From Needs To Seeds

Bersama Tuhan bukan berarti kita “dikecualikan” dari tantangan hidup, tetapi kita masih bisa berbuah di tengah tantangan karena segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.

Filipi 4:13, 19  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 

Ketika kita meyakini Firman Tuhan tetapi kehidupan kita tidak juga berubah, berarti ada yang salah dalam diri kita yaitu salah memahami Firman Tuhan. 

Yohanes 11:3, 6, 17  Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 

Mengapa Yesus “menunda” untuk menyembuhkan Lazarus? Tuhan menghendaki mereka mengalami pertumbuhan rohani melalui penundaan dan berusaha membuat mereka lebih kuat. Tuhan tidak menghendaki kita terus menjadi “bayi Kristen”, Tuhan menghendaki kita menjadi Kristen yang dewasa. Bayi terus fokus kepada dirinya sendiri sedangkan orang dewasa peduli akan kehidupan orang lain.

Kita memiliki berbagai kebutuhan tetapi bagaimana agar kita menjadi Kristen yang tidak fokus kepada persoalan pribadi terus? 

Filipi 4:10  Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Banyak kesempatan yang Tuhan ciptakan agar kita mengalami pertumbuhan rohani tetapi seringkali kita tidak peka karena terlalu fokus kepada masalah, bukan maksud Tuhan dibalik masalah tersebut.

Sangat wajar jika kita mengalami kekurangan tetapi adalah salah jika kita memiliki pola pikir yang berkekurangan. Tuhan merespon iman kita, bukan kebutuhan kita. Karenanya, jadilah orang beriman bukan ‘pengemis’ berkat Tuhan.

Kebahagiaan dan rasa cukup pada diri sendiri adalah proses pertumbuhan kekristenan kita yang berhubungan dengan pola pikir kita, tidak berhubungan dengan keadaan lahiriah kita. Jika kita rindu diberkati Allah, maka kita harus memiliki pola pikir yang benar terlebih dahulu, yaitu: di dalam Kristus, kita selalu bisa.

Filipi 4:17  Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kristen yang dewasa, bertanggung jawab dan peduli kepada orang lain adalah buah yang Tuhan kehendaki, bukan terus-menerus menjadi Kristen anak-anak yang egois.

Lalu, bagaimana untuk berpindah “from needs to seeds”?

1) Menjadi penabur, menjadi pemberi. 2 Korintus 9:10  Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; Kuasa Allah akan melipatgandakan benih yang kita tabur untuk mencukupkan segala kebutuhan kita bahkan berkelimpahan. Allah sanggup menyediakan segala kebutuhan kita. Allah menyediakan benih bagi kita sebagai “modal” untuk kita lebih diberkati dan menjadi berkat bagi orang lain. Kita menabur bagi kebaikan kehidupan kita di masa depan, bukan masa kini. Karenanya jangan “berpikir instan” bahwa Tuhan akan segera mengembalikan benih yang kita tabur. Jadikan menabur sebagai gaya hidup. Makin besar kita menabur, makin besar kita menuai.

2) Memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu. Filipi 2:4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Orang yang egois seringkali “melewatkan” berkat Tuhan. Mari kita meneladani seorang anak kecil yang merelakan bekalnya untuk kepentingan orang banyak, sehingga mujizat dalam kisah 5 roti dan 2 ikan terjadi dalam hidup kita. Fokus anak itu adalah menolong orang lain terlebih dahulu, di atas kepentingannya sendiri. Kita harus rindu agar bukan hanya kebutuhan kita yang tercukupi, tetapi kebutuhan orang lain juga.

3) Mencari Tuhan sebagai satu-satunya sumber dan penyedia kehidupan kita, bukan manusia. Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menyediakan segala kebutuhan kita secara supranatural. Matius 6:33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Jika kita fokus kepada Sang sumber berkat, maka kita tak akan dipusingkan oleh segala kekurangan kita.

Let’s be a ‘seeds Christian’, not a ‘needy Christian’. It’s not about what you need but it’s about what you have for God’s Kingdom. Kita akan tiba di suatu tempat di mana Tuhan mencukupkan segala kebutuhan kita. Tuhan sangat rindu memberkati kita.

Advertisements

How Do You See

Kehidupan kita ditentukan dari bagaimana cara kita melihat sesuatu. Matius 6:22-23  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Kedewasaan tidak berhubungan dengan usia, penampilan lahiriah ataupun berapa lama kita menjadi Kristen, kedewasaan adalah proses kehidupan. Yang membedakan antara anak-anak dan orang dewasa adalah cara pandangnya, cara berpikir menentukan kedewasaan seseorang. Orang yang kekanak-kanakan melihat sesuatu dengan perspektif yang sempit. Jika kita memiliki perspektif seperti Allah, kita akan diangkat oleh Allah ke level-Nya.

Yesaya 55:8  Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Rencana Tuhan selalu lebih tinggi dan Ia selalu berusaha membawa kita kepada levelnya Allah. Jika kita mampu melihat seperti Allah melihat, sebenarnya setiap masalah tidak berarti karena kita cakap menanggung segala masalah bersama Tuhan yang memberi kekuatan kepada kita. Nothing is impossible. Bagaimana kita melihat masalah itu lebih penting dibandingkan masalah yang kita lihat.

Kehendak Allah itu selalu tentang berkat, kelimpahan dan kemakmuran. Tetapi jika kita salah melihat rencana-Nya seperti kebanyakan pengintai Israel di tanah Kanaan, maka kita tidak akan bisa masuk ke Tanah Perjanjian. Bilangan 13:27-28  Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.

Kita harus memiliki perspektif dan visi Allah. Berikut pandangan Allah vs pandangan manusia:

1) Pandangan Allah itu kekal tetapi pandangan manusia itu sementara. Banyak orang tidak sabar dalam menghadapi masalah sehingga menginginkan masalah tersebut selesai dengan cepat dan instant. Hal tersebut membuat manusia memilih jalan pintas dalam menyelesaikan masalah, bahkan dengan cara bunuh diri. Kita harus bisa melihat masalah yang sementara ini dengan cara pandang Allah yang kekal, pasti masalah kita akan terselesaikan. 2 Korintus 4:18  Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

2) Pandangan Allah itu lengkap tetapi pandangan manusia itu sebagian. Pengkhotbah 3:11  Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Kita belum melihat video kehidupan kita seluruhnya, jadi jangan beranggapan masalah dan kegagalan adalah akhir hidup kita. Tetapi biarkanlah Allah berkarya sesuai skenario-Nya dengan lengkap dan kita akan melihat bahwa keseluruhan perjalanan hidup kita itu indah. Bersabarlah dengan Tuhan.

3) Pandangan Allah itu seimbang tetapi manusia sering “pilih-pilih”. Hanya Allah yang bisa melihat setiap hal dengan lengkap sehingga Ia memandang segalanya seimbang, karenanya kita harus seperti Allah melihat segalanya seimbang.

Lalu, bagaimana agar kita bisa masuk dalam perspektifnya Allah?

1) Lupakan hal yang negatif dan menyakitkan. Kita semua memiliki masa lalu yang tidak baik tetapi tidak seharusnya kita menyangkal itu semua. Filipi 3:13  Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, Mungkin kita memandang diri kita negatif tetapi Tuhan melihat kita dengan iman sebagai “man of God”. Abraham dan tokoh Alkitab lainnya bukanlah orang yang sempurna, mereka memiliki masa lalu yang buruk juga, tetapi Allah menyebut mereka sebagai “pahlawan iman” dalam Ibrani 11 (tidak mengingat kesalahan mereka di masa lalu). Kejadian 41:51  Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” 

2) Fokus pada hal yang positif. Yesus memiliki pilihan ketika berada di salib, yaitu apakah meminta pertolongan malaikat atau meneruskan pengorbanan-Nya bagi kita. Tetapi bersyukurlah karena Yesus lebih memilih berkorban bagi kita. Yesus bertahan karena Ia melihat sukacita di masa depan ketika kita disembuhkan dan dilepaskan dari segala belenggu si jahat, bukan fokus pada penderitaan-Nya saat itu. Jika kita bisa fokus pada hal yang positif, kita selalu bisa merasakan kebaikan Tuhan bagi kita.

3) Bingkailah cerita masa depan kita. Ibrani 11:3  Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan [dibingkai, dijadikan lengkap, dipulihkan, telah diatur tatanannya]  oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Apakah yang selama ini menopang kehidupan kita? Tuntutan orang-orang sekitar, ide-ide dunia, ataukah Firman allah? Kehidupan kita harus selalu ditopang oleh Firman Tuhan yang tak tergoncangkan, jangan biarkan kehidupan masa depan kita dibingkai oleh hal-hal yang tergoncangkan. Izinkan Firman Allah membentuk pola pikir dan masa depan kita, bukan oleh keadaan ataupun perkataan orang tentang kita. Dan lihatlah bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Allah. Mazmur 118:24  Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! 

Orang Biasa Yang Hidup Luar Biasa

​1 Korintus 1:26-29  Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 

Bersyukurlah jika kita hanya “orang biasa” karena kita menjadi lebih mudah rendah hati dan dipakai Tuhan. Tuhan tidak berkenan kepada orang yang sombong.

Bersama Tuhan, kita adalah orang yang luar biasa. Untuk menjadi luar biasa, kita harus belajar berkata “TIDAK” di waktu yang tepat, yaitu:

1) Katakan tidak pada rasa takut (jangan takut). Rasa takut membuat hidup kita terbatas. Manusia memang wajar memiliki rasa takut, namun kita akan menjadi “di atas rata-rata” ketika kita berani untuk melakukan kehendak Allah. Contoh: Maria yang merelakan diri untuk melakukan perintah Tuhan (mengandung bayi Yesus sebelum menikah) dan menanggung segala konsekuensinya. Bagaimana caranya untuk tidak takut? Firman Allah adalah sumber keberanian kita. Melayani Tuhan memang kadang beresiko, tetapi Tuhan lebih dari sanggup menolong kita. When you are not afraid, you will live to the fullest. 2 Timotius 1:7  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

2) Katakan tidak pada kompromi (jangan kompromi). Dunia banyak membenarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Alkitabiah. Meniru gaya hidup dunia membuat anak-anak Allah hidup “biasa-biasa saja” (standar), tetapi ketika kita menolak meniru gaya hidup dunia pasti kita akan menjadi anak-anak Allah yang di atas rata-rata.

3) Katakan tidak pada menyerah (jangan menyerah). Kita tidak boleh menyerah pada visi Tuhan (melepaskan tujuan Ilahi). Banyak orang menganggap remeh visi Tuhan sehingga mudah melepaskan iman di tengah tekanan hidup. Contoh: Rut tetap bertahan bersama mertuanya meskipun sepertinya hal tersebut tak berarti. Kadang kesuksesan kita hanya tinggal selangkah lagi dari jarak kita menyerah. Belajar untuk bertahan lebih lama. Just try one more time, please. Keep believing.

2 Korintus 4:7-9  Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 

Berpikir Seperti Kristus

2 Korintus 3:14-18

“Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Shalom!

Hidup kita akan diubahkan serupa dengan Kristus ketika kita mengarahkan perhatian kita kepada-Nya, inilah tujuan utama kita menjadi pengikut Kristus. Ketika kita menjadikan kekristenan hanya sebagai agama, maka selubung untuk mengenal Tuhan akan menghalangi kita menjadi serupa dengan Kristus. Karenanya, kita harus membuang semua selubung yang menutupi mata rohani kita agar kita mengalami kelahiran baru dan menghidupi pengalaman yang baru bersama Tuhan. Adalah sebuah kesia-siaan menjadi orang Kristen tetapi masih saja menjalani kehidupan yang lama, biasa atau sekedar ingin masuk surga. Kita tidak akan pernah siap masuk surga jika kehidupan kita masih terpengaruh oleh aura neraka. Jadi, alasan mengapa kita mengenal Tuhan sekarang adalah karena Tuhan memiliki panggilan khusus bagi kita dan kita harus berubah dengan hidup mengenakan manusia baru. 1 Korintus 2:14 berkata “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1-2) Yesus adalah pribadi yang berinisiatif memulai dan mengakhiri ‘perlombaan iman’ dalam hidup kita. Mengapa Tuhan Yesus begitu bersedia menderita bagi kita? Karena pikiran-Nya tertuju kepada kemuliaan yang disediakan Allah sehingga Ia memiliki kekuatan untuk menyelesaikan tujuan-Nya menyelamatkan kita. Terkadang kita mulai lemah dan ingin menyerah di tengah jalan ketika masalah datang, itu karena kita berfokus pada hal yang salah. Perubahan hidup dimulai dari perubahan pola pikir seperti Kristus. “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6) Kita tidak akan mengalami hidup yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan jika pola pikir kita masih sama dengan pola pikir dunia. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7) Jadi, ketika kita bertindak atas dasar ketakutan berarti kita tidak memiliki pola pikir seperti Kristus.

Roma 12:1-2 berkata “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Ada 3 kebenaran yang penting tentang pikiran, yaitu:

  1. Tanpa pembaharuan pikiran, kita tidak mungkin mengenal tujuan Tuhan yang sempurna. Hanya setelah kita mengalami pembaharuan pikiran barulah kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Perjumpaan yang begitu menyentuh dengan Tuhan sesaat saja tidak menjamin berubahnya hidup kita, tetapi kita harus berusaha untuk semakin mengalami pembaharuan pikiran dalam kehidupan kita selanjutnya.
  2. Setiap pengalaman hidup yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, baik itu hal baik atau buruk, bertujuan memperbaharui pikiran kita yang dikendalikan oleh kedagingan menjadi pikiran yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Mujizat besar tidak serta merta mengubah pola pikir kita “sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:52) Setiap kali kita memilih untuk mengeraskan hati kita dan menolak Firman Tuhan, maka hati kita akan semakin keras dan tidak mengalami pembaharuan pikiran seperti Kristus. Hal yang Tuhan inginkan dari setiap masalah kehidupan adalah agar kita bertindak dalam iman (taat) untuk menghadapi masalah tersebut, bukan bertindak atas dasar apa yang dilihat mata jasmani kita.
  3. Ketika Tuhan memberikan janji-Nya kepada kita, Ia mengharapkan agar pikiran kita berubah menjadi ‘selevel’ dengan pikiran-Nya. Ketika kita mengambil keputusan untuk percaya Firman Tuhan lebih dari segala pikiran kita sendiri, maka hidup kita akan diubahkan seturut rencana Tuhan yang lebih tinggi dibanding segala rencana pribadi kita. Memiliki mata yang tertuju kepada Tuhan bukanlah sekedar ‘have fun’ tetapi Tuhan ingin agar kehidupan kita berubah karena Yesus yang semakin besar di dalam diri kita.

Heaven On Earth

Hadirat Tuhan membuat kita ‘berbeda’ dengan orang lain. Kita bertanggung jawab untuk menjadi pembawa hadirat Tuhan bagi hidup orang lain sehingga bumi terasa seperti di surga.

So, what we should build to make ‘heaven on earth’?

  1. Spirit of holiness (Roh Kekudusan). Holy is beautiful inside that makes you ‘glowing’ outside. Allah adalah kudus, maka Ia akan hadir ketika kita pun kudus. Kudus berarti dipisahkan dari sistem dunia. “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16) Gaya hidup duniawi adalah gaya hidup yang tanpa Tuhan. Generasi muda Kristus harus memiliki gaya hidup yang ‘berbeda’ dari gaya hidup dunia meski hal tersebut menyakitkan, karena kita seperti Kristus yang berasal dari Allah bukan dari dunia ini.
  2. Spirit of faith (Roh Iman). “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” (2 Korintus 4:13) Putuskan untuk percaya sepenuhnya kepada Firman Tuhan lebih dari apapun di bumi ini karena tanpa iman, hidup kita tidak akan berkenan kepada Allah.

Mazmur 119:9 berkataDengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

Keep on mind: God’s presence is more precious than anything else on earth. Let’s make heaven on earth!

Cara Tuhan Memberkati

Shalom!

Ketika Saudara mengambil langkah iman dan mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan, Saudara akan mengalami sesuatu yang lebih baik. Oleh karena itu, janganlah berpegang pada kehidupan Saudara yang lama. Tuhan tidak akan ‘mengurangi’ berkat Saudara ketika Saudara memberi, melainkan Tuhan akan memultiplikasikannya (Matius 14:13-21). Saudara harus berani ambil resiko dengan melepaskan apa yang Saudara miliki dan menyerahkannya kepada Tuhan. Cara Tuhan memberkati itu berbeda (unik/luar biasa) dengan cara manusia (Yesaya 55:8-9).

Matius 16:18 berkata “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Gereja yang dibangun oleh Tuhan Yesus Kristus adalah gereja yang kuat dan berpengaruh positif bagi kehidupan sekitarnya. Gereja yang terus bertumbuh akan berkuasa atas gerbang neraka.

Setelah menerima janji yang besar dari Tuhan, saat itulah terjadi tantangan-tantangannya (Matius 16:21-23). Jadi Saudara harus bersiap-siap karena Tuhan akan membawa Saudara kepada suatu proses menuju multiplikasi dan promosi. Mengapa kita harus mengalami proses yang menyakitkan? Karena Saudara sekarang masih dalam keadaan ‘belum siap’ untuk menerima berkat Tuhan yang begitu besar. Bukannya Tuhan tak mau memberkati Saudara tetapi Tuhan ingin Saudara mengalami perubahan terlebih dahulu sebelum diberkati berlimpah-limpah.

Tantangan bagi gereja hari ini adalah tuntutan mereka yang tidak percaya kepada Yesus Kristus untuk melihat Tuhan yang sejati, seperti yang dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu (Yohanes 12:20-26). Jika Saudara ingin bertemu Tuhan Yesus Kristus (mengalami kehidupan yang diberkati), Saudara harus menggunakan caranya Tuhan. Tuhan inginkan Saudara mengalami ‘kematian’ terlebih dahulu agar Saudara ‘berbuah’ lebih lagi untuk kemuliaan Tuhan (Yohanes 12:24). Mengapa Saudara harus ‘mati’ terlebih dahulu? Karena Tuhan mempunyai kuasa kebangkitan, oleh karena itu Saudara harus mengalami ‘kematian’ (dari kedagingan) untuk memperoleh kuasa kebangkitan-Nya yang luar biasa (Filipi 3:10-11; Matius 16:24).

Jangan lagi hidup untuk diri sendiri, itu adalah cara hidup duniawi! Tetapi milikilah prinsip hidup diberkati untuk memberkati karena Tuhan mempunyai visi kehidupan yang lebih besar bagi Saudara seperti Tuhan memberkati Abraham (2 Korintus 4:16-17). Hendaklah 2 Korintus 3:18 menjadi tujuan hidup Saudara, karena itulah multiplikasi dan promosi yang sesungguhnya, yaitu Tuhan sendiri yang bermultiplikasi di dalam diri Saudara sehingga orang lain bisa melihat Tuhan Yesus di dalam diri Saudara. Tuhan Yesus memberkati.