Mujizat Tulang Rusuk

Kejadian 2:18-25 TUHAN Allah berfirman [marriage is God’s initiative, no God’s word first means nothing happens]: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Lalu TUHAN Allah membentuk [God needs time to build us better] dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama [be responsibility of our talents first] kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak [keep calm, don’t be hurry by your strength, let God acts for us]; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku [Wedding Vow!]. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu [It’s a true marriage life!].

God saves the best for the last! #LakonMenangBelakangan

Advertisements

Keputusan Ditengah Goncangan

Shalom!
Tahun pelipatgandaan mujizat tak lepas dari pelipatgandaan goncangan karena tak ada mujizat tanpa goncangan. Mujizat tidak dapat dilakukan oleh manusia, tetapi hanya oleh Tuhan. Hagai 2:6 berkata “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat” Ibrani 12:26b berkata “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Bagi orang yang tidak percaya Tuhan…semakin lama, dunia semakin penuh dengan ketidakpastian namun bagi kita sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa semua ini adalah tanda-tanda menjelang kedatangan Tuhan yang keduakalinya. Rut 1:1-6 berkata “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.” Bethlehem artinya rumah roti. Bethlehem seharusnya menjadi tempat yang penuh berkat namun kenyataannya kelaparanlah yang melanda kota itu, hal itu dikarenakan “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hakim-Hakim 21:25) – Firman Tuhan tidak dijadikan standar kehidupan sehingga Tuhan menghukum kota tersebut dengan bencana kelaparan. Nama ‘Elimelekh’ berarti Allahku adalah Raja, sedangkan ‘Naomi’ berarti manis, menyenangkan, menggembirakan. Namun, mengapa hidup mereka penuh dengan kepahitan? Karena Elimelekh mengambil keputusan untuk menghindari bencana kelaparan dengan pindah ke daerah Moab tanpa bertanya terlebih dulu kepada Tuhan apakah hal tersebut berkenan kepada Tuhan atau tidak. Keputusan seorang kepala rumah tangga sangat fatal bagi masa depan keluarganya, karenanya setiap keputusan kita harus sesuai dengan Firman Tuhan. Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Elimelekh dan keluarganya adalah:
1) Jangan mengandalkan kemampuan dan kehebatan kita, tetapi andalkan Tuhan saja. Yeremia 17:7 berkata “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
2) Jangan jauh-jauh dari Tuhan disaat goncangan, tetapi kita harus semakin mendekat kepada-Nya memohon petunjuk-Nya. Yeremia 17:5 berkata “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”
3) Menguatkan kepercayaan kita kepada Tuhan. 1 Samuel 30:6 berkata “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” Tetaplah setia kepada Tuhan ditengah goncangan, percayalah ada mujizat dibalik setiap goncangan.

Mempersiapkan Umat Yang Layak

Lukas 1:15-17  Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
Tahun ini adalah tahun pelipatgandaan mujizat, karenanya kita harus memperhatikan ibadah kita kepada Tuhan. Bukan orang yang hapal Alkitab yang akan mengalami pelipatgandaan mujizat tetapi mereka yang mengerti isi hati Tuhan yang akan mengalaminya. Lukas 1:15 For he will be great and distinguished in the sight of the Lord. Banyak orang besar di hadapan manusia tetapi tidak berkenan di hadapan Allah.
Standar menjadi besar di hadapan Tuhan? Matius 20:26-28  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Dalam mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan, kita harus sadar diri bahwa kita telah ditetapkan Tuhan sebagai alat-Nya, penuh Roh Kudus, memiliki penguasaan diri dan melayani Tuhan tanpa kompromi dengan sistem dunia. Pelayanan kita harus menjadi kesaksian bagi banyak orang dan menjembatani orang-orang yang tidak percaya Tuhan dengan Tuhan. Perhatikan keadaan keluarga dan pernikahan kita, karena segala kesuksesan adalah sia-sia jika keluarga kita hancur. Jadilah orang benar agar keturunan kita tidak terkutuk kelak (Mazmur 128).
Ulangan 5:29  Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!
Success is not about your talent or money, but how you deal with people. Kita harus kembali kepada panggilan untuk memberitakan kabar baik. Kelak Tuhanlah yang akan mengangkat kita, bukan manusia.

Menantikan Janji Tuhan

tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31)

Abraham adalah contoh orang yang menanti-nantikan Tuhan, selama 25 tahun ia tetap setia memegang janji Tuhan untuk memiliki anak.

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. (Kejadian 12:1-4)

 

Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. (Kejadian 21:5)

 

Sikap yang patut diteladani dari Abraham dalam menanti-nantikan janji Tuhan digenapi dalam hidupnya, yaitu:

1)      Membangun mezbah bagi Tuhan karena inisiatif sendiri atas dasar cinta Tuhan, bukan karena hal lain atau terpaksa. Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. (Kejadian 12:7-8)

2)      Tidak serakah, melainkan rendah hati dengan mendahulukan kepentingan orang lain. Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” (Kejadian 12:8-9)

3)      Membangun iman percaya kepada Tuhan meski keadaan sepertinya mustahil. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.(Roma 4:18-21)

4)      Melakukan ‘sunat hati’ (‘membuang Haran’ –kehidupan lama Abram) sebelum Ishak dilahirkan, hal ini dimaksudkan Tuhan agar kita tetap rendah hati ketika kita diberkati berlimpah-limpah. Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. (Kejadian 17:23-24)

Bagaimanapun keadaannya, tetaplah percaya dan setia memegang janji Tuhan hingga digenapi dan menghasilkan buah dalam hidup kita!