Mengasihi Tuhan & Sesama Dengan Standar Surga

Matius 22:37-40

“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.””

Shalom!

Mengasihi Tuhan dan sesama adalah kewajiban kita sebagai orang percaya dan kita harus melakukannya sesuai standar Tuhan, bukan standar kebenaran kita sendiri. Tindakan lahiriah kita (beribadah ke gereja, pelayanan) bukanlah pertanda bahwa kita telah mengasihi Tuhan, tetapi standar kita untuk mengasihi Tuhan lahir dari hati yang murni sehingga kita bersungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan dengan memberikan yang terbaik bagi-Nya (waktu, tenaga, dana). Itulah yang disebut mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi sesuai standar Tuhan. Bagi Tuhanlah segala pujian, hormat dan kemuliaan! Hanya Tuhan yang layak menerima segala yang terbaik dari kita sebab Ia telah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi kita. Ketika kita sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya, maka Ia akan berkenan akan kita dan kita akan mengalami hadirat-Nya sehingga ibadah kita tidak sia-sia. Mengasihi Tuhan yang Ia kehendaki adalah mendekat kepada-Nya dalam segala keadaan karena yang menjadi fokus kita adalah pribadi Tuhan sendiri bukan hanya berkat-berkat-Nya semata. Itulah yang dikehendaki-Nya, yaitu agar kita tetap setia mengasihi-Nya baik ketika kita bahagia maupun sedih. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33) Marilah miliki paradigma sesuai Firman Allah, yaitu bahwa Tuhan lebih penting dibandingkan segala apapun yang ada di dunia ini. Ketika kita sungguh-sungguh merindukan Tuhan, Ia pasti akan tertarik kepada kita.

Daud pun manusia biasa sama seperti kita namun Tuhan begitu berkenan akan dia dibandingkan Saul yang sepertinya ‘tidak terlalu berdosa’, namun Tuhan menolak Saul. Yang membuat Tuhan berkenan akan Daud adalah hatinya. Daud hidup dengan hati yang murni, melekat kepada Tuhan, sekalipun ia harus kehilangan segalanya tetapi ia tetap mempertahankan Tuhan dalam hidupnya. Tidak ada hal lain yang membuat Daud ‘menduakan’ Tuhan. Hal yang membuat kita gagal mengasihi Tuhan adalah cinta akan uang. Allah itu cemburu adanya, karena begitu besar kasih Allah pada kita sehingga Ia tidak menghancurkan kita tetapi Ia akan menghancurkan ‘saingan-Nya’ yang membuat kita ‘menduakan’ Dia, yaitu segala hal yang kita utamakan lebih dari mengasihi Tuhan.

Selain itu, kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Kita gagal mengasihi sesama manusia karena kita gagal mengasihi diri kita sendiri (memiliki konflik batin dengan diri sendiri). Pertama-tama kita harus berdamai dengan diri sendiri dengan bersyukur dan menerima diri kita sendiri apa adanya (berhenti membanding-bandingkan kekurangan diri sendiri dengan kelebihan orang lain) sehingga kita memiliki hati yang damai sejahtera dan dimampukan menerima orang lain apa adanya. Tuhan akan lakukan hal yang indah dalam hidup kita ketika kita mau belajar mengasihi sesama mulai dari hal-hal yang kecil. Kita harus belajar peduli akan hidup orang lain dan berbagi, mungkin saja hal-hal yang biasa untuk kita adalah hal-hal yang luar biasa bagi orang lain. Biarlah dengan segala perbuatan kita, kita memuliakan Tuhan Yesus dalam hidup kita! “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”” (1 Korintus 2:9)

Advertisements

Mengasihi Dengan Standar Surga

Shalom!
Hari-hari ini kasih kebanyakan orang menjadi semakin dingin. Kegagalan kita dalam mengasihi sesama manusia adalah karena kita gagal mengasihi Allah. Matius 22:37-40 berkata “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”” Ketika kita gagal memenuhi standar surga dalam mengasihi Tuhan, yaitu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, maka kita tidak layak beribadah kepada Tuhan dan tidak akan mengalami hadirat-Nya dalam ibadah. Tuhan menghendaki agar kita mengejar-Nya dengan kesungguhan hati lebih dari hal yang lain. Kita harus mengutamakan Tuhan diatas segalanya dalam hidup ini. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)
Setelah dalam hal beribadah, kita harus mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam hal memberi bahkan hingga rela memberikan nyawa kita bagi-Nya. Memberi kepada Tuhan adalah suatu korban yang dipersembahkan dengan bayar harga bukan hanya sekedar pemberian seadanya. Jika kekuatiran kita saja tidak bisa kita serahkan seutuhnya kepada Tuhan, maka hal-hal yang menyenangkan bagi kita tidak dapat kita berikan kepada-Nya. Kita harus melayani Tuhan dengan standar surga, bukan dengan standar kebaikan diri kita sendiri.
Daud mendapat perkenanan Tuhan karena ia mengasihi Tuhan sesuai dengan standar yang Tuhan kehendaki, yaitu Daud memiliki hati yang murni, hati yang melekat kepada Tuhan, hati yang mengasihi Tuhan lebih dari apapun di dunia ini. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi berarti tidak mendekat kepada-Nya hanya dalam keadaan susah saja tetapi kita tetap mencari-Nya dalam segala keadaan baik susah maupun senang. Ketika kita mengasihi-Nya dengan penuh kerinduan, pasti Tuhan akan tertarik kepada kita.
Cinta akan uang membuat kita tidak bisa mengasihi Tuhan dengan standar yang Tuhan kehendaki. Tuhan tidak akan menerima persembahan kita ketika kita tidak mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Allah itu Allah yang cemburu, Ia tidak menghendaki kita mencintai hal yang lain lebih dari pada kita mencintai-Nya. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”” (1 Korintus 2:9) Perintah Tuhan untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan akal budi bukanlah demi keegoisan-Nya semata melainkan demi kebaikan hidup kita sendiri karena Ia sangat mengasihi kita sehingga Ia pun ingin kita hidup bahagia. Karenanya, kasihilah Tuhan dengan tulus (sukacita) tanpa paksaan.