Kingdom Principle

WAJIB: BERBUAH DAN MULTIPLIKASI BELAJAR DARI KEHIDUPAN ORANG YAHUDI (ISRAEL)

“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29)

Shalom!

1 Petrus 2:9 berkata “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” Kita wajib belajar dari kehidupan bangsa Israel karena Tuhan telah memilih dan memanggil kita termasuk dalam keturunan Abraham, milik Kristus. Bangsa Israel menentukan sejarah dunia dan dunia tak ada tanpanya; brand ternama dan orang besar di dunia sebagian besar berasal dari Israel. Rahasia bangsa Israel begitu diberkati Tuhan adalah:

  • Memiliki & dimiliki seorang Raja. “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku.” (Keluaran 6:2-5) Dalam ayat tersebut kata Tuhan berarti Adonai = Penebus = Master. Kita memang mengenal Tuhan, tetapi sudahkah kita benar-benar menghidupi Tuhan dalam diri kita? Hidup kita bukan milik kita lagi tetapi milik Kristus yang berdaulat atas kita.
  • Firman yang mereka miliki mempunyai daya cipta yang dahsyat. Ulangan 4:5-7 berkata “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?” Sudahkah Firman Allah menjadi makanan kita setiap hari dan benar-benar menjadi rhema di hati kita? Ketika Adam pertama kali diciptakan, pikirannya benar-benar melebur dengan pikiran Tuhan sehingga setiap Firman yang dikatakannya memiliki daya cipta yang dahsyat.
  • Mereka mempunyai perjanjian dengan Tuhan. “ephes dammim” = boundary of blood, the silver of blood. Mata uang sikal artinya ‘timbangan perak’. Dalam darah ada nyawa (kehidupan). Lukas 15:12 berkata “Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.” Kata ‘harta kekayaan’ dalam ayat tersebut tertulis ‘his living’ dalam Alkitab King James Version. Hal ini berarti dalam kekayaan ada kehidupan, jadi ketika kekayaan tersebut digunakan untuk hal yang tidak berkenan kepada Tuhan pastilah kutuk menanti. Karenanya bangsa Israel begitu berhati-hati menggunakan uang karena mereka mengerti bahwa ada perjanjian darah dalam mata uang mereka. Bangsa Israel menganggap sedekah sebagai keadilan. “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17) Begitu juga dalam kehidupan kita ada perjanjian, bahwa ketika kita menerima Tuhan maka Ia akan memberikan kita hidup yang berkelimpahan.
  • Mereka mempunyai tugas. Kejadian 2:15 berkata “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kejadian 30:43 berkata “Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai.” Setiap kita diberi talenta oleh Tuhan dan harus dipertanggungjawabkan.
  • Mereka dievaluasi (berbuah dan memuliakan nama Tuhan). Lukas 13: 6-7 berkata “Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” Apa yang sedikit di tangan kita dapat diubah menjadi berkat ketika Tuhan turut bekerja dalam hidup kita.
Advertisements

Terpanggil, Terpilih, Setia

Wahyu 17:14

“Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.””

Shalom!

                Penyesatan adalah salah satu kuasa iblis yang ingin menghancurkan kita. Persoalan boleh terjadi tetapi kita harus dengan bijaksana mengatasinya, yaitu dengan tetap berfokus kepada Tuhan Yesus Kristus. Umat Tuhan yang akan menang atas pencobaan adalah mereka yang terpanggil, dipilih dan setia. Setiap kita pasti pernah mengalami perjumpaan pribadi bersama Tuhan, itulah tandanya kita terpanggil. Kita tahu bahwa kita dipilih, yaitu ketika kita mulai berkomitmen untuk melayani Tuhan (melakukan sesuatu yang terbaik bagi Tuhan dengan menolong sesama). Setelah itu, Tuhan bermaksud untuk membentuk sebuah ‘komunitas kasih’ yang beribadah tidak berdasarkan ritual agamawi, yaitu orang-orang yang setia dimana yang fokus hidupnya hanya kepada Tuhan.

                Kita tak bisa melawan keempat hukum ini, yaitu: hukum alam, hukum hati nurani, hukum pemerintahan dan hukum Tuhan. Adalah suatu kebodohan ketika kita melanggar hukum-hukum tersebut meskipun kita tahu resiko pelanggaran tersebut, itulah pencobaan yang timbul karena kesalahan kita sendiri. Namun, ketika pencobaan terjadi meskipun kita hidup benar, maka bersyukurlah sebab hal itu terjadi untuk mendewasakan kerohanian kita.

                Kejadian 1:1-8 berkata “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.” Berdasarkan ayat tersebut, Roh Allah yang melayang-layang diibaratkan seperti induk ayam yang sedang mengerami telurnya dimana hal tersebut memerlukan suhu tertentu. Hal ini berarti ketika kita memiliki ide-ide baru untuk diwujudkan, eramilah hal tersebut di dalam hadirat Tuhan sebab segala hal yang baru datangnya dari Tuhan. Ketika Tuhan membentuk cakrawala itu seperti Seseorang yang memukul-mukul dengan palu sehingga terbentuklah sebuah kubah. Hal ini menandakan ‘sign of passion’, jadi kita harus memiliki kegairahan (semangat, optimisme, antusias) dalam hidup dan melakukan segala sesuatunya terutama dalam hal hubungan kita dengan Tuhan, kita harus kembali kepada cinta mula-mula kepada Tuhan. Hari-hari ini kita harus memiliki kegairahan dalam transformasi Indonesia ke arah yang lebih baik juga dalam penyebaran Injil ke seluruh dunia. “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”” (Matius 24:14) Kita bersemangat karena kita adalah umat yang menerima janji Tuhan.

                Kejadian 1:14-18 berkata “Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Melalui ayat tersebut, Allah menghendaki agar kita memiliki ‘value’ sehingga kita menjadi ‘tanda’ (barometer/icon) dalam pekerjaan kita, menjadi terang dan garam bagi dunia, juga menguasai waktu dan berjalan sesuai dengan kairos Tuhan. Kejatuhan manusia pertama membuat tujuan penciptaan manusia pertama bagi Tuhan berubah karena hal tersebut melepaskan ‘image’ Tuhan dalam diri manusia sehingga ‘value’ Ilahi dalam diri manusia pun hilang. Karenanya, sekarang marilah kita mengembalikan citra Ilahi tersebut ke dalam diri kita dengan menjaga kekudusan hidup dan urapan Tuhan dalam diri kita.

The Power Of Sacrifice

Ibrani 11:4

“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.”

Shalom!

Mengapa korban Kain sering dibandingkan dengan korban Habel? Karena Kain hanya mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya, juga ia mempersembahkan korban dari hasil tanah yang sebelumnya telah dikutuk Tuhan sedangkan Habel mempersembahkan binatang sesuai teladan Tuhan ketika mendamaikan dosa Adam dan Hawa, yaitu mencurahkan darah binatang sehingga kulitnya dapat dijadikan pakaian bagi Adam dan Hawa. “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” (Kejadian 3:21) Kita tidak boleh mempersembahkan sesuatu yang buruk kepada Tuhan, baik secara sikap hati yang tidak rela maupun kualitas korban yang kita persembahkan tersebut. Perkenanan Tuhan terjadi ketika kita berkorban dengan sikap hati yang sungguh-sungguh memberikan korban yang terbaik kepada Tuhan meskipun dengan penuh jerih payah dan air mata. Marilah kita mempersembahkan korban yang terbaik bagi Tuhan (korban persembahan yang tidak mengandung unsur dosa) karena kita sudah berada di era ‘kedewasaan’, bukan lagi seorang yang kerdil rohaninya, maka mujizat yang kreatif pasti nyata dalam hidup kita! Berusahalah untuk menyenangkan hati Tuhan, meski kita tidak diperhitungkan oleh dunia namun Tuhan akan bertindak meninggikan kita ketika kita hidup berkenan di hadapan-Nya. “”Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ulangan 28:1-2) Berkat itu seperti sebuah kado yang kita terima karena hasil sebuah keintiman dengan Tuhan, yaitu pentahbisan oleh darah Yesus. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Rasul 4:12) Jangan cinta uang! Berkat yang sesungguhnya tidaklah hanya sebatas materi tetapi damai sejahtera Ilahi yang melampaui segala akal manusia dan kita seharusnya adalah orang yang paling bahagia di dunia ini sebab darah Kristus mengalir dalam diri kita, namun ingatlah kita harus mempergunakan berkat Tuhan untuk memberkati orang lain juga bukan dengan ketamakan.

Mengapa bangsa Israel ditentukan sebagai penentu sejarah dunia sehingga dijadikan sebagai tolak ukur kehidupan segala bangsa lain di bumi? Kita harus belajar Firman Tuhan secara detail bukan hanya sekilas saja agar kita tidak disesatkan oleh ajaran dunia yang ‘berbeda tipis’ dengan Firman Tuhan. “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.” (Keluaran 1:13-14) “Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”” (Keluaran 16:2-3) Memang ketika diperbudak di Mesir (mengikuti sistem dunia), bangsa Israel penuh dengan kelimpahan secara jasmani namun jiwa mereka tertekan. Namun, ketika mereka keluar dari Mesir ke padang gurun, mereka dituntun Tuhan dengan Firman-Nya untuk menjadi umat yang excellent juga diberkati berlimpah-limpah dengan pemeliharaan Tuhan yang sempurna. Yesaya 30:20-21 berkata “Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri.” Kekayaan adalah tolak ukur kesuksesan di mata dunia, namun Tuhan tidak menghendaki umat-Nya untuk cinta uang karena kemerdekaan jiwalah (ketenangan) yang menjadi kesuksesan sesungguhnya di mata Tuhan. Memasuki tahun baru ini, marilah kita memiliki paradigma yang baru pula sesuai dengan paradigma Tuhan, yaitu mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera meskipun hidup sederhana namun penuh sukacita.

Yosua 5:10 berkata “Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho.” Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel ‘dimanja’ (just enough blessing) oleh Tuhan (diberi benih untuk menabur) namun seiring dengan pertumbuhan kerohanian mereka…Tuhan mengajar mereka menjadi umat yang dewasa, yaitu dengan banyak menabur agar mereka menerima tuaian besar (more than enough blessing). Dalam tahap ini Tuhan menghendaki kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga memikirkan orang lain, yaitu memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi berkat bagi orang lain juga. Hendaklah kita memiliki hati yang berbelas kasih kepada mereka yang ‘terhilang’, setia beribadah dan mendoakan kesejahteraan orang lain, inilah korban yang berkenan kepada Tuhan. Milikilah mental pemberi bukan hanya mental penerima. Ketika kita menabur hal yang baik, maka keturunan kita pun akan menuai yang baik.

You Are What You Think

1 Yohanes 4:4-6

“Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”

Shalom!

Pemulihan seutuhnya terjadi jika hati kita mengalami pembaharuan karena hati adalah sumber kehidupan. Kita bukan dari dunia, Tuhan memiliki ukuran kesuksesan kita sesuai standar Kerajaan Allah. Sebab itu, janganlah terpancing oleh apa yang dikatakan oleh dunia melainkan lakukanlah segala sesuatunya sesuai dengan sistem Tuhan, yaitu berjalan di dalam Firman Tuhan dan Roh Kudus.

Tanamkan di dalam diri kita bahwa Tuhan ada dalam diri kita sehingga kita memiliki pola pikir Kristus dan tindakan-tindakan kita pun selaras. Tuhan menghendaki kita memiliki ‘tanda’ Kristus sehingga orang lain melihat Allah di dalam diri kita dan menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat mereka.

Untuk memiliki ‘icon Kristus’ kita harus memiliki gambar diri yang benar. Sesungguhnya kita ini berasal dari Allah, karenanya kita harus tetap percaya pada Firman Tuhan tanpa terpengaruhi oleh kedagingan/perasaan kita. Dalam segala sesuatunya, kita harus selalu bertanya kepada Tuhan untuk setiap jawaban pergumulan kehidupan kita.

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. (1 Samuel 17:45)

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24) Sebagai orang Kristen (pengikut Kristus), kita harus memikul salib setiap hari seperti Tuhan Yesus yang memikul salib sepenuhnya (dengan sempurna).

Hikmat datangnya dari atas (Tuhan), karenanya kita harus selalu intim dengan Tuhan untuk menyelesaikan tugas kita di bumi. Selain itu, bersosialisasilah dengan orang-orang yang berkualitas kehidupannya agar kitapun memiliki kehidupan yang berkualitas pula. Pergaulan kita menentukan masa depan kita.

            Kita harus memiliki mata seperti mata Tuhan untuk memvisualisasikan masa depan kita yang penuh harapan.  Sebuah biji/benih yang kecil terlihat sepele, namun ketika biji/benih tersebut diletakan sesuai dengan habitatnya, maka biji/benih tersebut akan tumbuh menjadi tanaman yang indah (hidup). Berhati-hatilah menggunakan uang karena jika kita tidak bijaksana dalam mempergunakannya, maka kita akan terjebak ke dalam kesengsaraan.

Saluran Atau Penampungan?

Kisah Rasul 20:35

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Shalom!

Di hari-hari ke depan akan terjadi suatu keadaan dimana spirit gereja mula-mula akan terjadi lagi dalam frekuensi yang lebih tinggi. Ketika kita memberi dengan iman, kita harus mengerti untuk memberi ‘sesuatu yang bernilai’ dan ‘yang menjadi keinginan Tuhan’ sehingga persembahan kita menyenangkan hati-Nya. Kejadian 12:2-3 berkata “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Tokoh-tokoh Alkitab lain yang menjadi teladan iman (Ibrani 11) memberi hanya sebatas untuk dirinya sendiri, sedangkan Abraham disebut sebagai ‘Bapa iman’ karena ia memiliki satu pernyataan dari Tuhan bahwa hidupnya harus menjadi saluran berkat bagi banyak orang (dampak pemberian Abraham tidak hanya untuk dirinya sendiri saja, tetapi untuk orang lain juga). Hendaklah kita tidak hanya menjadi penampung berkat saja tetapi menjadi saluran berkat juga sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

Kembangkan talenta yang Tuhan beri pada kita dengan cara memberi dengan tulus (Yohanes 6:5-6). Seringkali kita mempunyai iman hanya sebatas apa yang kita kehendaki bukan seperti yang dikehendaki Allah sehingga kita hanya menerima ‘secukupnya’ bukan ‘berkelimpahan’ (Yohanes 6:11-13). Seringkali kita memberi komentar negatif terhadap Firman Tuhan dan menganggap kita lebih kecil dari masalah sehingga iman itu tak lahir dan kita tak mengalami multiplikasi dan promosi (Yohanes 6:7). Tetapi hendaklah kita memperhatikan sesuatu yang tidak kelihatan lebih dari sesuatu yang terlihat secara kasat mata agar kita tidak salah penafsiran Firman Tuhan. Kita adalah biji mata Tuhan, tak perlu kuatir sebab segala perkara dapat kita tanggung di dalam Kristus, semangatlah! Hukum tabur tuai tetap berlaku.

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Tuhan Yesus memberkati.