Kasih Allah

​Yohanes 3:16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Ayat tersebut mendasari kelahiran Tuhan Yesus Kristus yang membuktikan bahwa kasih Allah begitu agresif kepada kita, Allah telah lebih dulu mengasihi kita.

Apa yang dilakukan kasih Allah itu?

Titus 2:11-14  Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. 

Kasih Allah menyelamatkan kita, itu diberi dengan cuma-cuma tetapi didikan dan disiplin pun bagian dari kasih Allah kepada kita, mengapa?

1) Supaya kita meninggalkan kefasikan. Kita harus taat kepada Tuhan meskipun tidak mengerti sebab kebenaran akan memunculkan ‘dampaknya’ setelah dilakukan, jika tidak dilakukan maka nothing happens. 

2) Supaya kita meninggalkan keinginan duniawi. 1 Yohanes 2:16-17  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

3) Supaya kita hidup bijaksana (bukan sekedar pintar). Pintar itu dikuasai oleh ilmu pengetahuan, sedangkan bijaksana itu dikuasai oleh hikmat Allah.

4) Supaya kita beribadah; ibadah itu berarti melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan (mempermuliakan Tuhan).

Advertisements

Pertumbuhan Rohani

Efesus 4:11-15  Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Kita dibebaskan seutuhnya agar kita mengalami pertumbuhan rohani dan serupa dengan Kristus. Kita harus bertumbuh rohani agar tidak mudah disesatkan oleh pengajaran sesat di akhir zaman ini. Pengajaran sesat “sepertinya” mengajarkan kekristenan tetapi tidak mengarah kepada Kristus.

Yohanes 10:10  Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Tuhan sudah “investasikan” hidup-Nya di dalam kita, karenanya kita harus bertanggung jawab atas investasi Tuhan tersebut melalui pertumbuhan rohani. Jika kita bertumbuh, tak perlu bergumul soal berkat karena berkat secara otomatis pasti akan mengikuti kita. Jangan buang energi untuk hal-hal yang tidak perlu digumuli, tetapi fokuslah untuk bertumbuh rohani! Matius 6:33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

3 penghalang pertumbuhan rohani, yaitu:
1) Kita tidak menyadari bahwa ada benih Ilahi dalam diri kita. Matius 13:36-38  Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Kita adalah “benih”, kekuatan untuk bertumbuh dan bertahan hidup ada dalam diri kita sendiri karena dalam diri kita ada Firman Tuhan dan Roh Kudus, karenanya jangan mengharapkan kekuatan dari luar selain Tuhan. Kita harus mengalami proses pertumbuhan rohani, tidak bisa secara instan berubah. Roh Tuhan-lah yang menghidupkan kita. Di mana ada kehidupan, di situ ada pertumbuhan. Di mana ada pertumbuhan, pasti ada perubahan ke arah yang lebih baik.
2) Kehilangan atmosfer untuk bertumbuh. Pertumbuhan rohani juga bergantung kepada “atmosfer” kasih. Kasih itu tidak bisa berjalan sendirian, harus bersama-sama, yaitu ada hubungan 2 arah (“saling”). Tujuan pernikahan Kristen adalah agar Kristus nyata dalam pernikahan. Kita diciptakan sebagai makhluk sosial, bukan untuk ego masing-masing. Gereja mula-mula dipenuhi oleh Roh Kudus dan mereka saling memberi, mendoakan, begitu kekeluargaan karenanya Gereja masa kini pun jangan kehilangan atmosfer tersebut.
3) Ibadah untuk mencari pembenaran diri bukan kebenaran Tuhan. Kebenaran Tuhan-lah yang memerdekakan kita, bukan pembenaran diri. Pembenaran diri berawal dari “tidak mau berubah” ketika ditegur oleh Firman Allah. Kebenaran memang berat dilakukan tetapi upahnya besar di surga, sedangkan terus membenarkan diri sendiri hanya menumpulkan hati untuk mendengar suara Tuhan. Kita harus terima kebenaran yang sejati dan tetap lakukan kebenaran untuk terus bertumbuh secara rohani.

Berjaga-jaga

Mazmur 26:2-3
“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.”

Shalom!

Tanda-tanda zaman memang menunjukan kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat, karenanya kita harus mempersiapkan diri dengan berjaga-jaga dalam menyambut kedatangan-Nya kelak sebab kedatangan-Nya adalah seperti pencuri. Berjaga-jaga itu seperti apa? Berjaga-jaga itu tidak membuat seorang Kristen menjadi ‘aneh’, tidak mau bekerja lagi dan kehilangan harapan hidup di bumi ini. Kita harus memiliki hati yang tulus di hadapan Tuhan dalam berjaga-jaga. Raja Daud berdoa seperti ayat di atas karena ia tahu bahwa hal tersebut membuatnya semakin murni di hadapan Tuhan (mendatangkan kebaikan dalam hidupnya). Itu adalah sikap hati orang yang berjaga-jaga. Ada 3 keuntungan yang kita miliki melalui doa tersebut, yaitu:

  • Ujian justru akan membuat kita ‘naik level’. Tidak ada kenaikan level tanpa melalui ujian, karenanya kita harus siap terima ujian. Tuhan lebih menginginkan karakter kita yang bertumbuh dibandingkan sekedar memberkati kita, karena Ia tahu karakter kita menentukan kapasitas kita untuk menampung berkat-Nya. Menerima berkat di luar kapasitas kita hanya akan menghancurkan kita, karenanya kita harus memiliki respon yang benar dalam menghadapi ujian kehidupan. Cara pandang kita terhadap ujian menentukan apakah ujian tersebut baik atau tidak bagi kita.
  • Ujian membuat kita semakin mengenal Tuhan. Ketika kita mengalami ujian sebenarnya Tuhan sedang menunjukan bahwa Ia berkuasa lebih dari segala masalah kehidupan kita. Ketika kita mengalami janji Tuhan yang selalu setia dalam segala keadaan hidup kita, pastilah kita berani (yakin) menyaksikan perbuatan-Nya yang dahsyat dalam hidup kita. Diperlukan hati yang mengenal Tuhan agar kita bisa kuat di akhir zaman ini, agar kita tidak terpengaruh oleh penyesatan. Karenanya, kita harus mengijinkan ujian terjadi agar kita semakin mengenal Tuhan.
  • Ujian akan membuat kita mengetahui siapa kita sebenarnya, yaitu apa yang sesungguhnya tersimpan di hati kita. 1 Korintus 3:11-14 berkata “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” Kita harus tahu betul dimana posisi kita agar kita tidak mudah tersesat dan membantu kita mengambil keputusan kemana kita harus melangkah. Kita harus waspada agar motivasi hati kita tidak menyimpang dalam melayani Tuhan.

Prinsip Hidup Dalam Kerajaan Surga

Matius 7:24-27

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Shalom!
Firman yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus tidak sembarangan karena ketika kita menghidupi/melakukan Firman tersebut maka akan terjadi perubahan yang berarti dalam kehidupan kita, salah satunya perubahan pola pikir.

Prinsip kehidupan yang Tuhan Yesus ajarkan dari ayat ini, yaitu:

  1. Sesuatu yang ingin kita raih harus melalui suatu proses (ada waktu). Kita harus perlahan-lahan mengerjakan segala sesuatunya dengan gigih dan sabar. Segala sesuatu perlu dibangun (kesehatan, karir, keimanan), tidak ada yang instant/cepat di dalam Tuhan. Berhati-hatilah, karena sistem dunia sekarang ini sedang menarik perhatian kita agar memiliki pola pikir “serba instant”. Kalau Tuhan yang berjanji, pasti ditepati, -tetapi ‘ada syaratnya’- karenanya arahkanlah fokus hidup kita kepada janji-Nya. Tuhan tahu bahwa akhir hidup kita ‘happy ending’ bersama-Nya tetapi Tuhan ingin melihat kita mengalami proses bersama dengan Tuhan. Tuhan ingin kita berserah (melakukan bagian kita sembari menyerahkannya kepada Tuhan) bukan berpasrah (mengharapkan perubahan tanpa melakukan tindakan). Milikilah kembali semangat untuk membangun hidup ini karena jika Tuhan yang mengangkat, tidak ada yang bisa menurunkan, tetapi Tuhan akan  mengokohkannya dan tidak akan tergantikan!
  2. Jadilah orang bijaksana selama hidup di dunia ini, jangan jadi bodoh. Tuhan melihat kebijaksanaan seseorang bukan dari gelar/tingkat pendidikan/kehebatan kita tetapi Alkitab menyatakan bahwa orang bijak adalah orang yang mendengar Firman dan mengetahuinya kemudian melakukannya, sedangkan orang bodoh adalah sebaliknya. Sebagai seorang Kristen, tentunya kita lebih banyak tahu ‘sesuatu’ dibanding orang lain, namun sayangnya kita tidak melakukan apa yang kita tahu itu. Berhentilah dari kebodohan kita dan berusahalah untuk melakukan hal yang bijaksana!
  3. Tuhan ingin kita berani menghadapi kenyataan hidup karena hidup itu nyata (semua orang mengalaminya). Doa dan persekutuan yang intim dengan Tuhan adalah kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup ini. Kita harus berani menghadapi kenyataan hidup karena Tuhan menyertai kita hari ini (Tuhan adalah Allah Immanuel).
  4. Perhatikan hal yang tidak terlihat dalam hidup kita karena seringkali hal yang tidak terlihat mempengaruhi hal yang terlihat. Kekuatan manusia terletak di dalam hati sebagai hasil dari persekutuannya dengan Tuhan (hal-hal yang rohani), bukan dari keadaan fisik/jasmaninya secara lahiriah/visual seperti yang dunia ajarkan. Kunci dari wajah Daud yang bersinar yaitu karena setiap hari ia berdoa “Tuhan selidikilah hatiku”, Daud tidak ingin hatinya tercemar oleh hal yang tidak baik. Kita akan mampu melakukan kebenaran jika hati kita bersih karena Firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.