Saul VS Daud

Kisah Para Rasul 13:22, 36 Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.

Mengapa Saul harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum Daud diangkat menjadi raja?

1 Samuel 13:19-22 Seorang tukang besi tidak terdapat di seluruh negeri Israel, sebab orang Filistin berkata: “Jangan-jangan orang Ibrani membuat pedang atau tombak.” Jadi semua orang Israel harus pergi kepada orang Filistin untuk mengasah mata bajaknya, beliungnya, kapaknya atau aritnya masing-masing — adapun bayarannya ialah dua pertiga syikal untuk mata bajak dan beliung, dan sepertiga syikal untuk mengasah kapak dan untuk memasang kusa — sehingga pada hari pertempuran itu sebilah pedang atau lembing pun tidak terdapat pada seluruh rakyat yang ada bersama Saul dan Yonatan. Tetapi Saul dan Yonatan, anaknya itu, masih mempunyainya.

Perkakas dari besi memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan orang Israel, seperti bertani, berperang, dll. Namun semua itu harus dapat diperoleh di tanah orang Filistin. Ini menggambarkan orang-orang Kristen yang sebagian besar menggunakan cara-cara dunia untuk bertahan hidup. Ketika tak ada satu pun senjata pada rakyat tetapi Saul dan Yonatan memegang senjata menandakan bahwa Saul adalah raja yang hanya mementingkan keselamatan keluarganya sendiri, tanpa mempedulikan keselamatan rakyat.

Dari cara kerja, cara mencari makan, dan cara menghasilkan uang, serta profesi yang digeluti seseorang, tercermin apakah orang tsb hidup berkenan kepada Tuhan atau tidak. Kekristenan bukan soal lambang salib yang nampak kepada orang banyak, melainkan tentang bagaimana orang lain dapat melihat bukti ketaatan kita kepada Tuhan melalui perbuatan kita sehari-hari.

1 Tawarikh 8:33 Ner memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul; Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal.

Saul memberi nama 3 anak pertamanya dengan sebuah makna yang menandakan rasa syukurnya kepada Tuhan, tetapi anak ke-4 nya ia beri nama “Esybaal” (esy = manusia, baal = dewa sembahan orang Filistin). Ini menandakan bahwa Saul “menghilangkan” identitasnya sebagai anak Tuhan demi mempertahankan jabatannya (memilih untuk serupa dengan orang Filistin).

Di sisi lain, Daud pun bukan seorang yang sempurna tetapi selalu ada keinginan dalam hatinya untuk hidup seturut kehendak Tuhan (dan diusahakan). Karena itu, Tuhan lebih berkenan kepada Daud dibanding Saul.

Advertisements

Mengelola Keuangan Keluarga

ISHAK DI NEGERI ORANG FILISTIN (KEJADIAN 26:1-33)

Kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dengan mengerti step by step yang Ishak lalui ketika krisis keuangan terjadi, yaitu:

Step 1 – Ada krisis ekonomi dunia setelah pernikahan. Kejadian 26:1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. —Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Masalah keuangan bukanlah masalah zaman now, melainkan terjadi dari zaman dahulu. Selama melajang masalah keuangan tidak terlalu menjadi beban, tetapi setelah menikah masalah keuangan menjadi hal yang sangat vital. Mengapa? Karena ketika melajang semua dapat diputuskan sendiri, tetapi ketika menikah tidak mudah menyamakan dua pikiran yang berbeda dalam mengelola keuangan.

Step 2 – Sepakat untuk “banting stir” atas perintah Tuhan. Kejadian 26:2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Jangan pergi ke Mesir artinya jangan mengandalkan cara manusia ketika krisis menimpa. Ishak pergi kepada Abimelekh, hal ini serupa dengan yang dilakukan Abraham ketika terjadi krisis di masa lalu. Hal yang harus kita perhatikan adalah pentingnya sejarah krisis hidup orang tua (bukan hanya sejarah keberhasilan) diceritakan kepada anak agar suatu saat ketika anak mengalami hal serupa pun akan meneladani apa yang pernah dilakukan orang tuanya untuk kembali ‘menyelamatkan hidup’. Jika teladan di kala krisis tidak diceritakan, anak hanya tahu bagaimana menikmati hidup dalam kekayaan tapi tidak tahu bagaimana membangun hidup dalam kemiskinan. Prinsip keuangan dimulai dari didikan keluarga.

Step 3 – Berkemah bukan menetap (konsep persiapan). Kejadian 26:3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Tinggal sebagai orang asing berarti menjadi seorang perantau di negeri orang. Prinsip orang perantau yang tidak dimiliki oleh orang menetap, yaitu prinsip persiapan sesuatu untuk masa depan. Abraham, Ishak, dan Yakub adalah perantau; dan terbukti bahwa orang-orang perantau sebagian besar lebih sukses dibandingkan orang-orang yang menetap. Miliki mindset “berkemah” karena kita tidak selamanya menetap di bumi. Tanpa persiapan untuk keluar dari “zona nyaman”, tak akan ada kemajuan (malah kehancuran). Hidup harus ada persiapan, jangan ber-mindset “gimana nanti lah” tapi harus ber-mindset “nanti gimana?”.

Step 4 – Menjaga hubungan keluarga. Kejadian 26:8 Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, isterinya. Dari hal ini terbukti bahwa dalam keadaan krisis sekalipun, hubungan Ishak dan isterinya tetap harmonis. Uang gampang bocor jika keluarga tidak harmonis.

Step 5 – Mulai menabur untuk usaha. Kejadian 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Tidak ada seseorang yang menanam buah kemudian memanennya di tahun yang sama. Ini artinya Ishak menerima unusual miracle. Jika Alkitab mencatat bahwa unusual miracle pernah terjadi, pasti kita pun bisa mengalaminya. Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (=berkat itu tidak sama sepanjang waktu melainkan ‘bermusim’), dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Step 6 – Mencari sumur di padang pasir. Kejadian 26:19-22 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: “Air ini kepunyaan kami.” Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.” Esek artinya perdebatan, Sitna artinya perselisihan; Rehobot artinya tempat yang luas. Hal ini menandakan bahwa memperluas suatu usaha bukanlah hal yang mudah, selalu penuh perjuangan dan persaingan.

Step 7 – Sumur Abraham, yaitu Bersyeba. Kejadian 26:23,26-33 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka: “Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?” Jawab mereka: “Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN.” Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: “Kami telah mendapat air.” Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang. Ada saja orang yang iri ketika Tuhan telah memberkati kita berlimpah-limpah, kita harus berdamai dengan mereka.

JANJI TUHAN YESUS

  1. Matius 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang (suami istri) dari padamu di dunia ini sepakat (dengan yakin, juga harus sama-sama tahu dan mau) meminta (bersifat rahasia) apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
  2. Matius 19:5-6 Dan firman-Nya: Sebab itu lakilaki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (jika suami istri telah sepakat maka tak ada satupun kuasa manusia yang dapat membatalkannya)

SEPAKAT

Suami istri harus sepakat secara roh, jiwa dan tubuh. Jika tidak demikian, tentu berpengaruh terhadap 4 hal vital kehidupan manusia, yaitu: KEUANGAN, KESEHATAN, HUBUNGAN, DAN EMOSI. Keempat hal tersebut harus seimbang komposisinya, sebab akan menjadi penentu maju atau tidaknya kehidupan kita.

Contoh: ketika masalah KEUANGAN terjadi, jika tidak menjaga hati tentu suami istri akan mudah EMOSI sehingga HUBUNGAN menjadi renggang dan berdampak pada menurunnya kualitas KESEHATAN.

Jika salah satu dari keempat hal vital tersebut hancur, maka 3 hal lainnya pun turut hancur. Jadi, jika ada 1 hal diantaranya sedang bermasalah, pertama-tama kita harus mendoakan 3 hal lain yang sedang tidak bermasalah, terakhir kita doakan 1 hal yang sedang bermasalah. Jika dari awal kita hanya fokus mendoakan 1 hal yang sedang bermasalah tersebut tanpa memperhatikan 3 hal lainnya, tentu setelah 1 hal yang bermasalah tersebut membaik sebenarnya 3 hal lain yang tidak ‘terperhatikan’ sudah diserang selama masa pemulihan 1 hal yang bermasalah tadi. Tentu kita tidak menginginkan “1 sembuh, 3 kambuh”.

KONSEP TURUNAN

  1. Milik bersama – WE concept (bukan ME concept), artinya semua barang milik masing-masing bebas pakai tanpa perlu izin tertulis. Suami istri adalah satu tubuh, jadi mindset-nya: jika saya salah maka pasangan saya jadi korban, jika pasangan saya salah maka saya jadi korban. Dengan demikian, suami istri akan saling menjaga barang-barang milik pasangannya. Jangan saling menyalahkan!
  2. Keterbukaan informasi dan akses keuangan (saling tahu income masing-masing). Lukas 12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Pernikahan bukanlah dua pribadi yang hidup sendiri-sendiri tapi tinggal bersama, dalam pernikahan segala sesuatunya harus sepengetahuan bersama.
  3. Tidak ada gaji menggaji antara suami istri. Total gaji adalah uang bersama, harus bisa saling mengambil uang. Yang menjadi pengatur keuangan adalah yang paling bisa mengelola uang (tidak mesti harus selalu istri). Suami istri tidak bisa menyatu dalam hal-hal lain jika tidak bisa bersatu dalam hal keuangan. Nasihat orang tua yang berkata, “Perempuan itu harus bisa cari uang sendiri, nanti kalau suami macem-macem tinggal tendang, ga rugi!” itu salah besar, sebab menanamkan prinsip pemisahan keuangan antara suami dan istri. Puji Tuhan jika suami istri sama-sama menghasilkan nafkah, tapi tidak boleh ada pemisahan keuangan.
  4. Tidak ada saling pinjam bahkan hutang. Tidak ada istilah hutang kepada diri sendiri. Jika suami istri adalah satu, tentu tidak bisa saling berhutang.
  5. Pembagian tugas dan beban. Suami istri harus saling berbagi pemahaman agar sama-sama mengerti dalam mengerjakan suatu hal bisa saling back-up. Jangan sampai saling tidak mau tahu tentang pekerjaan masing-masing, justru suami istri harus saling mendukung (meskipun bukan ahli di bidang yang digeluti oleh pasangan). Menjadikan orang lain sebagai ‘tangan kanan’ kita lebih dari pada pasangan kita (dalam hal kepercayaan, pemahaman, penolong dalam pekerjaan) sangat tidak dianjurkan karena bisa merenggangkan hubungan suami istri bahkan menimbulkan perselingkuhan.

Masalah keuangan muncul akibat komunikasi yang tidak baik antara suami dan istri. Komunikasi yang baik lahir dari suami istri yang sepakat dan bersatu.

POLA KEUANGAN

Pola keuangan adalah masalah input & output. Input (pemasukan) harus lebih banyak dibandingkan output (pengeluaran). Jangan besar pasak dari pada tiang!
INPUT

  1. MENGGALI SUMUR. Ini tahap ketika Ishak menggali Esek & Sitna hingga memperoleh Rehobot, kita harus memiliki:
    • Calling (panggilan), diperoleh dari Tuhan maka harus banyak berkomunikasi dengan Tuhan. Jangan “buka sumur” tanpa panggilan Tuhan!
    • Competency (kompetensi/talenta), diperoleh dari kelas-kelas pengembangan diri baik formal maupun informal. Semakin kita mengenal talenta kita maka semakin kita mengerti panggilan kita karena talenta akan mengisi panggilan kita.
    • Courage (keberanian), diperoleh dari pengalaman demi pengalaman akhirnya kita berani mengambil suatu keputusan untuk melangkah lebih maju dalam karir kita (ada instinct).
    • Coaching (mentoring), diperoleh dari komunitas yang saling membangun dalam karir. Jaga jarak terhadap orang-orang yang ‘tidak bermanfaat’ dalam mengembangkan karir kita, contoh: teman-teman yang selalu ajak ngerumpi dan nongkrong tanpa memikirkan masa depan.
  2. MENJAGA SUMUR, di tahap ini kita harus memiliki:
    • Kegigihan/ketangguhan (persistensi)
    • Keyakinan (jangan ada keraguan dalam melangkah)
    • Standar kualitas (kita harus kreatif dalam berkarir tapi tidak melenceng dari standar yang telah baku)
  3. MENGEMBANGKAN SUMUR. Kesuksesan dalam kekristenan itu bertahap didaki seperti tangga, bukan cepat naik turun seperti roda. Hanya perkenanan Tuhan-lah yang membawa kita bisa sampai ke tahap ini, sehingga kita memiliki:
    • Karakter
    • Koneksi
    • Komunikasi
    • Keteraturan (manajemen doa)
    • Kreativitas
  4. MEMBANGUN NILAI. Ini tahap ketika Ishak tiba di Bersyeba, kita harus membangun:
    • Komunitas sosial (selain komunitas bisnis)
    • Nilai keluarga dan pribadi (sesuai panggilan yang Tuhan taruhkan di hati kita, contoh: membiayai anak-anak putus sekolah, mengunjungi panti jompo, dll)

OUTPUT (utamakan poin 1,2 dibandingkan poin 3,4,5)

  1. Belanja rohani, seperti: persepuluhan, menabur bagi pembangunan rumah gereja, mengikuti kelas pemahaman Alkitab, membeli CD lagu rohani, dll.
  2. Tabungan & investasi. Tabungan sifatnya menahan uang agar tidak terpakai tapi nilai uang tidak berkembang (bahkan cenderung berkurang jika terpotong biaya administrasi bank ataupun tergerus inflasi), sedangkan investasi sifatnya mengembangkan uang di instrumen-instrumen yang dapat menambah nilai uang kita sehingga tidak tergerus inflasi (contoh: membeli tanah, saham, membeli alat musik akustik – yang mana semakin lama harga barang-barang tersebut akan semakin naik, bukan turun). Hindari membeli barang-barang yang nilai jualnya semakin lama semakin turun. Paling tidak 10% dari pendapatan kita selalu disisihkan untuk keperluan masa depan. Don’t put you eggs in one basket!
  3. Belanja gaya hidup, seperti membeli mobil dan handphone (jangan melampaui investasi).
  4. Belanja rutin, seperti beras, shampoo, listrik, dll.
  5. Belanja investasi tak berwujud, seperti: memasukkan anak ke les menggambar (belum tentu anak akan sukses di bidang menggambar), memasukkan anak ke sekolah tari (belum tentu anak akan bekerja sebagai penari). Maka kita harus menyesuaikan kelas-kelas kursus dengan talenta yang dimiliki agar tidak sia-sia (anak pun tidak terpaksa mengikutinya).

PERTANYAAN AWAL USAHA

Sebelum memulai sebuah usaha, kita harus tanyakan kepada diri sendiri:

  1. Produknya barang atau jasa, atau keduanya? Harus disesuaikan dengan talenta.
  2. Siapa pembelinya? Harus ada komunitas yang berpotensi menjadi konsumen.
  3. Siapa pengendalinya? Ini berhubungan dengan manajerial dan pemilihan lini produk. Contoh: dari sebuah usaha bakmi ayam, ada banyak bagian yang bekerja sama, yaitu produsen mie, produsen mangkuk, petani sayuran sawi, pemasok ayam, dll. Fokus kita mau “pegang” bagian yang mana? Mulailah dari hal-hal kecil.
  4. Ketersediaan waktu? Kita akan terjun langsung ke lapangan (usaha utama) atau hanya sebagai ‘pendukung’ (usaha sampingan)?
  5. Pioneer atau pengikut? Perlu originalitas jika hendak menyandang gelar pioneer, dan perlu kreativitas atau modifikasi jika kita menjadi pengikut.

FOKUS KEGIATAN USAHA

Bisnis kita ditopang oleh 4 hal berikut, yaitu:

  • MAN (sumber daya manusia), harus ada orang yang bertalenta.
  • MONEY (uang), harus ada manajemen agar semua teratur.
  • MACHINE (mesin penggerak), harus ada karakter yang kuat untuk menopang kesuksesan kita.
  • METHOD (metode), harus ada jejaring. Apakah kita akan terus terjun di lapangan ketika usaha semakin berkembang sedangkan tenaga kita semakin merosot akibat faktor usia? Apakah cara menjual kita akan selalu face to face sedangkan zaman berubah dengan cepat dan semua dituntut untuk online? Kita harus memikirkan bagaimana mewariskan skill pada orang yang bisa dipercaya dan memperbaharui strategi penjualan kita agar bisnis tidak bangkrut.

“Pernikahan merupakan panggilan mulia dari Tuhan. Karena itu, seharusnya hidup kita semakin naik setelah menikah, bukan semakin turun.”

Financial Outlook

Firman sanggup menjadikan yang tidak ada menjadi ada, berarti firman juga sanggup menjadikan yang ada menjadi tidak ada.

Background yang bagus (usia peradaban, sumber daya alam, ras, cara berbisnis) tidak menjamin bahwa suatu negara akan bernasib bagus (menjadi negara kaya) di masa depan. Contoh: Mesir memiliki peradaban tertua di dunia namun Eropa memiliki negara-negara yang lebih kaya dibandingkan Mesir, Belgia adalah penghasil cokelat paling enak sedunia tetapi negara pengekspor cokelat terbesar bukanlah Belgia, Amerika memiliki lebih banyak orang-orang cerdas dibandingkan Afrika, tetapi pernah dipimpin oleh Obama yang berasal dari Kenya. Jadi, suatu negara kaya atau miskin ditentukan oleh sikap dan perilaku (attitude) warga negaranya (bukan backgroundnya).

Hal yang menentukan sikap dan perilaku kita adalah:

  1. Edukasi, yaitu kondisi di mana kita selalu bertemu dengan orang-orang yang memberikan berita ter-update yang bermanfaat bagi hidup kita.
  2. Kultur (budaya), yaitu gaya hidup keluarga yang berulang-ulang membentuk mindset kita.

Pola tindakan negara-negara maju:

  1. Etika
  2. Integritas (bisa dipercaya)
  3. Tanggung jawab
  4. Respek pada hukum dan regulasi
  5. Mencintai pekerjaan
  6. Dorongan untuk menabung dan investasi
  7. Keinginan untuk menjadi produktif
  8. Ketepatan waktu

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan negara-negara maju tsb sesuai dengan prinsip Alkitab. Maka jangan melawan firman Tuhan jika kita ingin sukses! Kemiskinan bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena kurang sikap bijak.

Markus 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (kasih kita kepada Tuhan harus secara penuh diwujudkan dengan 4 hal tsb, tidak boleh kurang)

Kita perlu uang untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Bagaimana cara mendapatkan uang? Dari:

1) Talenta. Amsal 18:16 Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar. Talenta itu kudus dan tidak bisa diubah; perlu waktu untuk menemukan talenta yang tersembunyi.

2) Karakter. Amsal 18:9 Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak. Amsal 22:7 Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi. Karakter dapat dibentuk sesuai kebenaran, tetapi harus ada tekad untuk itu.

3) Urapan. Amsal 10:22 Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Urapan adalah inisiatif Tuhan yang harus kita responi. Jika urapan Allah ada dalam kita, maka sejatinya kita menyatu dengan Allah. Maka tidaklah benar jika berkat malah menjauhkan kita dari Allah.

Tahun ini Tuhan curahkan urapan kreatif di tengah kesesakan seperti yang diterima oleh Yakub, Yusuf dan Daniel yang mana melepaskan kita dari krisis, jebakan, penolakan, tekanan waktu dan tipu kecerdikan manusia.

Semua sektor kehidupan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi, karena mereka berprinsip: berinvestasi pada teknologi/pengetahuan (bukan diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif semata). Contoh: uang tabungan digunakan untuk membeli buku, bukan mobil mewah yang nilai investasinya semakin menurun.

Hakim-hakim 7:5-7 Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum.” Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

Ayat di atas mengingatkan kita tentang pengendalian diri dalam sebuah situasi berkat (air diperoleh dengan cuma-cuma, tanpa suatu usaha). Tahun 2018 adalah tahun terbaik untuk memulai hal-hal yang baru, tahun penuh anugerah besar (=perekonomian Indonesia membaik) sebelum penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir terjadi. Cara kita menikmati berkat Tuhan menentukan apakah kelak Tuhan akan mengikutsertakan kita atau tidak dalam rencana-Nya. Tuhan mengasihi semua orang tapi untuk sebuah maksud tertentu, Tuhan memilih seseorang (tidak semua orang).

Hari Akhir

Yoel 2:28, 30 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia (=pada orang percaya Tuhan, juga pada orang yang belum percaya Tuhan agar mereka bisa bertobat), maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Aku akan mengadakan mujizat-mujizat (=mofet) di langit dan di bumi: darah (=aniaya) dan api (=kerusuhan) dan gumpalan-gumpalan asap (=perang).

Kata mujizat tertulis dalam 2 makna, yaitu:

1) seymayon: mengarah ke mujizat kesembuhan, kelepasan, dsb

2) mofet: mengarah ke pertanda fisik di alam untuk memberitahukan kedatangan Tuhan

Firman Tuhan sangat sah, jadi tidak boleh diragukan/diuji. Tetapi penglihatan/mimpi/nubuatan harus diuji apakah sesuai dengan firman Tuhan atau tidak.

Seorang anak kecil menggambar pedang ksatria “yang baru”/pedang lain selain pedang Roh yang sudah ada (atas tuntunan Tuhan), arti profetiknya: Ini pedang emas. Lukas 22:38 Kata mereka: “Tuhan, ini dua pedang.” Jawab-Nya: “Sudah cukup.” Menjelang akhir zaman, kita harus memiliki 2 pedang.

Penjelasan pedang lebih detail:

– Pedangnya putih terang dengan pegangan dari emas

– Bilah pedang berupa petir yang dapat langsung membunuh musuh (jadi jangan gunakan pedang Roh/firman Tuhan untuk ‘membunuh’ sesama)

– Bilah petir tsb tidak boleh terkena wajah kita karena bisa fatal, artinya tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan (kita ini faceless & nameless)

– Pembawa pedang adalah malaikat tentara putih terang, bertubuh sangat tinggi besar dengan wajah sangat marah pada musuh (pakaiannya tertulis 4 pola pengajaran pertanda gereja sehat: keselamatan, berkat kesembuhan Ilahi, Roh Kudus, second coming). Malaikat tsb menolong kita berperang (menggunakan pedang), sedangkan Tuhan melihat dari atas dan memberikan kita “skor kemenangan” (hanya yang menang yang akan masuk surga).

Tuhan berbicara kepada anak tsb:

– Jika kita hidup benar, kita diberi otoritas atas bangsa-bangsa

– Hanya prajurit yang gaya hidupnya doa pujian dan penyembahan yang akan diberi pedang oleh Tuhan, bukan diberi pedang dahulu baru menjadi prajurit

– Mereka yang tidak mendapat pedang akan kalah dan meninggal karena serangan musuh

– Mereka yang menerima pedang akan menang, juga karena bantuan para malaikat

– Tgl 5 Mei 2017, pedang diberikan untuk tentara manusia. Jika musuhnya mati, maka tentara diberi sayap untuk naik ke surga. Di lain tempat (yg mana mereka tidak saling mengenal), ternyata Rabi di Israel pun mendapatkan penglihatan tentang Elia (pertanda Mesias segera datang bagi orang Israel) & melihat 5 pintu anugerah (4 pintu sudah tertutup, tinggal 1 pintu masih ditahan oleh Elia sambil berkata “cepat, cepat, waktu semakin singkat!”).

Mujizat besar, tentu goncangan besar juga. Goncangan membuat gereja Tuhan dari semua denominasi bersatu berdoa untuk suatu hal yg baik (unity).

Pesan Tuhan:

– Beberapa anak Tuhan yang telah “selesai tugas” akan dibawa pulang ke rumah Bapa

– Kaum Kedar akan kembali pada panggilan Tuhan (=tuaian besar)

– Anak Tuhan diminta membereskan hati dan memperhatikan pemulihan keluarga (menjadi Elia, mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan)

– Akan muncul lawatan di luar nalar manusia karena pekerjaan Roh Kudus

– Tuhan menghendaki pertobatan di akhir zaman (urgent)

– Jika fokus hidup kita mencari uang, lama-kelamaan kita akan terhisap ke dalam jebakan iluminati dan diinfuskan chip Antikris (jadi penyembah berhala dan diikat/didampingi oleh seorang setan). Kita jangan menilai manusia berdasarkan uang, kita harus mengutamakan hidup benar. Yang akan rapture hanya orang Kristen yang sukacita.

– Tulisan tangan seorang anak menuliskan “AMX TUHAN”, artinya tank baja versi AMX. Akan ada perang besar-besaran di dunia.

– Banyak foto-foto yg diambil oleh Pak Aruna & tim memperlihatkan naga di langit beberapa kota di Indonesia, ini pertanda kita harus berdoa lebih sungguh-sungguh. Jaga anak-anak kita, ini bukan saatnya melepaskan mereka sesuka hati! Jika suatu tempat doanya kuat, maka naga tsb akan menjadi lemah dan mati (kemudian mencari teman untuk bersatu di tempat lain). Tapi jika doanya lemah, maka naganya akan semakin kuat dan bertelur.

Raja Salman memberi pedang emas saat berkunjung ke Indonesia pertanda bahwa “perang dimulai”.

Peperangan itu dilakukan dalam skala besar (bersama-sama) tetapi problema hidup yg harus dihadapi sendiri merupakan pergumulan (bukan peperangan). Dalam peperangan harus ada strategi & unity.

Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda hidup benar bagi Tuhan secara total!

Membalas Dengan Hikmat Tuhan

Apakah hukum Taurat masih berlaku sekarang?

– hukum moral masih berlaku, contoh: jangan mencuri

– hukum sipil masih berlaku tapi dimodifikasi, contoh: aturan jual beli tanah

– hukum seremonial sudah tidak berlaku, contoh: mempersembahkan korban bakaran

Matius 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Jika kita menerima perlakuan jahat dari orang lain, kita harus membalasnya dengan perbuatan baik (bukan berdiam diri atau bahkan membalas dengan perbuatan jahat).

Perihal menampar dalam budaya orang Yahudi memiliki aturan sbb:

– punggung tangan digunakan untuk menampar orang yang lebih rendah kedudukannya, sedangkan telapak tangan digunakan untuk menampar orang yang setara kedudukannya

– jika sudah menampar orang menandakan telah merendahkan orang, maka sebuah tamparan harus diganti dengan uang tebusan setara gaji 8 bulan kepada orang yang telah ditampar

Matius 5:39 diberitakan Yesus kepada para budak untuk memerdekakan mereka, kemerdekaan adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh seorang budak sebab perihal menjadi budak adalah pekerjaan turun-temurun (seumur hidup tak bisa lepas dari generasi ke generasi, kecuali dibebaskan oleh tuannya). Yesus mengajarkan apabila tuan mereka menampar pipi kanan mereka, maka berilah pipi kiri untuk ditampar lagi oleh tuannya, dengan begitu:

– tuan menganggap budak tsb setara kedudukannya dengan sang tuan (berarti si budak bebas/merdeka dari perbudakan tuannya)

– selain memerdekakan budak tsb, sang tuan harus membayar uang tebusan sebesar gaji 8 bulan pada mantan budaknya tsb

Jadi, budak tsb bebas + mendapat upah.

Tuhan datang dalam hidup kita untuk membebaskan, memulihkan dan memberi mujizat seperti yang dialami budak tsb (bebas + upah). Maka ketika kita “ditampar” oleh berbagai permasalahan yang ‘merendahkan’ kita, kita harus bertindak/melawan dengan hikmat Tuhan sebab ketika kita bertindak itulah mujizat, pembebasan dan pemulihan terjadi (kita bebas dari perbudakan masalah). Sebagai anak Tuhan, adakalanya kita harus menghadapi masalah dengan berdiam diri dan berdoa, tapi adakalanya kita pun harus bertindak dengan hikmat Ilahi untuk alami mujizat-Nya.

Sinyal Tuhan

– 21 Agustus 2017 seluruh dunia (bukan hanya belahan bumi tertentu) akan melihat kejadian alam yang sangat langka, yaitu: gerhana matahari total yang garisnya membelah benua Amerika menjadi dua

– 23 September 2017 jika langit cerah, kita dapat melihat rasi bintang yang menggenapi firman Tuhan dalam Wahyu 12:1-2 (pertanda awal masa kesusahan besar), kita harus sudah siap rapture sebelum ini

– Yoel 2:28 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia (baik yg sudah percaya Tuhan maupun yg belum percaya, supaya mereka bisa menerima Tuhan sebagai Juruselamat), maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. 

– Bulan September/Oktober 2017 Dewan Keamanan PBB akan mengadakan voting kedua untuk menyatakan bahwa Israel membuat tindakan ilegal karena telah membangun perumahan Yahudi di tanah Palestina; 70 negara (termasuk Indonesia) mengusulkan agar Israel dibagi 2, sesuai firman di Yoel 2, Tuhan berkata barangsiapa yang mencerai-beraikan Israel akan digoncang. Negara-negara penuntut Israel ini jadi dipersulit untuk berwisata ke Israel.

– Kita harus punya hati yang mengerti “sinyal Tuhan” melalui kegoncangan demi kegoncangan. Tanda-tanda alam sedang berjalan sesuai firman Tuhan, maka kita pun harus berjalan sesuai firman Tuhan.

– Masalah kita memang belum selesai, tetapi kita sudah mendapat janji Tuhan bahwa semuanya beres. Jadi hati kita tetap tenang di tengah goncangan. Sinyal seperti inilah yang harus kita miliki, jangan acuh dgn “pertanda2 kecil” dan baru sadar saat kehidupan kita sudah “diluluhlantahkan” Tuhan, segera bertobat dan perbaiki diri!

– Saat murid-murid menangkap 153 ikan setelah semalam-malaman gagal, mereka tidak bertanya Tuhan “siapakah Engkau?” sebab mereka mengerti angka 153 secara gematria dalam Bahasa Ibrani artinya “Akulah Tuhan”. Dalam kisah Yesus memberi makan dengan 5 roti dan 2 ikan, murid-murid tak banyak tanya lagi setelah Yesus bilang “suruh orang-orang itu duduk berkelompok-kelompok, masing-masing 50 orang per kelompok” sebab angka 50 mewakili kalimat “Akulah Penebus, Akulah Pemberi Makan” sehingga murid-murid dengan iman bertindak. Dari 2 kisah ini kita belajar, Tuhan tidak gamblang menyatakan Diri-Nya tapi dengan sinyal-sinyal maka kita harus peka dengar suara Tuhan.

Orang Kristen Sejati

Ciri orang Kristen:

1) Hidupnya berlawanan dengan arus dunia. (Di hadapan Tuhan kita seperti ikan)

2) Menunggangi badai, bukan ditunggangi badai. (Di hadapan masalah kita seperti rajawali)

3) Hidup bergantung pada Yesus. (Di hadapan manusia kita seperti domba)

Matius 13:47-51  (Perumpamaan tentang pukat) “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.”

Cara kita masuk surga sama prosesnya seperti pukat ikan. Begitu pukat diangkat, semua biota laut tertangkap. Berikut adalah biota laut yang tidak diperlukan bagi ‘perusahaan pengalengan ikan’ (Kerajaan Surga):

1) Ular maksudnya tipu daya iblis, secara profetik ini adalah orang yang terikat kuasa kegelapan sehingga melakukan hal-hal yang dikehendaki iblis.

2) Ikan hias, yaitu orang yang “sukses” menurut dunia tetapi tidak dibutuhkan oleh surga. 1 Korintus 6:20  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Roma 13:14  Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

3) Semua biota laut yang dilindungi oleh undang-undang tetapi sudah mati dan hanya merepotkan tim pelaut untuk dibawa ke laut meski berguna. Mereka ini adalah simbol orang yang berkuasa di bumi, tetapi kekuasaannya tidak menjamin ia masuk surga.

4) Ikan kecil yang beguna tetapi ukurannya tidak masuk kriteria penangkapan perusahaan ikan, maksudnya adalah orang Kristen yang imannya terlalu besar atau terlalu kecil. Iman yang berkenan bagi Tuhan adalah iman yang bertumbuh.

5) Ikan besar dengan ukuran yang sesuai kriteria penangkapan tetapi cacat. Matius 7:22-23  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Ini adalah kriteria orang Kristen yang munafik (“setan bertopeng malaikat”).

Terakhir, ikan yang masuk kriteria penangkapan ikan adalah yang pas ukurannya, yaitu orang yang “pas” berkenan di hati Tuhan; inilah orang yang akan masuk surga.

Penyakit Soal Keuangan

Shalom!
Tahun Sabbath berarti merdeka, yaitu dilepaskan dari setiap belenggu-belenggu yang mengikat; itulah pelipatgandaan mujizat. Daud mengerti bahwa Tuhan yang membantunya menghadapi singa yang mencengkram domba-dombanya adalah Tuhan yang sama yang akan memberikannya kemenangan dalam menghadapi Goliat, inilah kunci kemenangan Daud. Pelipatgandaan mujizat disertai pelipatgandaan goncangan. Bisnis memang penuh dengan ketidakpastian, tetapi satu-satunya hal yang pasti adalah Tuhan Yesus. Berikut adalah penyakit-penyakit soal keuangan yang bisa ‘menular’, yaitu:

Selalu hidup ingin instan dan tidak mau bayar harga.
Pemalas. “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:9-11)
Tidak memiliki hikmat. “Kekayaan dan kehormatan ada padaku, juga harta yang tetap dan keadilan. Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan.” (Amsal 8:18-19) “Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati.” (Amsal 13:18)
Lamban. “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Amsal 10:4) Kita harus berwaspada, karena iblis bisa menjebak kita dengan menjadi orang yang tergesa-gesa atau pun orang yang berlambat-lambat, kedua-duanya merupakan hal yang tidak baik.
Menjadi penanggung hutang orang lain (hal ini berbeda dengan menjadi penolong sesama). “Sangat malanglah orang yang menanggung orang lain, tetapi siapa membenci pertanggungan, amanlah ia.” (Amsal 11:15)
Ingin cepat kaya sehingga menerima suap. “Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.” (Amsal 23:5) “Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup.” (Amsal 15:27)

Dosa.
Zinah. “supaya orang lain jangan mengenyangkan diri dengan kekayaanmu, dan hasil susah payahmu jangan masuk ke rumah orang yang tidak dikenal” (Amsal 5:10)
Jahat, korupsi, fasik. “Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut. TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.” (Amsal 10:2-3)
Melakukan riba (meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi kepada orang lemah, tidak memiliki belas kasihan). “Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.” (Amsal 28:8)
Kikir/pelit. “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24) Orang yang memberi adalah pertanda orang yang diberkati.
Mengandalkan kekayaan, harta dan manusia. “Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.” (Amsal 11:28)
Menjadi  pemabuk, peminum dan pelahap. “Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.” (Amsal 23:20)
Berfoya-foya. ” Orang yang suka bersenang-senang akan berkekurangan, orang yang gemar kepada minyak dan anggur tidak akan menjadi kaya.”  (Amsal 21:17)

Ingin dihormati manusia.
Banyak berbicara/cakap. “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.” (Amsal 14:23)
Suka pamer. “Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran.” (Amsal 17:19b)
Suka cari perhatian. “Orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri atau memberi hadiah kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja.” (Amsal 22:16)
Boros, cirinya yaitu membeli barang-barang yang tidak pernah dipakai. “Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.” (Amsal 21:20)
Suka mengabaikan orang yang lemah. “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.” (Amsal 21:13)

Prioritas Tahun 5775

Shalom!

Gembala kita terus mengingatkan agar kita terus berjaga-jaga dan membaca Mazmur 91. Pelipatgandaan mujizat disertai pelipatgandaan goncangan juga. Wahyu 6:12-14 berkata “Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut [gerhana matahari total] dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. [gerhana bulan total] Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.” Kita harus senantiasa bersiap-siap agar kelak ketika goncangan tersebut terjadi, kita ada dalam perlindungan Tuhan. Dunia selalu mengalami krisis setiap 7 tahun, yaitu di tahun sabbat (tahun dimana tahun Yahudi bulat dibagi 7). Hal itu terjadi karena perjanjian Tuhan dengan bangsa Israel. Meski begitu, bangsa Israel tetap mengalami perlindungan Tuhan dalam masa krisis karena mereka tahu bagaimana caranya menghadapi krisis berdasarkan Firman Tuhan, yaitu tahun Sabbath adalah tahun dimana mereka ‘praktek’ berharap kepada Tuhan. Tahun Sabbath, bangsa Israel tidak boleh mengolah tanah mereka, karenanya mereka bertahan hidup dengan mengolah usaha di bidang lain selain tanah, yaitu:

  • Ternak berfungsi sebagai korban bakaran bagi Tuhan. Secara profetik, kita harus memberikan ‘korban’ pujian penyembahan kepada Tuhan. Menyembah itu ‘mengangkat tangan’, hal ini berarti menyerah agar Tuhan menyelesaikan segala sesuatunya bagi Tuhan. Ketika kita ‘merasa bisa’ melakukan segala hal, ada baiknya untuk ‘mundur satu langkah’ agar Tuhan yang mengambil alih menyelesaikan segalanya lebih dari yang kita sanggup pikirkan ataupun doakan. Ketika kita merasa mampu melakukan segala hal, kita sulit untuk latihan iman. Ketika kita diizinkan Tuhan untuk mengalami ‘keterbatasan hidup’, disitulah muncul penyembahan kita.
  • Ikan berbicara tentang jiwa-jiwa. Apapun yang kita lakukan akhir-akhir ini, haruslah berdasarkan belaskasihan untuk jiwa-jiwa (apakah tindakan kita berdampak positif/menyelamatkan jiwa-jiwa atau berdampak negatif/’menghilangkan’ jiwa-jiwa).
  • Minyak zaitun, diperlukan agar pelita tetap menyala. Hal ini berbicara tentang pengurapan Tuhan. Urapan Tuhanlah yang menjadikan bangsa Israel begitu diurapi, dimana mereka bekerja dalam waktu yang sebentar tetapi menerima berkat berlimpah-limpah. Hal ini bukan berarti kita hanya mengandalkan urapan, tanpa berusaha. Berusaha boleh saja, tetapi tidak mengandalkan kemampuan sendiri. Semakin kita berfokus kepada perkara duniawi, semakin kita terlilit dalam goncangan. Kita harus tetap bertahan di tengah goncangan, ini saatnya bagi kita untuk ‘praktek iman’.

Krisis Keuangan Yang Datang Bersamaan Dengan Pelipatgandaan Mujizat

Shalom!
Prinsip orang Yahudi yang memegang perjanjian dengan Tuhan begitu fenomenal hingga mempengaruhi keadaan keuangan seluruh dunia, karena penguasa keuangan dunia adalah orang Yahudi. Sangat sulit memboikot produk-produk Yahudi karena produk-produk tersebut sebagian besar menjadi penunjang kehidupan kita. Kita memang bukan orang Yahudi namun disadari atau tidak, kita selalu terkena dampak dari apa yang dilakukan oleh orang Yahudi. Imamat 25:1-7 berkata “TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.” Tuhan menguduskan hari ke-7. Kudus dan suci itu berbeda. Suci itu berarti dibersihkan hingga tak bernoda, sedangkan kudus itu berarti dipotong, dipisahkan, diperlakukan secara berbeda sehingga memiliki hasil yang berbeda dengan orang yang tidak kudus. Hal ini berarti juga kegiatan kita di hari ke-7 harus berbeda dengan kegiatan yang kita lakukan di hari ke-1 hingga ke-6, begitu juga dengan tahun ke-7. Jika tahun ke-7 disebut tahun Sabbath, maka tahun ke-7 yang ke-7 (seventh seven, tahun ke 49) berarti tahun super Sabbath, itulah mengapa tahun ini disebut tahun double Sabbath. Kita harus berhati-hati dengan setiap perkataan kita karena suatu hari nanti kita pasti akan memakan buahnya. Krisis selalu terjadi setiap tujuh tahun karena perjanjian orang Yahudi dengan Tuhan, yaitu mereka harus memenuhi masa perhentian penuh (sabat) di tahun ke-7 sehingga ketidakproduktifan bangsa pemegang keuangan dunia tersebut berdampak pada kehidupan seluruh bangsa di dunia. 2 Tawarikh 36:12 berkata “Dengan demikian genaplah firman TUHAN yang diucapkan Yeremia, sampai tanah itu pulih dari akibat dilalaikannya tahun-tahun sabatnya, karena tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun.” Jika kita melupakan ‘sabat’, suatu hari nanti kita akan menanggung akibatnya. Jadi, kita harus merelakan hati kita ketika Tuhan sedang ‘memproses’ kita. Lakukanlah segala sesuatunya karena Tuhan, bukan karena ‘pembuktian diri’. Bagi anak Tuhan, krisis adalah ‘pemurnian’ bagi ‘kesehatan’ kerohanian maupun jasmani kita, maka relakanlah jika kadang kita harus ‘kehilangan’ karena mungkin hal-hal tersebut bukan dari Tuhan sehingga harus dibuang; jika hal tersebut adalah bagian kita pasti akan Tuhan pertahankan bagi kita. Krisis terjadi agar ada keseimbangan antara si miskin dan si kaya, selain itu membuat kita bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Cara untuk menghadapi krisis, yaitu: setelah diberkati, berkat tersebut dimanfaatkan untuk membuka bisnis baru. Namun, hal tersebut berpotensi membuat kita sombong. Selain itu, di tahun ini ada jenis berkat yang mana hanya Tuhan saja yang dapat melakukannya: Tuhan yang bekerja sedangkan kita diam saja berharap pada-Nya. Inilah yang membuat kita memuliakan Tuhan. Jika kita menginginkan ‘tanah’, kita harus memegang perjanjian dengan Tuhan, Sang Empunya tanah.