Berjaga-jaga

Mazmur 26:2-3
“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.”

Shalom!

Tanda-tanda zaman memang menunjukan kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat, karenanya kita harus mempersiapkan diri dengan berjaga-jaga dalam menyambut kedatangan-Nya kelak sebab kedatangan-Nya adalah seperti pencuri. Berjaga-jaga itu seperti apa? Berjaga-jaga itu tidak membuat seorang Kristen menjadi ‘aneh’, tidak mau bekerja lagi dan kehilangan harapan hidup di bumi ini. Kita harus memiliki hati yang tulus di hadapan Tuhan dalam berjaga-jaga. Raja Daud berdoa seperti ayat di atas karena ia tahu bahwa hal tersebut membuatnya semakin murni di hadapan Tuhan (mendatangkan kebaikan dalam hidupnya). Itu adalah sikap hati orang yang berjaga-jaga. Ada 3 keuntungan yang kita miliki melalui doa tersebut, yaitu:

  • Ujian justru akan membuat kita ‘naik level’. Tidak ada kenaikan level tanpa melalui ujian, karenanya kita harus siap terima ujian. Tuhan lebih menginginkan karakter kita yang bertumbuh dibandingkan sekedar memberkati kita, karena Ia tahu karakter kita menentukan kapasitas kita untuk menampung berkat-Nya. Menerima berkat di luar kapasitas kita hanya akan menghancurkan kita, karenanya kita harus memiliki respon yang benar dalam menghadapi ujian kehidupan. Cara pandang kita terhadap ujian menentukan apakah ujian tersebut baik atau tidak bagi kita.
  • Ujian membuat kita semakin mengenal Tuhan. Ketika kita mengalami ujian sebenarnya Tuhan sedang menunjukan bahwa Ia berkuasa lebih dari segala masalah kehidupan kita. Ketika kita mengalami janji Tuhan yang selalu setia dalam segala keadaan hidup kita, pastilah kita berani (yakin) menyaksikan perbuatan-Nya yang dahsyat dalam hidup kita. Diperlukan hati yang mengenal Tuhan agar kita bisa kuat di akhir zaman ini, agar kita tidak terpengaruh oleh penyesatan. Karenanya, kita harus mengijinkan ujian terjadi agar kita semakin mengenal Tuhan.
  • Ujian akan membuat kita mengetahui siapa kita sebenarnya, yaitu apa yang sesungguhnya tersimpan di hati kita. 1 Korintus 3:11-14 berkata “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” Kita harus tahu betul dimana posisi kita agar kita tidak mudah tersesat dan membantu kita mengambil keputusan kemana kita harus melangkah. Kita harus waspada agar motivasi hati kita tidak menyimpang dalam melayani Tuhan.
Advertisements

Berjaga-jaga

“Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.” (Wahyu 16:15)

Apa yang harus kita jaga sebagai bentuk pengendalian diri kita?

  1. Hati. Amsal 4:23 berkata “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kita harus menjaga hati kita sesuai Mazmur 119:10-11, “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
  2. Pikiran. Matius 15:19 berkata “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Maka kita harus mensinergikan pikiran kita dengan pikiran Kristus seperti tertulis dalam Filipi 2:5, yaitu: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”
  3. Lidah. 1 Petrus 3:10 berkata “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” Jagalah lidah kita dengan bijak dalam berkata-kata. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10:19)
  4. Pergaulan. 1 Korintus 15:33 berkata “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” You are what you friend and it determines your ‘value’. Gunakan ‘kebebasan’ yang kita peroleh dalam Kristus untuk melakukan sesuatu yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain. “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” (1 Korintus 8:9)