Keluarga Yang Berkemenangan

Keluarga yang berkemenangan dalah keluarga yang tetap teguh di tengah goncangan karena berdiri di atas prinsip firman Tuhan.

Kejadian 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Dari ayat tsb, jelas bahwa Tuhan menugaskan laki-laki sebagai penanggung jawab utama dalam keluarga karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat, Dialah yang menyelamatkan tubuh (Ef. 5:23). Anak-anak menjadi fatherless generation (kekurangan kasih sayang) ketika para ayah tidak bertindak sebagai penyelamat keluarga.

Tanggung jawab seorang laki-laki (suami) agar keluarganya berkemenangan, yaitu:

  1. Membangun rumah yang aman untuk keluarganya, yaitu: suasana yang homy (bukan fisik gedungnya). Bagaimana caranya? a) Mengasihi keluarga dengan kasih yang hanya memberi tak harap kembali, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. b) Menjadi ‘termostat rumah’ (pengatur suhu), yaitu menjaga agar suasana di rumah tetap ‘sejuk’ sehingga kehadirannya selalu dinantikan. c) Bersikap lembut tapi tegas, yaitu mengasihi dan mendisiplinkan (memberi koreksi & instruksi) keluarga dengan seimbang. Mendisiplinkan anak bukan bertujuan untuk menghukum agar ada efek jera, melainkan agar setelah didisiplinkan anak menjadi lebih dewasa.
  2. Membangun komunikasi yang sehat sehingga melahirkan relasi yang selaras yang menentukan ikatan keluarga yang kokoh dan kuat. Jenis-jenis komunikasi: a) Komunikasi yang tidak sehat, yaitu komunikasi 1 arah karena salah satu pihak mendominasi pembicaraan (egois, bersifat memperalat, menganggap teman bicara sebagai benda bukan sebagai pribadi), b) Komunikasi yang sehat, yaitu komunikasi 2 arah (saling menghargai teman bicara).
  3. Penyedia kebutuhan keluarga dengan bekerja (suami bertanggung jawab sebagai tulang punggung utama, kecuali sakit berkepanjangan sehingga istri harus bekerja). 2 Tesalonika 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Tanggung jawab seorang wanita (isteri) agar keluarganya berkemenangan, yaitu:

  1. Menjadi penolong yang sepadan untuk suami. Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Bagaimanakah penolong yang sepadan itu (sesuai Ams. 31:10-31)? a) Rajin bekerja (Ams. 31:13,19,22,27), b) Menyediakan makanan untuk seisi rumahnya sebelum beraktivitas di luar (Ams. 31:15), c) Mengatur tugas asisten rumah tangganya (Ams. 31:15), d) Menjaga nama baik suaminya (Ams. 31:23), e) Berinvestasi dan mendapatkan keuntungan (Ams. 31:16,18,24).

Kata “meninggalkan” dalam Kej. 2:24 bukan berarti memutuskan relasi dan ikatan batin dengan orang tua ataupun berpisah rumah, melainkan berarti mandiri dalam hal keuangan dan mandiri dalam memiliki otoritas untuk mengatur rumah tangga tanpa intervensi dari orang tua.

Advertisements

Menang Atas Pencobaan

Kebenaran yang dapat kita ambil melalui Matius 4:1-11 tentang bagaimana Tuhan Yesus dicobai iblis di padang gurun setelah Ia berpuasa selama 40 hari 40 malam, yaitu:

  1. Hidup kita harus di’setir’ oleh Firman Tuhan, bukan oleh kebutuhan hidup (Matius 4:3-4).
  2. Firman Tuhan itu kokoh dan tidak perlu diragukan kebenarannya (Matius 4:5-7).
  3. Ada kemuliaan dibalik salib Yesus (Matius 4:8-10).

Jadi kunci untuk menang atas pencobaan, yaitu:

  1. Menyadari bahwa iblis adalah lawan/musuh kita.
  2. Firman Tuhan adalah senjata untuk melawan iblis.
  3. Tetap taat dan setia kepada Tuhan dalam menghadapi pencobaan kehidupan.

Memilih Berkat

Ulangan 11:26

Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk”

Shalom!

Kita tentunya hendak kehidupan yang diberkati, lalu bagaimana supaya kita bisa memilih berkat?

  1. Belajar memiliki pikiran yang benar. Pikiran adalah area pertempuran rohani yang sangat penting karena siapa yang menguasai pikiran kita (tuan kita), dialah yang menguasai kehidupan dan masa depan kita. Karenanya kita perlu mengenakan ketopong keselamatan untuk melindungi pikiran kita (Efesus 6:17). Ada beberapa orang yang sangat sulit untuk percaya kepada Tuhan meskipun telah mengalami mujizat karena pikirannya telah dikuasai oleh ilah-ilah zaman/materialisme (2 Korintus 4:4). Kita harus belajar menguasai pikiran kita dan menaklukannya agar Kristuslah yang menguasai kehidupan kita, jangan biarkan setan menguasai pikiran kita (2 Korintus 10:5). Pikiran yang benar berarti: (a)Berpikir positif (Filipi 4:8). Tetap percaya kepada Tuhan (berpikir positif kepada Tuhan) bagaimanapun keadaannya bahwa ada mujizat dibalik kesukaran hidup (bukan berpikir positif dengan menyangkal keadaan); berpikir positif (tidak berprasangka buruk) kepada sesama agar kita memiliki damai sejahtera; juga berpikir positif terhadap diri sendiri agar kita memiliki gambar diri yang baik dan mampu mencapai keberhasilan secara maksimal. (b)Berpikir yang besar (Yohanes 14:12). Bersama Tuhan, kita mampu melakukan hal-hal yang besar. Pikiran yang besar akan menyemangati kita dan semangat yang besar akan memotivasi kita untuk giat bekerja. Segala sesuatu dimulai dari pikiran yang besar akan masa depan, jangan batasi kuasa Tuhan yang besar dengan pikiran yang kecil! (c)Berpikir tidak ada yang mustahil (Markus 9:23). Hendaklah kita mengembangkan pikiran tidak ada yang mustahil karena kita memiliki Tuhan yang dahsyat.
  2. Memilih memiliki perkataan yang benar (Bilangan 14:28). Banyak orang tidak sadar hidup di bawah kutuk karena perkataannya sendiri. Berhati-hatilah sebab apa yang kita ucapkan bisa sampai di hadapan Tuhan dan bisa Tuhan lakukan. Jagalah perkataan kita karena perkataan yang benar akan membawa kita kepada berkat Tuhan. Perkataan yang benar berarti: (a)Memperkatakan Firman Tuhan setiap saat meskipun dalam masa kesukaran sebab Firman Tuhan itu benar dan tidak pernah sia-sia. (b)Selalu memperkatakan berkat bukan kutuk meskipun kenyataannya tidak seperti yang diharapkan (Yakobus 3:9-11).
  3. Memilih memiliki sikap iman yang benar yaitu percaya kepada Tuhan Yesus melalui hati dan perkataan (1 Yohanes 5:5). Hendaklah iman kita lebih menguasai logika kita dan marilah kita mempunyai motto hidup “percaya saja” agar mujizat Tuhan nyata dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.


Berkat Di Tengah Krisis

Kejadian 26:1-6, 12-13

Shalom!

Tuhan memanggil kita supaya kita mengalami peningkatan (Ulangan 28:13). Jadi bagaimana agar kita mengalami berkat di tengah krisis?

  1. Tetap taat di tengah krisis (ayat 2-3a) dengan respon yang benar (ayat 6). Ketaatan mendatangkan berkat dan mujizat karena ketaatan menyenangkan hati Tuhan sehingga menggerakan Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya (Yosua 6:1-27, 2 Raja-Raja 5:9-14). Lakukan saja perintah Tuhan yang tercatat di Alkitab.
  2. Tetap percaya di tengah-tengah krisis (ayat 3b-4). Iman (melalui hati dan perkataan) membuat kita berkenan pada Tuhan sehingga pasti ada pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, …” (Mazmur 5:4)