WISDOM FOR LIVING From Proverbs 25 (Bagaimana kita bisa memiliki hikmat dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama)

Bagaimana kita memiliki hikmat untuk berhubungan dengan Tuhan?

Amsal 25:2 (TB)  Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. | Sekalipun kita seorang raja, Tuhan lebih tinggi dari kita. Hanya Allah saja yang bijaksana, dan yang kita lakukan adalah merendahkan diri menyelidiki hikmat Tuhan.

Amsal 25:6-7 (TB)  Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: “Naiklah ke mari,” dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia. Apa matamu lihat, | Hal pertama yang kita lakukan adalah tahu bagaimana memposisikan diri kita. Jangan meninggikan diri sendiri di hadapan raja, meskipun kita merasa hubungan kita dekat dengannya.

Amsal 25:3 (TB)  Seperti tingginya langit dan dalamnya bumi, demikianlah hati raja-raja tidak terduga. | Jangan gampang berasumsi tentang apa yang ada di dalam hati raja, tetaplah rendah hati. Karena Allah memberkati orang yang rendah hati tetapi menolak orang yang sombong. Orang yang rendah hati diberi kesempatan untuk berubah, sedangkan orang yang sombong selalu merasa diri benar dan susah berubah. Itulah hikmat.

Amsal 25:4 (TB)  Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah bagi pandai emas. | Segala hal yang tak murni dalam diri kita harus dibuang terlebih dahulu sehingga Allah bisa memakai kita bagi kemuliaan-Nya.  Allah rindu kita melayani-Nya, tetapi kita harus rela merendahkan diri kita untuk dimurnikan oleh-Nya.

Lalu, bagaimana kita berhubungan dengan sesama?

Amsal 25:8-10 (TB)  jangan terburu-buru kaubuat perkara pengadilan. Karena pada akhirnya apa yang engkau dapat lakukan, kalau sesamamu telah mempermalukan engkau?
Belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain, supaya jangan orang yang mendengar engkau akan mencemoohkan engkau, dan umpat terhadap engkau akan tidak hilang. | Dari pada terburu-buru membawa perkara kita ke pengadilan, adalah  lebih baik untuk membicarakan perkara tersebut dengan sesama kita, karena barangkali kita yang salah. Percekcokan takkan berakhir jika kita selalu menganggap diri kita benar. Biarlah kita selalu bersikap waspada dan hati-hati agar tidak dipermalukan orang lain di kemudian hari.

Amsal 25:11 (TB)  Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. | Kuncinya adalah “tepat waktu”, maksudnya apa yang dikatakan, nada perkataan dan moment perkataannya tepat. Emas berbicara tentang kemurnian dan perak di dalam Alkitab berbicara tentang keselamatan/karya penebusan. Dengan kata lain, jika kita bisa memperkatakan suatu hal tepat waktu maka kita akan memenangkan sebuah hubungan.

Amsal 25:12 (TB)  Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar. | Telinga yang cantik itu bukan karena perhiasan, tetapi karena telinga yang mau mendengar dan taat melakukan. Kita pun harus bijak dalam menegur orang. Jika kita berbicara kasar, kita tak akan pernah memenangkan hati seseorang. Allah menegur kita bukan untuk menghakimi dan menjatuhkan kita, melainkan perkataan-Nya penuh kasih karunia dan kemurahan sehingga banyak jiwa mengalami pertobatan karenanya. Setiap kali kita berbicara, hendaklah kita pun rindu untuk memenangkan jiwa tersebut.

Lalu, seperti apa menjadi orang yang “tepat” (pas dalam bertindak)?

Amsal 25:13 (TB)  Seperti sejuk salju di musim panen, demikianlah pesuruh yang setia bagi orang-orang yang menyuruhnya. Ia menyegarkan hati tuan-tuannya. | Yesus adalah tuan kita dan kita adalah pembawa pesan Allah. Melalui kata-kata yang tepat, kita bisa memenangkan jiwa bagi Tuhan. Kita harus hidup berhikmat dan menyingkirkan segala sikap-sikap yang tak benar agar kita memuliakan Tuhan.

Amsal 25:14 (TB)  Awan dan angin tanpa hujan, demikianlah orang yang menyombongkan diri dengan hadiah yang tidak pernah diberikannya. | Terlalu banyak berjanji tetapi tak menepatinya, hal tersebut bukanlah sesuatu yang “tepat”. Kita tak mungkin memenangkan ‘respek’ dari orang lain jika kita tidak tepat janji.

Amsal 25:15 (TB)  Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang. | Dengan kesabaran dan kelemahlembutan, kita dapat meyakinkan & memenangkan seseorang yang paling keras sekalipun hatinya. Perkataan kita begitu berkuasa, hanya saja jangan terlalu “lebay”.

Amsal 25:16 (TB)  Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya. | Jangan terlalu berlebihan memperkatakan hal-hal yang baik, juga janganlah terlalu kurang; semuanya haruslah “pas”.

Amsal 25:17 (TB)  Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu. | Jika kita melakukan sesuatu terlalu berlebihan (tidak dalam kondisi yang pas), maka hal tersebut menjadi tidak baik bagi kita. Contoh: bekerja adalah hal yang baik, tetapi menjadi workaholic dan kurang istirahat tentu tidak baik. Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk bekerja selama 6 hari dan beristirahat di hari Sabbath, agar kita hidup seimbang dan diberkati Tuhan. Kita harus selalu mengingat Tuhan, Sang Sumber Berkat kita.

Amsal 25:18 (TB)  Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam. | Kita tidak boleh berbohong tentang orang lain untuk sengaja menyakiti hatinya.

Amsal 25:5 (TB)  Sisihkanlah orang fasik dari hadapan raja, maka kokohlah takhtanya oleh kebenaran. | Jika kita rindu melihat Kerajaan Allah ditegakkan, kita harus mau rendah hati, bertobat dan berubah bagi Allah. Tinggalkan semua kehidupan lama kita dan sepenuhnya serius menjalani kehidupan sebagai manusia baru di dalam Kristus.

Advertisements

Bertobat = Bijaksana

Shalom!
Lukas 16:1-3 berkata “Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.” Bendahara ini adalah seorang bendahara yang bijak, karena ia langsung bertindak ketika sesuatu terjadi padanya (dalam hal ini ia melakukan pertobatan). Jika kita bisa dengan cepat mau bertobat dan berubah maka Tuhan akan sangat berkenan kepada kita. Tuhan mengerti bahwa kita sangat sulit untuk menjadi sempurna, maka yang Tuhan kehendaki ialah agar kita “cepat bertobat” ketika kita melakukan kesalahan. Beberapa hal mengenai pertobatan yang dilakukan bendahara tersebut sehingga ia disebut bijak oleh tuannya, yaitu
1) Berdasarkan Lukas 16:4-8, “Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” Bendahara tersebut merelakan untuk mengorbankan segala keuntungan sementara di dunia ini demi memperoleh keuntungan yang bersifat kekal di masa yang akan datang. “Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?” (Lukas 16:9-12) Hal yang tersirat dari ayat tersebut, yaitu bahwa Tuhan menghendaki agar kita lebih mengutamakan perkara Kerajaan Allah (kehidupan yang kekal) dibandingkan perkara duniawi.
2) Hendaklah kita setia kepada Allah kita. “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.”” (Lukas 16:13,18) Bendahara bersebut menyadari bahwa dirinya tidak setia, karenanya ia bertobat dan memilih untuk setia kepada Tuhan. Kita harus setia, Tuhan menyamakan orang-orang yang tidak setia sebagai perzinahan. Lukas 16:16-17 berkata “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.” Sejak Injil diberitakan, orang-orang sudah mulai bertobat. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai anak Allah? Inilah masa Pentakosta ke-3 dimana Roh Kudus bekerja secara dahsyat dan luar biasa. Hendaklah kita cepat bertobat dan masuk dalam rencana Allah yang besar bagi kehidupan kita.
3) Yesus menceritakan perumpamaan-perumpamaan tersebut karena ada sekelompok orang yang menyebut dirinya ‘orang beragama’ tetapi tidak membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan. “Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah. [terjemahan lain berkata: kekejian bagi Allah]” (Lukas 16:14-15) Ketika kita mengagumi sesuatu, hal tersebut menjadi sesuatu hal yang lebih penting bagi kita dibandingkan Tuhan. Tetapi Tuhan memandang hal tersebut sebagai suatu kekejian. Satu-satunya hal yang Tuhan kehendaki adalah agar kita hanya mengagumi Tuhan saja lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Keintiman dengan Allah adalah satu-satunya jaminan perlindungan kita karena kita tidak bisa mengendalikan masa depan kita. Tuhan menghendaki agar kita hidup diberkati, marilah kita hidup sebagai hamba Tuhan yang bijaksana!

Mentalitas Kristus

Shalom!

Memiliki mentalitas Kerajaan Surga berarti memiliki pikiran seperti Kristus. Filipi 2:5 berkata “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Ketika kita memberitakan Injil, maka kita harus memberitakan tentang Yesus sebagai Juru Selamat dunia. Yesus telah mengalahkan segala sesuatu bahkan dosa dan maut sebab Ia telah bangkit dari kematian. Menjadi Kristen berarti hidup bagi Kristus. “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.” (Filipi 1:27-30) Gereja adalah ‘jajahan surga’ di bumi, raja kita adalah Kristus sehingga kita harus tunduk di bawah pemerintahan surgawi dengan hidup seperti Kristus. “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Filipi 3:20) Kita harus berdiri teguh dengan memegang janji Tuhan sehingga ketika ‘musuh’ menyerang kita, kita tidak kompromi lagi dengan dunia yang membawa kita kepada kebobrokan di masa lalu. Menjadi Kristen bukan hanya tentang berkat semata tetapi berbicara mengenai suatu kesediaan untuk berdiri teguh sebagai perwakilan Kristus di dunia (mengikuti teladan Kristus dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Kristus sepenuh hati). Memikul salib berarti memikul kematian. Mengikuti Kristus berarti harus bersedia memberikan diri untuk mati bagi Kristus (martir). Itulah mentalitas murid Kristus yang sejati, yaitu memiliki mental bukan hanya sebagai penerima berkat semata tetapi juga ikut menderita bersama Kristus. Filipi 1:6,8,9 berkata “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” Tuhan Yesus tidak merendahkan diri supaya ditinggikan, melainkan agar tujuan Injil terselesaikan yaitu menyelamatkan umat manusia. Itulah mentalitas Kristus, yaitu memikirkan keselamatan orang lain bukan hanya kepentingan diri sendiri, agar nama Tuhan dimuliakan oleh semua umat manusia. “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:4,10,11)

Filipi 2:12-15 berkata “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” Hidup berpadanan dengan Injil Kristus berarti rela berkorban demi melayani orang lain tanpa bersungut-sungut, hidup berbuah bagi Kristus. Ulangan 32:5 berkata “Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.” Tuhan ‘membentuk’ kita selama hidup di bumi agar kita menjadi pribadi yang ‘benar-benar layak’ hidup dalam Kerajaan Surga kelak. Kita harus menjadi saksi Kristus melalui cara kita membawa diri dalam setiap aspek kehidupan kita, itulah bagaimana kita menjadi terang dalam gelap. Mari kita belajar dari teladan tiga tokoh Alkitab berikut:

1)       Paulus. “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” (Filipi 2:17) Mentalitas Kristus selalu berpikir: setiap hal yang saya lakukan adalah untuk perluasan Kerajaan Allah meskipun saya harus menderita.

2)       Timotius. “Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus. Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya.” (Filipi 2:19-22) Mentalitas Kristus selalu memikirkan kepentingan orang lain, bukan hanya dirinya sendiri. Relakanlah diri kita untuk hidup memberitakan Injil agar semakin banyak orang yang diselamatkan.

3)       Epafroditus. “Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah. Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku. Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia. Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.” (Filipi 2:25-30) Kita harus memiliki gaya hidup yang memuliakan Kristus sebagai raja kita dengan mengerjakan keselamatan kita bagi keselamatan orang lain juga. Tuhan akan menghormati orang-orang yang tulus hati melayani-Nya.

karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:2-4)

Change Your Mind, Change Your Life

Shalom!

“Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan [jasmani & rohani] mereka di sana.” (Matius 19:1-2) Mungkin secara jasmani kita sehat, namun bisa saja kita sakit secara rohani. Bagaimana menerima kesembuhan rohani? Change the way you think, so you can change the way you live. Gereja dipanggil keluar dari gelap menuju terang Kristus yang ajaib. Menjadi Kristen adalah mengikuti Yesus setiap hari, bukan sekedar ‘tiket’ untuk masuk surga. Jika kita mau disembuhkan, kita harus rela menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang dituntun oleh Roh Kudus. Berikut adalah beberapa kelompok orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus untuk disembuhkan, yaitu:

1)       Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:3) Hal pertama yang mau Tuhan sembuhkan adalah pernikahan. Kekerasan hati menjadi inti permasalahan dalam pernikahan sehingga kita sudah memutuskan untuk ‘tidak mau tahu lagi’ tentang pasangan kita dengan berdalih ‘tak ada penyelesaian’.

2)       Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 19:13-14) Kelompok yang kedua dimana orang banyak bergumul adalah anak-anak. Banyak orang bingung bagaimana mengurus anak-anak mereka yang memberontak. Satu hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan itu semua adalah izinkan anak-anak datang pada Yesus karena itu lebih penting, dibandingkan mereka menghabiskan banyak waktu di luar Tuhan meskipun hal tersebut sepertinya penting dan positif. Biar mereka ada dalam pergaulan di gereja, karena mereka menghabiskan banyak waktu bergaul di luar gereja sehingga lebih banyak kesempatan untuk disesatkan oleh pergaulan dunia. Tetapi jika mereka menghabiskan waktu di gereja, mereka akan terus berfokus kepada Tuhan. Tidak ada gunanya anak-anak kita mendapatkan pendidikan terbaik di dunia tetapi kehilangan keselamatan kekal. Didiklah mereka untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu sehingga mereka tidak murtad ketika menghadapi banyak masalah dalam kehidupan mereka. Anak-anak yang tidak mengenal Tuhan akan mempermalukan orang tua yang melayani Tuhan.

3)       Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Matius 19:16) Kelompok ketiga adalah tentang orang kaya. Orang ini adalah seorang pemimpin yang ternama tetapi ada suatu kekosongan dalam dirinya yang tak bisa diisi oleh apapun. “Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Matius 19:21-22) Ketika kita ikut Yesus, kita bisa menjadi kaya tanpa mengalami kekosongan dalam diri kita, bukan kaya dengan segala permasalahan dalam keluarga yang membuat kita hidup tanpa sukacita. Segala sesuatu ada harganya, ikutlah Yesus dan biarkan Ia menyembuhkan kita.

4)       Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?””(Matius 19:20) Kelompok keempat yang perlu disembuhkan adalah murid-murid Yesus, mereka menginginkan jabatan dan kehormatan karena mereka tidak berpikir apa yang Tuhan Yesus pikirkan (Matius 20:21,22,24). Kingdom mentality is about thinking as Jesus thinks. Pikiran Kristus itu mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati dan menyangkal diri, berkorban bagi Tuhan sehingga kita mengalami hidup yang kekal. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Matius 20:25-26) Ikutlah Yesus dengan ketaatan yang sempurna, percayalah bahwa Ia sanggup melakukan lebih dari yang kita pikirkan atau doakan. Penghalang kita dengan berkat bukanlah masalah tetapi mentalitas kita. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. (Matius 19:29)

HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA

 “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?” (Matius 24:45)

BIJAKSANA

“Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.” (Matius 25:1-2)

Kunci menjadi hamba yang bijaksana adalah melakukan persiapan agar selalu siap kapanpun Tuannya datang. Perumpamaan tentang gadis-gadis bodoh dan bijaksana ini sering mengacu kepada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kelak, namun perumpamaan ini juga mengacu kepada kedatangan Tuhan setiap saat dalam hidup kita untuk memeriksa pekerjaan kita sehari-hari. Hal ini Ia lakukan karena Ia ingin mempromosikan dan memberikan kita tanggung jawab yang lebih besar ketika kita ditemukan telah melakukan pekerjaan kita dengan baik. “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.” (Matius 24:46-47) Everyday is an examination. “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” (Matius 25:13)

SETIA

“”Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:14-21)

Setia itu berhubungan dengan hal-hal yang kita kerjakan dengan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. Tuhan memberikan kita talenta untuk melayani kebutuhan orang-orang yang membutuhkan selama waktu hidup yang Ia percayakan kepada kita. Jika kita setia dalam perkara kecil, maka Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam hal yang lebih besar kepada kita. It’s about consistency.

“Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25:35-40)

Love God and think others. Ketika kita tidak setia, berarti kita adalah hamba yang jahat (Matius 25:41-46). ”Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Matius 24:48-51) Ketika kita mulai tidak peduli kepada orang lain maka kita akan mulai bertengkar satu sama lain serta murtad karena kita akan menjadi seorang yang penuh kedagingan dan duniawi. Saudara, kedatangan-Nya sudah sangat dekat jadi tidak ada waktu lagi untuk saling bertengkar, tetapi marilah kita mengasihi satu sama lain dan bersatu sebagai sebuah tim untuk menginjili dunia yang haus akan kasih karena banyak jiwa yang membutuhkan pertolongan kita. The more you serve, the more God give you influence to the world then His church will grow increasingly.

Hendaklah kita waspada setiap saat, jangan biarkan diri kita mengatakan ‘tidak ada yang melihat saya melakukan dosa’ dan mulai menjauh dari Tuhan, karena Ia bisa datang kapan saja tanpa sepengetahuan kita. When you doing the right things, He will promote you even you don’t know when He inspected you. Tuhan memberi kita talenta dan memilih kita untuk melayani-Nya meskipun kita tidak siap melakukannya, kemudian Ia akan melihat seberapa setia kita melayani-Nya dan mengangkat kita pada waktu-Nya. Jangan biarkan fokus kita tergeser oleh hal-hal yang bukan dari Tuhan, tetapi biarlah Ia menemukan kita sebagai hamba yang setia dan bijaksana. It’s a Christian lifestyle, it’s about how much your effort to reach the lost people for God.

THE CHOICES OF LIFE

Jika diperhatikan dengan seksama, kitab kejadian banyak membandingkan kehidupan dua saudara seperti Kain vs Habel, Abraham vs Lot, Esau vs Yakub, Yehuda vs Yusuf, dsb. Hal yang sangat signifikan dan membedakan kehidupan kedua saudara tersebut adalah pilihan kehidupan mereka, dimana satu pihak lebih mementingkan kedagingannya (Kejadian 38:15-16) sedangkan pihak yang lain lebih memilih Tuhan meskipun sepertinya hidup mereka ‘tidak diuntungkan’ dengan pilihan tersebut, mereka begitu peduli dengan perasaan Tuhan lebih daripada perasaan-perasaan manusiawi mereka sendiri (Kejadian 39:7-9).

Ulangan 30:19 berkata “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu

Jika kita memilih pilihan yang benar dan tepat, yaitu lebih memilih hadirat Tuhan maka Tuhan akan memberi berkat yang besar kepada kita. Mari kita belajar dari kisah Esau dan Yakub berikut ini:

Kejadian 36:6&8 mengisahkan bahwa Esau meninggalkan tanah perjanjian dan pergi ke Edom. Hal ini menunjukan bahwa Esau tidak perlu Tuhan. Meskipun begitu, Kejadian 36:31 mengatakan bahwa Edom memiliki raja-raja yang memerintah negeri mereka bahkan sebelum ada satupun raja yang memerintah atas Israel. Seringkali kita iri dengan kesuksesan orang-orang di luar Tuhan karena kita melihat mereka begitu diberkati dibanding dengan kita yang memilih hidup bersama Tuhan, bahkan tak sedikit dari kita yang merasa bisa sukses tanpa Tuhan. Tapi bagaimana dengan akhir hidup mereka yang tidak mengutamakan Tuhan? Esau adalah Edom, namun apakah seluruh dunia tahu dimana keberadaan Edom sekarang? Kenyataannya adalah Edom tidak terkenal. Sedangkan Yakub, ia hanya seorang gembala yang berpindah-pindah tempat dan tidak memiliki apapun selain hadirat Tuhan namun Allah secara pribadi menampakan diri kepadanya dan memberkatinya: “Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.” (Kejadian 35:10) Kini kita pun mengakui bahwa seluruh dunia mengenal negara Israel.

Ketika kita memilih Tuhan maka Ia akan mengingat kita bahkan generasi-generasi setelah kita (Kejadian 35:11) sedangkan jika kita melupakan Tuhan maka Ia pun tidak akan mengutamakan kita. Jadi, kita tidak perlu iri dengan gemerlapnya kehidupan dunia tanpa Tuhan karena hal tersebut tidak akan bertahan selamanya tetapi nanti-nantikanlah Tuhan karena Kerajaan-Nya takkan berkesudahan dan Ia pasti akan memberkati kita sesuai dengan waktu-Nya.

Orang yang mencari Tuhan dianggap serupa dengan-Nya (Kejadian 5:1-3), kita pun bisa melihat bagaimana diberkatinya keturunan Adam setelah Set menjadi orang pertama yang mencari Tuhan (Kejadian 4:25-26). Keturunannya menjadi orang-orang yang sangat ‘berpengaruh’ terhadap keturunan yang berikutnya bahkan terhadap kehidupan seluruh dunia (Kejadian 5). Yesus Kristus adalah keturunan Adam (Matius 1:1-17). Ketika kita menjadi pengikut Yesus, maka kitapun akan terhubung dengan Adam dan berhak menikmati kehidupan yang diberkati sebagai keturunan Adam. Itu mengapa sebabnya kita harus mengajak orang lain masuk dalam Kerajaan Allah juga, karena Allah sangat ingin memberkati mereka dan keturunan mereka juga. Ketika mereka menjadi pengikut Kristus, mereka pun akan masuk dalam tudung anugerah Allah sebagai keturunan dari generasi yang diberkati Tuhan. Ketahuilah bahwa Tuhan memiliki rencana yang luar biasa bagi kehidupan kita, Ia tidak hanya ingin memberkati kita tetapi juga keturunan-keturunan kita.