The Last Giants

Ciri-ciri raksasa dalam kehidupan:

  1. Terlampau sukar untuk dapat dihadapi
  2. Merasa tidak punya kekuatan untuk menang
  3. Dihadapi dalam kurun waktu periode lama bahkan tidak menentu kapan berakhir
  4. Membuat tawar hati dan cemas

Apakah Goliat adalah raksasa bagi Daud? 1 Samuel 17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Daud menghadapi raksasa yang sesungguhnya, yaitu Saul (bukan Goliat). 1 Samuel 19:2 sehingga Yonatan memberitahukan kepada Daud: “Ayahku Saul berikhtiar untuk membunuh engkau; oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana. 1 Samuel 18:11 Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: “Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding.” Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali.

Kunci Daud menghadapi raksasa kehidupan, yaitu:

  1. Carilah habitat yang tepat. 1 Samuel 19:18 Setelah Daud melarikan diri dan luput, sampailah ia kepada Samuel di Rama dan memberitahukan kepadanya segala yang dilakukan Saul kepadanya. Kemudian pergilah ia bersama-sama dengan Samuel dan tinggallah mereka di Nayot [=habitat, Ibr.]. Habitat adalah tempat tinggal yang punya ke-khasan tertentu. Perhatikan habitat kita selama menghadapi raksasa kehidupan, yaitu habitat yang memberi dampak positif bagi kita.
  2. Carilah keadilan dari Allah (bukan manusia). 1 Samuel 22:1 Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Adulam diambil dari kata ‘adlay’ yang artinya adalah keadilan dari Allah Israel.
  3. Carilah tempat perlindungan. 1 Samuel 23:14 Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya. Padang gurun identik dengan proses kehidupan, namun tidak semua padang gurun bermakna demikian. Zif artinya battlement (menara yang berada di benteng pertahanan yang digunakan untuk menembaki musuh). Perlengkapan senjata Allah memiliki 2 fungsi, yaitu untuk bertahan dan menyerang (Efesus 6:13-18). Ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan untuk memberitakan Injil, perisai iman dan ketopong keselamatan merupakan senjata untuk bertahan dari serangan iblis. Sedangkan senjata untuk menyerang iblis adalah pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doa kita dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.
  4. Carilah En-Gedi. 1 Samuel 24:1-5 Daud pergi dari sana, lalu tinggal di kubu-kubu gunung di En-Gedi. Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: “Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi.” Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan. Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu. Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan Tuhan kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik. “Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Ada raksasa kehidupan yang akhirnya terkalahkan, namun ada pula raksasa kehidupan yang masih belum bisa disingkirkan dari kehidupan kita. Percayalah bahwa dengan adanya raksasa kehidupan tersebut, justru kita semakin dekat dengan Tuhan hingga pada saatnya nanti raksasa kehidupan tersebut tersingkir sendirinya dari kehidupan kita. Bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Advertisements

Coincidence: Myth Or Fact? (Suatu Kebetulan Apakah Mitos Atau Fakta?)

Rencana Tuhan begitu panjang dan besar maka kita tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan suatu momen tertentu yang singkat. Jangan terlalu cepat menilai Tuhan sebab masa depan kita belum selesai!

Rut 2:3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.

Kata “kebetulan” hanya muncul 1 kali di Perjanjian Lama dan 11 kali di Perjanjian Baru, yang mana dalam Bahasa Ibrani menggunakan kata “miqreh” yang memiliki 2 arti: (1) kecelakaan/kemalangan/sial, (2) kesempatan/keberuntungan. Ini bukan suatu keadaan melainkan cara pandang kita dalam menghadapi suatu masalah apakah hal tsb merupakan kesialan atau sebuah keberuntungan bagi kita.

Kata dasar miqreh adalah sugkuria [Yun.] yang terdiri dari 2 kata: sun (dengan/disempurnakan) & kurios (supreme/tuan tertinggi). Jadi, kebetulan artinya dengan peran Tuhan atau disempurnakan oleh kuasa tertinggi yaitu Tuhan.

Kejadian 50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Nasib sial yang menimpa hidup Rut bukanlah kebetulan, sebab pada akhirnya Tuhan merencanakan kelahiran Sang Juruselamat dunia melalui Rut!

Nasib sial bisa disebabkan karena kesalahan pilihan kita sebagai manusia (keluar dari rencana Allah sehingga langsung diterkam Iblis) atau rekayasa Iblis agar menghancurkan hidup manusia. Lalu bagaimana jika sudah terjadi demikian? Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja (work together) dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (kita dan Allah bekerja sama).

Kunci supaya Tuhan turut bekerja yaitu:

  1. Mengasihi Allah, yaitu selalu ingin menyenangkan hati Allah. Segala yang kita lakukan kita takar dengan standar memberi yang terbaik untuk Allah.
  2. Hidup dalam panggilan (rencana Allah). Untuk menghidupi panggilan itu sebuah pilihan, untuk hidup ikuti rencana Allah juga sebuah keputusan. Note: setiap orang punya panggilan masing-masing yang tidak dapat disamakan satu sama lain.

Mazmur 139:13-14 Sebab Engkaulah yang membentuk (=sudah dimiliki, dibayar lunas) buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; (=dibuat unik) ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Sekalipun dunia membuang kita, namun Allah memandang kita berharga sehingga Ia menebus kita dengan lunas maka tentu kita diciptakan bukan karena suatu kebetulan!

Bagaimana dari sebuah kebetulan menjadi sebuah kesempatan?

  1. Hati yang positif.
  2. Hati yang bersyukur.
  3. Hati yang berserah.

Ketenangan Yang Sejati

Dari tahun 5776 ke 5777; angka 6 (angka manusia) berubah menjadi 7 (angka Sabath). Maknanya, di tahun 5777 ini kita tak bisa lagi mengandalkan kekuatan manusia, melainkan kekuatan Allah dengan banyak berdiam diri di dalam-Nya (Sabath). Tahun 5777 

Janji berkat triple 7 di tahun 5777, yaitu:

a) Janji pemulihan kehidupan & janji pasti masuk surga

Ibrani 4:1  Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya (rest, Yunani: katapausis) masih berlaku.
b) Janji ketenangan di tengah goncangan

Ibrani 4:9  Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, (rest, Yunani: sabbatismos) hari ketujuh, bagi umat Allah. 
Sabbatismos yaitu istirahat yang penuh berkat dari segala kepenatan di mana hal ini dicari oleh para penyembah-penyembah yang benar.

Hal yang harus kita lakukan untuk mendapatkan ‘sabbatismos’ yaitu:

1) Memilih untuk taat meskipun tidak mengerti, bagaimanapun keadaannya. Taat adalah keputusan, bukan karena keadaan. Ibrani 4:6  Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka.

2) Mendengar suara Tuhan. Ibrani 4:7  Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu “hari ini”, ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: “Pada hari ini, jika kamu mendengar [memberi perhatian & waktu khusus] suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” Kita harus belajar mendengar suara Tuhan melalui pembacaan Alkitab dan berkomunikasi dengan Roh Kudus di batin kita secara intensif. Tuhan menuntun kita untuk berjalan di jalan yang tepat agar kita tidak harus melalui jalan yang ‘tidak perlu’.

3) Melembutkan hati. Ibrani 4:7 …janganlah keraskan hatimu!” Dari respon kita dalam menghadapi masalah, akan terlihat ‘kapasitas kelayakan’ kita untuk terima berkat Tuhan. Kita harus jeli melihat keadaan zaman, jangan terjebak! Jalan Tuhan pasti membawa kita kepada kehidupan, bukan berujung maut.

Rileks

Shalom!
Rileks dalam konteks ini adalah mengambil satu langkah mundur dari segala kesibukan kita agar kita bisa berdoa dan melihat kebesaran Tuhan dalam hidup kita. Lukas 12:29 berkata “Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu.” Mazmur 116:7-9 berkata “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu. Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung. Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup.” Kita harus masuk dalam masa perhentian agar kita tidak terlena/sibuk dengan segala mujizat Tuhan, melainkan melakukan satu langkah maksimal yang menuju kepada kemenangan. “Tetapi carilah [berasal dari kata ‘zeteo’ yang berarti merendahkan hati dan menyembah Tuhan dengan segenap hati] Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” (Lukas 12:31) Kerajaan Allah berbicara tentang ‘merendam diri’ di:
a) God reality (kebenaran Allah), yaitu semua yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Realitas Allah dan realitas manusia sering kali bertolak belakang, tetapi kita harus tetap berpegang teguh kepada Firman Tuhan. Jadi, ‘rendam’ diri kita di tempat yang sesuai dengan Firman Tuhan.
b) God initiative (inisiatif Allah), yaitu sesuatu yang Allah lakukan tanpa paksaan. Inisiatif Allah harus ada dalam diri kita sebagai pengikut Kristus, dan inisiatif itu adalah memberi tanpa pamrih (memiliki kasih tanpa syarat). Tidak setiap saat kesempatan untuk berbuat baik itu datang bagi kita, tetapi maukah kita berbuat baik ketika kesempatan itu datang? Kita harus menunjukan inisiatif Allah kepada sesama kita.
c) God provisions (ketetapan Allah dan penyediaan Allah). Ketetapan Allah terdiri dari: a) Ketetapan umum adalah perintah-perintah Allah kepada semua orang; b) Ketetapan khusus, yaitu ketetapan yang khusus diberikan oleh Tuhan kepada orang-orang tertentu yang mana jika orang tersebut keluar dari ketetapan tersebut maka ia akan berada di luar jaminan perlindungan Tuhan. Berfokus kepada masalah berarti kita sedang menyembah masalah. Ketika kita sungguh-sungguh fokus kepada Tuhan (bukan fokus kepada berkat Tuhan atau masalah), maka Tuhan akan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib dan lebih tinggi dari yang dapat kita doakan atau pikirkan. Roma 4:19 berkata ”Imannya tidak menjadi lemah [bersikap skeptis: mengecilkan janji Tuhan dan membesar-besarkan masalah], walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup” Tuhan adalah Tuhan yang penuh dengan kemustahilan, biarlah kita tetap merendam diri kita dalam hadirat Tuhan dan menikmati kasih-Nya.

Bagaimana Cara Tuhan Mengajar Seorang Yang Seperti Bileam

Bileam adalah salah satu nabi Allah, tetapi ia berasal dari Mesopotamia dan tidak tinggal di Israel. Bilangan 22:12-20  Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam: “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” Lalu berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai kepada Balak, berkatalah mereka: “Bileam menolak datang bersama-sama dengan kami.” Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. Setelah mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka kepadanya: “Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang kepadaku,
sebab aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apa pun yang kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.” Tetapi Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai Balak: “Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. Oleh sebab itu, baiklah kamu pun tinggal di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.” Datanglah Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: “Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.” Bileam menyembah Yehovah (Allah atas bangsa Israel) tetapi ia diperintahkan Balak untuk mengutuk Israel. Bileam memang peka akan suara Tuhan tetapi dalam hatinya, ia berniat untuk bernegosiasi dengan Tuhan setelah ditawarkan sebuah pemberian yang mewah oleh Balak. Bilangan 22:22  Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia. Tuhan melihat hati kita, kita tak mungkin dapat membohongi Tuhan. Ketika kita bertanya kepada Tuhan, tunggulah sampai Tuhan menjawab, jangan langsung ambil tindakan sendiri. Tiga hal yang Tuhan lakukan untuk mengajar orang-orang seperti Bileam yang hati dan perkataannya tidak sesuai, yaitu:
1) Bilangan 22:23  Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan. Ini adalah tempat dataran yang sangat luas dan tidak ada dinamika dalam kehidupannya, yaitu hanya stagnasi yang ada. Ketika hal ini terjadi, segeralah berdiam diri dan mencari Tuhan karena mungkin saja apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
2) Bilangan 22:24-25  Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. Ketika kita masih tidak berbalik dari jalan kita yang jahat, maka Tuhan akan menimpa kita dengan kesakitan agar kita bertobat.
3) Bilangan 22:26-27  Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. Terakhir, jika kita tetap bersikeras dengan kehendak kita yang berlawanan dengan kehendak Tuhan, Tuhan akan menekan kita sampai tidak memiliki jalan keluar. Kerendahan hati adalah titik awal pemulihan hidup kita kepada Tuhan, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah menyerah kepada Tuhan tanpa menyalahkan siapapun.

Berjalan Dalam Kuasa Menghadapi Tahun Double Blessing

Efesus 3:20 “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita”
Shalom! Kita harus berjalan dalam kuasa Tuhan, bukan saja sekedar berjalan dalam berkat Tuhan. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”” (1 Korintus 2:9) 1 Raja-Raja 19:19 berkata “Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.” Jubah berbicara mengenai sebuah ‘status’ (prestige) pada saat itu. Ketika kita belum menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat kita, kita bukanlah siapa-siapa. Setelah kita menerima-Nya dalam hati kita, barulah kita lahir baru…kita menerima ‘status’ tetapi kebanyakan dari kita masih belum ‘maksimal’ menjalani kehidupan yang penuh berkat bersama Tuhan. Kejadian 4:16 berkata “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.” Cain left the presence of God (MSG), kata ‘presence of God’ arti dalam bahasa aslinya adalah ‘menjadi tertuduh’. Ketika kita merasa tertuduh dan tidak layak di hadapan Tuhan, berarti kita sedang jauh dari hadirat Tuhan. Satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah kembali masuk dalam hadirat Tuhan. 2 Raja-Raja 2:12-14 berkata “Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan. Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah TUHAN, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa.” Bagaimana agar kita menjadi seperti Elisa yang berjalan dalam kuasa Elia seperti yang dimintanya dalam 2 Raja-Raja 2:9-10 “Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” [double blessing] Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.”” Jaga perkataan. 2 Raja-Raja 2:5 berkata “Pada waktu itu mendekatlah rombongan nabi yang ada di Yerikho kepada Elisa serta berkata kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!” [be silent]” Kita harus menjaga perkataan kita agar kita menjaga perdamaian dengan semua orang. Tahun ini, akan semakin banyak perkataan-perkataan orang lain yang tidak mengenakan kita namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita menghadapinya. Kita harus berhati-hati dengan perkataan kita agar tidak ‘terlanjur menyakiti’ orang lain. Jaga komitmen. 2 Raja-Raja 2:6 berkata “Berkatalah Elia kepadanya: “Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan.” Jawabnya: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu berjalanlah keduanya.” Kebaikan hidup yang kita alami sekarang semata-mata hanya karena anugerah Tuhan, bukan karena kebaikan kita. Namun, jangan anggap hal tersebut ‘biasa’ sehingga kita menganggap hubungan dengan Tuhan ‘terlalu biasa’. Tahun ini, kita harus perbaiki komitmen kita kepada Tuhan. Introspeksi dirilah dan perhatikan komitmen kita yang dulu pernah kita ucapkan kepada Tuhan. Kita harus mempertahankan komitmen kita kepada Tuhan. Berani bayar harga: berani diberkati berarti berani diproses. 2 Raja-Raja 2:7 berkata “Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungai Yordan.” Multiplikasi mujizat diiringi dengan multiplikasi goncangan juga, semua orang terkena goncangan. Hal yang membedakan umat Tuhan dan yang bukan hanyalah sikap mereka dalam menghadapi goncangan, dimana goncangan bagi umat Tuhan pasti akan membuat kita semakin intim dengan Tuhan sedangkan goncangan bagi orang yang tak percaya Tuhan pasti benar-benar malapetaka bagi yang mengalaminya. Kita harus sungguh-sungguh serius mengikuti Tuhan, tidak menyimpang sedikitpun. 1 Korintus 15:45-47 “Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.” Tanpa Tuhan, hidup kita akan binasa. Sekarang, apakah kita menghidupi manusia Roh kita atau manusia daging?

Kepahitan

Kepahitan adalah rasa yang tidak menyenangkan hati, menyusahkan hati dan menyedihkan.

Akar pahit timbul dari…

1)    Kesedihan, amarah dan pertikaian yang terus-menerus (2 Samuel 2:26)

2)    Dendam, perasaan disakiti dan dipermalukan (2 Samuel 3:27)

3)    Saat kita berhenti berharap kepada Tuhan

Akar pahit akan menimbulkan…

a)    Pikiran negatif (2 Samuel 3:25)

b)    Sikap bosan hidup (Ayub 10:1)

c)    Keteledoran dalam berbicara sehingga kehilangan janji Tuhan (Mazmur 106:32-33)

d)    Akar dari sakit penyakit

Jika kita adalah seorang murid Kristus, maka kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6) dengan menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5).

So guys, belajarlah untuk selalu melihat kelebihan seseorang sehingga diri kita pun menjadi lebih positif, karena terlalu berfokus kepada kekurangan seseorang hanya akan membuat kita tidak puas dengan orang tersebut dan menimbulkan kepahitan yang berdampak buruk bagi diri kita sendiri.