Hidup Bijaksana

Efesus 5:15-17 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Orang arif dan orang bodoh berbeda dalam cara mereka mempergunakan waktu.

ORANG BEBAL
1 Yohanes 2:15-17 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Orang bebal tidak mempergunakan waktunya untuk melakukan kehendak Bapa, melainkan melakukan:
1) Keinginan daging. Galatia 5:19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
2) Keinginan mata, yaitu keserakahan. Contoh: kita bisa meneladani Daud dalam hal pujian penyembahan dan menghadapi proses hidup, tapi tidak dalam hal berumah tangga (Daud memiliki banyak istri, sedangkan anak-anaknya hidup tidak benar).
3) Keangkuhan hidup, yaitu keinginan untuk mendapat pengakuan dari manusia. Contoh: Haman bin Hamedata di zaman ratu Ester.

ORANG ARIF
Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Orang arif mempergunakan waktunya untuk melakukan kehendak Allah, yaitu:
1) Kehendak Allah yang baik, yaitu taat kepada perintah Allah (hidup kudus). Matius 19:16-17 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.”
2) Kehendak Allah yang berkenan, yaitu membangun mezbah (memiliki hubungan yang intim dengan Allah). Ibrani 11:5-6 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
3) Kehendak Allah yang sempurna, yaitu mengikut Yesus. Matius 19:20-21 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Lalu, bagaimana agar kita hidup sebagai orang bijaksana? Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Ketika kita memprioritaskan kebenaran dalam hidup kita, maka semakin hari Tuhan akan semakin “mempercantik” kita.

Advertisements

Revival (Kebangunan Rohani)

API ROH KUDUS

Api Roh Kudus membawa kebangunan rohani, lalu apa yang harus kita lakukan di era Pentakosta ke-3 ini?

  1. Catch the fire (menangkap api Roh Kudus).
  2. Keep the fire (menjaga api Roh Kudus). Imamat 6:12  Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.
  3. Spread the fire (menyebarkan api Roh Kudus).

7 GUNUNG

Wahyu 17:9  Yang penting di sini ialah akal yang mengandung hikmat: ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk, 

Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk. Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN.”

Kita harus seperti Kaleb bin Yefune merebut gunung yang dijanjikan Tuhan dari tangan orang-orang Enak! Adapun tujuh gunung yang harus kita rebut, yaitu:

  1. Gunung Agama
  2. Gunung Keluarga
  3. Gunung Pendidikan
  4. Gunung Pemerintahan
  5. Gunung Media & Komunikasi
  6. Gunung Seni & Hiburan
  7. Gunung Bisnis

Untuk merebutnya, kita harus “masuk” ke gunung-gunung tersebut tanpa harus berkompromi (menjadi serupa dengan dunia). Kita perlu penyertaan Tuhan!

Keputusan Ditengah Goncangan

Shalom!
Tahun pelipatgandaan mujizat tak lepas dari pelipatgandaan goncangan karena tak ada mujizat tanpa goncangan. Mujizat tidak dapat dilakukan oleh manusia, tetapi hanya oleh Tuhan. Hagai 2:6 berkata “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat” Ibrani 12:26b berkata “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Bagi orang yang tidak percaya Tuhan…semakin lama, dunia semakin penuh dengan ketidakpastian namun bagi kita sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa semua ini adalah tanda-tanda menjelang kedatangan Tuhan yang keduakalinya. Rut 1:1-6 berkata “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.” Bethlehem artinya rumah roti. Bethlehem seharusnya menjadi tempat yang penuh berkat namun kenyataannya kelaparanlah yang melanda kota itu, hal itu dikarenakan “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hakim-Hakim 21:25) – Firman Tuhan tidak dijadikan standar kehidupan sehingga Tuhan menghukum kota tersebut dengan bencana kelaparan. Nama ‘Elimelekh’ berarti Allahku adalah Raja, sedangkan ‘Naomi’ berarti manis, menyenangkan, menggembirakan. Namun, mengapa hidup mereka penuh dengan kepahitan? Karena Elimelekh mengambil keputusan untuk menghindari bencana kelaparan dengan pindah ke daerah Moab tanpa bertanya terlebih dulu kepada Tuhan apakah hal tersebut berkenan kepada Tuhan atau tidak. Keputusan seorang kepala rumah tangga sangat fatal bagi masa depan keluarganya, karenanya setiap keputusan kita harus sesuai dengan Firman Tuhan. Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Elimelekh dan keluarganya adalah:
1) Jangan mengandalkan kemampuan dan kehebatan kita, tetapi andalkan Tuhan saja. Yeremia 17:7 berkata “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
2) Jangan jauh-jauh dari Tuhan disaat goncangan, tetapi kita harus semakin mendekat kepada-Nya memohon petunjuk-Nya. Yeremia 17:5 berkata “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”
3) Menguatkan kepercayaan kita kepada Tuhan. 1 Samuel 30:6 berkata “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” Tetaplah setia kepada Tuhan ditengah goncangan, percayalah ada mujizat dibalik setiap goncangan.

Mempersiapkan Umat Yang Layak

Lukas 1:15-17  Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
Tahun ini adalah tahun pelipatgandaan mujizat, karenanya kita harus memperhatikan ibadah kita kepada Tuhan. Bukan orang yang hapal Alkitab yang akan mengalami pelipatgandaan mujizat tetapi mereka yang mengerti isi hati Tuhan yang akan mengalaminya. Lukas 1:15 For he will be great and distinguished in the sight of the Lord. Banyak orang besar di hadapan manusia tetapi tidak berkenan di hadapan Allah.
Standar menjadi besar di hadapan Tuhan? Matius 20:26-28  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Dalam mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan, kita harus sadar diri bahwa kita telah ditetapkan Tuhan sebagai alat-Nya, penuh Roh Kudus, memiliki penguasaan diri dan melayani Tuhan tanpa kompromi dengan sistem dunia. Pelayanan kita harus menjadi kesaksian bagi banyak orang dan menjembatani orang-orang yang tidak percaya Tuhan dengan Tuhan. Perhatikan keadaan keluarga dan pernikahan kita, karena segala kesuksesan adalah sia-sia jika keluarga kita hancur. Jadilah orang benar agar keturunan kita tidak terkutuk kelak (Mazmur 128).
Ulangan 5:29  Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!
Success is not about your talent or money, but how you deal with people. Kita harus kembali kepada panggilan untuk memberitakan kabar baik. Kelak Tuhanlah yang akan mengangkat kita, bukan manusia.