Karakteristik, Fungsi dan Tugas Pendoa Syafaat

Panggilan sebagai pendoa syafaat adalah panggilan yang tinggi, meski tidak masuk dalam 5 jawatan panggilan. Tuhan memakai kita sebagai juru bicara-Nya dan memberi beban doa pada kita seiring dengan kesetiaan kita melayani Dia. Ketika Tuhan memberikan beban doa tersebut, kita tak akan pernah puas berdoa hingga terjadi terobosan. Jika kita adalah seorang pendoa yang peka mendengar suara Tuhan, kita akan paham mengapa Tuhan menghendaki moment-moment tertentu untuk kita berdoa.

KARAKTERISTIK PENDOA SYAFAAT

Seorang pendoa syafaat adalah seorang yang entah karena panggilan Tuhan atau bawaan dirinya memilih untuk menjadi pribadi yang menjembatani antara Tuhan dan manusia. Istilah pendoa syafaat berasal dari Bahasa Ibrani “poga” yang berarti berhadapan, menemui, menjangkau, menyentuh batasan, atau melakukan serangan demi orang lain. Jadi, seorang pendoa syafaat mengajukan suatu permohonan kepada Tuhan demi kepentingan orang lain. Tentunya pendoa syafaat tersebut “berkorban” (waktu, tenaga, dll) untuk kepentingan orang lain. Pendoa syafaat berbeda dengan seorang yang hanya berdoa; berdoa berarti berbicara kepada Tuhan untuk kepentingan pribadi tetapi berdoa syafaat menaikkan permohonan kepada Tuhan demi kebaikan hidup orang lain. Semua orang bisa berdoa tetapi tidak semua bisa bersyafaat. Jika kita tidak membiasakan diri untuk mendengar suara Tuhan setiap hari, tentu kita tidak akan peka mendengar suara Tuhan.

FUNGSI PENDOA SYAFAAT

1) Seorang pendoa syafaat itu berani mengambil resiko dan mengorban kan hidupnya demi kepentingan orang lain, contoh:

– Abraham. Kejadian 18:22  Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham memiliki hati yang berbelaskasihan kepada orang-orang yang akan ditimpa malapetaka Tuhan.

– Yesus, bersyafaat mendamaikan kita dengan Allah dan mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan kita. Roma 6:10  Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.

– Marta. Yohanes 11:21-22  Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

– Stefanus, rela mati demi Injil dan mendoakan orang-orang yang telah menganiayanya sebelum meninggal. Kisah Para Rasul 7:59-60  Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

– Ester, memberanikan diri menghadap raja meski tak diundang sehingga mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan bangsanya. Ester 4:15-16  Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

2) Seorang pendoa syafaat itu hatinya penuh belas kasihan (tidak menghendaki Tuhan menimpakan murkanya terhadap seseorang). Kita berbelaskasihan karena Tuhan menaruhkan hati-Nya di hati kita. Di awal berdoa, kita mungkin hanya berdoa biasa bagi orang lain. Tetapi kita harus masuk dalam level yang lebih tinggi, yaitu ketika kita mulai “mengerang dalam Roh”. Jangan menyerah berdoa di level ini, karena di saat itulah doa kita tak lama lagi akan dijawab. Kita memang ‘tidak dibayar’ untuk itu, namun inilah panggilan pensyafaat: memiliki kesukaan (semangat) berdoa bagi orang lain. Sadarkah kita bahwa Tuhan memberi kuasa yang besar bagi kita untuk mengubah keadaan lingkungan, kehidupan seseorang, bahkan bangsa-bangsa? Kita memegang peranan penting bagi dunia ini. Kita memiliki perkenanan spesial dari Tuhan karena kita menjadi mediator orang lain yang meminta kemurahan-Nya, bukan penghakiman-Nya atas orang tersebut. Hosea 4:6  Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. Kita harus menjadi mediator bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan agar mereka memperoleh pengenalan yang benar akan Tuhan dan tidak binasa. Namun sebelumnya, kita harus sungguh-sungguh memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan agar kita tidak ‘salah berdoa’. Jangan berfokus pada penderitaan kitanyang sekarang ini tetapi fokuslah pada kemenangan Yesus 2000 tahun lalu, yaitu: Ia telah menyembuhkan kita, Ia menangbatas maut.

APA YANG DILAKUKAN PENDOA SYAFAAT?

a) Yohanes 12:24  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Hasil dari pendoa syafaat, yaitu: doa-doa yang dijawab dan menghasilkan generasi pensyafaat baru. Kita adalah ‘benih/biji’ itu, yaitu mematikan ego kita bagi kebaikan orang lain (biji akan selalu bermultiplikasi). Tuhan mengijinkan kita mengalami “api” agar kita semakin murni memenuhi panggilan-Nya sebagai pendoa syafaat.
b) Pendoa syafaat adalah para sukarelawan. Ini bukan panggilan yang dipaksakan oleh Tuhan/orang lain, melainkan diterima dengan senang hati. Pendoa syafaat itu harus selalu memberi (waktu, tenaga, dll) dan senantiasa berdoa, sehingga pendoa syafaat selalu menjadi “most wanted people” bagi orang-orang yang membutuhkan.

c) Pendoa syafaat memiliki iman yang besar untuk meyakini sesuatu yang didoakan pasti terjadi, tidak berhenti berdoa hingga Tuhan menjawab doa. Kita harus menjaga rahasia pesan Tuhan bagi kita jika Tuhan tidak mengijinkan kita mengatakannya. Tugas kita hanya berdoa, bukan bergosip.

Advertisements

You Are What You Think

Bermimpi besar itu tidaklah salah. Ketika Tuhan memberikan kita talenta, maka Tuhan berharap agar kita memanfaatkan talenta tersebut secara maksimal, bukan dipendam. Beranikah Anda bermimpi besar? Karena sekian tahun lagi, Anda akan menjadi seperti apa yang Anda pikirkan. Pikirkan apa yang Tuhan pikirkan tentang kita, tak perlu pedulikan cemoohan orang lain tentang mimpi kita. Just focus to the goal! As he thinks in his heart, so is he. (Amsal 23:7) Pikiran kita mengendalikan kita. Kita harus menaklukan pikiran-pikiran kita yang negatif untuk menjadi pemenang.

Amsal 8:8-10  Segala perkataan mulutku adalah adil, tidak ada yang belat-belit atau serong. Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan. Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan.

Firman Tuhan harus menjadi ‘road map’ kita. Jika kita ingin mimpi kita menjadi kenyataan, kita harus bekerja keras dan tidak menyerah di tengah jalan. Sukses adalah sebuah perjalanan. Apa yang dituntut dari kita untuk menjadi orang sukses? Kita harus mempunyai prinsip yang benar untuk mencapai kesuksesan tersebut dan sikap yang benar untuk menerima mimpi tersebut. Hal utama yang harus kita lakukan, yaitu: mengetahui tujuan hidup, juga terus bertumbuh dan berkembang hingga mencapai potensi maksimal.

Kita tidak bisa “menjiplak” standar kesuksesan orang lain, tetapi kita harus sukses menjadi diri kita sendiri sebagaimana yang Tuhan kehendaki karena setiap orang memiliki kesuksesannya masing-masing yang sifatnya unique. Salah satu kegagalan kita adalah “menjiplak total” salah seorang sukses yang kita idolakan, jika hal tersebut terjadi maka kita akan menjadi “jiplakan terburuk” yang pernah ada.

Masalah terbesar kita adalah menempatkan Tuhan duduk diam pada suatu kotak tersendiri dan kita melakukan segala sesuatu yang kita bisa dengan mengandalkan diri sendiri. Kita harus patrikan dalam diri kita prinsip: be the man of integrity. Integritas menempatkan kita tetap berada di jalur yang benar, tidak kompromi dengan yang jahat ataupun berbohong. Orang yang memiliki integritas dapat dipegang perkataannya. Tuhan tidak pernah gagal jika kita mau berjalan dalam ketaatan kepada-Nya.

Hak-Hak Kehormatan & Kebebasan Yang Bisa Dimiliki Oleh Orang Kristen

Shalom!
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16) Kekristenan bukanlah sebuah agama tetapi hubungan dengan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sudah melakukan suatu karya besar bagi kita sehingga kita memiliki suatu hubungan (ikatan) dengan-Nya. Tak ada hal sehebat apapun yang dapat kita lakukan untuk membalas kasih-Nya kepada kita, tetapi anugerah Tuhan memampukan kita untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Apa yang harus kita mengerti tentang hidup di dalam Kristus?
1) Kita milik siapa (keputraan). Galatia 4:5-6 berkata “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”” Kita adalah manusia ciptaan baru karena karya Kristus yang total di kalvari. Melalui karya Kristus di kalvari, kita menerima berbagai hak menjadi anak Allah. Kita harus mengaku dosa kita dan meminta pengampunan Tuhan, maka kita berpindah posisi dari hamba dosa menjadi anak Allah. Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih, karenanya kita harus sadar bahwa kita adalah anak Allah sehingga pilihan-pilihan yang kita ambil bijaksana.
Mengapa kita hidup di muka bumi? Alasannya adalah untuk menyembah Dia (fokus kepada Tuhan). Penyembahan adalah sebuah perasaan atau ekspresi dari menghormati suatu pribadi. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:1-2) Dalam suatu penyembahan, harus ada motivasi penyembahan, kehidupan kita yang sesuai dengan penyembahan terhadap Tuhan (kehidupan yang kudus, berbeda dengan dunia karena hidup dalam ‘batasan Allah’). Pikiran adalah tempat iblis menabur dosa dalam diri kita. Cara untuk memperbaharui pikiran kita, yaitu: kita harus memiliki pikiran Kristus & minta Roh Kudus menuntun kita dengan Firman Tuhan sebelum kita melakukan suatu tindakan yang didasari kedagingan (dosa). “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.” (1 Korintus 2:6) Jika kita sudah terwahyu dengan kasih Tuhan, pastilah hati kita pun sakit ketika kita menyakiti Tuhan, sehingga kita tidak akan menyakiti-Nya lagi dengan dosa-dosa kita – bukannya malah berpikir “berdosa itu bebas karena Tuhan selalu memberikan karunia pengampunan-Nya”. Kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan rasa hormat dan gentar kepada Tuhan (bukan agar kita diselamatkan, tetapi karena kita cinta Tuhan dan secara sadar ingin menyenangkan Tuhan yang telah menyelamatkan kita ketika kita masih berdosa – karena tak ada satu hal pun yang dapat kita lakukan untuk membuat kita layak diselamatkan). Kita harus secara konsisten meluangkan waktu untuk membaca, merenungkan Firman Tuhan dan berdoa setiap hari. Hal ini kita lakukan bukan karena rutinitas tetapi karena kita cinta Tuhan, ingin berkomunikasi dengan-Nya dan ingin mengerti kehendak-Nya bagi kita. Kerohanian kita harus bertumbuh, kita tidak boleh menjadi ‘bayi rohani’ terus-menerus. Ketika kita tidak mau mendengar suara Tuhan, pasti hidup kita menjadi berantakan. Sebagai anak Tuhan, hidup kita seharusnya setiap hari penuh dengan sukacita Ilahi.
Status raja menunjukan kepada kita siapa kita. Kita adalah ‘raja-raja’ secara rohani dalam Kerajaan Allah. Wahyu 1:6-7 berkata “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, –bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin. Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.” Tuhan sudah memberikan otoritas atas setiap bidang hidup kita dan kita harus menggunakannya. Ketika kita tidak mengerti otoritas tersebut pasti kita tidak mampu menggunakannya. Kita harus sadar bahwa kita adalah ciptaan baru, sebagai anak Allah dan memiliki otoritas Ilahi; dengan begitu kita pasti tidak akan terbelenggu dengan dosa-dosa yang sama lagi, kita pasti menjadi anak-anak Allah yang merdeka.

Panggilan Tuhan

Shalom! Efesus 4:11-12 berkata “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,” Panggilan Tuhan atas kita merupakan ‘materai Tuhan’, kita tidak bisa berjalan dalam panggilan orang lain yang bukan merupakan panggilan Tuhan atas kita. Setiap nubuatan harus diuji kembali, jangan langsung dipercaya tanpa menyaringnya terlebih dahulu apakah sesuai dengan Firman Tuhan atau tidak. Nubuatan harus berasal dari Roh Kudus, tidak boleh ditambahkan oleh perkataan kita sendiri. Nubuatan yang berasal dari Tuhan pasti akan membangun kita (bukan melemahkan), sedangkan perkataan seorang yang diurapi Tuhan sebagai nabi akan menegur kita (menyatakan kesalahan-kesalahan kita). Jika kita tidak mengerti nubuatan atau pesan yang Tuhan sampaikan, simpanlah hal itu dan berdoalah agar Tuhan menyingkapkannya pada waktunya. Kita tidak boleh meremehkan perkataan Tuhan karena akan berakibat buruk bagi masa depan kita, kita tidak boleh menerima perkataan Tuhan hanya yang baiknya saja tanpa mempedulikan pesan Tuhan yang menegur/kurang mengenakan bagi kita. Kita harus menerima maupun menyampaikan nubuatan Tuhan dengan iman (bukan hanya sekedar perasaan belaka), Tuhan ingin membawa kita masuk dalam dimensi profetik. Panggilan kenabian berawal dari karunia bernubuat, karunia bernubuat berawal dari karunia Bahasa Roh, hal tersebut tentunya dimulai dengan baptisan Roh Kudus terlebih dahulu. Gereja yang tidak mengandalkan Roh Kudus tidak akan berfungsi dalam karunia nubuatan ini. Kita tidak bisa tiba-tiba mendatangi seseorang dan bernubuat baginya, kita harus terlebih dahulu mengujinya. Jawatan sebagai nabi bukanlah panggilan biasa karena kemungkinan besar orang yang menerima panggilan tersebut tidak disukai banyak orang karena tidak banyak orang mengerti dunia profetik, jadi jika kita dipanggil dalam jawatan ini kita harus berani berkomitmen untuk berdiri bagi Tuhan dan menyatakan apa yang Tuhan kehendaki meskipun manusia membencinya. Kita harus berani membayar harga untuk menggenapi panggilan Tuhan dalam jawatan kenabian, kita harus rela memiliki ‘kepolosan’ seperti anak kecil karena anak kecil hanya mementingkan nama besar Tuhan bukan reputasi diri sendiri. Jangan sampai ego kita terselip dalam setiap nubuatan yang Tuhan kehendaki untuk kita katakan. Kita harus dengan rendah hati mengakui kesalahan yang Tuhan nyatakan bagi kita dan bersabar menanti waktu nubuatan Tuhan digenapi dalam hidup kita. Apa yang kita mulai dalam Roh harus diakhiri dalam Roh juga.

Kuasa Pengakuan Iman

Shalom! Markus 11:23-24 berkata “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” ‘Gunung’ yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah gunung dalam artian sesungguhnya, melainkan ‘gunung’ (masalah) dalam kehidupan kita. Yang Tuhan kehendaki dari ayat ini adalah ‘confession brings possession’ (pengakuan perkataan kita menghasilkan suatu kepemilikan). Hal ini berkaitan dengan iman, dan kita tidak bisa pura-pura beriman ataupun tiba-tiba mengklaim sesuatu menjadi milik kita. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya atas perasaan seseorang. Iman muncul dari memperkatakan dan mendengar Firman Tuhan. Pewahyuan/hikmat Tuhan takkan muncul dalam sekejap melainkan sebuah proses yang mana memerlukan rasa keingintahuan dari diri kita sendiri dan merenungkannya. Iman dan hikmat Tuhan tidak muncul dari sekedar mendengar Firman Tuhan, tetapi dari memperkatakan, mendengar, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan dengan ketaatan (menjadi pelaku Firman Tuhan). Hidup kita akan terus bertumbuh sesuai panggilan Tuhan ketika kita taat menjalankan Firman Tuhan. Pengakuan iman kita membawa berkat bagi hidup kita, sebab ada kuasa dalam perkataan kita. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya. Perkataan kita memiliki kuasa, baik itu memberkati maupun mengutuk. Perkataan kita menentukan masa depan kehidupan kita, apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Tetapi kuasa tersebut bukan untuk menggenapi semua keinginan kita (misal menginginkan sesuatu barang milik orang lain, atau pun memiliki seluruh dunia). Kuasa tersebut hendaknya digunakan untuk menghalau ‘gunung/masalah kehidupan’ kita. Perkataan kita berkuasa untuk membalikan kutuk menjadi berkat ketika memperkatakan pengakuan iman sesuai Firman Tuhan. Karenanya kita harus mempelajari Firman Tuhan dan memahami betul apa yang dimaksud oleh Firman tersebut. Intinya, iman muncul dari sebuah ketaatan melakukan Firman Tuhan, bukan sekedar mendengar Firman Tuhan. Setiap tindakan ketaatan kepada Tuhan akan memberikan suatu upah, inilah level selanjutnya yaitu ketika kita hidup bukan berdasarkan logika manusia tetapi iman akan Firman Tuhan. Pelipatgandaan mujizat kita alami bukan karena kehebatan kita, tetapi karena ketaatan kita melakukan Firman Tuhan. ‘Gunung/masalah kehidupan’ kita mungkin membuat kita kuatir, tetapi kuatir menunjukan bahwa kita tidak beriman kepada Tuhan. Kita harus masuk dalam satu level kehidupan yang menghadapi kehidupan tanpa kuatir karena kita beriman kepada Tuhan. Ini saatnya untuk kita bangkit dan menjadi pemenang bersama Yesus! Iman kita akan semakin bertambah langkah demi langkah seiring dengan ketaatan kita dalam melakukan Firman Tuhan meski hal tersebut tak logis. Mungkin sebagian orang mulai tak menyukai kita ketika kita taat melakukan Firman Tuhan, tetapi tetaplah taat kepada Tuhan sebab ketaatan kepada-Nya lebih penting dibanding apapun. Hidup dalam iman adalah satu-satunya tindakan yang menyenangkan hati-Nya.

Menjadi Umat Yang Layak Bagi Tuhan

2 Timotius 2:20-21

“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

Shalom!

Apakah kita percaya bahwa setiap kita dipanggil untuk sebuah rencana besar Tuhan? Ya, setiap kita (tanpa kecuali) dipanggil untuk rencana besar Tuhan. Tuhan tidak membeda-bedakan siapa pun untuk hal itu, pertanyaannya apakah kita mau mewujudkan rencana tersebut? Tuhan Yesus telah mati bagi kita sehingga kita layak menjadi umat Tuhan. Jadi, mari kita miliki paradigma baru bahwa “kita layak bagi-Nya” meskipun kita merasa ‘tidak layak’ sebagai orang benar di hadapan-Nya karena Tuhan tidak melihat karakter manusia kita tetapi melihat darah Yesus yang telah menguduskan kita. Jadi, mulai sekarang yang harus kita sikapi adalah mempertahankan diri agar tetap layak bagi-Nya. Ketika kita memutuskan untuk hidup setara dengan panggilan Tuhan yang telah melayakkan kita, maka kita tidak akan menghidupi sebuah perjalanan rohani yang mandek atau bahkan mundur, melainkan semakin maju dalam kesempurnaan seperti Kristus.

2 Timotius 2:22 berkata “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Kata ‘nafsu’ dalam ayat tersebut bukan hanya nafsu seksual tetapi segala hal yang sangat kita inginkan lebih dari Tuhan sehingga kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama hal tersebut dibandingkan bersama Tuhan. 1 Yohanes 2:16 berkata “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Inilah waktunya bagi umat Tuhan untuk bangkit menyiapkan diri bagi kedatangan Kristus karena waktu kedatangan-Nya sudah semakin dekat. Karenanya, kita harus selektif dalam menyikapi hari-hari terakhir ini agar kita bisa tetap fokus kepada Tuhan. Berhati-hatilah dengan segala hal yang ditawarkan dunia masa kini, jangan lengah hingga kita lebih mengutamakan hal tersebut dibandingkan hubungan kita dengan Tuhan. “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” (1 Korintus 6:12) Kita tidak boleh kompromi dengan hal-hal yang tidak kudus. Lebih baik dicap sebagai orang kuno tapi berkenan kepada Tuhan daripada menjadi trendsetter hal-hal terbaru tetapi ditolak Tuhan. Kita harus memiliki pengendalian diri jika kita ingin menjadi umat yang layak bagi Tuhan, karenanya kita tidak boleh dikuasai dosa. Kita memang akan mati pada akhirnya namun dosa adalah suatu tindakan dimana kita mengizinkan iblis untuk membinasakan kita sebelum waktu yang Tuhan tetapkan.

Marilah kita menjadi pelaku Firman Tuhan, bukan hanya sekedar pendengar Firman. Jalanilah kehidupan yang sepadan dengan panggilan Tuhan, bukan terus mengikuti kedagingan kita. Kenyataan bahwa kita memang telah dilayakan oleh darah Kristus tidak ‘melegalkan’ kita untuk bebas berbuat dosa. Keselamatan memang kita terima dengan cuma-cuma, tetapi kita harus menjalankan keselamatan tersebut dengan bayar harga. Tuhan Yesus memang mati sekali bagi kita tetapi tidak ada kata “sekali selamat, tetap selamat”, ketika kita berdosa…kita harus segera mohon ampun kepada Tuhan dan kembali ke jalan-Nya dengan meninggalkan segala dosa-dosa kita. Kita hidup dalam kasih karunia Tuhan dan tidak ada dosa di dalamnya. Kita perlu Roh Kudus untuk menolong kita dalam kelemahan kita. “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” (Roma 8:26-27) Ketika kita tidak memiliki pewahyuan/pengertian akan kasih Tuhan, kita akan tetap berbuat dosa meskipun kita telah lahir baru. Tubuh kita adalah bait Allah, Roh Kudus di dalam diri kita karenanya kita harus menghargai tubuh kita. Inilah saatnya kita bangkit untuk menyadari tipu daya iblis dan tidak mengizinkannya untuk menguasai kita lagi. Iblis akan terus menggoda kita tetapi tidak ada waktu lagi untuk ‘main-main’ dengan dosa terlalu lama. Ketika kita hidup tanpa Fiman Tuhan dan Roh Kudus, maka kita sedang berjalan menuju kebinasaan. Maka bertobatlah sungguh-sungguh dan serahkanlah seluruh hidup kita kepada Tuhan, kemudian jalanilah hidup baru seturut dengan pikiran Kristus. Kenallah kebenaran maka kebenaran itu akan memerdekakan kita untuk hidup semakin ‘naik’ menuju Kristus, bukan jatuh bangun dalam dosa lagi.

Realitas Allah Yang Hidup

Shalom!

Jika kita mau mengerti realitas dari Allah yang hidup maka kita harus mengerti dengan iman akan hal itu. Kematian Tuhan Yesus di salib sudah ditentukan oleh Allah dan darah-Nya adalah tanda kemenangan bagi kita, yaitu:

ü  Darah akibat luka di kepala menandakan bahwa kita dibebaskan dari kutuk hukum Taurat untuk menikmati kehidupan yang baru di era anugerah. Hukum taurat dilakukan dengan kemampuan manusia sedangkan kehidupan di era anugerah adalah kehidupan yang dipimpin sepenuhnya oleh Roh Kudus sehingga kita hidup oleh iman bukan kedagingan.

ü  Darah akibat luka di tangan membebaskan kita dari kekurangan, kemiskinan dan segala ketidakcukupan.

ü  Darah akibat luka cambuk di punggung membebaskan kita dari segala macam sakit penyakit.

ü  Darah akibat luka di rusuk memberikan kita hidup yang kekal sebagai ciptaan baru dalam Kristus.

ü  Darah akibat luka di kaki memberikan kita kuasa/otoritas untuk memerintah atas iblis. Kejadian 3:15 berkata “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kata ‘keturunan’ dalam terjemahan lain disebut sebagai ‘Seed’ (benih dari Roh Kudus), yang merujuk kepada kelahiran Tuhan Yesus karena Roh Kudus bukan karena benih manusia.

Jadi, kelima luka di tubuh Yesus itu mencakup penebusan dalam segala aspek kehidupan kita. Maka sekarang di era anugerah, kehidupan kita tidak sepatutnya berdasarkan kedagingan semata melainkan berdasarkan tuntunan Roh Kudus. Kita harus menghargai ikatan janji antara Tuhan dan kita berdasarkan darah Kristus tersebut sehingga kita mengerti makna hidup kita di era anugerah ini. Perjanjian darah menandakan bahwa kedua belah pihak saling terikat, saling memiliki dan saling bertanggung jawab untuk sepenuhnya melakukan isi perjanjian tersebut, jika tidak…pihak yang dirugikan berhak menuntut pihak yang merugikan. Perjanjian darah sangat serius, ketika kita mengerti akan hal itu pasti kita akan mengalami hidup yang berkemenangan.

1 Samuel 17:26 berkata “Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”” Melalui ayat tersebut, Daud menegaskan bahwa bangsa Israel memiliki ikatan perjanjian darah dengan Tuhan melalui sunat. Daud benar-benar mengerti perjanjian darah tersebut sehingga ia berani bertindak melawan Goliat. Jika kita mau hidup dalam ikatan perjanjian tersebut, kita harus menghidupinya dengan iman seperti Daud. Daud tidak melihat segala ketidakmampuan ataupun keterbatasan dirinya, melainkan ia maju melawan Goliat dengan iman atas nama Allah yang hidup. Satu-satunya cara agar kita bisa hidup berkemenangan dalam segala aspek kehidupan, yaitu hidup dalam ikatan perjanjian darah Kristus dengan iman, jika tidak…kita pasti akan mengalami kegagalan.

Ibrani 11:1,6 berkata “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Tanpa iman, segala sesuatu yang kita lakukan tidak akan menyenangkan Allah juga tak mungkin kita menggapai sebuah visi kehidupan karena iman kitalah yang menyentuh hati Tuhan. We must have hope and faith. Kita tak cukup hanya berharap akan terjadinya suatu mujizat, tetapi kita juga harus melakukan tindakan dengan iman untuk mewujudkan mujizat tersebut. Faith makes miracle. Ketika Tuhan Yesus disalib dan berkata ‘sudah selesai’, itu berarti bahwa Ia telah menyelesaikan segala sesuatunya bagi kita. Namun, kita harus menghidupi anugerah tersebut dengan iman (yang bertumbuh melalui hubungan pribadi dengan Tuhan) agar mengalami hidup yang berkelimpahan. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita tahu bagaimana menyikapi hidup ini dan pasti mengalami hidup yang semakin naik bukan turun.