Job Desk Orang Percaya

Hidup kita di bumi ini dimulai dengan sebuah kelahiran dan berakhir dengan kematian, lalu apa yang harus kita lakukan dalam masa hidup yang singkat di bumi ini sebagai pengikut Kristus agar tidak sia-sia?

1) Menjadi garam dan terang dunia. Matius 5:13-14 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Garam itu:

a) Pemberi rasa, artinya kita harus menjadi kasih di tempat yang tak ada kasih.

b) Pengawet, artinya karakter Kristus dalam diri kita harus lekat terkenang sepanjang masa di hidup orang-orang yang mengenal kita (jangan sampai kita terkenal dengan karakter yang buruk).

c) Larut tanpa terlihat, artinya kita tidak perlu “nampak”/mendapat pengakuan manusia.

Standar ukuran sebagai terang dunia adalah sesuai kebenaran yang tertulis di Alkitab. Efesus 5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

2) Menjadi ranting dari pokok anggur yang benar agar menghasilkan buah pertobatan, buah jiwa-jiwa dan buah Roh. Yohanes 15:1-5 “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Hidup kita harus menginspirasikan orang lain agar bertobat. Matius 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

3) Menjadi penjala manusia (menginjili jiwa-jiwa yang terhilang agar memperoleh kehidupan kekal). Matius 4:19 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Yohanes 9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam (=melambangkan kondisi kita yang tak berdaya lagi/sakit kritis, juga melambangkan kedatangan Tuhan), di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.

Kita ada di bumi karena diutus Allah, maka kita harus menyelesaikan tugas tsb selagi masih ada kesempatan, jangan menunda!

Advertisements

Roh Kudus

Shalom! Hari kenaikan Tuhan Yesus dijadikan hari libur nasional hanya di Indonesia. Hal ini berarti pemerintah Indonesia saja menghargai hal tersebut, terlebih lagi kita seharusnya. Kita memiliki Roh Kudus tetapi sebagian besar dari kita tidak begitu menyadari ‘manfaatnya’ bagi kita. Sebenarnya, tanpa Roh Kudus, kita tak mungkin bertahan hidup. Yohanes 16:7,8,13 berkata “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus tertulis “parakletos” yang berarti dipanggil untuk mendampingi, menolong, menasehati, dan membukakan kepada kita apa yang salah dan benar. Roh Kudus diberikan secara gratis tanpa kita harus melakukan ritual-ritual tertentu untuk mendapatkannya. Roh Kudus kita terima sejak kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, tetapi harus kita ‘aktifkan’ keberadaannya agar Ia berkuasa dalam diri kita. Roh Kudus adalah Roh yang lemah lembut dan tak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Semakin kita membiarkan-Nya mengalir bekerja dalam diri kita, semakin besarlah kuasa-Nya di dalam kita. Alangkah sombongnya kita jika kita mengatakan bahwa kita dapat hidup tanpa Roh Kudus. Kita tak mungkin bisa mengendalikan diri kita tanpa Roh Kudus yang memperingatkan kita akan kesalahan yang telah diperbuat. Sedangkan roh jahat pasti bersifat memaksa kita agar melakukan dosa. Jadi, hanya orang yang penuh Roh Kuduslah yang sanggup bertahan sampai akhir hingga masuk surga pada akhir hidupnya. Efesus 2:8 berkata “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” Kehidupan kekristenan yang semakin bertumbuh itulah yang hendaknya menjadi kerinduan kita. Hendaklah hidup kita menghasilkan buah pertobatan, buah Roh dan buah jiwa-jiwa bagi Tuhan. Hidup dalam kekudusan adalah gaya hidup orang Kristen di akhir zaman. Kudus berarti dipisahkan dari dunia. Kekudusan kita adalah kunci bagi Roh Kudus agar berkarya secara tak terbatas dalam diri kita. Lalu, bagaimana agar kita bisa hidup dalam kekudusan? Matius 5:20 berkata “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Jika kita tidak bisa berkomitmen kepada Kristus seperti orang-orang yang tak mengenal Tuhan komitmen kepada tuhannya, maka kita tidak mungkin masuk surga. Komitmen kekristenan adalah kerelaan untuk mengikatkan diri kepada Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya tanpa kompromi. Kita tidak boleh “memilih-milih” masalah untuk diselesaikan oleh Tuhan atau tidak. Dalam hal sekecil apapun, hendaklah kita selalu mengandalkan Tuhan, bukan hanya saat mengalami masalah besar saja. Hanya nama Tuhan Yesus yang berkuasa atas segala hal (baik besar maupun kecil) dan sanggup membawa kita kepada kemenangan demi kemenangan. Kita harus mengaktifkan Roh Kudus untuk melakukan apa yang kita perlukan. Hanya Dialah yang sanggup melakukan lebih dari yang kita doakan atau pikirkan. Jangan sampai mujizat hanya menjadi ‘kesaksian orang lain’ bagi kita, tetapi marilah kita pun alami mujizat tersebut! Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Wahyu 22:11 berkata “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”” Kedatangan Tuhan Yesus sudah semakin singkat dan hanya mempelai wanita yang dewasalah yang akan mengalami pengangkatan. Kita bait Roh Kudus, dan Roh Kudus ada dalam diri kita, itulah yang membuat hidup kita bernilai bagaimanapun keadaan hidup kita. Manusia melihat sebatas mata, tetapi Tuhan melihat hati. kita harus mempertanggungjawabkan kekudusan diri kita kepada Tuhan dan terus-menerus haus untuk kepenuhan Roh Kudus. Kita tak mungkin bisa bertahan hidup di akhir zaman yang semakin jahat ini tanpa Roh Kudus. Kita harus menyembah dalam Roh dan kebenaran, bukan hanya sebatas tubuh dan jiwa karena Tuhan sangat merindukan itu. Hari-hari ini adalah Pentakosta ke 3, kita harus turut dipenuhi oleh Roh Kudus, jangan sampai kehilangan moment ini. Kita hanya akan lakukan kesalahan jika kita berjalan menurut keinginan diri sendiri, karenanya kita harus hidup menurut tuntunan Roh Kudus. Ketika Tuhan datang kelak, adakah kita masih hidup kudus dan memiliki kasih mula-mula? Kita perlu Roh Kudus agar kehidupan kita senantiasa menjadi berkat.

Sikap Hidup “TRANSIT”

Yang harus dipulihkan seutuhnya di tahun ini adalah kasih mula-mula kepada Tuhan Yesus. Jika kita sadar bahwa hidup kita di bumi ini hanya sementara (seperti transit), maka kita akan memiliki sikap hidup:

  1. Tidak menghabiskan waktu yang sebentar ini untuk hal yang sia-sia (buang waktu untuk kepahitan, keduniawian, dll) karena apa gunanya seseorang memiliki seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (1 Korintus 7:29-31).
  2. Menyadari bahwa Tuhan telah menyediakan segala fasilitas terbaik selama kita transit di bumi ketika kita melakukan bagian kita (Filipi 4:19), so do your part then God will do His part.
  3. Kekristenan adalah tanggung jawab, maka kita harus menjaga hati dengan segala kewaspadaan agar terpancar kehidupan Kristus melalui kehidupan kita (Amsal 4:23).

How To Keep “The Real Chocolate” (Jesus) In A Cake (Christianity)?

Filipi 2:2-5

Ketika pola pikir kita sama dengan pola pikir Kristus, hidup kita harus bisa berdampak pada dunia sehingga kehadiran kita selalu dirindukan orang lain.

Bagaimana berdampak buat dunia?

  1. Mampu mengatasi/menanggalkan keegoisan (tidak mementingkan diri sendiri). Belajar memberi dengan hati, lebih dari apa yang kita pakai. Berilah sesuai dengan kebutuhan orang yang memerlukannya, terutama pada orang yang tak bisa membalas pemberian kita. Ingatlah karena kita pun tak akan pernah bisa membalas kasih Tuhan pada kita. Tuhan memenuhi keperluan kita, bukan keinginan kita. Setiap berkat yang Tuhan beri pasti ada maksud Tuhan untuk kebaikan bagi orang lain juga, bukan hanya untuk dihabiskan oleh diri sendiri.
  2. Mampu mengatasi perbedaan. Kalau kamu berbeda sebenarnya Tuhan sedang menunjukan siapa dirimu yang sebenarnya. (Amsal 27:17) Belajar untuk mengatasi hal ini dengan bijak dengan hikmat Tuhan.
  3. Mampu mengatasi rasa takut. Takut itu ga dosa sebab Yesus pun pernah merasa takut tapi diliputi rasa takut itu dosa karena rasa takut itu bukan dari Tuhan (Tuhan tidak pernah memberi roh ketakutan). Karena takut, kasih menjadi tak sempurna (takut menginjil, takut memberi untuk pelayanan). Pakailah Firman Tuhan untuk membangun, menyembuhkan dan mendorong untuk hal-hal kebaikan bukan untuk menghakimi orang lain.

Kita harus menjadi garam dan terang bagi dunia yang sudah hambar dengan kasih. Dunia harus melihat Yesus di dalam kita karena keKristenan kita mempermuliakan Tuhan bukan mempermalukan Tuhan. Multiplikasikan karakter Kristus dalam diri kita (buah Roh), bukan hanya fokus pada multiplikasi harta, maka promosi Tuhan pun akan mengikuti, sebab kalau Tuhan yang angkat kita, tak ada yang bisa menurunkannya.