Kesetiaan

Amsal 20:6

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”

Shalom!

Kita beroleh kasih karunia Tuhan karena sebuah kesetiaan. Kesetiaan adalah hal yang mutlak ada dalam segala aspek kehidupan kita karena ketidaksetiaan akan menghancurkan sebuah kesepakatan. Galatia 5:22 menyebutkan bahwa kesetiaan merupakan salah satu buah Roh. Kesetiaan adalah berpegang teguh pada janji, pendirian, patuh dan taat bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Kesetiaan dalam bahasa aslinya menurut Alkitab Perjanjian Lama menggunakan kata ‘emunah’ yang artinya kokoh, tidak tergoyahkan, tidak berubah (steady, truly, truth, fairly). Sedangkan dalam Alkitab Perjanjian Baru kesetiaan menggunakan kata ‘pistos’ yang berarti dapat/layak dipercaya, taat, orang percaya (trustworthy, believe, sure, true). Kehidupan manusia bagaikan sebuah buku, apakah lembar demi lembar isi buku tersebut ‘menarik’ untuk dibaca?

Apa janji Tuhan bagi orang yang setia? Ulangan 28:1 berkata “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.”

Syaratnya agar janji Tuhan tersebut digenapi dalam kehidupan kita, yaitu “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14)

Setia bukan saja dalam hal-hal yang besar namun belajarlah untuk setia mulai dari perkara yang kecil, percayalah bahwa Tuhan memperhatikannya dan janji-Nya untuk mengangkat kita menjadi ‘kepala’ akan digenapi.

Bagaimana akibatnya jika kita tidak setia? Ulangan 32:20 berkata “Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.”

Ciri-ciri orang yang setia, yaitu:

  1. Tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri (consistent). Tetap konsisten di jalan Tuhan dan mencari pertolongan hanya kepada Tuhan. “Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.” (ulangan 5:32-33)
  2. Bertahan sampai akhir (persisten). “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10b)

Kesetiaan harus sempurna (100%), karena kesetiaan yang tidak sempurna berarti ketidaktaatan terhadap Tuhan dan hal tersebut akan mendatangkan kutuk atas kehidupan kita (contoh: Saul, Petrus, Yudas) sedangkan kesetiaan yang sempurna (tetap setia kepada Tuhan meskipun harus mengorbankan nyawa) akan mendatangkan berkat bagi kehidupan kita (contoh: Sadrakh, Mesakh, Abednego, Paulus). Teladan yang paling sempurna akan kesetiaan adalah Tuhan Yesus Kristus yang setia melakukan kehendak Bapa demi kesempurnaan keselamatan kita. Setialah sampai akhir karena mahkota kehidupan akan menjadi upah kita!

Advertisements

Kesetiaan

Wahyu 17:14

“Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”

Shalom!

Firman Tuhan menggambarkan bahwa ukuran kesetiaan akan terbukti ketika kita bertahan sampai akhir. Untuk menjadi seorang pemenang, kita harus fokus menjadi seorang yang setia. Matius 24:13 berkata “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Kata ‘yang bertahan’ dalam ayat tersebut berarti ‘to stay under’ (tetap bertahan meskipun ditempa masalah maupun menerima berkat).

Hal yang harus diperhatikan agar kita tetap setia sampai akhir, yaitu:

  1. Kita harus selalu bergantung kepada Roh Kudus. 1 Raja-Raja 13 mengisahkan tentang seorang abdi Allah dari Yehuda yang mana pada awalnya ia diurapi sedangkan di akhir hidupnya ia tertipu karena tidak peka dengan suara Roh Kudus sehingga ia mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan. Kita harus taat akan tuntunan Roh Kudus dan mempercayakan seluruh kehidupan kita tanpa ragu pada-Nya. Hal yang harus kita lakukan adalah menghormati keberadaan Roh Kudus dalam diri kita dan meminta-Nya untuk memenuhi diri kita dalam sepanjang kehidupan kita. Kita membutuhkan pertolongan supranatural untuk menghadapi kehidupan yang semakin tak tentu ini. It’s all about deep relationship.
  2. Visi adalah benih dari sebuah kesuksesan, tetapi yang membuat kita bertahan dalam kesuksesan adalah karakter Ilahi dalam diri kita. Karakter Ilahi membuat kita berbeda karena memiliki hati yang murni dan tetap bertahan di tengah goncangan hingga pada akhirnya kita akan naik ke level selanjutnya. Nilai seseorang di hadapan Tuhan tergantung dari karakter Kristus yang ada dalam dirinya. Seorang yang memiliki karakter Kristus dalam dirinya akan menghormati semua orang, yaitu menganggap semua orang memiliki nilai yang berharga dan akan memperlakukan mereka seperti Tuhan memandang mereka. Seorang yang berkarakter Kristus, akan peka mendengar tuntunan Tuhan, dalam segala hal ia akan tetap takut akan Tuhan meskipun ia merugi. Bagaimanapun masa lalu kita, ketika kita kini mau bertobat dan memiliki karakter Kristus, Tuhan akan membuat kita ‘bernilai’.
  3. Kasih Bapa menyempurnakan apa yang tidak sempurna dalam diri kita. Dalam Yohanes 21:15, Yesus menghadapi ketidaksempurnaan Petrus dengan berkata “…”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”” Ingat-ingatlah kasih Tuhan dalam kehidupan kita. “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14)