Persekutuan Dengan Berita Injil

Filipi 1:5-6, 9-11 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Kita akan cenderung berhenti di tengah jalan dalam mengiring Kristus jika kita tidak memiliki persekutuan dengan berita Injil.

Persekutuan (Yun, koinonia) artinya menyatu, penjelmaan (embodiment). Injil (Yun, eagelia) artinya berita Kristus (bukan sekedar good news), berita kerajaan. Jadi persekutuan dengan berita injil merupakan penyatuan kita dengan berita Kerajaan Allah hingga menjadi gaya hidup kita di mata orang lain. Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

Filipi 1:6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan (Yun, ergon: produksi) yang baik (Yun, agathos: hal-hal terhormat, sempurna, dewasa) di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Jadi, ketika kita memiliki persekutuan dengan berita injil maka Kristus akan memproduksi hal-hal terhormat, sempurna dan dewasa dalam diri kita. Sebaliknya, orang-orang Kristen yang melakukan hal-hal yang tidak berkualitas berarti tidak memiliki persekutuan dengan berita Injil.

Mari introspeksi kembali diri kita apakah kita sudah hidup terhormat di depan sesama manusia? Kata ‘sempurna’ dalam Alkitab artinya matang dan dewasa, jadi semua orang bisa menjadi sempurna tanpa terkecuali.

Filipi 1:9 Dan inilah doaku, semoga [bahwa] kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

Dengan demikian, semakin kita bersekutu dengan berita Injil maka semakin natural kasih kita kepada sesama (bukan semakin dingin) sehingga siapa pun yang berada dekat kita dapat merasakan kuasa kasih Kristus tsb. Kasih akan semakin bekerja dalam diri kita!

Filipi 1:10-11 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Pertimbangkan ulang apakah pengertian yang benar semakin menguasai mindset kita atau tidak. Semakin kita tahu kebenaran injil maka kita akan semakin mudah dalam mengambil pilihan hidup yang benar karena kita tahu faedah dari hidup benar. Hanya ada hitam dan putih, tidak ada abu-abu dalam kamus hidup kita. Kita tahu apa yang harus dilakukan dan harus ditinggalkan. Semakin kita bersekutu dengan berita Injil maka semakin kita akan kedapatan berkenan di hadapan-Nya, buah kebenaran (keteladanan penuh) akan semakin terlihat dari diri kita. Memiliki keteladanan penuh tidak terjadi tiba-tiba, tentu setelah proses yang menyakitkan. Tuhan akan dimuliakan orang melalui kita sehingga tidak ada celah untuk orang mencibir kita sebagai orang Kristen. Dengan demikian, kita adalah produk Kristus yang sempurna. Pada akhirnya, yang Tuhan cari adalah mempelai-Nya yang suci, tak bercacat dan penuh dengan buah kebenaran. Mari kita semakin serius hidup benar sebagai anak-anak Allah menjelang kedatangan-Nya!

Advertisements

Realita Hidup Sebagai Ciptaan Baru

2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Hubungan intim dengan Tuhan adalah esensi kekristenan yang mana dibangun melalui perenungan firman-Nya setiap hari sehingga kita “teruji” sebagai ciptaan baru. Kita akan semakin teruji sebagai ciptaan baru hanya melalui Kristus, artinya di luar Kristus tak ada ciptaan baru.

Kata “ciptaan” (Yun.) artinya:

  1. Peraturan yang baru
  2. Kelakuan yang baru
  3. Mengalami transformasi secara utuh

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah (=be ye transform, KJV) oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kata “berubah” (=metamorpho, Yun.) artinya:

  1. Perubahan bentuk (transfigurasi). Perubahan ini bersifat total (luar dan dalam), bukan sekedar ‘perubahan casing’. Jika kita tidak berubah menjadi ciptaan yang baru, tentu kita akan hidup munafik dan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
  2. Perubahan sesuai fakta tentang siapa kita, yaitu: Efesus 5:8-11 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

Pembaharuan budi diperoleh dengan Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah (=menjadikan inventaris dalam otak & menjadikan sebagai pendapat, Yun.) semuanya itu.

Ketika kita memenangkan pikiran kita, pasti kita dapat memenangkan kehidupan kita!

Kata “baru” (=kainos, Yun.) artinya: baru secara penampilan luar dan baru secara substansi (watak dasar).

Kata “berlalu” (Yun.) artinya sudah binasa dan tidak ada hubungan lagi (tidak penting) sehingga patut diabaikan.

1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku (=mengaku secara terbuka/tidak ada yang ditutup-tutupi dan mengikat janji, Yun.) dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan (=melenyapkan noda & menyembuhkan tabiat berdosa, Yun.) kita dari segala kejahatan.

Hal Kekuatiran

Matius 6:25-27, 31-34 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Kata “kuatir” di ayat tsb menggunakan Bahasa Yunani yang berarti cemas berlebihan, gelisah berlebihan, perhatian kita sepenuhnya tertuju kepada hal yang mengganggu.

Kalimat “hidup itu lebih penting” di ayat tsb didefinisikan sebagai:

  • Nafas hidup yang Tuhan berikan itu lebih penting dibandingkan segala kekuatiran yang berlebihan tsb.
  • Roh manusia (pikiran yang sehat) itu jauh lebih penting sebagai tanda seseorang tsb rohani, juga memiliki pertimbangan logis yang objektif (seimbang). Dengan demikian, akan mudah bagi kita untuk mempercayai firman Tuhan. Bilangan 23:19  Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Hal ini sudah terbukti dari generasi ke generasi, bahwa janji-Nya ialah ya dan amin.
  • Kekekalan jauh lebih penting bagi untuk diutamakan dibandingkan memusingkan perkara duniawi.

Kata “jauh melebihi” (=diafero, Yun.), berarti ditanggung dengan lebih sempurna.

Filipi 4:6-9 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Kuatir berasal dari pikiran yang tidak benar, yaitu tidak mempercayai firman Tuhan yang diwahyukan kepada kita. Jadi, kesadaran untuk berpikir benar berasal dari dalam diri kita dengan berprinsip bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara. Dasar kita percaya pada Tuhan, yaitu: janji-Nya sudah terbukti, Ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan, He is The Master Logic.

Medan pertempuran terbesar dalam hidup adalah di pikiran kita, jadi jika kita bisa memenangkan pikiran kita maka hidup kita merdeka dari kekuatiran. Kekuatiran hanya akan menghambat langkah kita dan tidak melihat hal-hal yang baik. Maka dari itu, kita harus mengenal siapa yang kita sembah agar secara natural dapat berpegang pada firman-Nya dan menerima janji-janji-Nya.

Kerajaan Allah menandakan bahwa pemerintahan Allah mutlak ada dalam kita, dengan demikian apapun yang kita butuhkan (bahkan tidak diminta) akan ditambahkan oleh Tuhan. Jangan biarkan perasaan mendominasi jalan hidup kita, maka kekuatiran akan menyingkir dengan sendirinya. Kita tidak bisa lari dari kenyataan atau menyerah pada kenyataan, maka biasakanlah untuk berpikir benar sesuai firman Tuhan.

1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Kata “serahkanlah” (=epiripto, Yun.), artinya melemparkan ke atas (jangan dipegang lagi). Kata “memelihara” artinya Ia peduli dan tertarik pada apa yang kita lempar. Tuhan Sang Pencipta gravitasi, maka tak ada gravitasi apapun yang dapat membuat Tuhan melepaskan hal yang sudah kita lempar kembali lagi ke bawah. Kita selalu butuh pertolongan Tuhan dalam segala hal sebab tak dapat kita menyelesaikannya sendiri.

Amsal 12:25 Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.

Kata “membungkukkan” (=saha, Ibr.) artinya membuat seseorang tertekan lalu lemah, juga membuat seseorang akan sakit hingga tumbang. Kata “perkataan yang baik” didefinisikan sebagai perkataan bijak yang bersumber dari Allah.

Tanah Yang Subur

Markus 4:3  “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.” Kita harus mendengar, mengerti dan memperluas pemahaman tentang kebenaran. Pertumbuhan rohani tergantung dari reaksi kita menerima benih yang ditabur tersebut. Ketika kita bereaksi yang salah, kita sulit bertumbuh. Percayalah Firman Tuhan selalu benar.

Kondisi tanah adalah simbol tipe-tipe orang yang berbeda dalam bereaksi menerima Firman Tuhan, yaitu:
1) Markus 4:4, 15  Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan “memakannya” [membuang dengan percuma sebab menganggap sia-sia] sampai habis. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan “mengambil” [menyingkirkan kebenaran bahwa Firman Tuhan itu hal yang esensi] firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Allah adalah sama dari dulu sampai sekarang, tetap kuat, hebat, berkuasa dan dapat diandalkan.

2) Markus 4:5-6, 16-17  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Tipe ini adalah orang yang mendengar Firman tetapi miskin pemahaman tentang siapa Allah. Hendaklah kita mengenal Tuhan melalui hubungan pribadi kita dengan-Nya, bukan melalui apa kata orang. Kita semakin mengenal Tuhan melalui proses pemurnian karakter dalam hidup sehari-hari. Kita diuji melalui penindasan (beban, tekanan, masalah, banyak pertanyaan tak terjawab) agar kita menjadi orang yang kaya pemahaman akan Kristus. Kita harus bisa melihat kehebatan Tuhan dalam kelemahan kita. Kita pun diuji melalui penganiayaan, apakah kita masih melakukan kebenaran sekalipun teraniaya? Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran karena Kerajaan Allah menjadi milik mereka. Hendaklah kita memiliki pemikiran “Tuhan, apa yang Tuhan kehendaki untuk saya dalam proses (masalah) ini?” Bukan soal kuatnya kita menghadapi masalah tetapi sedalam apa Firman Allah berakar dalam diri kita, itulah yang menguatkan…karena kita tahu siapa Allah yang menyertai kita. Murtad itu berawal dari kebiasaan hidup dalam dosa meski tahu kebenaran (terjebak dalam kesalahan), taat kepada Tuhan tidak dengan konsisten karena tidak benar-benar mengenal-Nya.

3) Matius 13:7  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Markus 4:18-19  Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Semak duri maksudnya adalah mendengar Firman tetapi Firman tersebut terhambat pertumbuhannya oleh kekuatiran. Matius 6:30-33  Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Kekuatiran menghambat pertumbuhan rohani kita, jika kita tidak berbuah, hanya neraka kekal yang menanti kita setelah ini.

4) Markus 4:20  “Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” Hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang rela dibentuk Tuhan, mengutamakan Tuhan, bertahan di tengah tekanan, dan tak terpengaruh cemoohan dunia karena kita pengikut Kristus. Kita harus mengenal dengan benar siapa Tuhan kita sehinggal kita kuat menghadapi hidup, berbuah dan memuliakan Tuhan, surga kekal pun menanti kita.

Hal-Hal Yang Tuhan Cela

Shalom! Sebagai pengikut Kristus tentunya kita ingin agar apa yang kita lakukan bagi Tuhan pada akhirnya tidak dicela, karenanya kita harus belajar begitu rupa agar pekerjaan kita tidak ‘ditolak’ Tuhan. Markus 16:14 berkata “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.” Orang-orang yang dicela Yesus ini adalah murid-murid-Nya sendiri, yang mana mereka adalah orang-orang terdekat Yesus selama hidup di bumi. Hal-hal yang dicela Tuhan Yesus, yaitu ketidakpercayaan dan kedegilan hati para murid-Nya yang meskipun telah banyak diajar namun tetap tidak berubah, hal ini disebabkan karena Firman Tuhan tidak mengakar dalam hati kita. Ketika kita degil hati, kita sedang membuka celah untuk Tuhan  mencela kita. Jadi, kita harus berusaha menyingkirkan ketidakpercayaan dalam hati kita dan berhenti untuk degil hati. Kata yang digunakan Tuhan Yesus ketika mencela muridnya atas ketidakpercayaan mereka yaitu ‘apistia’ yang berarti percaya tetapi tidak setia (tidak konsisten) karena kepercayaan kita hanya berdasarkan mood/keadaan. Suasana hati (mood) hendaknya tidak mempengaruhi kepercayaan kita kepada Tuhan sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah dalam setiap aspek kehidupan. Hal yang harus kita bangun dalam diri kita yaitu tetap percaya kepada Tuhan baik ketika Tuhan menjawab doa kita maupun ketika tidak menjawab doa. Hal inilah yang mutlak harus kita miliki, yaitu iman yang konsisten. Selanjutnya, Yesus mencela murid-murid-Nya atas kedegilan hati mereka yang mana menggunakan kata ‘sklerokardia’, yaitu miskin persepsi tentang Tuhan sehingga memiliki hati yang terbiasa menyerang Tuhan dan dengan gampang berbicara kurang ajar tentang Tuhan. Maleakhi 3:13-14 berkata “Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?” Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?” Cara terbaik agar tidak menjadi degil hati adalah memperkaya persepsi kita tentang Allah melalui pembelajaran akan Firman-Nya sehingga semakin hari kita akan semakin mengenal Allah dan tidak mudah mencela Allah. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang berkuasa menopang seluruh alam semesta. Maka putuskanlah untuk mengejar Tuhan, miliki rasa haus dan lapar akan Firman-Nya dan berusaha mengenal Dia sehingga konsistensi kepercayaan kita kepada Tuhan akan muncul secara natural. Hal yang menjadi penyebab ketidakpercayaan umat Tuhan adalah karena tidak ada pengenalan akan Tuhan. Tuhan tak mungkin melalaikan janji-Nya, yang menyebabkan kita tidak menerima janji Tuhan adalah ketidakpercayaan dan kedegilan hati kita. Jadi, hal terutama yang harus kita doakan akhir-akhir ini adalah meminta agar Tuhan menyingkapkan Diri-Nya kepada kita. Ketika kita mengeluhkan keadaan, berarti kita tidak mengenal siapa Allah yang kita sembah. Ketika kita mengenal siapa Allah yang kita sembah, tentulah kita akan menjaga setiap perkataan kita di hadapan Allah. Wahyu 2:4 berkata “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Tuhan Yesus adalah Allah yang kesukaannya mencermati bagaimana kita menjalani kehidupan secara detail dan berkomunikasi dengan kita secara pribadi. Tuhan mencela kita bukan dengan tujuan agar kita ‘jatuh’ tetapi dengan tujuan agar kita mengetahui jalan kebenaran dan semakin sempurna di hadapan-Nya. Kasih yang semula kepada Tuhan dari terjemahan aslinya tertulis ‘the very first day’, itulah pertemuan hari pertama kita dengan kebenaran Firman Allah yang memerdekakan kita, tidak berkaitan dengan perasaan emosi kita ketika itu. Kisah Rasul 19:8-10 berkata “Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus. Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani.”  Ketika kita hanya ‘mengkhotbahkan’ Firman Tuhan tetapi tidak menjadi pelaku Firman, inilah tandanya bahwa kita telah kehilangan kasih mula-mula. Jadi, artinya ‘the very first love’ (kasih mula-mula) adalah duduk diam memberi diri untuk diajar tentang Firman Tuhan (berakar, dimuridkan, ditegur, dinasehati), menjadi pelaku Firman dan menyebarkan Firman kepada banyak orang (memuridkan) sehingga orang lain tidak hanya mendengar Firman yang kita ucapkan saja tetapi melihat buah Firman Tuhan tersebut dalam diri kita. Filipi 1:21-22 berkata “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Jika kita tidak menghidupi ayat ini, berarti kita telah kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan dan sedang menuju kepada kejatuhan hidup yang terdalam. Buah dalam hal ini berarti keteladanan kehidupan, itulah first love – berusaha menjaga kualitas kehidupan untuk tetap memberi teladan Kristus kepada banyak orang sehingga mereka pun hidupnya terbangun/terberkati. 1 Korintus 11:1 berkata “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Tidak ada seorangpun bisa melihat Tuhan, yang bisa dilihat hanya murid-murid Tuhan. Jadi, sebagai pelayan Tuhan jangan pernah lagi berkata ‘jangan lihat saya, saya hanya manusia biasa – lihat saja Tuhan’. Orang lain harus melihat Kristus melalui kualitas kehidupan kita, agar setelah memberitakan Injil jangan kita sendiri ditolak. Kita harus mempertahankan kualitas ‘the very first love’ kita kepada Allah sehingga kita tidak jatuh. Wahyu 2:20-23 Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. Tuhan mencela seseorang ketika terpengaruh (membiarkan diri menerima) spirit pengajaran sesat (spirit izebel) dan melanggar kebenaran yang Tuhan ajarkan kepada kita (berzinah – menyembah berhala). Orang-orang Kristen zaman sekarang banyak terpengaruh hal-hal tidak benar ketika tidak “mencerna” semua pengajaran yang telah diterimanya. Jadi kita harus menjadi orang Kriaten yang terbiasa merenungkan Firman Allah agar tidak mudah disesatkan. Jangan biarkan diri kita “dimanipulasi” oleh para penyesat melalui Firman Tuhan. Kita harus belajar Firman Tuhan dengan benar dan mengenalnya pada proporsi yang sebenarnya, berdiri pada pondasi kehidupan yang benar.

Fokus Pada Perkara Di Atas

Shalom! Kolose 3:1-3 berkata “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Semua orang yang percaya kepada Kristus seharusnya memiliki orientasi hidup akan Kristus, yaitu perkara-perkara yang di atas. Ratapan 1:9 berkata “Kenajisannya melekat pada ujung kainnya; ia tak berpikir akan akhirnya, sangatlah dalam ia jatuh, [she never considered tomorrow, now she’s crashed royally] tiada orang yang menghiburnya. “Ya, TUHAN, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!”” Inilah mengapa kita harus hidup dengan terbiasa berfokus kepada perkara-perkara yang di atas, karena jika kita hanya memikirkan perkara-perkara di bumi maka suatu hari kita akan jatuh dengan cara yang memalukan dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Orang Kristen adalah orang yang berkualitas sebab merupakan pribadi yang memutuskan untuk meniru cara Yesus hidup. Memikirkan perkara-perkara yang di atas dan mencari Kristus adalah gaya hidup orang Kristen. Lalu, apa tanda bahwa kita sudah memiliki gaya hidup tersebut?
1) Ketika kita dengan sengaja (sadar) membuang segala hal-hal keduniawian yang membawa kita menjauh dari Tuhan. Kolose 3:5-8 berkata “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kita tak bisa melakukan keduniawian sambil menyembah Tuhan. Kejadian 22:9-12 berkata “Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” [terjemahan lain: Tuhan, tak cukupkah leher Ishak? Jika Tuhan mau leher saya juga, ini saya sembelih.] Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”” Selama kita tidak memiliki takut akan Tuhan, pasti kita tidak akan berani ‘dengan sengaja membuang keduniawian’. Takut akan Tuhan bukan karena takut dihukum, melainkan segan kepada Tuhan karena menghargai karya besar-Nya dalam hidup kita sehingga kita dengan sengaja dan sadar untuk ‘menyembelih’ hal-hal yang dibenci Tuhan, jika tidak tentulah kita akan mengalami kejatuhan demi kejatuhan dalam hidup kita.
2) Ketika kita menjadi seorang pribadi yang secara konsisten mengejar pengetahuan yang benar tentang Kristus sehingga manusia baru kita akan semakin diperbaharui dari hari ke hari menjadi seperti Kristus. Kolose 3:9-10 berkata “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Orang yang tidak mengalami pembaharuan hidup ke arah Kristus disebut sebagai ‘old fashioned man’ (manusia dengan gaya lama – tidak trendy). 2 Timotius 3:16 berkata “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Kita mencari Kristus bukan sekedar untuk diberkati, tetapi karena kehausan untuk diubah menjadi pribadi yang lebih berkualitas seperti Kristus. Semua orang yang terfokus pada kebenaran akan secara natural menjauh dari dosa.
3) Ketika kita menjadi orang yang memutuskan untuk hidup dalam kasih, karena kasih adalah bahasa dalam Kerajaan Allah. Kolose 3:13-14 berkata “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kegagalan kita dalam memikirkan perkara Kristus adalah hafal ayat Alkitab tanpa menjadi pelaku Firman Tuhan. “Your old life is dead. Your new life, which is your real life-even though invisible to spectators-is with Christ in God. He is your life.” (Kolose 3:3) Kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan Kristus yang sedang kita jalani. Kristus adalah kasih, itulah obat penyembuh segala luka di dunia. Ekspresi kasih, yaitu pengampunan tanpa batas [kita harus terbiasa mengampuni orang, sehingga Tuhan mengampuni kita – ini adalah syarat mutlak yang tak bisa diubah, jika kita tidak memiliki hal ini pasti hidup kita menjadi pemberontak. Kita dilengkapi Tuhan dengan kemampuan untuk mengampuni, kuncinya hanya mau atau tidak]. Kita harus terbiasa berdiri untuk hidup dengan standar kasih, jika tidak…kita pasti gagal mengasihi.

A Church Should Be

1)      A church is a family. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19) Apakah kita merasa asing di gereja atau ada orang-orang tertentu yang kita asingkan dalam pergaulan di gereja? Gereja yang bersatu adalah gereja yang memiliki kuasa dan mengalirkannya kepada kehidupan banyak orang. Kuasa tersebut akan menarik jiwa-jiwa datang ke gereja tanpa diundang sekalipun.

2)      A church should love God, love others and not love money. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Timotius 3:1-5) Orang yang cinta uang pasti hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

3)      A church is a servant. Kita dipanggil untuk melayani bukan dilayani, jadi layanilah tanpa membeda-bedakan orang. Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”, bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (Yakobus 2:1-4) Renungkan: apa motivasi kita dalam melayani Tuhan?

 

Kingdom Attitude – Poor In The Spirit

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:3)
“Blessed are the poor in spirit, For theirs is the kingdom of heaven.” (Matthew 5:3 NKJV)
Orang yang ‘poor in the spirit’ itu:
1) Orang yang sadar siapa dirinya dan siapa Tuhan: tidak banyak berbicara tetapi lebih banyak menelaah diri.
2) Orang yang hidup dalam pertobatan: tidak merasa diri paling benar tetapi menghormati pengampunan demi pengampunan yang Tuhan beri dengan berhenti berbuat dosa.
3) Orang yang memiliki kebergantungan penuh kepada kuasa yang berada diatasnya (dalam hal ini kuasa Tuhan): tidak merasa diri paling mampu melakukan segalanya tetapi selalu mengandalkan Tuhan.

Kingdom Attitude

Shalom!

Matius 5:4 berkata “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Secara logika, tidak mungkin orang yang berdukacita itu berbahagia. Namun, Yesus mengajarkan kita agar kita menghadapi kedukaan bukan menghindarinya karena bagian akhir dari kedukaan adalah penghiburan. Kata ‘berbahagia’ bermakna ‘diberkati’, jadi milikilah pikiran Kristus yang melihat dukacita sebagai proses menuju keadaan diberkati bukannya sebagai kemalangan. Jika kita memahami hal ini, maka kita akan mengalami penghiburan dari dalam (roh) bukan hanya penghiburan di jiwa. Dukacita dimaksudkan Tuhan agar kita mengalami pembelajaran tentang makna hidup yang membuat kita semakin matang dalam menghadapi kehidupan. Dukacita diambil dari kata ‘penteo’ yang berarti:

1)      Kepedihan hati karena tragedy namun jiwa kita melekat kepada Tuhan. Hal ini maksudnya bagaimanapun pedihnya hati kita ketika berdukacita, tetapi kita tetap memilih untuk datang kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan bukannya semakin menjauh dari Tuhan. Berdasarkan 2 Raja-Raja 4:16-37, perempuan Sunem yang mengalami dukacita menunjukan imannya dengan tetap berfokus mencari Tuhan di tengah dukacita karena kematian anaknya, bagaimanapun keadaannya…ia tetap memperkatakan perkataan iman bahwa anak dan suaminya tetap selamat dan tidak menjadi kuatir akan persoalannya. Penghiburan dari Tuhan akan membuat kita memiliki reaksi semakin menunduk ketika menghadap Tuhan, ini adalah sebuah titik dimana kita bisa melihat kemahakuasaan Tuhan yang tanpa batas di atas segala permasalahan hidup kita dan semakin mengenal-Nya lebih daripada tertawa semata. Kitab Amsal berkata dalam tertawa pun hati bisa menangis, hal ini berarti bahwa tertawa bukan pertanda kebahagiaan. Menjadi dewasa selalu berkaitan erat dengan pengalaman bersama Tuhan dalam melihat dukacita sebagai berkat. Belajarlah untuk tidak bertanya ‘mengapa saya yang mengalami ini, Tuhan?’ karena dukacita akan dialami oleh semua orang yang hendak diberkati Tuhan. Jika kita semakin mencari Tuhan ditengah kedukaan kita pasti Roh kita akan semakin penuh dan melekat kepada-Nya. Di tengah dukacita hendaklah kita bertanya ‘Tuhan, ingin saya belajar apa dari permasalahan ini?’ Ayub 6:10 berkata “Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus.” Bangunlah kembali paradigma yang benar sesuai Firman Allah supaya kita tidak kalah ketika menghadapi ‘peperangan’.

2)     Meratap karena merelakan kematian seseorang atau sesuatu yang kita kasihi. Markus 8:35-38 berkata “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”” Ketika kita merelakan sesuatu yang kita kasihi karena Kristus, maka kita akan mendapatkan pengharapan baru bahwa Ia akan memberikan kita hal yang lebih baik, itulah penghiburan sejati. Kegagalan kita untuk menikmati penghiburan yang bersumber dari Tuhan adalah kita tidak mau melepaskan apa yang kita cinta. Percayalah bahwa kita tidak akan kehilangan apapun kalau Tuhan yang mengambilnya dari kita, meratap boleh tetapi relakanlah…percayalah bahwa kita pasti akan menerima yang lebih baik lagi. “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” (Filipi 3:7) Lepaskanlah apa yang bukan sumber kehidupan tetapi kembalilah kepada sumber kehidupan kita, maka pastilah kita mendapatkan kepenuhan kehidupan kita.

Kingdom Attitude – Lemah Lembut

Shalom!

Matius 5:5 berkata “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Alkitab terjemahan lain berkata sebagai berikut: “Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan mewarisi bumi.” (Webster) “Bersukacitalah mereka yang lemah lembut karena mereka sudah dapat dipastikan akan menerima seluruh janji Allah yang memang akan diwariskan untuk hidup mereka. (GoodNews) Warisan dari seluruh janji Tuhan akan turun dalam kehidupan kita jika kita menjadi orang yang lemah lembut. Lemah lembut berasal dari kata Yunani ‘praus’ yang berarti:

1)       Takluknya keliaran kita dibawah kendali seorang tuan (Kristus). Jika kita tidak mampu menaklukan diri kita dibawah kuasa Kristus maka kualitas diri kita akan semakin buruk. 1 Timotius 1:13 berkata “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas [liar], tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” Jika kita tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh kebenaran Kristus maka keliaran diri kita akan berbicara lebih kuat dibanding Kristus. Kita harus mengisi diri dengan Firman Tuhan sehingga perlahan keliaran dalam diri kita semakin dilepaskan dan kita terbiasa untuk menjadi seorang pribadi yang lemah lembut sehingga layak mendapatkan warisan Allah. Galatia 5:16,18,21 berkata “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh [dedikasikan hidup kita kepada Tuhan], maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging [keliaran]. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Semakin kita membiarkan kedagingan berkuasa atas kita, maka kita akan semakin jauh dari kualitas seorang yang lemah lembut. Peperangan rohani terbesar ada dalam pikiran manusia, karenanya kita harus membiarkan pola pikir kita seturut dengan Firman Allah sehingga kita lebih memilih untuk hidup benar dibandingkan menuruti kedagingan kita. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16-17) Tak perlu memaksa Tuhan untuk memberkati kita ketika kita bisa menaklukan diri (menguasai diri) dibawah hukum Tuhan, pasti berkat secara otomatis akan menjadi bagian kita.

2)       Kekuatan untuk memikul beban (tekanan, aniaya, penderitaan) tanpa marah, tanpa dendam. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29) Kegagalan kita untuk menjadi lemah lembut adalah kita marah dan mendendam ketika kita memikul beban (tekanan, aniaya, penderitaan). Karenanya kita harus melatih diri untuk tidak menjadi marah dan mendendam kepada Tuhan maupun manusia ketika kita memikul ‘beban’ juga melatih diri untuk tidak menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam atas penderitaan kita. Kita harus memenangkan pikiran kita sehingga kita terbiasa berpikir yang benar dan bereaksi yang benar dalam memikul kuk. Ratapan 3:27 berkata “Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.” Jadi, tujuan Tuhan agar kita memikul kuk adalah membuat kita semakin lemah lembut dan berhak menerima kepenuhan janji Allah. Lemah lembut bukan suatu kelemahan melainkan kekuatan untuk memikul kuk tanpa marah dan dendam. Marah itu wajar karena memang bagian dari emosi manusia tetapi jangan sampai marah hingga tidak mengontrol diri. Marilah kita teladani Tuhan Yesus ketika disalib, yaitu tidak mendendam melainkan mengampuni orang-orang yang telah menyakiti-Nya.

3)       Ketenangan di jiwa yang terekspresi dalam kesabaran. Orang benar dan orang fasik sama-sama mengalami persoalan kehidupan tetapi satu hal yang membedakan mereka adalah tetap tenang dan menjadi sabar dalam tekanan. Yakobus 1:19 berkata “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Marah boleh tetapi ketika kita marah hingga lepas kendali maka kita tidak sedang mengerjakan kebenaran, dan ketika kita tidak mengerjakan kebenaran berarti kita semakin menjauhkan diri dari warisan janji Allah. Lemah lembut itu berada dalam posisi di antara marah secara ekstrim dan tidak marah secara ekstrim (acuh terhadap ketidakbenaran). Lemah lembut bukan berarti tidak pernah marah sama sekali. Jadi lemah lembut adalah bentuk dari keseimbangan manusia memahami kebenaran.