Partnership Allah Dan Manusia

KEJADIAN MANUSIA

Kejadian 1:26-28 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Kita diciptakan seturut gambar Allah maka jika kita hendak melihat Allah, lihatlah kepada diri sendiri. Setiap ciptaan Tuhan didesain untuk sukses masing-masing sesuai tujuan Tuhan atasnya (bukan untuk rusak/gagal). Analogikan seperti handphone, setiap handphone disertai manual book yang mencatatkan bila terjadi kerusakan harus dibawa ke service center resmi (tidak boleh dibongkar sendiri). Jika kita bersikeras memperbaiki sendiri dan berujung kegagalan, mungkin saja kita menyalahkan produsen handphone tsb (sehingga merusak citra produsen). Demikian juga kita bila ‘sedang rusak’ maka harus diperbaiki oleh Sang Pencipta, tentu hidup akan semakin ruwet ketika kita berusaha memperbaiki diri dengan cara manusia (sehingga tidak memuliakan nama Tuhan). Seperti produsen handphone memberikan manual book agar handphone tsb berfungsi sesuai desainnya (sehingga citra produsen terjaga), demikian juga Tuhan memerintahkan kita untuk mentaati manual book kehidupan (yaitu Alkitab) agar kita dapat berfungsi sesuai maksud penciptaan Tuhan (sehingga nama Tuhan tetap mulia). Handphone didesain untuk menyukseskan komunikasi, ikan didesain untuk sukses berenang, burung didesain untuk sukses terbang (tentu akan gagal jika ikan hendak terbang, ataupun burung hendak berenang). Demikian juga jauh sebelum kita dilahirkan, Tuhan telah selesai mendesain kita semata-mata untuk sukses memuliakan nama-Nya.

Kejadian 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Jadi, manusia adalah persatuan antara debu tanah dan Roh Allah. Kata “manusia” berasal dari kata “humus”, sehingga dalam bahasa Inggris tertulis “human”, dengan kata sifat “humble” (rendah hati). Maknanya, hanya orang-orang yang rendah hatilah yang akan dihembusi nafas hidup (Roh Allah). Dengan menciptakan manusia dari debu tanah, berarti Allah telah melegalkan manusia untuk memiliki otoritas penuh atas seluruh bumi. Maka Allah tidak lagi berotoritas atas bumi, namun Allah tetap memiliki kuasa dahsyat yang tidak dimiliki oleh manusia. Karena itulah Allah dan manusia harus bermitra (partnership). Allah sangat membutuhkan manusia sebab tanpa manusia, kuasa Allah tidak dapat dinyatakan di bumi. Kita sangat penting bagi Allah demi mewujudkan rencana-Nya atas bumi.

PARTNER ALLAH

Tuhan adalah Roh, sedangkan bumi tercipta secara fisik (jasmaniah); maka Tuhan memerlukan ‘perantara secara jasmani’ ketika Tuhan hendak berurusan dengan bumi, yaitu manusia. Tuhan tidak serta merta melakukan rencana-Nya atas bumi seperti sulap karena otoritas atas bumi sudah diberikan sepenuhnya kepada manusia, maka Tuhan memerlukan ‘izin’ dari manusia untuk berperkara atas bumi. Ketika kita berkata, “Ya” (=berdoa) barulah surga bekerja. Contoh: ketika Tuhan hendak menyeberangkan bangsa Israel melalui Laut Teberau, Tuhan menghendaki agar Harun memukulkan tongkatnya di tepi sungai terlebih dahulu, juga ketika Tuhan hendak menyatukan kembali Laut Teberau saat pasukan Mesir mengejar bangsa Israel, Harun harus memukulkan tongkatnya kembali – barulah air laut menyeruak menenggelamkan pasukan Mesir. Demikian halnya dengan kita, surga menunggu kita ‘mengizinkan’ kuasa Allah dinyatakan di bumi.

Iblis juga berbentuk roh; dengan menduplikasi cara kerja Tuhan, iblis pun memerlukan tubuh jasmani untuk bermanifestasi di bumi. Contoh: iblis merasuki ular untuk menipu Hawa. Tuhan tidak langsung melarang Hawa ketika sedang berbicara dengan ular sebab Tuhan berbentuk Roh sehingga Ia tidak memiliki otoritas atas hal-hal jasmani di bumi. Iblis membujuk Hawa untuk berpikir seperti iblis (ingin menyamai Tuhan), sehingga kepentingan iblis atas bumi dapat terwujud ketika Hawa sepakat dengan mindset iblis. Karena begitu pentingnya peran tubuh manusia bagi kepentingan Allah maupun iblis di muka bumi, maka manusia selalu ‘diperebutkan’ oleh Allah dan iblis. Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Jika kita memberi tubuh kita kepada Tuhan berarti Tuhan bebas ‘menumpang’ (tinggal) di dalam diri kita. Sebaliknya, jika kita tidak menjaga hati (pintu kehidupan), tentu iblislah yang akan mengambil alih kehidupan kita. Tanda ketika iblis telah menguasai kita, yaitu kita terbiasa melakukan hal-hal yang tidak wajar tanpa merasa bersalah.

Kejadian 3:14-15 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, … Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya (=Yesus Kristus) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Matius 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.

Karena kepentingan Allah atas bumi melalui Adam dan Hawa gagal, maka Allah mewujudkan rencana-Nya melalui Yesus Kristus. Dalam bahasa aslinya, “Imanuel” berarti Allah di dalam manusia [im = dalam, man = manusia, El = Allah]. Jadi, Allah sah untuk berperkara di bumi karena ada Yesus Kristus. Allah tidak dapat berbuat apa-apa tanpa manusia Yesus Kristus. Sebagaimana Allah memakai Yesus Kristus, demikian pula Allah memakai kita untuk mewujudkan rencana-Nya bagi lingkungan sekitar kita. Tanpa Allah, manusia tak mampu. Tanpa manusia, Allah tak mau.

DOA

Doa adalah jalur kerja sama kita dengan Allah (penghubung bumi dan surga). Doa adalah bahasa kita memberikan izin kepada Tuhan untuk turut campur dalam segala perkara di muka bumi.

Wahyu 8:3-5 Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.

Artinya, tanpa doa orang kudus tak akan ada “ledakan bunyi guruh disertai halilintar” (ledakan kuasa Allah) dari surga ke muka bumi. Maka dari itu, kita tidak boleh berhenti berdoa. Doa-doa kita adalah penyemangat bagi surga untuk menyatakan kuasa Allah.

Alkitab menuliskan bahwa Yesus adalah Anak Allah, di sisi lain Yesus adalah Anak Manusia. Artinya: sebagai Anak Allah, Yesus mempunyai kuasa yang besar, dan di sisi lain sebagai Anak Manusia, Yesus mempunyai otoritas. Kedua hal ini harus ada bersamaan sebagai ‘lisensi’ bagi terwujudnya kuasa Allah di bumi. Jadi, tubuh kita adalah senjata Allah yang paling berbahaya karena dengan tubuh jasmani ini kita memiliki otoritas yang sah atas bumi. Singkatnya, kita adalah pemegang otoritas Allah di bumi, tetapi kuasa berasal dari Allah.

Matius 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Mazmur 23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Ayat ini menekankan kepada kita bahwa oleh karena nama-Nya maka Allah memberi segala kebaikan kepada kita. Dengan demikian, kita seharusnya berdoa meminta setiap kebaikan (kesembuhan, kelepasan, kemenangan, dll) agar kita bisa memuliakan nama-Nya (bukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri).

PUASA

Imamat 16:29-31 Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.

Kata “puasa” dalam bahasa aslinya bermakna “afflict your soul” (menyebabkan jiwamu sakit), maksudnya merendahkan diri dengan perasaan hancur hati sampai pada titik tak ingin makan (walaupun makanannya lezat) karena sadar bahwa kita lebih membutuhkan Tuhan untuk campur tangan atas sebuah perkara genting/darurat dibanding kita membutuhkan makanan. Berpuasa bukanlah sebuah program diet, melainkan harus dilakukan dengan pengertian rohani dan sikap hati yang benar. Berpuasa bukan ukuran prestasi kerohanian seseorang, melainkan cara kita menyampaikan betapa kita tidak mampu dan membutuhkan campur tangan Tuhan.

Advertisements

Karakter Pendoa

Tujuan hidup kita Kejadian 1:26  Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …”

Karakter pendoa:
1) Menjadi pendoa adalah panggilan Tuhan, bukan kebetulan, bukan keinginan pribadi dan bukan karena “ikut-ikutan”.
2) Pendoa itu suka memberi bahkan berkorban (Mazmur 50:5, Yesaya 53:10). Kita “kerja berat” sementara orang lain bersenang-senang.
3) Pendoa memiliki iman yang menerobos. Iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Berdoa sesuai rhema dari Firman Tuhan sehingga terobosan terjadi, bukan sekedar “tugas selesai”.
4) Pendoa itu orang yg memiliki pengharapan, mengerti segalanya terjadi bukan karena kebetulan. Tidak putus harapan karena situasi buruk.
5) Pendoa itu memutuskan utk penuh kasih yg “tidak menyerah” (1 Korintus 13:7 & 1 Petrus 4:8).
6) Pendoa itu orang yang berkelimpahan sebab diam di rumah Tuhan, di sumber berkat (bukan berdoa dalam kekurangan).
7) Pendoa itu pembawa damai, ga itung-itungan, tidak membangkit-bangkitkan amarah/kekurangan orang lain.
8) Pendoa itu rekan sekerja Allah, kita bisa berjalan karena Tuhan bukan karena kekuatan kita (Keluaran 33:14-15).

Meningkatkan Kualitas Kehidupan

  1. Merenungkan Firman Tuhan (bukan sekedar membaca)
  2. Melakukan Firman Tuhan, berarti mengizinkan Firman Tuhan (Yesus Kristus) melakukan kehendak-Nya melalui kita (perwujudan 1 Yohanes 2:6)
  3. Menjadikan Firman Tuhan sebagai yang pertama dan terutama; dalam segala perkara, hal yang harus dilakukan pertama-tama adalah mencari konfirmasi Tuhan dan damai sejahtera (bd. 2 Tawarikh 16:12)
  4. Peka akan tuntunan Roh Kudus; jadikan Roh Kudus sebagai sahabat kita yang dalam segala hal kita curhat
  5. Banyak bahasa Roh, berarti mengizinkan Roh Kudus menenangkan jiwa kita sehingga kita fokus berdoa

*Berdoa adalah hubungan terus-menerus dengan Tuhan sehingga kita memiliki kedisiplinan Roh*

Pencobaan

Iblis tidak memiliki otoritas apapun atas diri kita, ia hanya berperan untuk mencobai kita agar kita sendiri yang berdosa. Iblis bekerja mencobai kita dengan memakai orang lain untuk “menggesek” kita sampai kita merasa ‘terdesak’ sehingga kita tidak mempunyai pilihan lain selain membalas kejahatan orang tersebut dan akhirnya kita menjadi berdosa.

Kita sangat akrab dengan Firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 5:39, Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Tetapi umumnya kita sering mengabaikan kalimat awal di ayat tersebut, yaitu Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan ketika kita dicobai adalah jangan melawan melainkan ‘mengalir saja’ (Matius 5:40-42) sebab pembalasan adalah hak Tuhan (Roma 12:19, Ibrani 10:30). Tuhan itu hidup, Ia mengerti ‘posisi kita’ sewaktu kita dicobai, bagian kita hanya mengucap syukur dan menanti-nantikan Tuhan. Ada kuasa dari sebuah ucapan syukur; ucapan syukur kepada Tuhan sewaktu kita dicobai mampu mengubah kehidupan kita bahkan kehidupan orang lain juga menjadi lebih baik.

Apakah tanda bahwa iblis sedang mencobai kita? Seperti kisah Hawa dan ular di Taman Eden, begitu pula iblis berusaha mencobai kita, yaitu melalui percakapan/obrolan. Ada obrolan yang perlu dan ada obrolan yang tidak perlu (hanya memuaskan keinginan daging kita untuk diucapkan). Ketika kita mulai berfokus pada diri kita sendiri dalam obrolan kita, bukan berfokus pada Tuhan..ketika itulah kita mulai dicobai iblis. Ketika kita tidak fokus kepada Tuhan, pasti kita akan terjebak dengan keadaan sehingga kita mulai mengambil tindakan sendiri yang melangkahi Tuhan.

Ketika mencobai kita, iblis menyingkapkan 99% fakta dan menyembunyikan 1% kebenaran akan Tuhan. Contoh: ketika kita sudah bertahun-tahun melayani Tuhan namun tidak nampak suatu perubahan yang signifikan secara jasmani, maka iblis mulai merasuki hati kita dengan pertimbangan-pertimbangan: “kamu sudah lama melayani tapi ko hidupmu biasa-biasa aja, banyak loh yang kamu korbankan demi pelayanan (toko sering tutup, pulang malam, lelah, dll) tapi kamu ga jadi kaya raya tuh..malah orang lain yang ga melayani, jadi makin kaya dan terlihat diberkati sekali..” [ini adalah 99% fakta yang iblis ungkapkan ketika mencobai kita] Tetapi iblis tidak mengungkapkan: “Kamu sadar ga penyertaan Tuhan dalam hidupmu, Tuhan itu baik loh..meskipun kamu sibuk melayani dan banyak berkorban bagi-Nya, tapi keluargamu dijagai-Nya kan..kesehatanmu dipeliharanya, bahkan tokomu dilindunginya sewaktu kamu pergi pelayanan.” [inilah 1% kebenaran yang disembunyikan iblis]. Iblis merasuk melalui pertimbangan-pertimbangan di hati kita yang membuat kita fokus kepada diri sendiri/keadaan yang terlihat oleh mata jasmani kita, tetapi berusaha membuat kita tidak mengganggap penyertaan Tuhan yang sempurna dalam hidup kita. Karenanya, kita harus selalu mengingat-ingat kebaikan Tuhan di sepanjang hidup kita agar kita tidak mudah melupakan-Nya dan terpengaruh pencobaan si iblis.

Bagaimana kita menghindari pencobaan tersebut? Pertama, kita harus berdoa agar dijauhkan dari pencobaan (seperti yang Yesus doakan dalam Doa Bapa Kami). Kedua, ada pencobaan yang memang tidak bisa dihindari dan kita harus menghadapinya untuk entering the next level.

Entering the next level à kata ‘entering’ merupakan kata kerja dalam Bahasa Inggris yang sedang berlangsung, memiliki arti ‘sedang memasuki’. Kata ini menggambarkan suatu sikap yang aktif (terus bergerak, tidak berhenti di tempat). Seperti yang Gembala Pembina sampaikan, bahwa tahun 2013 adalah tahun peperangan rohani yang dahsyat, kita memang sedang dibawa untuk terus bergerak agar tidak diam di ‘zona nyaman’. Orang yang sudah nyaman di zona nyamannya, hanya akan ‘bersungut-sungut’ ketika kegerakan Tuhan dimulai karena tidak suka zona nyamannya terganggu. Ini adalah salah satu pengaruh iblis agar orang-orang tersebut tidak entering the next level dan ‘menghambat’ kegerakan Tuhan di akhir zaman.

Bagaimana kita mengatasi pencobaan tersebut?

  1. Memiliki pandangan yang benar tentang diri sendiri (mengerti bahwa kita masing-masing memiliki kelemahan-kelemahan dalam hal tertentu yang rentan akan pencobaan).
  2. Jangan menempatkan diri kita dalam situasi yang gawat, tetapi menjauhlah dari kemungkinan untuk dicobai.
  3. Mengertilah bahwa tidak ada satu manusia pun yang kebal akan pencobaan, jadi jangan mencobai!

 

Karena itu tunduklah kepada Allah [bukan tunduk pada uang, manusia ataupun keadaan], dan lawanlah Iblis [lakukan doa peperangan rohani karena kita memiliki otoritas Allah], maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” (Yakobus 4:7-8)