Unfailing Love, Unshaken Promise

Iblis berusaha membuat kita tidak percaya janji Tuhan di tengah pergumulan, karena itu kita harus mengenakan ketopong keselamatan agar tidak terintimidasi oleh iblis. Kita harus selalu mengingat kasih Tuhan lebih dari kerumitan masalah kita, itulah sumber kekuatan kita.

Jelas bahwa kasih dan janji Tuhan tak mungkin gagal, sebab Yesus Kristus telah membuktikannya bagi kita: Ia mengasihi kita hingga rela mengorbankan nyawa-Nya.

Yesaya 54:10  Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau. 
Yesaya 53:5  Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan [shallom: peace, joy, save, wholeness, health, wealth] bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 
Keselamatan itu dimateraikan oleh materai termahal yang pernah ada, yaitu darah Yesus Kristus. Love will win [cinta akan selalu menang menghadapi rintangan apapun]. Cinta manusia (eros) saja bisa mengalahkan segala tantangan, apalagi cinta Tuhan (agape). Kasih Allah lebih berkuasa dibanding kekejaman hidup ini dan Ia tak pernah menyesali kasih karunia-Nya (Allah tak pernah menarik kembali apa yang telah Ia lepaskan). Karenanya, tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan kasih dan janji Tuhan bagi kita.

Mazmur 125:1  Nyanyian ziarah. Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. 
Gunung Sion berbicara tentang tempat di mana ada anugrah, kemurahan, perkenanan dan kasih setia Allah; itulah tempat yang tidak akan tergoncangkan.

Ibrani 12:22, 28  Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.

Ibadah berbicara tentang hubungan kita dengan Tuhan, jadi jangan biarkan pergumulan kita menghalangi hubungan kita dengan Allah. Bilangan 23:23  sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Allah: 

Bangsa Israel itu “curse-proof” (anti-kutuk) padahal mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk, sering menyakiti Allah dan Nabi-nabi-Nya. Ini karena Allah setia dengan janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Selain itu, Allah menetapkan formasi perkemahan umat Israel hingga berbentuk salib; tanda salib inilah yang dilihat oleh Bileam dari atas bukit sehingga ia tak bisa mengutuk umat Israel. Bagaimanapun kita merasa tak layak di hadapan Allah karena naik turunnya kehidupan kita, tetapi kasih Allah tetap stabil dan tak berubah bagi kita. Tetaplah beriman!

Advertisements

Tuhan, Gembala Yang Baik (The Good Shepherd)

Mazmur 23:1-3  Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar (jalan yang sepantasnya, jalan yang memang seharusnya) oleh karena nama-Nya. 

Mazmur tersebut mencatat tempat yang terbaik bagi domba, tetapi di ayat selanjutnya tercatat tempat yang tidak menyenangkan.

Mazmur 23:4  Sekalipun (‘sekalipun untuk itu’ – original context) aku berjalan dalam lembah kekelaman (bayang-bayang maut – English Version), aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 

Ingat, Tuhan adalah Gembala yang baik, jadi tak mungkin Ia punya tujuan yang buruk untuk domba-domba-Nya. Lembah kekelaman memang sangat menakutkan tetapi mari kita ambil keputusan untuk tidak takut bahaya. Mengapa? Karena harta utama seorang gembala adalah domba-dombanya, berarti kitalah harta yang paling berharga bagi Tuhan jadi tak mungkin Tuhan menghendaki kehancuran kita, pasti Ia menjagai kita hingga kita mencapai air yang tenang. Sebagai domba, kita harus tetap percaya pada Tuhan bahwa kita akan tiba di air yang tenang setelah melalui lembah kekelaman, lembah tersebut hanya ‘jembatan’ yang entah berapa panjangnya harus kita lalui dengan bersabar.

2 Tawarikh 17:6a  Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN.

Mari kita meneladani Tuhan Yesus ketika melalui lembah kekelaman! Lukas 22:52-53  Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.” (BIS – Tetapi inilah saatnya kalian bertindak, saat kuasa kegelapan memegang peranan.)

Lukas 23:25b Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

Tuhan Yesus berbuat sebaik apapun, tetap ada saja orang-orang yang berprasangka buruk (jahat) terhadap-Nya; dan sikap Yesus hanya ‘menyerahkan Diri’ untuk diperlakukan semau-maunya karena bagaimanapun Yesus melawan, Ia tak bisa melawan. Inilah yang dimaksud ‘lembah kekelaman’ itu, dan semua domba harus mengalaminya (tetapi dalam konteks: ‘masalah terjadi bukan karena kesalahan kita’).

Mazmur 22:1  Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. 

Ayat tersebut merupakan ‘nubuatan’ bahwa Yesus akan mengalami lembah kekelaman. Lembah kekelaman tidak masalah untuk kita lalui asalkan Tuhan tetap beserta kita. Tetapi bagaimana jika terjadi seperti ayat di atas, yaitu ketika kita ‘sudah jatuh, tertimpa tangga’ (seperti ‘ditinggalkan’ Tuhan saat dalam masalah)?

Mazmur 22:18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. 

Pakaian termasuk kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan, papan). Dalam hal ini bahkan Yesus ‘direbut hak-Nya’ tetapi Yesus tetap sabar, berbanding terbalik dengan sikap manusia pada umumnya yang akan melawan/membalas jika disakiti (Matius 26:51-52  Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.)

Mazmur 22:6 Tetapi aku ini ulat (Bahasa Ibrani: ulat Tola – bukan ulat hama yang merusak tanaman melainkan diambil dari tempat-tempat liar dan dibudidayakan di dalam istana untuk dimanfaatkan sebagai sumber pewarna pakaian anggota kerajaan) dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. 

Yesus saja menganggap dirinya sebagai ‘ulat Tola’, maka kita sebagai domba-Nya pun harus mengikuti teladan-Nya, yaitu tetap mengeluarkan kebaikan seperti Kristus ketika kita ‘ditekan’.

Kejadian 50:20  Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya (mengubah arah, membelokkan) untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 

Mungkin sekarang kita sedang merasa berada di ‘titik kritis’ hidup kita tetapi tetaplah percaya bahwa Allah kita sanggup ‘membelokkan keadaan’, mari responi setiap kejadian sesuai maksud Allah bagi kita! Kita bukan satu-satunya orang yang menderita, semua domba-domba Allah mengalaminya: Yusuf, Daud bahkan Tuhan Yesus pun mengalaminya. Akan tiba saatnya kita berada di air yang tenang itu setelah melewati lembah kekelaman ini.

Belajar Dari Isakhar (Anak Ke-5 Yakub)

– Kejadian 49:14-15 >> Isakhar memiliki kekuatan tetapi tidak menindas orang lain dengan semena-mena melainkan merendahkan diri menjadi budak rodi. Kita pun mungkin memiliki kekuatan/kelebihan dibanding orang lain tetapi memilih untuk merendahkan diri dan menjadi pelayan Tuhan (melepaskan segala jabatan, kedudukan, dll).
– Kejadian 30:18 >> Nama Isakhar artinya “hidupku adalah upah dari Tuhan”. Kita bisa melayani Tuhan bukan karena kita pantas & layak, tetapi karena apa yang Yesus lakukan bagi kita, yaitu mempersembahkan Diri-Nya bagi Bapa sehingga menyenangkan hati Bapa dan Bapa memberi upah kepada Yesus. Mari kita melayani Tuhan karena menghargai apa yang Yesus telah lakukan bagi kita, bukan karena motivasi tertentu. Kita tidak perlu repot-repot mengharapkan upah dari manusia karena Yesus telah terlebih dulu memberi upah kepada kita yang lebih dari cukup bagi kita. Melayani berarti memberi, bukan diberi. Hendaklah kita menjadi lebih giat melayani karena mengasihi Tuhan bukan karena menginginkan “kehormatan” dari manusia (1 Korintus 15:10).
– Ulangan 33:18-19 >> Berkat yang diberikan Tuhan bagi Isakhar (orang yang tulus melayani tanpa pamrih), yaitu: sukacita, kuasa menjadi magnet yang mengundang bangsa-bangsa untuk naik ke level yang lebih tinggi, menerima “berkat-berkat khusus” yang tidak bisa diraih oleh orang-orang lain yang tidak memiliki karakter Kristus.

Setiap kita berpikir untuk berhenti melayani Tuhan, pikirkan kembali mengapa kita melayani Tuhan: karena Tuhan Yesus telah lakukan banyak hal bagi kita. Kita berhutang banyak pada-Nya jika berhenti melayani-Nya.

Faith Under Pressure

Shalom!
Tidak dapat dipungkiri bahwa keadaan dunia kini semakin tidak menentu dan tak sedikit anak-anak Tuhan yang mengalami tekanan hidup sedemikian rupa hingga tergoncang imannya. Yakobus 5:7-11 berkata “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur [musim goncangan] dan hujan musim semi [musim berkat]. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” Dari ayat tersebut, hal yang harus kita lakukan di tengah goncangan adalah bersabar dan bertekun hingga ‘musim goncangan’ itu selesai. Kata ‘sabar’ (patience) dalam Bahasa Mandarin terdiri dari dua kata, yaitu ‘ren’ (blade of the knife | sayatan pisau) dan ‘xin’ (heart | hati). Hal ini berarti memang sabar itu ‘menyayat hati’ tetapi tetap harus kita lakukan, mari kita belajar dari teladan kesabaran Ayub! Jika dibandingkan dengan Ayub yang mengalami pencobaan begitu berat dan tak memiliki Alkitab ataupun komunitas saudara seiman yang mampu menguatkannya di kala kesesakan, hidup kita masih lebih beruntung dibandingkan Ayub; karenanya marilah kita harus belajar bersabar seperti Ayub ketika mengalami tekanan demi tekanan bukan lari dari masalah. Jangan menyerah ketika musim gugur terjadi! Percayalah bahwa hujan musim gugur akan segera selesai dan hujan musim semi segera tiba dalam hidup kita.
HADAPI REALITA DENGAN IMAN
Ayub 13:15 berkata “Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.” [Even He slay me, yet will trust in Him – KJV] Ayub menghadapi realita kehidupan tidak dengan jiwanya, tetapi dengan imannya. Ayub tetap percaya kepada Tuhan, meskipun sepertinya tidak ada harapan lagi dalam hidupnya. Itulah yang membuat Ayub mampu bersabar: iman. Ini merupakan suatu tantangan bagi kita sebagai anak Tuhan yang kehidupannya masih lebih baik dibanding dengan kehidupan anak-anak Tuhan yang hidup di belahan bumi lain (mengalami penganiayaan, dll). Seharusnya kita lebih mampu menghadapi tekanan dibandingkan Ayub. Kita memiliki iman, bersabarlah. Jika kita mengandalkan jiwa kita, pasti kita tak akan mampu bertahan. Iman seperti WiFi yang tidak terlihat tetapi memiliki kekuatan untuk menghubungakan kita ke apa yang kita butuhkan. Iblis ingin memutuskan koneksi kita dengan Tuhan ketika situasi yang penuh tekanan datang. Iblis akan berhasil dalam tujuannya ketika kita mengandalkan jiwa kita dalam menghadapi tekanan. Perkenanan Tuhan terjadi ketika koneksi kita dengan Tuhan terhubung, disitulah kita akan menerima jawaban-jawaban doa kita. Sehebat apapun kita, tanpa koneksi dengan Tuhan…tentulah kita tak mampu melakukan apa-apa. Mujizat hanya terjadi di area di mana kita terhubung dengan Tuhan, karenanya jagalah koneksi kita dengan Tuhan.
PEWAHYUAN TENTANG “KARYA YESUS”
Ayub adalah kitab tertua dibanding semua kitab di Alkitab, berarti Ayub hidup sebelum Abraham. Namun, Ayub telah menerima pewahyuan tentang penebusan Kristus. “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.” (Ayub 19:25) Kata ‘penebus’ dalam bahasa Ibrani (tertulis: gaw-al) berarti seorang kerabat (keluarga inti) yang datang untuk membebaskan, membela, membeli, menyelamatkan, dan memenangkan perkara kita. Inilah yang terjadi, yaitu kita akan memiliki kepekaan rohani jika koneksi kita terhubung dengan surga. Hal ini menjadi kekuatan baru bagi Ayub sehingga ia mampu bersabar dalam menghadapi tekanan hidupnya. Ingatlah, bahwa kita memiliki Yesus sebagai ‘Saudara’ kita yang sulung yang telah menebus kita, tidak mungkin kita diciptakan hanya untuk dipermalukan oleh Penebus kita. Bersabarlah sebab Penebus kita akan muncul membela perkara kita. Musim gugur tersebut akan selesai sesuai waktu Tuhan, musim semi yang layak dinanti pun akan datang dalam kehidupan kita. Bersabarlah menantikannya! Jika Tuhan tak menyayangkan Anak-Nya yang sulung, mana mungkin hal-hal yang lain tak diberikan-Nya? Sekalipun Tuhan tidak menyatakan mujizat-Nya, kita tetap percaya kepada-Nya: inilah iman yang sejati.
PENEBUSAN MENDATANGKAN “BERKAT ABRAHAM”
Galatia 3:13a “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita,” Galatia 3:14a “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain” Jadi, penebusan Kristus mendatangkan berkat Abraham bagi kita meskipun kita bukan keturunan langsung Abraham; berkat-berkat tersebut adalah: pembenaran karena iman, kebesaran, kemahsyuran dan kelimpahan untuk menjadi berkat. Mari kita selalu memandang Yesus Sang Penebus kita di tengah kesesakan dan percayalah Ia pasti menolong!

Inside Out Living

Shalom!  Inside out living adalah sebuah prinsip kehidupan di mana kita harus sadari bahwa hidup kita ditentukan oleh apa yang ada dalam diri kita, bukan apa yang ada di luar diri kita. Jangan biarkan diri kita ditentukan oleh hal-hal yang terjadi di luar karena hal-hal tersebut selalu tidak menentu keadaannya. Jika kita ingin hidup dalam keadaan yang lebih baik, maka kita harus hidup ditentukan oleh prinsip hidup dalam hati kita karena hati adalah sumber kehidupan. Berhentilah mempersoalkan apa yang ada di luar, kita harus menjaga pikiran kita tetap seperti Kristus. Kita harus menjaga agar semua yang ada dalam diri kita tetap dalam keadaan baik. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23) Life is like a computer. Hal terpenting dari sebuah komputer adalah softwarenya. Begitu juga dengan hidup kita, yang membuat kita bernilai bukanlah harta, kekayaan ataupun penampilan semata, tetapi nilai-nilai pikiran dan perasaan kita yang menentukan nilai hidup kita. Efesus 4:23 berkata “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu” A life renewed from the inside (The Message Bible Version). Kita tidak boleh membiarkan perasaan-perasaan negatif menghinggapi kita karena itulah cara iblis mengacaukan hidup kita. Kita harus mengenal diri kita sendiri, sadarilah hal-hal yang salah dalam diri kita dan buanglah hal-hal buruk tersebut dengan menanamkan Firman Tuhan dalam diri kita. Biarlah Tuhan semakin besar di dalam kita, dan kita semakin kecil. Firman Tuhan adalah pedang Roh, karenanya kita harus mengusir segala intimidasi negatif dengan Firman Tuhan. Hendaklah kita menaruh pikiran dan perasaan Kristus dalam diri kita. Roma 12:2 berkata “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (renewing of your mind), sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik (good living), yang berkenan kepada Allah (pleased living) dan yang sempurna (perfect living).” Memperbaharui pikiran kita adalah kunci memiliki good living, pleased living dan perfect living. Terkadang hal yang paling membelenggu kita untuk menikmati kemerdekaan hidup dalam Kristus adalah permasalahan mental (pola pikir), bukanlah keadaan jasmani kita. Karenanya, marilah kita memerdekakan mental kita! Bagaimana cara kita memerdekakan mental kita? Tuhan Yesus adalah ‘software’ terbaik untuk diinstal dalam diri kita. 1 Korintus 1:30 berkata “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” Hadapi kehidupan kita dengan terus mengingat karya Kristus bagi kita sehingga kita tidak perlu takut menjalani hidup ini karena kita ingat bahwa Tuhan senantiasa mengasihi kita. Mengingat akan Yesus membuat kita damai sejahtera dan tahu siapa kita sebenarnya, yaitu kita adalah orang yang ditentukan untuk menjadi pemenang. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9) Inilah identitas kita sekarang, yaitu milik Allah. Kita harus berpegang teguh kepada kebenaran Firman Tuhan dibandingkan kenyataan hidup kita, agar kita tidak semakin larut dalam perasaan-perasaan yang negatif. Kejadian 3:11 berkata “Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”” Ayat tersebut menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah mengungkit-ungkit keburukan kita, melainkan Ia telah melayakkan kita bersekutu dengan-Nya oleh karena darah-Nya. Seringkali kita merasa tertuduh dan tidak berani mengharapkan hal-hal yang besar dari Allah. Perbaharuilah pikiran kita dengan Firman Tuhan, datanglah kepada-Nya dengan iman bahwa Ia mengasihi kita!

Making A Difference

Maleakhi 3:18

Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”

Shalom!

Iman yang hidup adalah iman yang memberikan perbedaan antara orang yang percaya Kristus dan orang yang tidak percaya Kristus. Kuasa salib Kristus begitu mengubah hidup kita dari seorang yang ‘mati’ menjadi ‘hidup’. Kata ‘kembali’ dalam ayat di atas merujuk kepada perbedaan nasib yang terlihat jelas antara orang fasik dan orang benar pada zaman dahulu. “Umat-Ku akan melihat lagi perbedaan antara nasib orang baik dan orang jahat, antara orang yang berbakti kepada-Ku dan yang tidak.” (Maleakhi 3:18 – BIS) Memang sekarang nasib antara orang baik dan orang jahat tampak sama bahkan seringkali kita melihat bahwa nasib orang jahat sepertinya jauh lebih baik dibandingkan nasib orang baik, namun percayalah akan janji Tuhan di ayat tersebut bahwa ‘perbedaan nasib’ tersebut akan Tuhan buat kembali. Jadi, tetaplah teguh dan setia beribadah kepada Tuhan karena segala jerih payah kita bagi-Nya akan diperhitungkan-Nya kembali.

Allah telah membedakan umat-Nya pada zaman dahulu, maka percayalah bahwa Ia adalah Allah yang sama yang tetap sanggup untuk membedakan kita dengan dunia melalui kelimpahan yang disediakan-Nya bagi kita ditengah kekurangan yang melanda dunia. Mujizat masih ada!

Yang pernah terjadi

Yang akan terjadi lagi

Tetapi pada hari itu Aku akan mengecualikan [membedakan] tanah Gosyen, di mana umat-Ku [orang-orang benar] tinggal, sehingga di sana tidak ada terdapat pikat [tulah], supaya engkau mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, ada di negeri ini.” (Keluaran 8:22) Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: “Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar [krisis ekonomi]. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu.” [tetapi jangan merusakkan pohon-pohon zaitun (Roma 11:24) dan kebun anggur (Yeremia 5:7) – BIS” (Wahyu 6:6)

*pohon zaitun & kebun anggur dalam ayat referensi tersebut secara profetik dimaksudkan sebagai orang yang telah bersatu dengan Kristus*

Tiga alasan mengapa bangsa Israel ada di Gosyen yang merupakan tempat mereka ‘diistimewakan’ oleh Tuhan meskipun ‘dikucilkan’ oleh Mesir, yaitu:

1)      Karena mereka lahir sebagai orang Ibrani. Kejadian 43:32 berkata Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir.” Gosyen bagi kita adalah sebagai tempat yang dikhususkan bagi kita setelah kelahiran baru kita sebagai umat pilihan Allah. Tanda bahwa kita telah lahir baru di dalam Kristus, yaitu ketika kita menjadi ‘berbeda’ dengan dunia karena kita memiliki sifat-sifat Ilahi yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4) If we are born of God’s seed and born as God’s people, then we must bear God’s image and have God’s features –ManHee Lee.

2)      Karena mereka adalah para gembala. Kejadian 46:34 berkata maka jawablah: Hamba-hambamu ini pemelihara ternak, sejak dari kecil sampai sekarang, baik kami maupun nenek moyang kami — dengan maksud supaya kamu boleh diam di tanah Gosyen.” — Sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir.” Gosyen akan tersedia bagi kita ketika kita memiliki hati gembala, yaitu hati yang memperhatikan domba-domba (kesejahteraan hidup orang lain). Dunia pasti akan merasa ‘asing’ dengan kita ketika kita lebih mementingkan kehidupan orang lain ditengah prinsip hidup dunia yang selalu mementingkan diri sendiri, namun itulah sumber perkenanan Tuhan bagi kita. Mengasihi sesame adalah tanda bahwa kita mengasihi Tuhan.

3)      Karena mereka beribadah kepada Jehova. Keluaran 8:26 berkata Tetapi Musa berkata: “Tidak mungkin kami berbuat demikian, sebab korban yang akan kami persembahkan kepada TUHAN, Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan korban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, tidakkah mereka akan melempari kami dengan batu?” Satu hal yang pasti yang membedakan kita dengan orang yang tidak percaya Kristus adalah ibadah kita. Ibadah bukan hanya sekedar di gereja tetapi ibadah berbicara tentang keintiman kita dengan Tuhan. Kejadian 26:25 berkata Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.” Ditengah situasi kekeringan yang menimpa negeri yang didiami Ishak, ia mengutamakan ibadah kepada Tuhan terlebih dahulu barulah kemudian ia mengurus segala urusan kehidupannya. Marilah kita selalu mengutamakan Tuhan dalam hidup kita! Meskipun kita seperti ‘dikucilkan’ oleh dunia karena kita beribada kepada Tuhan Yesus Kristus, namun percayalah bahwa Tuhan telah menyediakan segala berkat terbaik bagi kita ketika kita tetap setia beribadah kepada-Nya.

“FOREVER YOUNG”

Dari pada menanyakan berapa umur seseorang lebih baik kita menanyakan apa yang telah ia raih selama hidupnya karena hal tersebut lebih menyemangati seseorang. Begitu juga dengan ‘forever young’, tema ini lebih mengarah kepada semangat hidup seperti semangat anak muda yang penuh cita-cita, memiliki semangat belajar dan pembaharuan.

Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” (Mazmur 103:5 –TB) Tuhan ingin kita menjadi ‘forever young’. Kata ‘menjadi baru’ dalam ayat tersebut berarti Tuhan menghendaki agar masa muda kita tidak hilang.

“Dia yang memuaskan hidupmu dengan yang baik, sehingga engkau awet muda seperti burung rajawali.” (Mazmur 103:5 –BIS)

“He wraps you in goodness—beauty eternal. He renews your youth—you’re always young in his presence.” (Psalms 103:5 –MSG) Hadirat Tuhan akan membuat hati dan spirit kita tetap awet muda.

Kendalikanlah perasaan kita! Janganlah merasa tua! Let your age go old, but not your heart.

 “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11)

We don’t stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing. Usia seharusnya bukanlah sesuatu yang menjadi penghalang untuk kita tetap berkarya, bergaya dan Berjaya. Semakin tua bukan berarti semakin tidak berkualitas dan tergeser, tetapi hendaklah kita semakin berkualitas dan menjadi lebih dari pemenang! Orang yang kesukaannya berada di hadirat Tuhan tidak pernah merasa dirinya tidak berguna lagi karena hadirat Tuhan akan selalu memperbaharui spiritnya. Selain itu, hadirat Tuhan membawa ketenangan sehingga kita selalu awet muda.

Menurut Gerontologia, ada 3 macam umur manusia, yaitu:

  1. Umur kronologis: umur yang dihitung dari jumlah tahun yang telah dilewati seseorang secara alamiah (tidak bisa diubah).
  2. Umur biologis: umur yang ditentukan oleh kondisi tubuh dan kualitas kesehatan seseorang (keadaan organ tubuh bagian dalam bisa direkayasa).
  3. Umur psikologis: umur yang ditentukan dari cara berpikir dan life style seseorang (mempengaruhi keadaan orang tubuh bagian luar terutama wajah & bisa direkayasa).

Umur kronologis tidak dapat diubah tetapi umur biologis dan umur psikologis, itulah yang dapat ‘direkayasa’ dan membuat kita menjadi ‘forever young’ dengan menjaga kesehatan, pola hidup yang teratur dan mengelola stress dengan baik. Orang sehat berpeluang lebih besar untuk hidup berkualitas dan menjadi ‘forever young’.

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. [syarat menjadi ‘forever young’] Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar [ -MSG]” (Mazmur 92:13-15)

Hendaklah pertambahan usia dilihat sebagai pertambahan berkat, bukannya sebagai penurunan kualitas diri. Pilihlah untuk tetap mengatakan hal yang positif pada diri kita sendiri meskipun kenyataannya tubuh jasmani kita tidak mendukung untuk ‘forever young’.

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” (2 Korintus 4:16)

Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. (Ulangan 34:7)

Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.” (Kejadian 24:1)

Usia tidak menghalangi berkat Tuhan kecuali kita sendiri yang membatasinya. Seharusnya, semakin tua semakin diberkati! Jadi, berapapun usia kita dan bagaimanapun kendalanya, jika kita bangkit dan tetap semangat…pasti bisa! Jangan pernah berkata ‘tidak bisa’ karena kesempatan selalu sama bagi setiap orang selama hidupnya. Tetaplah semangat meraih mimpi dan harapkan yang besar!

When God???

“Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!” (Mazmur 31:15-16)

Tuhan punya rencana, Ia juga punya waktu untuk merealisasikan rencana tersebut dalam hidup kita. Renungkanlah…

  • Allah tidak pernah terlambat menggenapi janji-Nya
  • Allah tidak pernah terlalu dini juga menggenapi janji-Nya
  • Iman menuntut penyerahan diri bukan pemaksaan kehendak pribadi kepada Allah
  • Iman dan ketekunan/kesabaran ibarat ‘saudara kembar’

Keadaan dunia di akhir zaman sudah membentuk sebuah ‘generasi instan’ yang sangat sulit untuk bersabar, padahal iman dan kesabaran adalah hal yang menopang janji/visi Tuhan yang dahsyat digenapi dalam hidup kita. Iman yang hebat terbukti saat kita masih mengasihi dan menyenangkan Tuhan meski janji-Nya tak kunjung digenapi.

Galatia 6:9 berkata “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Patience is not the ability to wait but the ability to keep a good attitude while waiting.

Kesabaran perlu kapasitas hati yang besar. “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Habakuk 2:3)

Manusia luar biasa adalah manusia biasa dengan ketekunan yang luar biasa –Robert Schuller.

Never think that God’s delays are God’s denials. Hold on! Hold fast! Hold out! Patience is genius.

The Man Of Destiny

Kenajisannya melekat pada ujung kainnya; ia tak berpikir akan akhirnya, [she didn’t consider her destiny] sangatlah dalam ia jatuh, tiada orang yang menghiburnya. “Ya, TUHAN, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!” (Ratapan 1:9)

Kita harus punya tujuan akhir kehidupan yang jelas agar kita tidak salah melangkah dalam menjalani kehidupan yang Tuhan percayakan. Jika kita tidak memiliki tujuan hidup yang jelas sejak muda, pasti kita akan rentan dengan segala gangguan sepele yang membuat kita tidak fokus dalam memilih yang benar dan menentukan prioritas kehidupan. Sebagai anak Allah, destiny kita adalah menjadi seorang mempelai Kristus yang kudus. Maka kita tidak boleh lagi berprinsip hidup ‘mengalir saja’ ataupun menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang belaka tanpa memikirkan akibatnya bagi kehidupan kita maupun orang lain.

God’s way will bring you to your life destiny, while your way will bring you to your life destruction. Tidak ada yang lebih baik daripada rancangan Tuhan yang telah disediakan bagi kita, karenanya kita harus menyatukan visi kita dengan visi-Nya. Filipi 3:13b-14 berkata “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, [I’ve got my eye on the goal] dan berlari-lari kepada tujuan [destiny] untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Your focus determines your reality –George Lucas. Fokuslah kepada Tuhan, bukan kepada dunia. Maka hidup kita pun akan berakhir di tangan Tuhan, bukan di tangan dunia. Hendaklah kita hidup bijak dengan tidak lagi bermain-main melakukan hal-hal yang tidak mendekatkan kita kepada destiny Ilahi. Kita harus perjuangkan destiny tersebut bagaimanapun keadaannya!

Jika kita belajar dari kehidupan Raja Salomo, the point is not how you begin your life but it’s about how you end your life (1 Raja-Raja 11:4,6). Kita harus menyegarkan diri kita kembali di hadirat Allah ketika kita sudah mulai tidak fokus kepada destiny Ilahi karena Allah akan menyadarkan kita bahwa identitas kita adalah anak-Nya yang harus mencapai destiny Ilahi di bumi sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh keduniawian semata.

Lukas 20:24-25 berkata ““Tunjukkanlah kepada-Ku suatu dinar; gambar dan tulisan siapakah ada padanya?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”” Kita diciptakan serupa gambar Allah sehingga diri kita memiliki ‘cap gambar Allah’, maka kita pun harus mengembalikan diri kita kepada Allah. Hindari kehancuran hidup kita dengan menjadi the man of God, not the man of world.

Stronger In Struggles (Menjadi Lebih Baik Dalam Setiap Pergumulan)

Shalom!

Tuhan mengizinkan masalah hadir dalam kehidupan kita agar kita bisa menuai sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan meskipun secara manusiawi kita membenci masalah. Masalah seharusnya membuat kita bertindak lebih waspada, selalu berjaga-jaga dan mengeluarkan pemikiran kreatif untuk mengatasinya bukannya malah menjadi semakin terpuruk, tidak berdaya, lemah dan mandek. Life is beautiful struggle, jadi ketika kita membenci masalah sebenarnya kita sedang membenci kehidupan dan menentang Tuhan yang menghendaki kita hidup.

Kejadian 49:19 berkata “Gad, ia akan diserang oleh gerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka.” Gad (anak ke-7 Yakub) memiliki alasan untuk kecewa karena doa berkat yang diucapkan ayahnya tersebut berupa peperangan. Di akhir zaman, kita pun banyak mendapat nubuatan yang tidak menyenangkan namun jika kita meresponinya dengan benar justru kita akan mengalami kemenangan dalam setiap peperangan tersebut yaitu dengan tidak kecewa terhadap keadaan tetapi memilih untuk menjadi seseorang yang lebih baik dalam setiap masalah dan menghadapinya bersama Tuhan. Keputusan kita menentukan apakah kita akan semakin terpuruk atau mengalami terobosan setelah mengalami pergumulan. Hal yang terpenting bukanlah berapa besar permasalahannya tetapi sebenar apakah respon kita dalam menghadapi permasalahan tersebut. Let your battle makes you better, not bitter.

Suku Gad adalah suku yang diizinkan Tuhan menjadi suku yang paling sering menghadapi peperangan dalam kehidupannya tetapi suku Gad bukannya menjadi lebih buruk keadaannya malah menjadi semakin kuat dan memiliki banyak prajurit yang hebat. Hasil dari sebuah respon yang benar ketika suku Gad memilih untuk menjadi lebih baik dalam pergumulan mereka yaitu:

ü  Tetapi mereka akan menjadi hamba-hambanya, supaya mereka tahu membedakan antara mengabdi kepada-Ku dan mengabdi kepada kerajaan-kerajaan duniawi. (1 Tawarikh 12:8)

ü  Adapun bani Ruben dan bani Gad ternaknya banyak, bahkan sangat banyak sekali. (Bilangan 32:1a)

ü  Tentang Gad ia berkata: “Terpujilah Dia yang memberi kelapangan kepada Gad. Seperti singa betina ia diam dan menerkam lengan, bahkan batu kepala. (Ulangan 33:20)

Jangan takut dengan pergumulan-pergumulan kehidupan, tetapi anggaplah itu sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh. Percayalah, kita sudah ditentukan Tuhan sebagai orang yang diberkati karenanya masalah tidak akan mencuri berkat Tuhan yang sudah ditentukan bagi kita malah kita akan semakin diberkati karenanya. Tangani setiap masalah kita dengan semakin mengandalkan Tuhan hingga tiba saatnya Tuhan akan mengangkat kita dari masalah tersebut.

Kejadian 30:11 berkata “Berkatalah Lea: “Mujur telah datang.” Maka ia menamai anak itu Gad.” Arti nama Gad adalah kemujuran, beruntung, fortunate namun kenyataannya ia mengalami banyak peperangan dalam hidupnya. Melalui kehidupan Gad, Tuhan menghendaki agar kita memiliki paradigma baru yaitu masalah adalah suatu keberuntungan bukan kesialan. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yakobus 1:2)

Jalan kehidupan seperti roller coaster (naik-turun) tetapi akhir kehidupan setiap orang percaya pasti berada pada posisi diatas karena baik ada masalah ataupun tidak, kita tetaplah orang yang diberkati Tuhan. Hal yang bisa kita lakukan adalah menikmati naik turunnya kehidupan yaitu dengan bersyukur ketika berada ‘dibawah’ dan tetap waspada ketika berada ‘diatas’ agar kita tidak lengah dengan kelimpahan berkat Tuhan.

Suku Gad tetap pegang panji kebenaran Tuhan di medan perang meskipun menyakitkan. “Ia memilih bagian yang terutama, sebab di sanalah tersimpan bagian panglima; ia datang kepada para kepala bangsa itu; dilakukannya kebenaran TUHAN serta penghukuman-penghukuman-Nya bersama-sama dengan orang Israel.” (Ulangan 33:21)