bukan hanya sebatas pengetahuan manusiawi, karenanya kita perlu Roh Kudus untuk mengerjakan keselamatan kita. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 3:18-19) Sebagai gereja yang dituntun Tuhan untuk merestorasi Pondok Daud, kita harus memperhatikan: hadirat Tuhan, pengurapan dan bahasa Roh. Pengenalan akan Tuhan dimulai dengan kerendahan hati untuk mengakui dosa dan meyakini bahwa kasih-Nya terhadap kita tidak pernah berubah bagaimanapun keadaan kita.

2)       Perbesar kapasitas hati. “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20) Kita memang terbatas tapi kuasa Roh Kudus tidak terbatas, karenanya jangan batasi kuasa-Nya untuk bekerja di dalam kita. “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.” (Mazmur 2:8) Salah satu cara untuk memperbesar kapasitas hati kita adalah dengan memberikan persembahan yang terbaik/berharga yang kita miliki kepada Tuhan, baik itu berupa uang, waktu, doa, dsb. Ketika kita tidak terikat pada sesuatu apapun di dunia ini, maka kita akan melihat bahwa Tuhan tidak akan menahan-nahan berkat-Nya bagi kita. Mari kita teladani Abraham yang taat, setia dan begitu mengasihi Allah lebih dari apapun yang Ia miliki.

3)       Mulut kita harus mengucap syukur dalam segala hal dan atas segala sesuatu, bukan mengeluh, memaki-maki ataupun mengucapkan perkataan yang sia-sia. 1 Tesalonika 5:18 berkata “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Juga Efesus 5:20 berkata “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” Percayalah, ucapan syukur akan mengubah keadaan yang pahit menjadi manis.

Kingdom Mentality

“Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.” (2 Timotius 2:1-7)

Apa yang harus kita teladankan sebagai anak-anak Terang yang memiliki mentalitas Kerajaan Surga?

  1. Penguasaan diri melalui disiplin waktu dan emosi
  2. Kerendahan hati (karena tak ada satu pun dari diri kita yang patut dibanggakan)
  3. Semangat yang terus berkobar, gigih dan pantang menyerah
  4. Rela berkorban bagi Kerajaan Surga seperti Kristus telah mengorbankan nyawanya bagi keselamatan umat manusia