Kesuksesan Yang Membawa Petaka

1 Raja-raja 11:1-6, 9-11 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. 

Salomo memulai hidupnya dengan luar biasa di hadapan Tuhan tetapi mengakhirinya dengan buruk karena ia tidak menjaga kesuksesannya. Ingat, Tuhan tidak melarang kita untuk sukses bahkan Yesus rela menanggung segala kutuk untuk memberikan segala berkat bagi kita.

Hal yang harus kita perhatikan dalam menjaga kesuksesan kita, yaitu:

  1. Memiliki penguasaan diri. Matius 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Diberkati tanpa penguasaan diri hanya akan membinasakan kita. Iblis akan menyerang ketika kita lengah.
  2. Jangan meremehkan firman Allah. Ulangan 6:6-7  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 
  3. Jangan meninggalkan persekutuan pribadi dengan Tuhan, jangan sampai berkat malah menjauhkan kita dari Tuhan. Prioritas hidup tidak boleh salah. 
  4. Jangan tidak mau bertobat ketika ditegur oleh Tuhan, Tuhan bisa berbicara melalui siapa saja.
Advertisements

Ujian Iman

​Mari kita teladani Abraham dalam melewati ujian iman!

Kejadian 22:1-2  Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

1) Kejadian 22:3  Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Abraham begitu antusias (tidak bermalas-malasan) untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Abraham taat tanpa syarat (tidak terpaksa) kepada perintah Tuhan. 

2) Kejadian 22:4  Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Seringkali iman kita dipertaruhkan ketika kita menghadapi masalah yang tak kunjung selesai, namun marilah kita meneladani Abraham yang tetap bertahan di tengah kesulitan. Iman kita harus menang (tidak undur) terhadap segala masalah, maka mujizat pasti dinyatakan bagi kita.

3) Kejadian 22:6-8  Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Abraham mengimani (melihat/mengimajinasikan/memiliki visi yang benar) bahwa Allah akan menyediakan hal yang terbaik bagi kita di masa depan (meski belum terjadi). Ibrani 11:1  Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 

4) Kejadian 22:10  Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Akan ada suatu “titik kritis” dalam kehidupan kita yang mana sebuah keputusan kita sangat menentukan masa depan bahkan mempertaruhkan iman kita, marilah kita memilih untuk melakukan perintah Tuhan meskipun tidak masuk akal. Ketaatan kepada Tuhan tidak boleh setengah-setengah, melainkan harus total.

Setia Dalam Perkara Kecil

Segala sesuatu dalam hidup ini tidaklah langsung menjadi besar, semuanya dimulai dari sesuatu yang kecil. 

Ketika Allah memanggil kita menjadi alat-Nya, janganlah melihat segala sesuatu berdasarkan “kaca mata kita” maka Tuhan akan mengangkat kita semakin naik dan bukan turun. Ketika kita siap menyandang predikat sebagai “hamba Tuhan”, kita harus memiliki kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin gereja dapat berjalan. Unity sangat penting dalam pelayanan, jika hubungan dari pemimpin ke bawahan baik pasti semua program di gereja akan berjalan lancar. Jangan menginginkan untuk “diperlakukan spesial” di gereja karena kita memiliki jabatan tinggi di dunia sekuler. Kita hanya “kacung-Nya” Tuhan, tanpa Tuhan kita bukan apa-apa. Air pasti tertampung di tempat yang terendah, berkat pun hanya dilimpahkan kepada orang yang rendah hati. Setia dalam segala hal yang Tuhan percayakan kepada kita, orang yang setia itu rela bayar harga bagi Tuhan. Contoh: Musa terbiasa dididik dalam segala kelimpahan kerajaan Firaun tetapi ketika dewasa, ia rela meninggalkan semua itu demi taat kepada Tuhan.

Kolose 3:23  Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Selalu ada proses pemurnian untuk pembuktian kesetiaan kita di hadapan Tuhan, kita harus jadi hamba-Nya yang bertanggung jawab. Baik atau tidak baik keadaan kita, kita harus tetap melayani Tuhan.

Ketika kita setia melakukan hal sekecil apapun (sederhana) bagi Tuhan, maka Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang besar bagi kita. Jangan melayani karena motivasi apapun selain untuk menyenangkan Tuhan. Manusia terbatas untuk mengangkat kita, tetapi ketika Tuhan yang mengangkat kita, tak ada seorang pun yang dapat menurunkan kita.

Tipu Muslihat Iblis Dalam Tradisi

Shalom! Yesaya 8:19 berkata “Dan apabila orang berkata kepada kamu: “Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit,” maka jawablah: “Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?”” Secara umum kepercayaan tradisional Tionghoa memntingkan ritual penghormatan kepada leluhur yang dikultuskan karena memiliki jasa besar sehingga dianggap sebagai dewa-dewi, yang mana sumber kepercayaan mereka berasal dari berbagai jenis kepercayaan yang tidak bersumber dari Alkitab. Dewa dewi yang terkenal sudah mendapat gelar BODHISATVA SATYAKALAMA. Upacara sembahyang para leluhur berasal dari pencampuran berbagai kebudayaan dengan tujuan menyembah para dewa dan orang mati, jika tidak…maka dicap sebagai anak yang tidak berbakti kepada leluhur. Mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal bisa dipanggil ke bumi lagi (spiritisme), juga mengirimkan ‘barang-barang’ tiruan yang dianggap dibutuhkan para leluhur di dunia lain. Tetapi diatas itu semua, kuasa Tuhan Yesus terlalu dahsyat karena Roh Allah lebih besar dari pada segala roh yang ada di dunia ini. Jadi, bagaimana sikap kita terhadap upacara sembahyang ini? Sebagai orang Kristen, kita wajib menghormati orang tua selama mereka masih hidup bukan menyembahyangkan mereka ketika telah meninggal. Ketika kita bertobat dan hidup bagi Tuhan Yesus, berjalanlah dengan iman dan jangan pernah percaya lagi ataupun kembali kepada kehidupan kita yang lama. Kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus tanpa kompromi sedikitpun dengan tradisi kepercayaan/kebudayaan yang bertentangan dengan Alkitab. Ayub 7:9 berkata “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali.” Lukas 16:26 berkata “Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” Tidak ada lagi hubungan antara orang yang masih hidup dengan roh orang yang sudah mati. Hal-hal ‘supranatural’ yang sering kita saksikan yang mengatasnamakan ‘roh orang mati’ sebenarnya adalah manifestasi roh jahat yang hendak menghasut kita, bukan roh orang yang telah mati; karena roh orang yang telah mati telah ditempatkan di firdaus atau di hades. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh melakukan penyembahan di depan peti jenazah (pai). Bagaimanapun alasannya, lebih baik kita ditolak orang karena tidak mau mengikuti tradisi dari pada ditolak Tuhan karena mengikuti tradisi. “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”” (Matius 4:10) Hal tersopan yang seharusnya kita lakukan ketika kita melayat orang yang meninggal adalah menghormati pihak keluarga yang masih hidup dan melihat jenazah untuk terakhir kalinya tanpa menyembahnya ataupun memakan makanan yang sudah disembahyangkan. “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” (1 Korintus 6:12) Satu-satunya cara penginjilan terbaik yang kita lakukan bagi keluarga kita yang bukan Kristen adalah menjadi saksi, bukan hanya pandai bersaksi melalui mulut semata. Apakah orang Kristen boleh merayakan imlek? Jika dilihat dari segi sosial budaya (sifat kekeluargaan, berbagi angpao) tentu saja boleh dirayakan, karena hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Namun, jika dilihat dari segi religius tentu saja imlek tidak boleh kita rayakan karena sebagai orang Kristen, kita hanya percaya kepada Tuhan Yesus bukan dewa-dewi yang lain. Segala hal yang mengandung unsur-unsur magis/kepercayaan kepada hal-hal selain Tuhan Yesus dalam perayaan imlek tidak boleh kita ikuti.

MUJIZAT DALAM DOA

Daniel 10:10-12  Tetapi ada suatu tangan menyentuh aku dan membuat aku bangun sambil bertumpu pada lutut dan tanganku. Katanya kepadaku: “Daniel, engkau orang yang dikasihi, camkanlah firman yang kukatakan kepadamu, dan berdirilah pada kakimu, sebab sekarang aku diutus kepadamu.” Ketika hal ini dikatakannya kepadaku, berdirilah aku dengan gemetar. Lalu katanya kepadaku: “Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu.
Mujizat berbicara dalam segala aspek kehidupan kita, bukan sekedar kesembuhan penyakit semata. Ketika fokus kita kepada Kristus, bukan kepada masalah…pasti kita akan keluar sebagai pemenang ditengah goncangan, ada mujizat dibalik goncangan. Tuhan tidak menjawab doa kita jika kita meragukan-Nya ketika berdoa. Lalu, bagaimana agar kita mengalami pelipatgandaan mujizat melalui doa yang berkuasa?
1) Doa yang berkuasa tidak boleh disertai ketakutan dan kebimbangan. 1 Petrus 4:7  Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Matius 8:24-26  Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Ketika goncangan terjadi, seringkali kita panik karena kita lupa bahwa Yesus ada dalam perahu kehidupan kita. Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, karenanya janganlah meragukan kebenaran Firman-Nya bagaimanapun mustahilnya kenyataan hidup kita. Tuhan tidak pernah terlambat menggenapi janji-Nya bagi kita. Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Ketika Tuhan ‘diam’, bukan berarti Tuhan tidak mendengar tetapi inilah saatnya ujian yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, percayalah Tuhan tetap beserta kita dan pasti menjawab doa kita.
2) Nasib masa depan kita tidak ditentukan oleh perkataan orang lain, tetapi ditentukan oleh perkataan Tuhan. Orang boleh meremehkan kita tetapi di hadapan Tuhan Yesus, kita sangat berharga. Goncangan sehebat apapun yang datang dalam hidup kita, berharaplah sepenuhnya kepada Tuhan. Serumit apapun masalah kita, pasti ada jalan keluar. Hadapi badai dengan tenang bersama Tuhan Yesus! Jangan remehkan sesuatu yang kecil yang kita miliki, tetapi lihatlah “Siapa” yang menyertai kita.

Setia

Ulangan 8:1-6

“Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.”

Shalom!

Yang Tuhan inginkan bagi setiap umat-Nya adalah melakukan segenap perintah Tuhan dengan setia. Setia adalah tetap melakukan Firman Allah walaupun keadaan tak memungkinkan. Kita perlu dilatih untuk setia dan padang gurun adalah satu-satunya tempat untuk memproses kita menjadi seorang pribadi yang setia.

3 hal yang akan kita jumpai ketika kita berada di padang gurun, yaitu:

  1. Di padang gurun ada kekurangan. Padang gurun adalah tempat di mana kita tak bisa mendapatkan pertolongan dari siapapun selain Tuhan. Tuhan izinkan kita masuk padang gurun bukan karena ‘iseng’ tapi dengan tujuan agar dalam segala hal kita selalu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
  2. Di padang gurun banyak ‘musuh’. 1 Petrus 5:8-10 berkata Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.” Iblis selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk menghambat kehidupan kita, membelenggu kita dalam ikatan dosa, menjauhkan kita dari Tuhan dan membinasakan kita. Namun, janganlah ragu untuk datang kepada Tuhan karena Tuhan pasti mengampuni dosa kita dan memulihkan keadaan kita menjadi lebih baik. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya!
  3. Di padang gurun seringkali kita melihat bahwa apa yang Allah janjikan berkebalikan dengan kenyataan hidup meskipun kita hidup benar. Tapi ingatlah, jika Tuhan sudah berjanji, Ia pasti menepati.

Apapun padang gurun persoalan kita, bersyukurlah dan tetap setia karena Tuhan menghendaki kita untuk terus naik level! Semakin besar persoalan yang kita harus hadapi, semakin besar pula kemuliaan Tuhan yang akan dinyatakan dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.