Hamba Yang Dapat Dipercaya

Tahun Ayin Zayin melambangkan pedang. Pedang memiliki 2 sisi, secara profetik berbicara tentang: sisi peperangan & sisi belas kasih. Penyangga pedang adalah pujian penyembahan kita, sedangkan sarung pedangnya adalah tudung kasih karunia Tuhan (mercy seat).

Berjaga-jaga itu sifatnya aktif (menyerang), bukan pasif (sikap siaga, menunggu diserang). Kita harus aktif dalam doa-doa kita.

Apa yang sudah kita mulai dalam Roh, harus diteruskan dalam Roh juga. Jika tidak, berarti kita sedang berjalan dalam kedagingan. Ini memerlukan kesetiaan.

Para pemimpin doa harus membangkitkan pasukan doa!

1 Korintus 4:1-2  Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai

Bagaimana agar kita semakin hari semakin dapat dipercayai oleh Tuhan?

  1. Setia pada perkara kecil, di sinilah waktunya Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk melakukan hal besar. Lukas 16:10  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Matius 25:23  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 
  2. Bertanggung jawab. 1 Tawarikh 9:26-27  sedang keempat kepala penunggu pintu gerbang itu memegang jabatan tetap. Mereka adalah orang Lewi dan mengawasi bilik-bilik serta perbendaharaan rumah Allah. Mereka bermalam di sekitar rumah Allah itu sebab mereka bertanggung jawab atas penjagaan dan harus membuka pintu setiap pagi.
  3. Berkomitmen terhadap Tuhan. Amos 3:3  Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji? Kita tidak bisa berjalan selaras dengan Tuhan tanpa komitmen apapun yang terjadi tetap mengikut Tuhan.
  4. Mau bayar harga untuk Tuhan. Semakin kita banyak bayar harga bagi Tuhan, maka semakin besar pula berkat yang kita dapat dari Tuhan. Amsal 28:20a  Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat.

Kita harus doakan:

  • “Nikodemus” (=para pemimpin orang Farisi yang memiliki rasa keingintahuan tentang Kristus). Kita harus terbuka tentang Kristus jika suatu saat “Nikodemus” ini mau membahasnya bersama kita dan menyambut mereka dengan baik. Suatu saat ketika terjadi penganiayaan terhadap orang Kristen, Tuhan bisa pakai mereka untuk membela kita sebab mereka “terpandang” di mata manusia. [Baca Yoh. 3:1-2, Yoh. 7:42-52, Yoh. 19:38-39]
  • Orang-orang yang mendapat “second chance” (kesempatan kedua untuk hidup kembali) dari Tuhan agar mereka bisa mengenal Kristus terlebih dahulu sebelum meninggal.
Advertisements

Menanti-nantikan Tuhan

​Yesaya 40:30-31  Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. 

Hal yang harus kita lakukan agar menerima mujizat Tuhan adalah terus menanti-nantikan Tuhan.

Belajar dari burung rajawali: Burung rajawali hanya perlu mengepakan sayapnya selama 2 menit untuk dapat terbang selama 1 jam tanpa mengepakan sayapnya. Maknanya, kita perlu minimal 48 menit saat teduh bersama Tuhan untuk kuat menjalani aktifitas selama 24 jam. Semakin banyak kita intim dengan Tuhan, semakin dahsyatlah kekuatan kita!

Mazmur 130:5-6  Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. 

Kita harus memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan maka tentulah kita bisa setia menunggu “keterlambatan Tuhan” dan takkan menyia-nyiakan waktu.

Mazmur 37:34  Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan. 

Kedisiplinan Tentara Allah / Pasukan Doa

1 Kor 9:27 But (like a boxer) I buffet my body (handle it roughly), DISCIPLINE it by hardships and subdue it.

“Supaya……….jangan aku sendiri ditolak” (Yun. ADOKIMOS = gagal dalam ujian; kehilangan pahala pelayanan dan keselamatan.
Contoh: keluarga Imam Eli (1 Sam 2:11, 1 Sam 4:21)

Disiplin adalah mutlak bagi seorang Tentara untuk menang.
Arti disiplin (discipline) Yun. Hupopiazo : to beat = memukul untuk menaklukannya, ketertiban, menghukum (untuk kebaikan/mendidik).

Mengapa?
– Tunduk/takluk/disiplin pada Allah baru melawan iblis
(Yakobus 4:7)
– Roh memang penurut tapi daging lemah (Matius 26:41)
– Sebab yang lahir baru hanya roh sedangkan jiwa dan tubuh tidak, karenanya jiwa dan tubuh harus dikuasai Roh Kudus melalui roh yang sudah lahir baru
– Keselamatan adalah pemberian/anugrah tetapi menjadi Tentara adalah pembentukan/ada proses dan harga yang harus dibayar untuk itu (2 Timotius 2:3)
– Persyaratan Pasukan Anak Domba (Wahyu 14:1-5, Wahyu 19:8)

Bagaimana?
– Penyangkalan diri dan menyalibkan kedagingan setiap hari (Lukas 9:23)
– Dengan kuasa Roh Kudus (Roma 8:13)
– Tinggal dalam Firman Allah melalui persekutuan dan ketaatan (Yohanes 8:31-32)
– Tidak memberi kesempatan (tidak buka celah) bagi iblis (Efesus 4:27), tolak dosa sejak dini (Kejadian 4:6-7) sebab makin lama makin “kuat menggoda” kedagingan (Yakobus 1:13-15)
– Latihan ibadah (1 Timotius 4:7-8) melalui: kehidupan doa pribadi, mezbah keluarga (Yosua 24:15), juga ibadah bersama untuk menerima pengurapan, arahan dan impartasi (Mazmur 133)
– Fokus/konsentrasi pada instruksi Komandan, visi, tugas dan tanggung jawab, jaga hati dan pikiran (Filipi 2:5)

Hasil?
– Kebiasaan disiplin akan menjadi karakter (Ibrani 12:10-11)
– Karakter Kristus adalah ukuran kekuatan dan kedewasaan Kristen (Amsal 16:32, 1 Korintus 13)
– Peka (Yesaya 50:4) → menang karena bergerak “tepat” waktunya (1 Tawarikh 14:8-17, Mazmur 5:4)
– Berkenan kepada komandan (2 Timotius 2:4), akibatnya diberi kepercayaan yang lebih besar
– Menang sampai garis akhir (2 Timotius 4:6-8)

Siapakah Tuhan Kita?

Daniel 11:32  Dan orang-orang yang berlaku fasik terhadap Perjanjian akan dibujuknya sampai murtad dengan kata-kata licin; tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.

Apakah kita benar-benar mengenal “Gembala” kita? Gembala mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Gembalanya. Gembala kita itu:
1) Yehova Shikenu (Tuhan kebenaran kita). Tak perlu mencari pembelaan atau berusaha membuktikan kebenaran karena Tuhan yang akan menyatakan kebenaran itu.
2) Yehova Shalom (Tuhan damai sejahtera kita). Kemanapun Tuhan utus kita, kita percaya Ia yang menyertai kita, tak perlu kita takut dengan keadaan sekeliling kita.
3) Yehova Emkadesh (Tuhan yang menyucikan kita). Jika ada dosa, kita harus cepat membereskannya di hadapan Tuhan tanpa perlu membela diri di hadapan-Nya.
4) Yehova Shama (Tuhan ada di hati kita). Roh Kudus ada di hati kita.
5) Yehova Rapha (Tuhan penyembuh kita). Kita harus disiplin dalam roh juga dalam tubuh dan jiwa kita. Jangan salahkan Tuhan jika kita sakit karena kita tidak memelihara tubuh kita.
6) Yehova Jireh (Tuhan penyedia kita). Tuhan menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan, Ia tidak akan membiarkan kita.
7) Yehova Rohi (Tuhan gembala kita). Tuhan adalah gembala kita, penuntun kita hidup kepada kebenaran.
8) Yehova Nissi (Tuhan panji kita). Tuhan selalu memberi kemenangan kepada kita. Yesus selalu berkemenangan dalam hidup-Nya meski sangat disakiti tetapi Ia selalu memberkati orang-orang yang menganiaya-Nya karena Ia percaya kemenangan-Nya dimulai dari Roh-Nya yang mau mengampuni.

Kita tidak boleh meragukan identitas sejati Gembala kita.

DOA

Matius 6:6  Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Tidak ada satupun kegerakan tanpa diawali dengan doa. Ibadah-ibadah kita tidak akan berkuasa jika tidak ada pasukan-pasukan yang mau berkorban “membayar dengan doa”. Persiapan doa itu bukan saja saat PIR tetapi dari sejak waktu-waktu pribadi kita di tempat tersembunyi bersama Tuhan (ketika orang lain tidak ada yang melihat, tidak ada yang tahu). Upah yang spesial akan Tuhan beri ketika kita mengorbankan waktu untuk berdoa khusus dan menjadikannya sebagai gaya hidup yang konsisten dan disiplin. Kerinduan setiap kita untuk menjadi pendoa syafaat dan dibarengi dengan kedisiplinan pasti mendatangkan perkenanan Tuhan. Percuma banyak pendoa syafaat tetapi tak memiliki hati untuk berkorban dalam doa.

Matius 21:12-17  (Perikop: Yesus Menyucikan Bait Allah) Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!” hati mereka sangat jengkel, lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?” Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.

Kita memiliki visi sebagai prajurit Tuhan yang tidak memusingkan persoalan hidupnya. Jika kita masih memusingkan persoalan-persoalan kehidupan, kita tidak akan mengalami kelimpahan. Tuhan sangat mengetahui kebutuhan kita, karenanya tak perlu kuatir akan itu. Tetapi ambilah yang terpenting, yaitu sebagai rumah doa. Ketika kita memilih untuk bersyafaat dibandingkan memusingkan persoalan pribadi, ada kuasa Allah yang dahsyat bekerja di dalam kita dan yang terpenting adalah ketika orang lain mengakui ada Allah dalam diri kita karena kehidupan kita yang memuliakan Allah.

Tuhan Yesus memberi teladan terbaik bagi kita, yaitu selalu berdoa siang dan malam, bahkan sebelum kematian-Nya pun Ia berdoa. Kitapun harus disiplin menambahkan jam-jam doa kita dan selalu mencari Tuhan sebelum memulai apapun juga setiap harinya. Perjalanan hidup Yesus sebagai pendoa syafaat adalah perjalanan penuh kemenangan, Ia tidak pernah dikalahkan oleh apapun juga, termasuk persoalan hidup-Nya. Urapan doa kita terima bukan dari pemimpin rohani tetapi impartasi langsung dari Tuhan.

Pelayan Tersembunyi

Kita perlu hidup seimbang agar kondisi tubuh, jiwa dan roh kita pun tetap prima. Ingat yg Ps. Jacob Curien sampaikan saat Diklat Upgrading yang lalu? Tuhan menghendaki kita tetap sehat, karena jika tubuh kita letih dan sakit, pasti jiwa kita terpengaruh sakit dan roh pun menjadi lemah. Kita harus terus memiliki ‘spiritual refreshing’ agar terus kuat, karena tak ada sumber kekuatan lain selain di waktu-waktu bersama Tuhan..

Tuhan ingatkan saya dengan satu kata “kecil” di hadapan Tuhan. Kita harus perhatikan hal-hal yang kecil. Sebuah batu kecil di tangan Daud dapat mengalahkan Goliat yang besar, sebuah tongkat kecil di tangan Musa dapat membelah lautan luas. Ingat, hal-hal kecil di tangan kita yang kita serahkan kepada Tuhan pasti dapat menjadi dahsyat bagi kemuliaan Tuhan. Begitu juga mengapa kita sebagai pendoa syafaat tampak “kecil”, sangat “tersembunyi” dari orang lain. Karena waktu kita ‘tak terlihat’, manusia dan iblis pun tak memperhatikan doa-doa kita, kita hanya menyerahkan doa-doa tersebut kepada Tuhan dan Tuhan mendengar doa-doa tersebut meskipun menurut kita hal tersebut hanyalah sebuah kata-kata biasa. Namun Tuhan sanggup mengubahkan “doa-doa biasa” itu menjadi hal yang besar, berdampak besar bagi orang-orang yang kita topang. Kita diibaratkan pondasi sebuah gedung, yang mana makin tinggi gedungnya makin dalam pondasinya dan tidak terlihat karena dibangun ke bawah. Iblis selalu berusaha menjatuhkan hamba-hamba Tuhan “yang terlihat di hadapan manusia”, karena hamba-hamba Tuhan tersebut “dianggap besar” sehingga jika mereka jatuh, berdampak pada kehidupan banyak orang-orang yang melihat mereka. Karenanya hati-hatilah jika kita sudah berkeinginan “tampil depan umum”, hati-hati ketika kita “diangkat”. Daud sanggup mengalahkan Goliat dengan batu kecil, ketika ia sederhana. Musa yang tdk petah lidah pun menggunakan tongkatnya untuk membelah lautan. Tetapi apa yg Daud lakukan ketika ia diangkat Tuhan menjadi raja? Daud jatuh dalam dosa bersama Batsyeba. Musa pun tidak diperkenankan Tuhan masuk tanah perjanjian karena berdosa dengan memukulkan tongkatnya ke batu.

Jujur, saya semakin tahun semakin memohon di hadapan Tuhan: “Tuhan tolong terus sembunyikan saya”.  Semakin Tuhan angkat jabatan saya, semakin saya harus banyak tampil di muka umum, sejujurnya itu sangat menjadi beban bagi saya. Saya rindu agar kita sebagai pendoa syafaat tidak perlu dimunculkan di depan umum.

Melayani & Tidak Ditolak

Kita percaya bahwa ada orang yang terlebih dahulu mendoakan kita sehingga kita bisa mengenal Tuhan sekarang, maka kita pun “berhutang doa” untuk mendoakan keselamatan orang lain.

Mazmur 4:6 Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!

Persembahan yang “benar” bukan sekedar persembahan yang “baik”. Kita bisa “menipu” orang lain dengan ibadah-ibadah kita yang terlihat baik tetapi Tuhan yang tahu hati kita yang menilai apakah ibadah kita “benar” atau tidak di hadapan-Nya.

1 Korintus 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Karunia rohani dari Tuhan kepada kita, tidak akan Ia ambil kembali. Kita mungkin masih bisa “melakukan mujizat” (contoh: karunia kesembuhan) meski kita sedang berdosa. Mengapa? Karena Tuhan melihat “pasien” (orang-orang yang harus disembuhkan), bukan melihat kita (hamba yang dipercayakan karunia kesembuhan meski sedang berdosa). Tuhan pun bisa saja memakai batu, minyak, air atau benda lain untuk menyembuhkan orang. Jangan kira setelah kita banyak melakukan mujizat dan perkara-perkara besar, lalu kita akan masuk surga. Tuhan tetap melihat karakter hati kita, jangan sampai setelah banyak membawa jiwa bagi Tuhan lalu kita sendiri ditolak Tuhan.

Pesan Tuhan melalui Pak Tonny saat mengajar di Proskuneo beberapa hari lalu:
“Camkan anak-Ku, Aku perlu “angka kegenapan”. Aku percayakan kalian (para pendoa syafaat) sebagai angka kegenapan-Ku. Angka kegenapan itu seharusnya penuh, tetapi menjadi tidak penuh karena kalian sendiri.”
Maksudnya: Tuhan begitu menanti setiap kita dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah. Misal, harga 1 barang adalah 1.000.000 tetapi karena uang yang kita miliki hanya 999.000, maka tetap saja kita tidak bisa membeli barang tersebut. Hal ini terjadi ketika kita berkata “Gak apa-apa, saya ijin pir, saya ga datang pertemuan, gak apa-apa…karena masih banyak yang lain yang hadir. Gak ada saya juga gak apa-apa. Nanti saya bisa beli DVD kotbahnya atau menunggu ringkasan kotbahnya saja.” Nah, karena “ulah kita” yang seperti inilah angka kegenapan yang Tuhan kehendaki tidak tergenapi dan sadarilah betapa kita sangat mendukakan Tuhan karena hal ini. Mari kita sebagai pendoa syafaat “menaikkan standar” ibadah kita di hadapan Tuhan. Ibadah pada Tuhan karena ingin mendekat pada-Nya, menghargai hubungan kita dengan-Nya, tanpa motivasi lain, atau karena “paksaan absen”. Apakah karakter mempelai Kristus itu ada pada kita? Biarlah kita siap kapan pun rapture tiba, meskipun mendadak.

INTROSPEKSI DIRI & BERTOBAT MENGEJAR STANDAR RAPTURE

Matius 21:12-13 (Perikop: Yesus Menyucikan Bait Allah)
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di HALAMAN Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Bait Allah terdiri dari Ruang Maha Kudus, Ruang Kudus & Pelataran (halaman). Bait Allah adalah tubuh kita yang terdiri dari Roh (Ruang Maha Kudus), Jiwa (Ruang Kudus) & Tubuh (Pelataran). Tahun 2016 adalah Tahun Rahmat Tuhan, Tahun Pembebasan Seutuhnya. Tuhan benar-benar ingin membebaskan kita dari segala hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya, bukan hanya dalam Roh kita tetapi dalam jiwa dan bahkan tubuh kita. Tuhan begitu memperhatikannya karena Tuhan ingin kita benar-benar kudus sesuai “standar rapture”-Nya Tuhan, bukan sekedar menjadi Kristen biasa.

Tubuh kita (Pelataran Bait Allah) hrs kudus dari perilaku-perilaku dosa, misal: mata digunakan melihat hal yang tidak senonoh, mulut memperkatakan hal yang sia-sia, telinga yang mendengarkan gosip, dan tangan utk melukai sesama. Standar Tuhan itu: Roh, Jiwa & Tubuh kita kudus sempurna, barulah kita layak rapture (Rm 12:1-2). Kita tidak bisa main-main lagi melakukan apa yang dunia anggap “biasa”, karena standar hidup kita adalah seperti standar Kristus hidup. Jangan lagi ada noda kekafiran (2 Korintus 6:11-18).

Tahun ini jg adalah Tahun Goncangan bagi semua umat manusia, baik yang mengenal Tuhan maupun yang tidak. Tahun ini adalah Tahun Peperangan Rohani yang dahsyat.  Paradigma/cara berpikir kita harus berubah: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33) Jangan menjadi pendoa syafaat yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Introspeksi diri sendiri dulu sebelum menghakimi orang lain.