Hidup Dalam Multiplikasi

Shalom!
Kita memang hidup di dunia, tetapi kita harus mengikuti peraturan surga. Orang benar bukan hanya diberkati untuk bertahan hidup tetapi bahkan mengalami multiplikasi. Dunia mengajarkan bahwa kesuksesan diraih orang yang hebat dalam sebuah ‘persaingan’ yang kompetitif tetapi Firman Tuhan mengajarkan bahwa kesuksesan diraih dengan hidup benar dan takut akan Tuhan. Ketika Tuhan membuka pintu berkat-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat menutupnya karena Tuhan kita luar biasa, dahsyat dan ajaib. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”” (1 Korintus 2:9) Lalu, bagaimana rahasia hidup dalam multiplikasi?
1. Hidup dalam keseimbangan. Yohanes 6:5 berkata “Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”” Kita harus menghidupi teladan Yesus dalam seluruh aspek kehidupan kita, di mana pun kita berada kita harus berlaku sama, itulah keseimbangan. Mengapa kita harus hidup seimbang (baik dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, pekerjaan maupun pelayanan)? Karena iman dan tindakan iman harus seimbang. Ketika kita berani bayar harga untuk taat kepada Tuhan, pastilah Tuhan akan membela kita. Tuhan selalu memberkati kita jika kita hidup seimbang, karena itu adalah kebenaran di mata Tuhan.
2. Hidup seirama dengan Tuhan. Yohanes 6:6-7 berkata “Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”” Kita harus ikut Tuhan, bukan sebaliknya: Tuhan ikut kita. Ikut Tuhan memang penuh air mata bahkan sering dianggap suatu kebodohan bagi dunia tetapi ketika taat akan perintah-Nya, percayalah Tuhan akan memberkati kita berlimpah-limpah. “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” (Mazmur 126:5) Seirama dengan Tuhan, juga berarti berjalan sesuai waktu Tuhan. Percayalah, Tuhan sanggup lakukan mujizat!
3. Hidup sebagai penabur yang baik. Yohanes 6:8-9 berkata “Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”” Dari ayat tersebut kita belajar bahwa jika anak tersebut masih mempertahankan makanannya tentulah mujizat tidak terjadi karena berkat tersebut hanya bagi dia saja, tetapi ketika anak tersebut melepaskan haknya…terjadilah mujizat! Firman Tuhan berkata lebih banyak menabur, pasti akan lebih banyak menuai; bukan sebaliknya. Tuhan tidak melihat jumlah pemberian kita tetapi kesungguhan hati kita untuk memberi. Ketika kita menabur untuk pekerjaan Tuhan, hidup kita pasti akan semakin diberkati.

Advertisements

Hidup Berhasil

2 Korintus 4:7-9

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. ”

Shalom!

Keberhasilan menurut Allah berbeda dengan dunia. Standar berhasil menurut Alkitab adalah keberhasilan yang Ilahi. Doa orang benar besar kuasanya, doa mampu mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kehebatan kita tidak mampu menyelamatkan kita, tetapi hanya Tuhanlah yang berkuasa menyelamatkan hidup kita dengan sempurna dan mengubahkan hidup kita menjadi baru. Prinsip pelayanan yang berhasil, yaitu:

  1. Prinsip iman. Hal yang terpenting adalah pengenalan akan Tuhan.
  2. Prinsip kreativitas. Kreativitas tanpa iman hanya akan membuat hidup kita ‘kosong’, tetapi kreativitas beserta iman pada Tuhan akan membuat hidup kita lebih ‘berwarna’.

Menjalani hidup itu tidaklah selalu mudah, menyenangkan, bahkan terkadang berat, jenuh dan membosankan. Namun, jadilah pemenang bersama Tuhan. Dalam perjalanan menuju ‘puncak gunung’, teruslah mendaki bagaimanapun keadaannya karena begitulah seharusnya yang kita lakukan sebagai anak Allah: pantang menyerah. Diperlukan semangat untuk bangkit setelah berkali-kali mengalami kegagalan, bersabarlah dan jangan putus asa.

Ketika segala sesuatu tidak terjadi seperti yang kita kehendaki, syukurilah hal tersebut sebagai sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik di masa depan. Jadilah seperti ‘biji kopi’, yang ketika dipanaskan tidak berubah serbuk kopinya tetapi semakin harum dan enak diminum. Hiduplah dengan iman bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah. Belajarlah hal-hal yang baru dibalik segala masalah kehidupan kita dan tetaplah membawa keharuman dan antusiasme di tengah kehidupan pelayanan kita.

Allah adalah sumber kreativitas. Kreativitas berkaitan dengan pengembangan (inovasi) yang muncul dari pemkiran yang tidak konvensional, belajarlah untuk berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. Kreativitas berkembang seiring dengan kemajuan zaman yang menuntut kepraktisan hidup manusia.

“TALITA KUM”

Shalom!

Ketika kita menempatkan Tuhan Yesus diatas segalanya sesungguhnya kita sedang mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa Yesus adalah Tuhan. Masalah bukan akhir dari segalanya melainkan kesempatan untuk kita melihat mujizat Allah yang lebih besar sehingga dunia pun melihat kebesaran-Nya. Seorang pemenang akan meyakini bahwa Tuhan lebih besar dibanding segala masalah, dan bersama Yesus kita adalah lebih dari pemenang.

Markus 5:21-24,35-43 berkata “Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.”

Kita adalah garam dan terang dunia. Garam berfungsi di tengah keadaan yang membusuk sedangkan terang berfungsi dalam kegelapan, karenanya menginjillah! Penginjil bukanlah sebatas “jabatan”, tetapi itulah fungsi kita sebagai pembawa kabar baik bagi dunia. Percayalah bahwa kita pun akan mengalami “kebangkitan” dalam berbagai aspek kehidupan kita karena perkataan Yesus penuh kuasa membangkitkan kehidupan kita dari keterpurukan, mujizat masih ada! Mujizat terjadi ketika kita mengambil keputusan untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Hal yang harus kita lakukan untuk terima mujizat yaitu:

  1. Datanglah kepada Yesus dengan rendah hati dan apa adanya. Kita akan menemukan keindahan kehidupan melalui perbedaan, karena untuk berbahagia kita tidak perlu menjadi sama satu dengan yang lainnya tetapi terimalah satu sama lain dengan saling mengalah. Di dalam kesatuan ada mujizat Tuhan yang luar biasa.
  2. Sepakat. Matius 18:18-20 berkata “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ketika ada kesepakatan antara suami istri, maka kesatuan bukan hanya akan dialami secara jasmani bahkan secara spiritual juga. Mezbah keluarga adalah hal yang penting untuk mempersatukan suami-istri dan kunci dari keluarga yang diberkati. Suami-istri haruslah sepakat sampai akhir hayat karena Tuhan hadir dalam kesepakatan umat-Nya.
  3. Selama bersama Yesus, mujizat selalu tersedia bagi kita!