Pilihan Kehidupan

Ulangan 30:19

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunan”

Shalom!

Pilihan-pilihan hidup yang kita ambil sekarang akan menentukan masa depan kita, bahkan berdampak bagi keturunan kita. Pilihan-pilihan hidup yang kita tentukan selalu mengandung resiko (konsekuensi) yang tak pernah terpikirkan. Menghindari resiko dari pilihan-pilihan hidup yang kita ambil adalah salah di mata Tuhan. Setiap orang yang sudah menentukan pilihan hidupnya dan siap menanggung resikonya adalah seorang pemenang. Sesuatu yang besar (keberhasilan) hanya dapat diraih oleh orang yang bertanggung jawab dan memiliki kapasitas yang besar.

Dalam Amsal 22:4 disebutkan bahwa “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan”. Orang yang rendah hati adalah orang yang mau menerima perlakuan tidak adil, fitnah, bahkan rela disalahkan dan tidak berontak meskipun dia benar. Masalah-masalah yang terjadi itu harus dihadapi, karena itu adalah sebuah konsekuensi. Penderitaan kita alami ketika kita menghindar dari masalah karena konsekuensi pilihan hidup yang kita ambil. Oleh karena itu, setiap pilihan hidup yang kita ambil, harus dijalani atas tuntunan Tuhan, beserta resiko dan konsekuensinya.

Dalam Matius 5:10 disebutkan bahwa “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Nikmatilah suasana Kerajaan Sorga dalam hidup Anda di bumi sesuai dengan yang tertulis dalam Lukas 9:23, “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”. Kita memiliki konsekuensi sebagai pengikut Kristus. Menyangkal diri bukan hanya disaat kita sedang mengalami kesusahan saja, tetapi menyangkal diri ketika sedang dalam kelimpahan juga. Sedangkan salib berbicara tentang sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hidup kita.

Yang harus kita miliki ketika kita menghadapi konsekuensi atas pilihan hidup kita agar kita berhasil dalam perjalanan hidup kita, yaitu:

1. Memiliki akal sehat dalam mengambil setiap keputusan (pilihan hidup)

2. Memiliki integritas (ketulusan hati) dalam menjalani konsekuensi dari pilihan hidup yang diambil

3. Memiliki kesabaran dan tetap konsisten pada prinsip hidup kita

Percayalah hanya kepada Tuhan saja!

Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements

Pemulihan Hati Bapa

Gambaran Bapa Surgawi yang sebenarnya:

  1. Allah memiliki otoritas dan sangat berkuasa, tetapi Dia sangat penuh kasih dan pengampunan. Dia bukan seorang bapa yang otoriter/kejam juga bukan seorang bapa yang tidak berotoritas/loyo. (Matius 10:29-31)
  2. Allah kita setia dan dapat dipercaya, Dia bukan bapa yang ingkar janji (Mazmur 12:7-8).
  3. Allah sangat menghargai kita sebagai anak-anaknya (Mazmur 27:10), Dia tidak pernah memadamkan semangat kita, tetapi Dialah sumber pengharapan kita.
  4. Allah mendisiplinkan kita untuk kebaikan kita bukan untuk menyiksa kita (1 Yohanes 1:9; Ibrani 12:10-11; Wahyu 3:19)
  5. Allah itu dekat dan selalu menunggu kita untuk “curhat”. Dia bukan bapa yang jauh, formal dan tidak mau mendengarkan kita. (Yeremia 29:12-14)
  6. Allah mengasihi kita tanpa syarat apapun. Dia bukan bapa yang baik dan menyayangi kita hanya ketika kita telah mencapai standar tertentu (prestasi, dsb). (1 Yohanes 4:10)
  7. Allah melihat hati kita. Dia menghargai setiap usaha dan kerinduan kita pada-Nya. Dia bukan bapa yang pilih kasih. (1 Samuel 16:7b)

Bapa di Surga tidak pernah mengutuk, tetapi selalu memberkati. Sekalipun kita sering melukai Tuhan, tapi Tuhan tetap setia dan sangat mengasihi kita. Bagi Dia, kita jauh lebih berharga dari apapun. (Mat 10:29-31; Yesaya 43:4)

Langkah-langkah pemulihan:

  1. Melihat gambaran Bapa yang benar (Bapa di Surga)
  2. Alami kasih Bapa di Surga
  3. Miliki keterbukaan (jangan ja-im) dan kemauan untuk berubah
  4. Lepaskan pengampunan kepada bapa jasmani kita (Maleakhi 4:5-6) sebab jika kita tidak mengampuni orang tua, kita terkutuk (Ulangan 27:16)

Sejahat apapun yang dilakukan orang tua kita kepada kita, bahkan sampai menggugurkan anaknya sekalipun, yakinlah bahwa mereka telah dan selalu ingin berusaha semaksimal mungkin semampu mereka untuk selalu melakukan dan memberikan yang terbaik bagi kita hanya mereka tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkannya. Cara pandang kita dan mereka sering berbeda karena posisi kita dan mereka juga berbeda. Mereka bukannya tidak mencintai anak-anaknya, hanya saja mereka menyatakan cintanya dengan cara mereka sendiri, bukan dengan cara yang diinginkan anak-anaknya. Oleh karena itulah kita perlu selalu terbuka dengan orang tua kita, seberat apapun konsekuensinya. Kita tak mungkin meminta sesuatu kepada orang lain jika mereka tak memiliki yang kita inginkan, mungkin orang tua kita juga tidak pernah mendapatkan “hal yang kita inginkan itu” dari orang tua mereka. Tetapi percayalah, selalu memberi yang terbaik untuk kita, berarti dilahirkan dan dipelihara oleh orang tua kita yang sekarang itu adalah yang terbaik untuk kita ketimbang jika kita diasuh oleh orang tua lain. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah tidak mengungkit masa lalu, mengampuni mereka dan diri sendiri, lalu menerima dan menjalani hidup kita sesuai panggilan Tuhan dengan penuh sukacita.