Hamba Yang Baik Dan Setia

​Matius 25:24-26,30  Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Malas bukan spirit, tetapi kebiasaan. Jadi kemalasan bukan ikatan roh jahat tetapi awal dari kejahatan-kejahatan. Kita harus waspada. Malas terlihat sepele tetapi akan merusak kehidupan diri sendiri dan orang lain. Kita harus rajin dan melakukan terobosan! Amsal 18:9  Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.

Ciri-ciri orang malas, yaitu:

1. Menunda-nunda pekerjaan. Amsal 19:24  Si pemalas mencelup tangannya ke dalam pinggan, tetapi tidak juga mengembalikannya ke mulut.

2. No action, talk only. Amsal 26:16  Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana. 

Agar kita termotivasi untuk rajin, ingatlah bahwa waktu hidup kita terbatas dan kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita saat dipanggil Tuhan kelak. Amsal 6:6  Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 

Amsal 20:4  Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa. 

Berhentilah malas, jadilah rajin! Rajinlah seperti untuk Tuhan.

Advertisements

Ditanam & Berakar Dalam Kristus

Kolose 2:6-7  Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Sebuah pohon tidak bisa berdiri kokoh tanpa akar, karenanya yakinkan kekristenan kita berakar dalam Kristus untuk mempersiapkan umat yang layak bagi-Nya dan mengalami pelipatgandaan mujizat. Akar berfungsi menyerap sari makanan (sumber kehidupan) dan membuat batang pohon menjadi kuat tidak terombang-ambing, semakin berakar ke dalam maka semakin tumbuh tinggi menjulang sebuah pohon.
Matius 13:5-6  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Kekristenan yang tidak berakar pasti layu, tetapi murid Kristus yang berakar pasti selalu segar. Percayalah Tuhan Yesus sanggup menyegarkan kembali kekristenan kita yang telah layu, kasih-Nya selalu baru setiap hari! Kekristenan kita harus berakar kuat dalam Kristus, jika tidak…kita pasti mudah terombang-ambing dan tidak mungkin mengalami pertumbuhan rohani. Tuhan menghendaki agar kita semakin kuat dan kokoh, bukan terkena tipu muslihat iblis dan layu ditengah goncangan. Jika kita mau berakar dalam Kristus, kita harus:
1) Menjadi akar yang menyerap sari-sari makanan, yaitu dengan mencintai Firman Tuhan. Sikap kita terhadap Firman Tuhan itu seharusnya mendengar, membaca, memahami, menghafal dan melakukannya.
2) Menjadi akar yang berdiri kokoh dan tegak agar tidak mudah berkompromi dengan sistem dunia. Biarlah “sekali Yesus tetap Yesus” menjadi komitmen hidup kita!
3) Menjadi akar yang membuat batang pohon bertumbuh semakin besar dan berbuah lebat. Kita harus menjadi seorang Kristen yang semakin hari semakin bertumbuh dalam Kristus.
Mazmur 1:3  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kisah Para Rasul 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kita harus menopang kekristenan kita dengan menyerap Firman Tuhan, selalu berdoa dan dipenuhi oleh Roh Kudus, jika tidak…kekristenan kita akan mudah layu dan mati. Ketika kita tidak mampu berakar dalam Kristus, maka Roh Kuduslah yang akan mengurapi kita sehingga kita dimampukan untuk berakar, bertumbuh dan berbuah dalam Kristus.

Mujizat Ayin Dalet Dengan Menjadi Imam, Raja Dan Nabi

1 Petrus 2:9

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”

Shalom!

Menjadi Imam berarti kita layak masuk ke ruang maha kudus, menjadi raja berarti kita memiliki hak memerintah, sedangkan menjadi nabi berarti kita wajib memberitakan Firman Tuhan. Ayin adalah mata Tuhan sedangkan dalet adalah angka 4 yang berarti pintu, miskin di hadapan Allah, dan tanggung jawab.             Daniel 2:48 berkata “Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel.” Di tahun ayin dalet, Allah akan memberikan promosi dan otoritas untuk memerintah di level yang lebih tinggi. Meskipun sekarang kita merasa ‘di bawah’, milikilah mental yang ‘di atas rata-rata’ karena setiap kita memiliki tujuan hidup untuk berfungsi sebagai imam, raja dan nabi. Belajarlah menggunakan otoritas Ilahi dengan mengatakan hal-hal yang positif atas semua hal yang negatif. Janganlah menjadi tinggi hati karena janji Allah akan masa depan kita, karena untuk mencapai semua itu memerlukan kerendahan hati dan proses sepanjang hidup kita.

Mikha 4:1-3 berkata “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem.” Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.”

Mazmur 2:1-6 berkata “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya: “Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!””

Di hari-hari terakhir, kita sebagai anak Tuhan akan diangkat ke level yang lebih tinggi tetapi ingatlah, bukan kita yang mengangkat diri sendiri. Hendaklah kita jangan menolak ‘pengangkatan’ Tuhan, karena menolak ketetapan Tuhan bukanlah suatu tindakan yang berhikmat. Tuhan akan mengangkat umat-Nya yang rendah hati, bukan umat yang tinggi hati karena kemampuannya sendiri. Naik ke level yang lebih tinggi memerlukan proses, tidaklah seketika setelah kita diurapi tetapi percayalah bahwa Tuhan setia menepati janji-Nya dalam hidup kita. Bermimpilah yang besar dan pantang menyerah karena tahun ayin dalet berbicara mengenai Tuhan yang menghendaki kita untuk memiliki otoritas memerintah seperti Dan, Yusuf, Daud, dan Daniel.

                 Melalui otoritas sebagai imam, kita dilayakan untuk masuk ruang maha kudus kapanpun karena darah Yesus yang telah melayakkan kita. Menjadi hebat (kaya, berprestasi, diberkati berlimpah) tidaklah salah asalkan hati kita tetap melekat kepada Tuhan. Kita diberi otoritas sebagai raja untuk memerintah dan diberkat menjadi kepala bukan ekor, namun jadilah raja yang melayani bukan selalu dilayani. Kuncinya adalah percaya akan setiap janji Tuhan bagi hidup kita; rela bayar harga melalui tindakan-tindakan iman kita demi mewujudkan tujuan Ilahi tersebut; tahan dalam setiap ujian dengan tetap bersyukur dan berpegang pada Firman Tuhan meskipun merugi; serta menerima pengurapan Tuhan. Urapan Tuhan memampukan kita melakukan hal-hal yang tidak dapat kita lakukan, yaitu mencapai tujuan Ilahi.

God’s Mission For Indonesia

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Matius 9:35-36)

 

Kita adalah murid sekaligus hamba Tuhan Yesus, maka kita pun sepatutnya melakukan apa yang telah Ia lakukan bagi dunia, salah satunya adalah melalui pelayanan misi. Terlalu banyak anak muda yang terhilang dan tidak dipedulikan bahkan hingga di daerah-daerah terpencil. Disinilah peran kita sebagai anak-anak Terang sangat diperlukan sebagai wujud kepedulian akan kesejahteraan bangsa ini, kuncinya adalah dengan mengasihi Tuhan dan sesama. Ada empat hal yang harus kita lakukan dalam pelayanan misi, yaitu:

1)     Doa misi. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:37-38)

2)     Data misi. Sebelum melakukan pelayanan misi, kumpulkanlah segala informasi tentang daerah yang akan dilayani dan jumlah jiwa yang akan dilayani, agar kita tidak salah sasaran dalam melayani.

3)     Daya misi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Lukas 10:27)

4)     Dana misi. Pelayanan misi memerlukan biaya yang tidak sedikita, maka kita pun harus memiliki hati yang rela menabur bagi pelayanan ini.

 

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)

 

Jadilah anak muda yang hebat tetapi tetap rendah hati, yaitu dengan tetap menjadikan Tuhan Yesus sebagai prioritas hidup yang utama sehingga hati kita tetap melekat kepada-Nya bukan kepada segala prestasi ataupun kehebatan kita. Tak perlu takut dalam melakukan pelayanan misi, sebab Tuhan sendiri yang berjanji bahwa Ia akan selalu menyertai kita. Bagian kita hanyalah mendedikasikan diri sepenuhnya bagi perluasan Kerajaan Surga di Bumi ini sedini mungkin.