When God???

“Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!” (Mazmur 31:15-16)

Tuhan punya rencana, Ia juga punya waktu untuk merealisasikan rencana tersebut dalam hidup kita. Renungkanlah…

  • Allah tidak pernah terlambat menggenapi janji-Nya
  • Allah tidak pernah terlalu dini juga menggenapi janji-Nya
  • Iman menuntut penyerahan diri bukan pemaksaan kehendak pribadi kepada Allah
  • Iman dan ketekunan/kesabaran ibarat ‘saudara kembar’

Keadaan dunia di akhir zaman sudah membentuk sebuah ‘generasi instan’ yang sangat sulit untuk bersabar, padahal iman dan kesabaran adalah hal yang menopang janji/visi Tuhan yang dahsyat digenapi dalam hidup kita. Iman yang hebat terbukti saat kita masih mengasihi dan menyenangkan Tuhan meski janji-Nya tak kunjung digenapi.

Galatia 6:9 berkata “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Patience is not the ability to wait but the ability to keep a good attitude while waiting.

Kesabaran perlu kapasitas hati yang besar. “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Habakuk 2:3)

Manusia luar biasa adalah manusia biasa dengan ketekunan yang luar biasa –Robert Schuller.

Never think that God’s delays are God’s denials. Hold on! Hold fast! Hold out! Patience is genius.

Advertisements

The Man Of Destiny

Kenajisannya melekat pada ujung kainnya; ia tak berpikir akan akhirnya, [she didn’t consider her destiny] sangatlah dalam ia jatuh, tiada orang yang menghiburnya. “Ya, TUHAN, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!” (Ratapan 1:9)

Kita harus punya tujuan akhir kehidupan yang jelas agar kita tidak salah melangkah dalam menjalani kehidupan yang Tuhan percayakan. Jika kita tidak memiliki tujuan hidup yang jelas sejak muda, pasti kita akan rentan dengan segala gangguan sepele yang membuat kita tidak fokus dalam memilih yang benar dan menentukan prioritas kehidupan. Sebagai anak Allah, destiny kita adalah menjadi seorang mempelai Kristus yang kudus. Maka kita tidak boleh lagi berprinsip hidup ‘mengalir saja’ ataupun menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang belaka tanpa memikirkan akibatnya bagi kehidupan kita maupun orang lain.

God’s way will bring you to your life destiny, while your way will bring you to your life destruction. Tidak ada yang lebih baik daripada rancangan Tuhan yang telah disediakan bagi kita, karenanya kita harus menyatukan visi kita dengan visi-Nya. Filipi 3:13b-14 berkata “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, [I’ve got my eye on the goal] dan berlari-lari kepada tujuan [destiny] untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Your focus determines your reality –George Lucas. Fokuslah kepada Tuhan, bukan kepada dunia. Maka hidup kita pun akan berakhir di tangan Tuhan, bukan di tangan dunia. Hendaklah kita hidup bijak dengan tidak lagi bermain-main melakukan hal-hal yang tidak mendekatkan kita kepada destiny Ilahi. Kita harus perjuangkan destiny tersebut bagaimanapun keadaannya!

Jika kita belajar dari kehidupan Raja Salomo, the point is not how you begin your life but it’s about how you end your life (1 Raja-Raja 11:4,6). Kita harus menyegarkan diri kita kembali di hadirat Allah ketika kita sudah mulai tidak fokus kepada destiny Ilahi karena Allah akan menyadarkan kita bahwa identitas kita adalah anak-Nya yang harus mencapai destiny Ilahi di bumi sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh keduniawian semata.

Lukas 20:24-25 berkata ““Tunjukkanlah kepada-Ku suatu dinar; gambar dan tulisan siapakah ada padanya?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”” Kita diciptakan serupa gambar Allah sehingga diri kita memiliki ‘cap gambar Allah’, maka kita pun harus mengembalikan diri kita kepada Allah. Hindari kehancuran hidup kita dengan menjadi the man of God, not the man of world.

Stronger In Struggles (Menjadi Lebih Baik Dalam Setiap Pergumulan)

Shalom!

Tuhan mengizinkan masalah hadir dalam kehidupan kita agar kita bisa menuai sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan meskipun secara manusiawi kita membenci masalah. Masalah seharusnya membuat kita bertindak lebih waspada, selalu berjaga-jaga dan mengeluarkan pemikiran kreatif untuk mengatasinya bukannya malah menjadi semakin terpuruk, tidak berdaya, lemah dan mandek. Life is beautiful struggle, jadi ketika kita membenci masalah sebenarnya kita sedang membenci kehidupan dan menentang Tuhan yang menghendaki kita hidup.

Kejadian 49:19 berkata “Gad, ia akan diserang oleh gerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka.” Gad (anak ke-7 Yakub) memiliki alasan untuk kecewa karena doa berkat yang diucapkan ayahnya tersebut berupa peperangan. Di akhir zaman, kita pun banyak mendapat nubuatan yang tidak menyenangkan namun jika kita meresponinya dengan benar justru kita akan mengalami kemenangan dalam setiap peperangan tersebut yaitu dengan tidak kecewa terhadap keadaan tetapi memilih untuk menjadi seseorang yang lebih baik dalam setiap masalah dan menghadapinya bersama Tuhan. Keputusan kita menentukan apakah kita akan semakin terpuruk atau mengalami terobosan setelah mengalami pergumulan. Hal yang terpenting bukanlah berapa besar permasalahannya tetapi sebenar apakah respon kita dalam menghadapi permasalahan tersebut. Let your battle makes you better, not bitter.

Suku Gad adalah suku yang diizinkan Tuhan menjadi suku yang paling sering menghadapi peperangan dalam kehidupannya tetapi suku Gad bukannya menjadi lebih buruk keadaannya malah menjadi semakin kuat dan memiliki banyak prajurit yang hebat. Hasil dari sebuah respon yang benar ketika suku Gad memilih untuk menjadi lebih baik dalam pergumulan mereka yaitu:

ü  Tetapi mereka akan menjadi hamba-hambanya, supaya mereka tahu membedakan antara mengabdi kepada-Ku dan mengabdi kepada kerajaan-kerajaan duniawi. (1 Tawarikh 12:8)

ü  Adapun bani Ruben dan bani Gad ternaknya banyak, bahkan sangat banyak sekali. (Bilangan 32:1a)

ü  Tentang Gad ia berkata: “Terpujilah Dia yang memberi kelapangan kepada Gad. Seperti singa betina ia diam dan menerkam lengan, bahkan batu kepala. (Ulangan 33:20)

Jangan takut dengan pergumulan-pergumulan kehidupan, tetapi anggaplah itu sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh. Percayalah, kita sudah ditentukan Tuhan sebagai orang yang diberkati karenanya masalah tidak akan mencuri berkat Tuhan yang sudah ditentukan bagi kita malah kita akan semakin diberkati karenanya. Tangani setiap masalah kita dengan semakin mengandalkan Tuhan hingga tiba saatnya Tuhan akan mengangkat kita dari masalah tersebut.

Kejadian 30:11 berkata “Berkatalah Lea: “Mujur telah datang.” Maka ia menamai anak itu Gad.” Arti nama Gad adalah kemujuran, beruntung, fortunate namun kenyataannya ia mengalami banyak peperangan dalam hidupnya. Melalui kehidupan Gad, Tuhan menghendaki agar kita memiliki paradigma baru yaitu masalah adalah suatu keberuntungan bukan kesialan. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yakobus 1:2)

Jalan kehidupan seperti roller coaster (naik-turun) tetapi akhir kehidupan setiap orang percaya pasti berada pada posisi diatas karena baik ada masalah ataupun tidak, kita tetaplah orang yang diberkati Tuhan. Hal yang bisa kita lakukan adalah menikmati naik turunnya kehidupan yaitu dengan bersyukur ketika berada ‘dibawah’ dan tetap waspada ketika berada ‘diatas’ agar kita tidak lengah dengan kelimpahan berkat Tuhan.

Suku Gad tetap pegang panji kebenaran Tuhan di medan perang meskipun menyakitkan. “Ia memilih bagian yang terutama, sebab di sanalah tersimpan bagian panglima; ia datang kepada para kepala bangsa itu; dilakukannya kebenaran TUHAN serta penghukuman-penghukuman-Nya bersama-sama dengan orang Israel.” (Ulangan 33:21)

When There’s A Will, There’s A Way

Lukas 13:11-13

“Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. [she couldn’t even look up – Msg]  Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.”

Shalom!

Masih adakah antusiasme kita untuk meraih janji Tuhan di tahun ini? Orang yang masih mempunyai antusiasme akan janji Tuhan pasti tetap bersemangat untuk melakukan tindakan-tindakan iman. Jangan sampai iblis mematikan semangat kita untuk tetap percaya dan meraih janji Tuhan dalam hidup kita.

Kebungkukan perempuan dalam ayat tersebut merupakan gambaran orang Kristen yang ‘tidak berfokus/tidak berani memandang kepada janji Tuhan/hal-hal yang lebih besar’ karena terintimidasi iblis. Namun, tahukah kita bahwa Tuhan gusar melihat umat-Nya yang bersikap demikian? Tuhan ingin agar kita dilepaskan dari pengaruh iblis yang membuat kita ‘tertunduk seperti orang yang kalah’ sehingga kehidupan kita memuliakan nama Tuhan.

Penyebab mengapa Yesus menyembuhkan perempuan tersebut, yaitu:

  1. Perempuan tersebut masih mau memberi respon/jawaban terhadap panggilan Yesus (ayat12-13). Dalam ayat 12 tertulis “…Ia [Yesus] memanggil dia…” berarti ada jarak yang cukup jauh antara Yesus dan wanita tersebut, lalu ayat 13 menuliskan bahwa “Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu…” berarti jarak antara Yesus dan wanita tersebut cukup dekat. Hal ini menunjukan bahwa masih ada kemauan yang kuat dalam diri wanita ini untuk disembuhkan meskipun ia telah lama sakit yang ia tunjukan dengan tindakan mendekat kepada Yesus. Hari ini, Tuhan yang sama bertanya kepada kita “Masih adakah keyakinan akan janji-Nya dalam diri kita dan kemauan yang kuat untuk meraihnya atau kita telah lelah dengan ‘penyakit’ kita dan pasrah dengan keadaan tanpa melakukan tindakan apapun?”. Ingatlah bahwa Tuhan pun tidak akan ‘buka jalan’ ketika kita menyerah. Bagian kita hanyalah tetap beriman akan janji-Nya dan melakukan tindakan iman, maka lihatlah bahwa Tuhan pun akan menggenapi janji-Nya dalam kehidupan kita karena kita adalah rekan sekerja Allah. Jangan biarkan kegagalan menghentikan langkah iman kita untuk meraih janji-Nya dan membuat kita pasif, tetapi tetaplah bersemangat dan pantang menyerah. Orang yang bersemangat disebut sebagai A healthy spirit conquers adversity, but what can you do when the spirit is crushed?” (Amsal 18:14 –Msg) Hal yang terpenting untuk menjaga semangat kita adalah menjaga hati kita tetap bersih dari kekecewaan, kepahitan dan keputusasaan melewati kegagalan demi kegagalan dalam hidup kita hingga pada akhirnya janji Tuhan digenapi bagi kita.
  2. Mujizat terjadi pada saat Hari Sabat. Lukas 13:14-15 berkata “Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” Esensi dari hukum Hari Sabat adalah menghormati Tuhan dan menguduskan diri untuk Tuhan. Hari Sabat bukan berarti ‘hari tertentu’ untuk libur melainkan jadikanlah setiap hari kita Hari Sabat yang kita lalui dengan penuh penghormatan kepada Tuhan dan kekudusan dalam segala hal yang kita lakukan. Ketika kita melakukannya, kita sedang ‘memateraikan Bapa di surga’ dalam apapun yang kita kerjakan dan senantiasa memiliki kesegaran jiwa. Ketika Yakub melakukan hukum Sabat (Kejadian 35:1-2) maka “Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka,[And the terror of God was upon the cities – NKJV] sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar.” (Kejadian 35:5)
  3. Mujizat terjadi karena wanita ini “Putri Abraham”. Lukas 13:16 berkata “Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”” Keturunan Abraham menandakan bahwa kita adalah keturunan orang beriman, maka masihkah kita memiliki iman untuk meraih janji-Nya? “Siapakah yang akan memisahkan [mencegah – BIS] kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? … atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:35,39)

Your Work Is Your Worship

Sebagian besar orang Kristen memisahkan konsep pekerjaan dan ibadah sehingga banyak ditemukan bahwa orang Kristen hanya menjadi ‘malaikat’ di hari minggu saja sehingga hal tersebut menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tidak memuliakan Tuhan.

Kebenarannya adalah pekerjaan kita berkaitan erat dengan nilai penyembahan kita. Pekerjaan dan ibadah bukanlah hal yang terpisah karena pekerjaan adalah cerminan baik atau buruknya ibadah kita.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. … Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:17, 23)

Everyday is a God’s day, so do your best in everything you take. Pekerjaan kita adalah pertanggungjawaban kita terhadap Tuhan, bukan hanya terhadap manusia. Tempat pekerjaan (marketplace) kita adalah tempat kudus dimana Tuhan ada di sana.

belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;  … TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (Kejadian 2:5)

Berdasarkan ayat tersebut, jelas bahwa bekerja bukan merupakan ‘kutukan’ akibat kejatuhan manusia pertama, melainkan adalah kehendak Allah agar manusia bekerja sejak awal penciptaan. Dalam bahasa Ibrani, kata ‘mengusahakan dan memelihara’ (pekerjaan) menggunakan kata ‘abod’ sedangkan kata ‘ibadah’ menggunakan kata ‘abodah’. Jadi, jelaslah sebuah konsep bahwa pekerjaan adalah ibadah karena menggunakan asal kata yang sama dalam bahasa aslinya di Alkitab.

Lukas 5:3 berkata Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Melalui ayat ini, Tuhan menekankan bahwa perahu Simon adalah ‘mimbar’ Tuhan. Hal ini juga yang berlaku atas kita, bahwa tempat pekerjaan kita adalah ‘mimbar’ Tuhan, yaitu tempat di mana Firman Tuhan diberitakan kepada semua orang meskipun tempat tersebut bukanlah sebuah gereja. Kita tidak memiliki hak apapun lagi untuk show off mengenai diri sendiri dalam pekerjaan kita karena semuanya hanyalah untuk kemuliaan Tuhan.

Work as worship means work with heart, not only with head and hands. When there’s love, there’s life. Bawalah cinta akan Tuhan yang ada di hati kita ke dalam pekerjaan kita, yaitu dengan:

  • Mengejar kepuasan hati (bernilai moral, ada karakter Kristus), bukan hanya mengejar materi
  • Berketetapan hati (tekun bekerja, pantang menyerah, tidak mudah kecewa/putus asa)
  • Ketulusan hati (bekerja dengan hati, tidak hanya dengan keahlian)

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam konsep pekerjaan adalah ibadah:

  1. Damai sejahtera adalah hal yang utama. Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Roma 14:19) The secret of success is making your vocation as your vacation –Mark Twain.
  2. Bekerja dengan tangguh. Setiap panggilan hidup adalah hebat, jika benar-benar ditekuni –Oliver Wendelll Holmes.
  3. Sukses ditentukan oleh 15% IQ [head] dan 85% EQ [heart] –James Gwee.

sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (Kolose 1:10)

Lost [Tersesat]

Shalom!

Target utama kita di tahun ini adalah naik level, bukan turun level. Tersesat dan kehilangan sesuatu yang berharga sangatlah mengerikan, karenanya jadilah orang Kristen yang tetap terarah kepada tujuan Tuhan bagi hidup kita. Disorientasi kehidupan (salah kiblat/kesalahan orientasi kehidupan) menyebabkan kita tersesat. Sebagai anak Tuhan, hendaklah orientasi kehidupan kita adalah “…carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33) Karena kehilangan fokus akan nilai-nilai tertinggi dalam kehidupan kita (disorientasi) menyebabkan kita tersesat/menyimpang dari rencana Tuhan. Ketika kita hidup hanya berdasarkan perasaan/naluri/logika pribadi, tanpa dikendalikan oleh Tuhan, pasti kita akan tersesat tidak peduli sehebat apapun kita. Karenanya, jangan memprioritaskan yang salah agar kita tidak menyimpang dari rencana Allah dalam hidup kita.

1 Raja-Raja 11:4,6 berkata “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.” Di masa mudanya, Salomo hidup mengutamakan Tuhan dan berorientasi pada hal yang utama dalam hidupnya (meminta hikmat Tuhan) sehingga segala hal lain yang tidak ia minta pun ditambahkan oleh Tuhan. Tetapi, pada masa tuanya…ia lebih berorientasi kepada istri-istrinya sehingga perlahan-lahan ia mengalami kematian rohani, meskipun secara jasmani ia masih menjabat sebagai raja Israel. Mari, jadikan hidup kita tetap sesuai dengan tuntunan Tuhan karena ‘berada di gereja’ saja tidak membuat kita ‘aman’.

Contoh lain tentang tokoh-tokoh hebat di Alkitab yang pada akhir hidupnya mengalami disorientasi tujuan hidup, yaitu Simson yang pada awalnya memberi diri untuk menggenapi tujuan Allah dalam hidupnya tetapi pada akhirnya penyertaan Tuhan undur dari padanya karena ia tidak mengindahkan nasihat orang tuanya untuk tidak menikahi perempuan Filistin (Hakim 16). Selain itu, Lot yang tergiur dengan apa yang dilihatnya (perasaannya) sehingga ia memilih tinggal di Sodom & Gomora (Kejadian 13:10-11), Demas (murid terbaik Paulus dibandingkan Timotius) yang awalnya adalah murid setia namun ditengah perjalanan imannya ia lebih tertarik untuk mencintai dunia dibanding mencintai pelayanan Tuhan (2 Timotius 4:10), Daud yang orientasinya tidak lagi kepada umat Israel yang harus ia bela tetapi kepada perasaannya sehingga ia jatuh ke dalam dosa (2 Samuel 11:1-2). Galatia 3:1 berkata “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” Hal ini dikatakan rasul Paulus kepada jemaat Galatia yang telah mengalami disorientasi kehidupan sehingga hidup mereka menyimpang dari Tuhan Yesus. Hal ini membuktikan bahwa “sedikit” disorientasi kehidupan pun sangat berbahaya, karena itu akan menjadi celah bagi iblis untuk menjauhkan kita dari Allah dan membinasakan kita.

“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12) Tetapkan nilai-nilai/tujuan yang benar dalam hidup kita agar penyertaan Tuhan sempurna dalam hidup kita dan skenario indah yang telah Tuhan rancangkan bagi kita pun tergenapi. Kita harus selalu waspada dengan tetap mengkoreksi orientasi kehidupan kita apakah tetap fokus kepada tujuan Tuhan atau kepada hal-hal lain yang pada akhirnya membuat kita menyimpang jauh dari tujuan Tuhan menciptakan kita.

Kita harus selalu mengalami ‘penyegaran’ (menjaga) orientasi kehidupan dengan terus-menerus berada di dalam hadirat Tuhan. Mazmur 73:2-5&13 mengisahkan ‘kecemburuan’ pemazmur terhadap kenikmatan hidup orang fasik sehingga pemazmur tersebut merasa tidak berguna untuk taat beribadah kepada Tuhan, namun setelah ia masuk dalam hadirat Tuhan…maka paradigmanya diubahkan sehingga ia menyadari bahwa selalu ada ‘happy ending’ di dalam Tuhan (Mazmur 73:16-20). Jagalah kehidupan kita sesuai tuntunan Tuhan agar kita tidak tersesat dalam kehidupan ini, tetapi meraih apa yang menjadi tujuan Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Lost [Kehidupan Yang Tersesat]

Shalom!

Ibadah tidak menjamin seseorang tidak tersesat dalam hidupnya, karenanya banyak orang di gereja yang tidak sadar bahwa dirinya ‘tersesat’. “Tersesat” terjadi ketika kita mengalami disorientasi (salah kiblat/kesalahan orientasi kehidupan/kesalahan dalam mengejar hal yang utama dalam kehidupan). Untuk tidak tersesat kita harus memastikan bahwa orientasi kehidupan kita sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu “…carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Kunci utama untuk tidak ‘tersesat’ yaitu: kita harus mau hidup dituntun oleh Tuhan. Hidup tidak hanya oleh perasaan tetapi oleh iman. Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, tanpa iman kita tidak akan bisa berkenan di hadapan Tuhan sehingga kita tidak akan meraih tujuan Tuhan dalam hidup kita. Iman yang hidup berarti mendengar dan melakukan Firman Tuhan. 1 Raja 11:4,6 berkata “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya [terjemahan lain: disoriented heart] kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.” Kita akan ‘tersesat’ ketika kita hidup menggunakan perasaan/kehebatan kita sendiri, bukan menggunakan tuntunan Tuhan. Kita bisa naik level di tahun ini karena penyertaan Tuhan, kita akan mengalami penyertaan Tuhan ketika kita memiliki orientasi yang benar dalam kehidupan. Hendaklah kita memulai perjalanan iman kita dengan orientasi hidup yang benar dan mengakhiri demikian pula, tidak mengakhirinya dengan disorientasi kehidupan.

Contoh lain di Alkitab tentang pribadi-pribadi hebat yang tersesat karena hidup mengandalkan perasaannya sendiri, yaitu: Simson yang tidak mau mendengarkan nasihat orang tuanya untuk tidak menikah dengan perempuan Filistin (Hakim 16), Lot yang memilih negerinya sendiri karena apa yang dilihat matanya bukan memilih negeri yang diberkati Tuhan (Kejadian 13:10-11), Demas (murid terbaik Paulus) yang tidak mau dituntun oleh rasul Paulus karena merasa “mampu berjalan sendiri” (2 Timotius 4:10), Daud yang tidak memiliki semangat berjuang lagi sehingga ia jatuh ke dalam dosa dengan Batsyeba (2 Samuel 11:1-2). Galatia 3:1 berkata “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” Hal tersebut dikatakan Paulus kepada jemaat Galatia yang mengalami disorientasi karena telah terpesona dengan hal-hal lain yang bukan Yesus Kristus. Berhati-hatilah, karena iblis selalu berusaha membuat kita mengalami disorientasi dalam kehidupan sehingga kita tidak lagi fokus terhadap kehendak Allah. Jangan ‘tersesat’! Tujuan hidup kita adalah untuk ‘entering to the next level’ bukan turun level!

Kita harus terus memperbaharui orientasi kehidupan hidup kita agar kita mempunyai standar kehidupan yang benar. Dalam Mazmur 73:2-5&13, pemazmur ‘sempat cemburu’ dengan kenikmatan hidup yang dinikmati oleh orang fasik sehingga ia mulai merasa ‘tidak berguna’ untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi ia masuk hadirat Tuhan sehingga mengalami pembaharuan orientasi kehidupan dan menyadari bahwa ada ‘happy ending’ jika kita memiliki orientasi yang benar (Mazmur 73:16-20). Hanya di hadirat Tuhan kita bisa mengalami pembaharuan diri untuk memiliki orientasi yang benar sehingga kita tidak tersesat dalam kehidupan ini. Tuhan Yesus memberkati.

LEVEL UP YOUR LIFE!

Yosua 1:4

“Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.”

 

Shalom!

Kehidupan adalah sebuah ‘film’ dengan Tuhan sebagai sutradaranya. Bagus atau tidaknya drama kehidupan kita tergantung pada diri kita sendiri sebagai aktornya. Adalah bodoh jika kita mengharapkan sesuatu yang baik terjadi tetapi kita tetap melakukan hal yang tidak baik. Tahun 2013 entering the next level berarti kita harus terus memperbaharui kehidupan kita dengan meningkatkan kualitas diri sehingga skenario kehidupan yang telah Tuhan rancangkan bagi kita terwujud dengan sempurna.

“Life is a game, so level up!” berarti kita harus mempunyai mentalitas seorang pemenang untuk menggenapi janji Tuhan dalam hidup kita, yaitu menjadi lebih dari pemenang. Janji Tuhan seperti karet yang elastis; diperlukan mentalitas yang selalu bersemangat dan berani melangkah lebih lagi untuk meraih janji Tuhan yang sempurna. Sampai di mana “batas” naik level itu? Tergantung di mana kita “berhenti melangkah”, yaitu sejauh mana kita berani berjalan bersama Tuhan. Kitalah yang bertanggungjawab atas penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita sendiri, bukan orang lain/keadaan.

Ada 3 tipe orang berdasarkan responnya terhadap janji Tuhan, yaitu:

  1. The quitters (Keluaran 14:10-12). Tipe ini adalah orang-orang yang mudah mengeluh, putus asa dan menyerah sebelum mencoba/berjuang. Mereka memiliki mentalitas “kemustahilan” karena mereka mengukur janji Tuhan sesuai dengan perkiraan akan kapasitas diri mereka sendiri sehingga mereka pada akhirnya tidak melakukan apa-apa; mereka takut untuk menghadapi sebuah tantangan yang baru (tidak berani bertanggung jawab). Selain itu, mereka mempunyai mentalitas sebagai “korban”, dimana mereka sering menyalahkan keadaan/orang lain tanpa pernah introspeksi diri sendiri. Level up your mentality! Marilah kita tingkatkan mentalitas kita untuk menghadapi tantangan-tantangan yang “menutupi” pandangan kita akan berkat Tuhan!
  2. The campers (Bilangan 32:1-5). Tipe ini adalah orang-orang yang berani bayar harga meski di tengah tantangan, namun akhirnya mereka mulai sombong dan tidak mawas diri ketika diberkati Tuhan sehingga ‘mogok’ mencari Tuhan. Semangat dan cinta mula-mula kepada Tuhan dilunturkan oleh berkat dan membuat mereka puas berhenti di ‘zona nyaman’ (berhenti di tengah perjalanan iman). Kelihatannya tipe ini lebih baik dibandingkan tipe pertama, namun mereka tetap sama-sama tidak berkenan di hadapan Tuhan (Bilangan 32:10). Level up your character! Jangan sampai pencobaan dan berkat menghentikan langkah kehidupan kita bersama Tuhan!
  3. The climbers (Yosua 14:10-12). Tipe ini adalah orang-orang yang mau terus mendaki hingga meraih kepenuhan janji Tuhan digenapi dalam hidupnya meski mereka telah mengalami ‘zona nyaman’. Mereka memiliki semangat yang tetap sama untuk hidup di dalam Tuhan seperti ketika mereka masih belum diberkati oleh Tuhan. Kepada tipe orang seperti inilah janji Tuhan yang sempurna akan digenapi. Level up your skill of life! Marilah paksa diri kita sendiri untuk terus melakukan peningkatan-peningkatan baru hingga kita menjadi seperti Kristus! Tuhan melihat sebuah mentalitas yang berbeda pada umat-Nya untuk membawa mereka masuk ke dalam level yang lebih tinggi, yaitu mentalitas seorang prajurit sejati. Seorang prajurit sejati menghendaki untuk ditempatkan di sebuah medan perang yang ‘berbahaya’ karena mereka tahu bahwa mereka akan menjadi yang terbaik di ‘level’ tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

The Brave Heart (Kehidupan Hanya Menyambut Mereka Yang Pemberani)

 “Be brave to be a right man in Christ”

Meskipun menjadi pembereni itu beresiko dan tak selalu menjadi pemenang, tapi hanya mereka yang beranilah yang akan dikenang dan mendapat kemuliaan.

“Every man will die but not every man really live because they have no brave heart”

“Success isn’t final. Failure isn’t fatal. It is the courage to continue that counts” –Winston Churchill

“Fortune favors the brave”

Menjadi penakut hanya memperburuk kehidupan kita. Berani bertanggung jawab meski pada hal yang sepele.

7 keberanian yang esensial:

  1. Berani mimpi/cita-cita/berharap (jangan hidup dengan berprinsip “mengalir saja”)
  2. Berani mencoba melakukan yang kita bisa sekalipun kita belum expert (lakukan saja bagian kita)
  3. Berani bersaing/bayar harga (jangan takut dengan ketatnya persaingan because life is competition)
  4. Berani berubah kalau tahu sudah salah (berani menerima pendapat orang lain untuk menjadi lebih baik)
  5. Berani menerima kegagalan kalaupun hal itu terjadi (bahasakanlah kegagalan dengan bahasa yang baru, yaitu kegagalan adalah pembelajaran bukan kesalahan total)
  6. Berani bangkit dan mencoba kembali dengan cara yang lebih bijak, smart and better
  7. Berani terus belajar meski sudah berhasi (jangan mudah merasa puas)

RAISE UP! – Bangkit untuk meraih mimpi

FACE UP! – Hadapi kegagalan

STAY UP! – Tidak pernah menyerah meski gagal dan tidak kendor meski sudah sukses

Sebuah kisah tentang seorang wanita pemberani di Markus 5:25-29 yang tengah mengalami penderitaan total (fisik, rohani, sosial) namun dengan penuh keberanian datang kepada Tuhan Yesus demi perkenanan Tuhan untuk menyembuhkan sakitnya.

“Future depends on your action. Your action depends on your courage.”

Berubah itu susah tapi tidak berubah itu pasti fatal.

Berani bukan nekat, jadi jangan asal berani…

  1. Berani butuh kekuatan mental (iman) bukan karena terdesak keadaan
  2. Berani butuh kecerdasan/strategi
  3. Berani butuh pengorbanan
  4. Berani butuh pertanggungjawaban, karenanya beranilah untuk hal-hal yang benar saja!

Siapapun bisa jadi “sang pemberani” sekarang juga meskipun kecil dan sendirian jika bergaul erat dengan Allah. Jadilah orang-orang yang beruntung, jangan lakukan tindakan-tindakan pengecut!

Roh Kudus adalah Pemberi keberanian:

Mazmur 18:30 – …berani

Kisah Rasul 4:8 – …penuh dengan Roh Kudus

Kisah Rasul 4:13 – …keberanian

Choose faith or fear?

Feed your faith and your fears will starve to death.

The Power Of Commitment

Mazmur 37:5

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”

Commit thy way unto the LORD; trust also in Him; and He shall bring it to pass” (NKJV)

Shalom!

Komitmen adalah kunci keberhasilan di segala bidang. Banyak orang gagal bukan karena kurang kemauan/mimpi tetapi karena tidak berani mengambil komitmen untuk apa yang ia inginkan –Vinee Lombardi. Komitmen berarti apapun keadaannya tetap melakukan prinsip hidup kita dengan total (mampu mengalahkan perasaan sendiri yang berubah-ubah) meskipun merugi/sedang tidak ingin melakukannya. Orang yang berkomitmen pasti karakternya energic (berenergi lebih/bersemangat).

Tokoh-tokoh Alkitab yang berani berkomitmen selalu mengatakan “sekalipun”, yaitu:

  1. Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18)
  2. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73:26)
  3. tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:18)

 

Tokoh Alkitab yang menjadi teladan sempurna bagi kita adalah Tuhan Yesus; Ia disalib bukan karena Ia lemah namun karena komitmen-Nya untuk menyelamatkan kita sehingga Ia mengabaikan perasaan-Nya sendiri.

Komitmen berarti menyelesaikan apa yang telah kita mulai, karena berhenti di tengah jalan itu lebih buruk dibanding belum memulai sama sekali. Amsal 20:6 berkata Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” Orang yang setia/berkomitmen adalah orang yang tetap pendiriannya.

Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai (personal bodyguard-Msg) bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan (pays special attention-Msg), dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia (committed ones-Msg.” (Amsal 2:7-8)

Hendaklah kita berkomitmen untuk menjadi orang benar meskipun itu sulit. Hendaklah komitmen mengalahkan logika-logika ataupun perasaan kita karena Tuhan sangat mencari dan menghargai orang-orang yang berkomitmen. Tuhan Yesus memberkati.