Hati Yang Tenang

Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

Berikut 3 prinsip kedamaian:

  1. Kedamaian secara rohani. Roma 5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
  2. Kedamaian secara emosi. Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Kata “memerintah” menggunakan kata Yunani yang artinya menjadi wasit. Wasit bertugas memberikan keyakinan agar pertandingan berjalan dengan tenang. Jiwa yang berkualitas tercermin dari sikap yang tetap tenang di tengah goncangan.
  3. Kedamaian tidak bergantung pada orang lain. Roma 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Kedewasaan tidak tergantung usia.

Bagaimana agar kita memperoleh kedamaian tatkala mengalami goncangan?

  1. Menjadi pelaku firman Tuhan. Mazmur 119:165 Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka. Penyakit disebabkan oleh 10% kurang olah raga, 20% tidak menjaga pola makan, dan 70% karena kepahitan dalam hati (sering terluka jiwanya).
  2. Memperoleh pengampunan Tuhan. Mikha 7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Matius 6:14-15 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
  3. Belajar fokus pada hadirat Tuhan, bukan pada masalah. Yesaya 26:3 Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Mazmur 46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
  4. Percaya kepada tujuan Tuhan sekalipun tidak masuk akal. Amsal 3:4-6 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
  5. Mintalah kedamaian dari Allah. Filipi 4:6-7 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Advertisements

Memperoleh Janji Tuhan

Ulangan 6:1-3 “Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

Hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh janji Tuhan tsb, yaitu:

  1. Mendengar firman Tuhan, bukan dunia. Ulangan 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
  2. Mencintai Tuhan dengan penuh totalitas, cinta dapat membuat seseorang melakukan sesuatu yang lebih dari kapasitas dirinya sendiri tanpa perhitungan. Ulangan 6:5-6 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
  3. Ajarkan dengan keteladanan yang natural. Ulangan 6:7-9 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
  4. Takut akan Tuhan. Ulangan 6:10-13 Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu — kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami — dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.

Komitmen Yang Menghancurkan

Kolose 3:24

Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

Shalom!

Segala hal dalam kehidupan kita membutuhkan komitmen untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan memiliki karakter yang benar. Dalam kehidupan, kita memiliki tujuan-tujuan yang hendak dicapai yang tentunya memerlukan dana. Jika kita tidak memiliki hikmat untuk mengelola keuangan, maka hidup kita akan berantakan.

Bagaimana caranya kita mengelola keuangan? Prioritas keuangan kita, yaitu:

  1. Mengembalikan milik Tuhan (persepuluhan). Matius 22:21 berkata “Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
  2. Membayar cicilan dan memperkecil jumlah hutang kita, contoh: kartu kredit. Hiduplah hemat dan bijak, hendaknya pengeluaran kita tidak melebihi pendapatan kita. Faktor keuangan adalah salah satu penentu kehancuran rumah tangga. Secara ekonomi, nilai cicilan kita tidak boleh lebih dari 1/3 pendapatan kita, karena 2/3 dari pendapatan kita adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Satu-satunya barang yang boleh dikredit hanyalah rumah karena diperhitungkan bahwa nilainya akan bertambah seiring dengan berjalannya waktu jika diinvestasikan. Apa yang kita “pakai” tidak akan menaikan derajat kita, tetapi kepribadian kitalah yang dinilai oleh orang lain. Kita adalah apa yang Tuhan katakana tentang kita, bukan apa kata orang tentang kita.
  3. Menabung & investasi bukan dari sisa pendapatan setelah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Diusahakan kita dapat menabung secara teratur sebesar 10% dari penghasilan kita setiap bulannya.
  4. Sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarkanlah uang hanya untuk membeli sesuatu yang benar-benar menjadi kebutuhan kita, bukan hanya keinginan semata. Cukupkanlah hidup kita dengan penghasilan yang ada, masalahnya bukan pada “besar”-nya penghasilan tetapi pada “cara mengelola keuangan”.

Kristus adalah tuan kehidupan kita dan kita adalah hamba-Nya. Kita hanya pengelola milik Tuhan. Ketika kita memposisikan diri kita bukan sebagai pengelola tetapi sebagai pemilik, maka kita tidak akan hidup bahagia, menjadi iri terhadap milik orang lain, dan tidak pernah bersyukur. Jangan pernah diperbudak oleh uang, uang bukan tuan tetapi hanya sarana! Tolah diri kita untuk menjadi “tuan” dalam kehidupan kita! Segala sesuatu yang tidak pernah dimiliki tidak akan membawa kedukaan ketika kita kehilangan, ketika kita mulai berduka berarti kita sedang memposisikan diri kita sebagai “tuan”. Kesuksesan gereja yang benar berfokus kepada ketaatan/kesetiaan kepada Tuhan, bukan pada “pencapaian” atau “penderitaan”. Berkomitmenlah untuk mempertahankan nilai-nilai yang benar dalam mengelola segala sesuatu ketimbang tergiur untuk memenuhi kesenangan sesaat yang menyesatkan. Tuhan Yesus memberkati.

Komitmen

Yeremia 29:11-14

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.”

Shalom!

Sebuah keluarga yang kacau pasti akan terpecah-belah, tetapi Tuhan berjanji bahwa semuanya akan Tuhan pulihkan menjadi lebih baik (dipersatukan kembali) asalkan keluarga tersebut mau mencari Tuhan. Keinginan Tuhan adalah membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Jika sejak muda kita memiliki komitmen untuk hidup seimbang, maka kita akan menikmati hari tua yang indah karena kita tetap sehat. Ketika pengeluaran lebih besar dari pendapatan, maka kita akan mengalami kekurangan dalam keuangan. Memiliki teman banyak lebih baik dibanding memiliki harta banyak tetapi kikir.

Kita akan menjadi orang yang paling tidak bahagia ketika kita tidak memiliki komitmen dengan Tuhan. Merdeka berarti mengalami kebebasan jiwa dalam kehidupannya. Memiliki segala kenikmatan jasmani/materi tetapi tidak diimbangi dengan kekayaan hikmat yang luhur (kerohanian yang sempurna) hanya akan merugikan kita. Dalam berbisnis, hendaklah kita memiliki tujuan yaitu untuk kemuliaan Tuhan, menjadi berkat bagi pembeli, memaksimalkan potensi para pegawai dan memperoleh keuntungan yang halal. Semua yang kita miliki adalah milik Tuhan, maka mintalah petunjuk Tuhan dalam “menjalankan” milik-Nya.

Sukses berarti tetap menghargai komitmen dan hubungan-hubungan dengan orang lain. Pernikahan adalah belajar kesetiaan sampai mati. Belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik. Kecantikan batiniah (inner beauty) akan berdampak kepada kecantikan jasmani. Kesuksesan berarti mengalami keseimbangan kehidupan dalam segala hal (keluarga & karir). Dalam pernikahan, kita harus memiliki time management conflict (tidak berlarut-larut). Kita harus memiliki hubungan yang baik dengan pasangan kita, karena dialah sahabat kita yang mau mengerti dan menerima kita apa adanya. Jangan buang waktu dengan sembarangan orang karena pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Kita boleh berteman banyak tetapi kita harus selektif memilih sahabat.

Kita memiliki banyak potensi yang luar biasa, karenanya berkomitmenlah dengan Tuhan untuk selalu meng-update & meng-upgrade diri kita setiap hari sehingga “nilai” diri kita pun akan naik, memiliki hubungan-hubungan yang lebih baik dengan orang lain dan menikmati kelimpahan berkat Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

Komitmen Kepada Tuhan

Matius 6:25-26

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Shalom!

  1. Prioritas. 5 prioritas komitmen kita, yaitu: (1) Komitmen dengan Tuhan adalah prioritas yang pertama & terutama dalam hidup kita; (2) Komitmen dengan diri kita; (3) Komitmen dengan keluarga/pasangan kita –dalam hal ini kitalah yang masing-masing berinisiatif untuk “menciptakan” suasana pernikahan yang harmonis; (4) Komitmen dalam profesi kita; (5) Komitmen dengan masyarakat (memberikan kontribusi). Jika kita tidak memprioritaskan Tuhan, maka kita akan meragukan kemampuan Tuhan. Kuatir berarti sedang melecehkan Tuhan. Rencanakanlah masa depan kita tanpa perlu kuatir! Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6:33-34)
  2. Kasihilah sesama seperti mengasihi diri sendiri. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39). Kita bisa berkomitmen untuk mengasihi orang lain jika kita mampu berkomitmen untuk mengasihi Tuhan dan menerima diri sendiri apa adanya terlebih dahulu. Apa yang kita peroleh dalam hidup ini tergantung dari seberapa besar komitmen hidup kita.
  3. Komitmen dalam pernikahan. Pernikahan adalah belajar mencocokan diri dengan pasangan kita, karena tak ada seorangpun di dunia ini yang sangat cocok dengan kita. Hal ini memerlukan pengorbanan. Pernikahan adalah keputusan untuk selalu melakukan bagian kita, bukan menuntut hak kita. Tuhan Yesus memberkati.

Kunci Pernikahan Dalam Kristus

Kejadian 2:23-25 – “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Shalom!

Ayat 23 menyatakan bahwa begitu indah pernikahan itu sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Adam bisa mengatakan tentang Hawa “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Kata ‘tulang dari tulangku’ melambangkan sesuatu yang buruk dan sedangkan ‘daging dari dagingku’ melambangkan sesuatu yang baik, keduanya masing-masing menunjukan bagian yang terdalam dari tubuh. Hal ini berarti sewaktu Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa pun, pernikahan mereka diwarnai dengan kebahagiaan dan juga konflik. Namun, Adam tetap bisa mengatakan bahwa Hawa adalah perempuan yang terbaik baginya. Ini karena, pernikahan mereka diliputi kasih yang dari Tuhan sehingga meskipun mereka mengalami konflik, tetapi mereka selalu dapat melihat hal yang indah dari pasangannya dan mampu menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi. Konflik dalam sebuah pernikahan itu wajar, yang harus Anda mengerti adalah bagaimana memandang konflik tersebut dan menyikapinya.

Pernikahan itu suatu hal yang indah dalam Tuhan. Ironisnya, pernikahan menjadi suatu malapetaka setelah kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Adam pun tak lagi mengatakan hal yang indah kepada Hawa, melainkan menyalahkannya seperti tertulis dalam Kejadian 3:12 “Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kini, betapa kehidupan pasangan suami-istri setelah menikah itu berubah total dibandingkan ketika mereka masih berpacaran. Perlu Anda ketahui, bahwa pernikahan tidak hanya dilandasi oleh dasar saling cinta tetapi juga komitmen untuk menjaga cinta itu di dalam kasih Kristus. Sebelum menikah, kuatkan komitmen Anda untuk tetapi mengasihi pasangan Anda apapun yang akan terjadi kelak. Pernikahan tidak terjadi karena ‘kecocokan’ saja (misalnya Anda dan pasangan sama-sama memiliki makanan favorit yang sama) karena yang perlu Anda perhatikan adalah akan ada banyak ketidakcocokan yang terjadi kelak dalam pernikahan karena perbedaan latar belakang. Oleh karena itu, perlu adanya komitmen yang kuat untuk menjaga pernikahan tersebut.

Keselarasan dalam pernikahan tejadi jika masing-masing anggota keluarga berfungsi dengan baik. Suami sebagai kepala rumah tangga disebut sebagai seorang lelaki sejati ketika dia mampu membuktikan janjinya kepada istri dan anak-anaknya. The true man is the promise holder. Gambaran suami yang baik dapat tercermin dari wajah istrinya yang memancarkan kebaikan pula karena istri adalah cerminan suami. Kebanyakan, setelah memiliki anak, suami dan istri lebih mengutamakan anak-anak mereka. Padahal, dalam Kristus, struktur yang benar adalah (1) mengasihi Tuhan, (2) mengasihi suami-istri, barulah (3) mengasihi anak-anak. Milikilah waktu khusus berdua dengan pasangan Anda, rencanakan dan luangkan waktu untuk menghabiskan satu hari hanya berdua dengan pasangan Anda secara rutin tiap minggunya. Hal ini bertujuan untuk tetap ‘meneguhkan’ cinta suami-istri. Juga belajarlah untuk selalu tersenyum kepada siapapun juga dan mengatakan kata-kata yang manis dan indah kepada pasangan Anda secara tulus (tidak dibuat-buat).

Kunci dari sebuah pernikahan yang bahagia adalah komunikasi yang baik. Suami-istri tidak hanya melakukan komunikasi secara eksternal (dengan anak-anak sewaktu makan/kumpul keluarga) tetapi juga harus memiliki komunikasi internal (hanya berdua membicarakan perasaan masing-masing). Perlu adanya keterbukaan dalam komunikasi seperti ditegaskan dalam ayat 25 bahwa tidak ada yang ditersembunyi dari masing-masing pasangan suami-istri. Jika terjadi konflik, belajarlah untuk saling mendengarkan pembicaraan masing-masing dengan seksama, tanpa memotong pembicaraan pasangan. Kemudian berbicaralah secara bergantian, setelah itu renungkan hasil pembicaraan masing-masing dan selesaikan konflik tersebut dengan hikmat Tuhan.

Mintalah agar Tuhan memulihkan kehidupan Anda dan keluarga Anda. Ingatlah, keterbukaan awal dari pemulihan. Tuhan Yesus memberkati.