Membangun Sebuah Kebiasaan

1 Yohanes 3:1-10 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

Efesus 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Inilah desain kita sebagai anak-anak Allah, yaitu tidak “bermain sampah”, melainkan dalam kemuliaan Allah.

Semakin tinggi sebuah bangunan, maka harus semakin dalam fondasinya. Jadi, fondasi menentukan kokoh tidaknya sebuah bangunan. Berikut 3 kebiasaan yang harus kita bangun sebagai fondasi kekristenan anak-anak Allah, yaitu:

  1. Berusaha hidup suci setiap hari sebagai wujud penghormatan tertinggi kepada Tuhan (tidak kompromi dengan dosa). Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang, tetapi yang pasti kita akan meninggal, maka kita harus selalu siap sedia dalam keadaan apapun kita dipanggil ke rumah Bapa. Lukas 12:4-5 Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Kita harus kudus dalam hal keuangan (persepuluhan, melunasi hutang), juga dalam apa yang kita lihat/tonton (jangan jelalatan, tidak perlu membuang waktu untuk melihat hal yang tidak senonoh). Yang harus kita lihat adalah besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita sehingga kita disebut anak-anak Allah.
  2. Menghidupi pertobatan yang sejati, yaitu meninggalkan segala perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan dan mengambil keputusan untuk melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.
  3. Jangan banyak berdalih/beralasan, khususnya dalam hal membaca Alkitab, berdoa dan beribadah. Jika kita tidak membaca firman, lalu apa yang mau kita doakan? Kita harus membawa firman ke hadapan Tuhan. Jadikan beribadah, berdoa dan membaca Alkitab sebagai gaya hidup kita! 1 Timotius 4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. Jika kita yakin Kristus ada di dalam diri kita, tentu kita akan membangun 3 fondasi kekristenan tsb!

Advertisements

Pendoa Yang Berkarakter

Mazmur 40:4 Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.

Kita jangan hanya pandai menikmati hadirat Tuhan, tapi harus membawa hadirat Tuhan hingga dilihat orang lain.

We are one, we are family, we are team Rayon 2.

Fondasi memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan sebuah rumah. Sebagai pendoa syafaat, fondasi kita adalah karakter, setelah itu barulah komitmen dan kompetensi.

Berkomitmen berarti memprioritaskan sesuatu lebih penting dari yang lain.

Karakter berbicara tentang buah Roh (karakter Kristus), bukan karisma. Semakin karakter kita seperti Kristus, maka semakin kita faceless & nameless di hadapan orang lain (kita semakin menjadi tuntunan, bukan tontonan). Carilah ‘tepuk tangan’ Tuhan, bukan tepuk tangan manusia.

Karakter = kepribadian, kita harus terlihat sebagai pelayan Tuhan yang ada Kristus di dalam dirinya. Perangai kita ditentukan pertama-tama di dalam keluarga kita. Kiranya ketika Tuhan melihat kita, Ia seperti sedang melihat Diri-Nya sendiri. 

Kita tidak bisa mengajari orang suatu hal yang tidak pernah kita alami. Perkataan seorang pendoa syafaat harus bisa dipegang. Tanpa karakter, pelayanan hanya menjadi aktifitas keagamaan semata. Dipilih Tuhan sebagai pendoa syafaat saja sudah anugerah luar biasa, sebab siapakah kita ini hingga dipilih Tuhan?

Doa orang benar (orang yang berkarakter) besar kuasanya, maka jangan sampai kita tidak mengalami jawaban doa. Utamakan kualitas, bukan kuantitas.

3 alasan yang menjadi dasar seseorang mau melakukan suatu pekerjaan/pelayanan:

– karena kewajiban (=tipe budak)

– karena ada keuntungan ketika dikerjakan (=tipe karyawan)

– karena mengasihi Tuhan & sesama (=tipe orang yang berkarakter)

Orang yang berkarakter akan semakin satu Roh dengan Tuhan. 1 Korintus 6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. (jika kita mengikatkan diri dengan dunia, maka kita akan menyatu dengan dunia)

Hal yang harus kita perhatikan sebagai pelayan Tuhan:

– Tuhan meminta kita untuk tidak mengejar pelayanan, tetapi mengejar kegerakan Tuhan dan mengikuti-Nya. Kegerakan Tuhan dapat dilihat dari tuntunan pemimpin kita. Apa yang kita anggap baik dalam pelayanan, belum tentu dianggap baik oleh Tuhan. Kita harus ada dalam kegerakan yang sama. Perbaiki mezbah kita.

– Kita harus menjadi prajurit Tuhan yang gagah perkasa yang mempunyai spirit/mentalitas sebagai pembangun, bukan hanya sekedar pengemban tugas di gereja sebagai pendoa.

– Mungkin banyak pendoa yang sedang letih (ingin berhenti sebagai pendoa) & kehilangan fokus (broken focus) dalam pelayanan. Broken focus baik kepada Tuhan maupun sesama (hubungan yang rusak). Kita harus semakin fokus pada Tuhan, bukan memusingkan persoalan hidup. Jika kita menyimpan kesalahan orang lain, doa kita takkan berkuasa.

Jangan berpikiran “kita dapat berjalan sendiri-sendiri”, melainkan kita harus unity (tolak spirit penghasut & pemecah belah). Seorang pendoa yang berkarakter Kristus akan menjadi peace maker (juru damai) bukan trouble maker (juru kekacauan).

1 Raja-raja 19:8-9 Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” (note: ini menjadi PR bagi kita, apakah yang sudah kita lakukan sebagai pendoa?)

2 Yohanes 1:9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.

1 Timotius 6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah [man of God], jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Sebagai manusia Allah, kita tentu mencari perkenanan Allah bukan perkenanan manusia.

Mentalitas Pendoa

Mentalitas adalah
Keadaan dan aktivitas jiwa

Cara berpikir yang menentukan tindakan/keputusan kita

Bagaimana berperasaan

Mentalitas seorang pendoa harus M-A-N-T-A-P, yaitu:

1) Mature (dewasa rohani). Kita harus dewasa rohani karena Yesus hanya menjemput mempelai-Nya yang dewasa. ”Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11)

Seorang yang seperti kanak-kanak itu adalah orang dewasa yang mempunyai sifat kekanak-kanakan yang jahat/buruk, yaitu:

Tidak mementingkan orang lain, hanya memikirkan diri sendiri

Tidak bertanggung jawab, ‘lepas tangan’ terhadap tugas

Tidak berkomitmen dalam pelayanan

Tidak mau disalahkan tetapi mencari kambing hitam

Tidak mau melayani, melainkan selalu ingin dilayani

Tidak punya pendirian

Tidak bisa menguasai diri

Sebaliknya, seorang yang dewasa itu:

Lebih mementingkan kepentingan orang lain

Bertanggung jawab

Berkomitmen dalam pelayanan apapun keadaannya

Mau mengakui kesalahan dan meminta maaf serta berubah menjadi lebih baik

Rohnya selalu menyala-nyala untuk melayani

Berpendirian teguh sesuai prinsip Alkitab

Mampu menguasai diri (tidak terburu-buru mengambil keputusan)

2) Ability (berkemampuan untuk membangun hubungan yang intim dan intense dengan Tuhan melalui pembacaan Firman Tuhan, doa puasa dan pujian penyembahan).  Pendoa yang intim dengan Tuhan terlihat dari perkataannya yang sedikit tetapi mampu mengubah kehidupan seseorang.

3) Never give up (tidak pernah menyerah). Seorang pendoa sejati tak mudah menyerah/berhenti melayani Tuhan karena ‘kenyataan hidup’ (sibuk, sakit, hujan, dsb). Ketika kita fokus pada janji Tuhan lebih dari apapun, pasti kita tidak akan pernah menyerah terhadap keadaan melainkan semakin semangat karena dikuatkan oleh janji-janji Firman-Nya. Karena itu, kita harus selalu memperkatakan Firman Tuhan!

4) Transparent (transparan), berarti terbuka, jelas, tidak ada yang ditutup-tutupi dan tetap sama di hadapan Allah maupun manusia sehingga bisa dipercaya perkataannya. Modal kita sebagai pendoa syafaat adalah hati yang murni, kita harus seperti ikan di akuarium yang setiap perbuatannya ‘tembus pandang’ (bisa dipertanggungjawabkan) dilihat dari berbagai sisi manapun. “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” (Kisah Rasul 24:16)

5) Attractive (memiliki karakter yang menarik, yaitu seperti Kristus –bukan sekedar penampilan lahiriah yang menarik). Hendaklah kita menarik untuk dijadikan tuntunan, bukan menarik untuk dijadikan tontonan. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)

6) Persistence (tekun). Kita harus gigih dan sungguh-sungguh menanti-nantikan Tuhan.

Spiritual Warfare

1 Timotius 6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah [man of God], jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
Kita adalah manusia Allah (man of God), kita berharga (mahal) di mata Tuhan. Jadi, jangan kita membuat diri kita sendiri “murah”.

Pendoa syafaat dan peperangan rohani merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Panggilan sebagai pendoa syafaat menuntut kita untuk berperang memerangi iklim rohani yang dipengaruhi iblis untuk menyesatkan pandangan orang terhadap kebenaran.

1 Petrus 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Peperangan rohani adalah konflik yang berlangsung dalam dunia rohani yang tidak terlihat yang termanifestasi dalam dunia jasmani yang terlihat.

Efesus 6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Peter Wagner dalam bukunya menuliskan siapa saja yang kita perangi, yaitu:
1) Pemerintah-pemerintah, yaitu roh-roh jahat yang menguasai satu negara.
2) Penguasa-penguasa, yaitu roh-roh jahat yang menguasai satu provinsi.
3) Penghulu-penghulu, yaitu roh-roh jahat yang mengikat satu kota dengan dosa (umumnya).
4) Roh-roh jahat di udara, yaitu roh-roh jahat yang mengganggu dengan hal-hal sepele untuk mengalahkan anak-anak Tuhan.

Perhatikan bahwa iblis tidak seperti Tuhan Yesus yang Maha Hadir. Ketika pemetaan rohani, kita harus tahu siapa yang “menguasai” wilayah tersebut agar tepat sasaran ketika memeranginya. Tujuan peperangan rohani adalah memenangkan jiwa-jiwa, bukan membuktikan kehebatan diri. Ujian kita sepenuhnya adalah ujian ketaatan. Berhati-hatilah ketika kita mulai menyombongkan diri. We are nothing, but Jesus is something. Kita menjadi istimewa karena Roh Allah yang ada dalam diri kita.

Apakah “senjata favorit” iblis dalam memerangi kita?
1) Penundaan. Selesaikan apa yang masih bisa kita kerjakan hari ini, karena belum tentu hari esok kita masih diberi kesempatan untuk mengerjakannya. Penundaan dari iblis akan melemahkan kita tetapi penundaan dari Tuhan akan menguatkan kita. Karenanya, kita harus semakin peka akan suara Tuhan agar berjalan sesuai kairos Tuhan.
2) Penipuan. Berhati-hatilah dengan pengajaran-pengajaran yang “sepertinya Alkitabiah” tetapi ujungnya membawa maut, karenanya kita harus bergaul karib dengan Tuhan agar mampu membedakan ajaran Tuhan dan ajaran sesat.
3) Kalut, panik, kacau. Selama kita hidup berakar dan mendasar pada Firman Allah, jangan panik dengan hal-hal yang semakin simpang siur atau menakutkan di akhir zaman ini, agar kita bisa tetap fokus kepada Tuhan.
4) Kecewa. Ketika kita sedang kecewa (baik terhadap diri sendiri maupun orang lain), kita sedang dalam peperangan rohani. Dan kita harus memilih untuk mengampuni, agar hati nurani kita tetap murni di hadapan Tuhan.

Lalu, kapan iblis melancarkan serangannya kepada kita?
1) Ketika kita sedang dalam kelelahan (down, sensitif). Yang menjadi benteng kita dikala itu adalah pujian penyembahan kita kepada Tuhan dan mendeklarasikan kebenaran Firman-Nya, bukan tidur.
2) Ketika tiba-tiba dipromosikan menjadi pemimpin, tetapi malah dihujat oleh orang-orang sekitar. Kita harus ingat bahwa menghujat pemimpin berarti menghujat Tuhan. Akhir-akhir ini Tuhan akan mempromosikan hamba-hamba-Nya yang faceless & nameless .
3) Ketika Tuhan melakukan perkara-perkara yang ajaib, iblis berusaha menggagalkannya agar orang tidak percaya mujizat lagi dan berhenti berharap kepada Tuhan. Kita harus yakin bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta alam semesta, tetap sama dan tak berubah baik dulu, sekarang dan selamanya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
4) Ketika kita mulai dipercayakan untuk menangani sebuah pelayanan yang baru dan merasa tak mampu. Jangan takut! Jika kita mundur, kita takkan pernah diberi tanggung jawab dan kehormatan.

Jadi, hal-hal apa yang harus kita perhatikan dalam peperangan rohani?
1) Ingat bahwa iblis sedang berkeliling di sekitar kita sehingga kita harus selalu siap siaga, jangan lengah dan tidak kehilangan fokus pada Tuhan. Kita harus setia di mana pun Tuhan menempatkan kita.
2) Bersiap-siaplah karena iblis menyerang kita disaat yang tidak diharapkan karena iblis adalah pencuri, pembunuh dan pembinasa yang menyerang tiba-tiba (tanpa pemberitahuan). Peperangan rohani terjadi setiap saat, karenanya kita harus bersiaga setiap saat, jika tidak…kita pasti kalah dalam peperangan ini dan menjadi bulan-bulanan si iblis.
3) Kenali iblis sebagaimana adanya (sesuai apa kata Firman Tuhan), yaitu bahwa tidak ada sedikit pun kebaikan padanya sehingga kita tidak mudah kompromi dengan hal-hal yang ditawarkannya. Kita harus bergaul karib dengan Tuhan agar tidak mudah terpengaruh godaan iblis.
4) Tolak dan jangan dengarkan bisikan iblis, jangan pedulikan apa yang ia tawarkan meski hal itu seolah-olah sangat menguntungkan. Jangan cepat tergiur dengan hal-hal tersebut, semuanya harus kita doakan terlebih dahulu. Tanpa petunjuk Tuhan, tak ada satupun hal boleh kita kerjakan.
5) Lawanlah iblis! 1 Petrus 5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Yakobus 4:7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Senjata apa yang ampuh melawan iblis? Efesus 6:14-18 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Berjaga-jaga Melalui Pertobatan

Shalom!
Kita harus berjaga-jaga menghadapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua karena kita tidak tahu kapan saatnya tiba. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, termasuk janji akan kedatangan-Nya yang kedua kelak. 2 Petrus 3:9 berkata “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Selama Tuhan belum datang, inilah kesempatan bagi kita untuk membenahi diri agar kelak kita benar-benar siap menjadi mempelai-Nya.
Pertobatan berarti benar-benar berpaling kepada Allah dari segala perbuatan kita yang sia-sia, kita harus membuat sebuah keputusan untuk benar-benar hidup fokus kepada Allah. “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” (Yesaya 45:22) Goncangan boleh ada, tetapi jika kita menempatkan Tuhan dalam hidup kita, kita akan menjadi lebih dari pemenang.
Di tahun baru ini, mari kita tinggalkan segala perbuatan sia-sia kita di tahun-tahun sebelumnya agar kita menjadi umat yang layak (berkenan) di hadapan Tuhan dan mengalami pelipatgandaan mujizat. Kisah Rasul 14:15 berkata “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.”
Pertobatan juga berarti memikirkan perkara-perkara yang di atas. Kolose 3:2-3 berkata “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kunci kemenangan kita di tahun ini adalah ketika kita semakin ‘tersembunyi’ di dalam Kristus dan mengizinkan Ia berkarya sebesar-besarnya dalam hidup kita.
Pertobatan berarti melayani Allah yang hidup. 1 Tesalonika 1:9 berkata “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” Melayani Tuhan adalah bukti bahwa kita telah mengalami sebuah pertobatan.
Pertobatan berarti meninggalkan beban dan dosa. Sebagai anak Allah, mainan kita bukanlah dosa karena itu adalah sampah. Ibrani 12:1 berkata “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Mari kita menjadi orang Kristen yang melakukan sesuatu bagi kemuliaan nama Tuhan!