Makna Kematian & Kebangkitan Yesus

Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah hal terpenting bagi kita karena jika Ia hanya lahir ke bumi tanpa mengambil komitmen untuk berkorban bagi kita tentu sia-sialah kepercayaan kita selama ini.

Apa tujuan kematian & kebangkitan Tuhan Yesus (Jumat Agung)?

  1. Mengembalikan manusia berdosa menjadi serupa dengan gambar Allah. Memiliki gambar Allah berarti memiliki nilai yang sesuai dengan keilahian-Nya. Selama masih ada dosa maka kita tidak memiliki hubungan dengan Allah, karenanya hidup kita harus sesuai dengan kehendak Bapa. Matius 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” 1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
  2. Supaya kita dibebaskan dari hukum Taurat. Galatia 3:13-14 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.
  3. Untuk membuktikan bahwa Ia sangat mengasihi kita. 1 Yohanes 3:16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan (keputusan tanpa paksaan) nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Efesus 1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
  4. Yesus melakukan restitusi (penggantian). Ulangan 30:19-20 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” Yesus sudah mengambil kematian itu sehingga kita menerima kehidupan!

Lalu, apa yang harus kita lakukan dal memaknai kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Jumat Agung)? Mengerti isi hati Tuhan melalui keintiman dengan-Nya seperti yang dilakukan oleh wanita yang mengurapi Yesus dengan minyak narwastu! Markus 14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” Bible thinking, Jesus minded!

Advertisements

Hari Kegerakan Pentakosta Ke-3

Pentakosta ke-3 berkaitan dengan kelahiran yang baru, tidak mungkin kita akan mengalami kelahiran yang baru jika kita tidak memaknai Pentakosta ke-3.

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Untuk mengalami sebuah kelahiran yang baru, kita harus mengalami perubahan hidup menjadi berkenan kepada Allah seperti Daud. Kisah Para Rasul 13:22 Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

1 Tawarikh 16:28-29 Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.

Seorang pendoa harus bersikap memuliakan Tuhan ketika menghampiri tahta-Nya.

Filipi 1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

Jadi, pertolongan Roh Kudus itu sangat penting bagi keselamatan jiwa-jiwa. Kita dimampukan berdoa pun karena pertolongan Roh Kudus (bukan karena kekuatan kita sendiri).

Kisah Para Rasul 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Tujuan dari Pentakosta ke-3 adalah supaya semua umat manusia menyembah Tuhan dan diselamatkan.

Panggilan pelayanan kita sebagai pendoa syafaat adalah sebuah tanggung jawab, karena yang memanggil kita adalah Raja segala raja maka kita patut berbangga dan menghormati panggilan tsb. Kita harus bertahan memenuhi panggilan kita dengan sukacita, bukan dengan beban! Kolose 3:23-24 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Jika kita tidak memenuhi panggilan tsb dengan sukacita maka Ulangan 28:47-48 “Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya, maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau. Ia akan membebankan kuk besi ke atas tengkukmu, sampai engkau dipunahkan-Nya.

Karakter seorang pendoa syafaat, yaitu:

  1. Memiliki kejujuran (bukan kemunafikan/tidak sesuai antara hati dan perkataan). Tuhan membenci ibadah orang munafik. Amos 5:21-24 “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” [Perikop: Ibadah Israel dibenci Tuhan.]
  2. Memiliki ketenangan di tengah goncangan. Ingat: kita adalah tiang penopang, jika tiang penopang goyah maka goyahlah seluruh bangunan. Mazmur 62:2-3 Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

Ada 2 sisi dalam kegerakan Pentakosta ke-3 ini yaitu terjadinya goncangan dan Lukas 2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

2019: Tahun Kelahiran Yang Baru

Kelahiran yang baru berbicara tentang bagaimana hal-hal yang tidak ada menjadi ada. Tahun inilah momentnya!

Yehezkiel 36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

1 Korintus 2:9 Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Menerima hal-hal yang baru berawal dari memiliki hati yang baru, inilah yang terpenting! 2 Korintus 1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Sikap hati kita menentukan masa depan kita. Yohanes 7:38-39 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Kisah Para Rasul 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Roh Kudus berkarya tanpa batas sehingga kita memperoleh berkat-berkat yang tak terpikirkan. Ketika hati kita dimeteraikan oleh Roh Kudus maka hidup kita tidak akan tergantung keadaan melainkan tergantung Roh Kudus, shalom akan selalu ada dalam hati kita!

Ibrani 10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Yang harus kita lakukan di tahun 2019 adalah menemukan tujuan hidup kita! Galatia 1:15-16 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;

Efesus 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Bagaimana caranya supaya kita kedapatan kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya? Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dengan demikian, kita akan terus hidup semakin serupa dengan Kristus. Kita tidak perlu meminta penilaian dari manusia sebab yang terpenting adalah penilaian dari Allah. Matius 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Tujuan hidup kita adalah mengejar standar penilaian Tuhan, bukan manusia.

Setia Pada Panggilan Tuhan

2 Timotius 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Kita harus tetap beriman meskipun janji Tuhan belum terlihat.

Kita harus tetap setia pada panggilan pelayanan kita, meskipun “selalu tersembunyi” (jangan iri melihat bidang pelayanan lain selalu “ditampilkan”).

Panggilan sebagai pendoa syafaat paling luar biasa sebab kita adalah front liner (orang-orang di garis depan, penerobos) yang menghubungkan surga dengan bumi. Dengan demikian, tentulah kita menjadi orang pertama yang meraih berkat Tuhan (bukan yang terbelakang)! Jika kita menjalani panggilan pelayanan ini dengan bersungut-sungut, tentu tidak akan menerima berkat sulung!

Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kita harus mengalami pembaharuan (perubahan) jika ingin berkenan pada Tuhan. Pelayanan yang produktif adalah pelayanan yang sesuai kehendak Allah. Jika tidak demikian, bagaimanapun spektakulernya pelayanan kita tidaklah bernilai bagi Allah. Kehendak Tuhan adalah prioritas kita. Matius 7:22-23 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Ulangan 8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Kehendak Tuhan dan perintah Tuhan bagaikan 2 sisi mata uang (tidak terpisahkan), maka tidak boleh ada sedikitpun keraguan (sepakat) terhadap firman Tuhan dan harus taat (tunduk) sepenuhnya kepada firman Tuhan. Pelayanan bukan atas dasar sesuka hati, melainkan atas kehendak Roh Kudus.

Ini adalah zaman peperangan dan kita pemenangnya! 1 Korintus 15:57 Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Kita akan menjadi orang yang kalah jika kita tidak sepakat dengan firman Tuhan. Ingat, manusia pertama berdosa karena tidak sepakat dengan firman Tuhan. Jika kita tidak taat, maka tamatlah kita.

Yesaya 48:18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,

1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Jika kita goyah terhadap panggilan pelayanan kita, tentu jerih payah kita dalam persekutuan dengan Tuhan hanyalah kesia-siaan. Karena itu, mulai sekarang pastikan bahwa diri kita benar-benar menerima panggilan Tuhan sebagi imam doa agar kita tidak goyah menjalaninya! Kita harus bangga akan panggilan kita, bangkit dan bersukacitalah menjalaninya dalam kesungguhan! [Note: Gembala pesan agar kita disebut sebagai “imam doa”, bukan pendoa syafaat lagi.]

2 Korintus 2:14 Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.

Sebagai perantara, kita harus menyebarkan keharuman pengenalan akan Tuhan di mana-mana. Yang membawa kemenangan adalah Yesus, kapan? Ketika Yesus mengampuni orang yang menyakiti-Nya di kayu salib. Dengan demikian, kita harus mengampuni jika kita mau menang! Matius 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Ukupan Kudus & Ujian

Keluaran 30:34 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya.

Bahan-bahan ukupan kudus tersebut diperoleh setelah melalui berbagai proses yang tidak nyaman, contoh: sebuah pohon harus disayat terlebih dahulu untuk diambil getahnya. Ukupan kudus melambangkan doa, pujian, penyembahan yang mana harus selalu dijaga oleh imam agar tidak padam apinya. Dengan demikian, harus ada pengorbanan dalam mempersembahkan ukupan kudus bagi Tuhan.

Seorang pendoa syafaat sejati lahir dari berbagai proses hidup yang tidak nyaman, tanpa panggilan Tuhan tak mungkin kita dapat menunaikan tugas sebagai pendoa syafaat. Jika kita menerima panggilan Tuhan sebagai pendoa syafaat, pasti Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita untuk menunaikan panggilan ini.

Pentakosta ke-3 sedang terjadi, kita harus menangkap api Roh Kudus dan menjaganya agar tetap menyala!

Ada ujian-ujian bagi prajurit Tuhan yang gagah perkasa, yang mana kita harus keluar sebagai pemenang menghadapi ujian-ujian tersebut. Dari Hakim-Hakim 7, kita belajar bagaimana Tuhan menguji kita, yaitu:

  1. Ujian keberanian dalam melangkah. Hakim-hakim 7:3 Maka sekarang, serukanlah kepada rakyat itu, demikian: Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead.” Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang.
  2. Ujian saat menerima berkat. Hakim-hakim 7:5-7 Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum.” Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.” Hati kita harus tetap melekat kepada Sang Sumber Berkat, bukan berkat-Nya. Matius 6:24 Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
  3. Ujian kesatuan. Hakim-hakim 7:19-22 Lalu Gideon dan keseratus orang yang bersama-sama dengan dia sampai ke ujung perkemahan itu pada waktu permulaan giliran jaga tengah malam, ketika penjaga-penjaga baru saja ditempatkan. Lalu mereka meniup sangkakala sambil memecahkan buyung yang di tangan mereka. Demikianlah ketiga pasukan itu bersama-sama meniup sangkakala, dan memecahkan buyung dengan memegang obor di tangan kirinya dan sangkakala di tangan kanannya untuk ditiup, serta berseru: “Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!” Sementara itu tinggallah mereka berdiri, masing-masing di tempatnya, sekeliling perkemahan itu, tetapi seluruh tentara musuh menjadi kacau balau, berteriak-teriak dan melarikan diri. Sedang ketiga ratus orang itu meniup sangkakala, maka di perkemahan itu TUHAN membuat pedang yang seorang diarahkan kepada yang lain, lalu larilah tentara itu sampai ke Bet-Sita ke arah Zerera sampai ke pinggir Abel-Mehola dekat Tabat. Memecahkan buyung melambangkan menghancurkan sifat-sifat lama, dan menjadi manusia baru. Tuhan yang akan berperang bagi kita!

Perbuatan Daging VS Perbuatan Roh

Tahun 2018 : “Tahun Permulaan Yang Baru” (The New Beginnings).

You can’t improve your past, but you can improve your future. Semua itu tergantung keputusan kita hari ini. Tuhan memberikan kita pilihan: berkat atau kutuk. Jika kita memutuskan untuk memilih berkat, tentu perbuatan kita pun harus sesuai dengan pilihan tersebut. Jika tidak, tentulah kutuk yang kita peroleh.

Sebagai pendoa syafaat, seharusnya kita menjadi orang yang paling percaya akan firman-Nya sebab kita adalah orang yang paling intim dengan Tuhan. Ketika Tuhan belum menjawab doa kita, berarti ada suatu maksud Tuhan untuk mendewasakan kita dibalik hal tsb.

Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Roh menghidupkan kita, jadi persembahan yang hidup adalah persembahan yang berasal dari Roh, yaitu buah-buah Roh. Kita harus menjadi pendoa syafaat yang jujur (berintegritas), bukan munafik.

Galatia 5:19-23 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Kolose 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Kita harus memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih baik (menghasilkan buah-buah Roh) setiap hari, kasih mula-mula terhadap Tuhan harus tetap menyala-nyala di hati kita. Betapa dalamnya kita telah jatuh jika hidup tanpa kasih mula-mula tsb.

Lukas 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Jadi tak mungkin kita dapat berkata mengasihi Tuhan tapi membenci sesama.

Kita adalah utusan-utusan Kerajaan Allah (perantara bumi dan surga), jadi kita harus menjadi seorang pendoa syafaat yang dapat dipercaya. Kita harus terus memperbaiki diri selama masih diberi kesempatan hidup. Pendoa syafaat harus “lentur”, artinya menjadi orang yang paling mudah dibentuk Tuhan menjadi serupa dengan gambaran-Nya.

2 Korintus 5:17-20 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Sebagai pendoa syafaat, kita harus mendamaikan jemaat dengan Tuhan. Karena itu, terlebih dulu kita harus berdamai dengan Tuhan. Jika kita terus berprasangka buruk terhadap Tuhan, tentulah sangat mendukakan Roh Kudus yang telah dimateraikan dalam diri kita. Inilah kunci mendapatkan mujizat yang tak lazim (unusual miracle), yaitu: memiliki cara pandang seperti Kristus. Kita harus berubah sesuai standar Tuhan, bukan standar manusia.

2018: Tahun Permulaan Yang Baru

Permulaan yang baru berawal dari perubahan diri menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun menyakitkan, tetapi perubahan tsb membawa kita kepada kesempuraan rupa seperti Yesus. Itulah fokus hidup kita!

Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Galatia 5:19-23 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Kerajaan Surga adalah kehidupan nyata kita sekarang, sedangkan Kerajaan Allah adalah kehidupan kita kelak setelah pengangkatan. Kita harus fokus menghasilkan Buah Roh Kudus agar mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Latihlah diri kita untuk beribadah setiap saat, bukan hanya di hari Minggu saja.

2 Korintus 5:17-20 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Kia harus mempertahankan damai sejahtera Allah dalam diri kita sebagai utusan-utusan Allah yang dipercayakan berita pendamaian bagi dunia. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai Raja di hidup kita tentu damai sejahtera itu akan selalu ada. Yesaya 48:18-19 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.”

Inilah tugas baru kita setelah menjadi ciptaan baru dalam Kristus, yaitu menjadi agen-agen damai sejahtera Allah bagi orang lain. Orang lain harus bisa merasakan damai sejahtera Allah dalam diri kita. Yakobus 3:18  Dan buah yang terdiri dari kebenaran (=Buah Roh Kudus) ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. Jika kita tak menabur damai, bagaimana mungkin akan menuai damai?

2 Timotius 3:1-5, 7 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka (=orang Kristen), tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.

Orang Kristen yang tidak berlaku seperti Kristus adalah seorang trouble maker. Bandingkan kisah seorang muda kaya yang bertanya bagaimana mendapatkan hidup yang kekal kepada Yesus dengan kisah Zakheus si pemungut cukai yang bersedia menggantikan kerugian orang-orang yang pernah dirugikannya & wanita Samaria yang berjumpa dengan Yesus. Poin pentingnya adalah perubahan diri berawal dari perjumpaan pribadi dengan Kristus, bukan seberapa banyak teologi kekristenan kita ketahui. Lepaskan segala sifat-sifat lama dan kenakan sifat-sifat Kristus!

Mengenal Jalan Tuhan

1 Yohanes 2:27 Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain (=bukan berarti kita tidak perlu membaca Alkitab, mengikuti kelas KOM, maupun mendengar kotbah). Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Pengurapan menolong kita mengenal Tuhan dengan benar.

Keluaran 33:13-14 Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.”

Matius 7:22-23 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Membandingkan 2 ayat di atas, mengenal Tuhan adalah suatu keharusan jika kita ingin masuk surga.

Mazmur 103:7 Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya (=prinsip hidup yang diberkati) kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya (=berkat & mujizat) kepada orang Israel.

Jika kita mengenal jalan-jalan Tuhan (bukan sekedar perbuatan-perbuatan-Nya), tentu tak ada keluhan terhadap Tuhan ketika kita mengalami goncangan. Karena itu, jangan sekedar mencari berkat dan mujizat Tuhan, tapi carilah prinsip-prinsip kebenaran Tuhan.

Musa gagal masuk Tanah Perjanjian karena kepahitan, ini menandakan bahwa selain pengenalan akan Tuhan, kita perlu selalu mengampuni jika ingin masuk surga. Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Mengenal Allah Dengan Benar

Efesus 1:17-19  dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 

Tanda bahwa kita sudah mengenal Allah dengan benar yaitu tidak ada sedikitpun keraguan atas apa yang tertulis di Alkitab (percaya penuh terhadap Tuhan). 

Kita selalu menyanyikan: “Kaulah Bapaku yang baik, tak pernah rancangkan yang jahat bagiku” maka tak sepatutnya kita mengeluh saat menghadapi goncangan. Ketika kita mau melakukan perintah Tuhan sepenuhnya, itulah pertanda bahwa kita sudah mengenal Allah dengan benar.

Kita harus memiliki mata hati yang terang, yaitu mata yang melihat sebagaimana mata Tuhan melihat sehingga kita bisa melihat berkat dibalik segala goncangan. Lukas 11:34 Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. 

Wahyu 3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku … minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Artinya, ada harga yang harus dibayar untuk memiliki mata seperti mata Tuhan yaitu melalui pengurapan minyak.

Buah Kasih

Yohanes 15:16-17 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Wahyu 2:4-5 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Kita harus berbuah dalam standar kasih mula-mula. Berdasarkan penelitian Prof. David Hawkins, seseorang dengan frekuensi getaran cinta dibawah angka 200 akan banyak terserang penyakit sedangkan jika frekuensi getaran cintanya diatas angka 700 pasti hidup bebas dari segala penyakit. Hidup sehat berawal dari hati yang penuh cinta (Amsal 17:22).

2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Kita harus bergairah kembali pada cinta yang mula-mula dengan melupakan segala kenangan buruk di masa lalu. 

Penyebab seseorang tidak berbuah kasih, yaitu:

  1. Tidak mengampuni. Matius 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 18:21-22  Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali (sama dengan 70 pangkat 7 = 8.235.430.000.000). Mengampuni membuat tubuh kita sehat dan diberkati oleh Tuhan (seperti Ayub yang diberkati 2X lipat setelah dicobai Tuhan karena ia mengampuni teman-teman yang menghinanya ketika jatuh).
  2. Sikap hati yang tidak dijaga. Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Yesaya 32:16 Di padang gurun selalu akan berlaku keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran. Artinya selama kita terus menuntut keadilan maka hidup kita akan selalu berada di ‘padang gurun’ (kehidupan tanpa berkat), tetapi ketika kita terus menghidupi kebenaran pasti hidup kita berada di ‘kebun buah-buahan’ (kehidupan penuh berkat). Kita harus memiliki sikap hati yang rendah hati.