Karakter Pendoa

Tujuan hidup kita Kejadian 1:26  Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …”

Karakter pendoa:
1) Menjadi pendoa adalah panggilan Tuhan, bukan kebetulan, bukan keinginan pribadi dan bukan karena “ikut-ikutan”.
2) Pendoa itu suka memberi bahkan berkorban (Mazmur 50:5, Yesaya 53:10). Kita “kerja berat” sementara orang lain bersenang-senang.
3) Pendoa memiliki iman yang menerobos. Iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Berdoa sesuai rhema dari Firman Tuhan sehingga terobosan terjadi, bukan sekedar “tugas selesai”.
4) Pendoa itu orang yg memiliki pengharapan, mengerti segalanya terjadi bukan karena kebetulan. Tidak putus harapan karena situasi buruk.
5) Pendoa itu memutuskan utk penuh kasih yg “tidak menyerah” (1 Korintus 13:7 & 1 Petrus 4:8).
6) Pendoa itu orang yang berkelimpahan sebab diam di rumah Tuhan, di sumber berkat (bukan berdoa dalam kekurangan).
7) Pendoa itu pembawa damai, ga itung-itungan, tidak membangkit-bangkitkan amarah/kekurangan orang lain.
8) Pendoa itu rekan sekerja Allah, kita bisa berjalan karena Tuhan bukan karena kekuatan kita (Keluaran 33:14-15).

Advertisements

Meningkatkan Kualitas Kehidupan

  1. Merenungkan Firman Tuhan (bukan sekedar membaca)
  2. Melakukan Firman Tuhan, berarti mengizinkan Firman Tuhan (Yesus Kristus) melakukan kehendak-Nya melalui kita (perwujudan 1 Yohanes 2:6)
  3. Menjadikan Firman Tuhan sebagai yang pertama dan terutama; dalam segala perkara, hal yang harus dilakukan pertama-tama adalah mencari konfirmasi Tuhan dan damai sejahtera (bd. 2 Tawarikh 16:12)
  4. Peka akan tuntunan Roh Kudus; jadikan Roh Kudus sebagai sahabat kita yang dalam segala hal kita curhat
  5. Banyak bahasa Roh, berarti mengizinkan Roh Kudus menenangkan jiwa kita sehingga kita fokus berdoa

*Berdoa adalah hubungan terus-menerus dengan Tuhan sehingga kita memiliki kedisiplinan Roh*

Pencobaan

Iblis tidak memiliki otoritas apapun atas diri kita, ia hanya berperan untuk mencobai kita agar kita sendiri yang berdosa. Iblis bekerja mencobai kita dengan memakai orang lain untuk “menggesek” kita sampai kita merasa ‘terdesak’ sehingga kita tidak mempunyai pilihan lain selain membalas kejahatan orang tersebut dan akhirnya kita menjadi berdosa.

Kita sangat akrab dengan Firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 5:39, Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Tetapi umumnya kita sering mengabaikan kalimat awal di ayat tersebut, yaitu Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan ketika kita dicobai adalah jangan melawan melainkan ‘mengalir saja’ (Matius 5:40-42) sebab pembalasan adalah hak Tuhan (Roma 12:19, Ibrani 10:30). Tuhan itu hidup, Ia mengerti ‘posisi kita’ sewaktu kita dicobai, bagian kita hanya mengucap syukur dan menanti-nantikan Tuhan. Ada kuasa dari sebuah ucapan syukur; ucapan syukur kepada Tuhan sewaktu kita dicobai mampu mengubah kehidupan kita bahkan kehidupan orang lain juga menjadi lebih baik.

Apakah tanda bahwa iblis sedang mencobai kita? Seperti kisah Hawa dan ular di Taman Eden, begitu pula iblis berusaha mencobai kita, yaitu melalui percakapan/obrolan. Ada obrolan yang perlu dan ada obrolan yang tidak perlu (hanya memuaskan keinginan daging kita untuk diucapkan). Ketika kita mulai berfokus pada diri kita sendiri dalam obrolan kita, bukan berfokus pada Tuhan..ketika itulah kita mulai dicobai iblis. Ketika kita tidak fokus kepada Tuhan, pasti kita akan terjebak dengan keadaan sehingga kita mulai mengambil tindakan sendiri yang melangkahi Tuhan.

Ketika mencobai kita, iblis menyingkapkan 99% fakta dan menyembunyikan 1% kebenaran akan Tuhan. Contoh: ketika kita sudah bertahun-tahun melayani Tuhan namun tidak nampak suatu perubahan yang signifikan secara jasmani, maka iblis mulai merasuki hati kita dengan pertimbangan-pertimbangan: “kamu sudah lama melayani tapi ko hidupmu biasa-biasa aja, banyak loh yang kamu korbankan demi pelayanan (toko sering tutup, pulang malam, lelah, dll) tapi kamu ga jadi kaya raya tuh..malah orang lain yang ga melayani, jadi makin kaya dan terlihat diberkati sekali..” [ini adalah 99% fakta yang iblis ungkapkan ketika mencobai kita] Tetapi iblis tidak mengungkapkan: “Kamu sadar ga penyertaan Tuhan dalam hidupmu, Tuhan itu baik loh..meskipun kamu sibuk melayani dan banyak berkorban bagi-Nya, tapi keluargamu dijagai-Nya kan..kesehatanmu dipeliharanya, bahkan tokomu dilindunginya sewaktu kamu pergi pelayanan.” [inilah 1% kebenaran yang disembunyikan iblis]. Iblis merasuk melalui pertimbangan-pertimbangan di hati kita yang membuat kita fokus kepada diri sendiri/keadaan yang terlihat oleh mata jasmani kita, tetapi berusaha membuat kita tidak mengganggap penyertaan Tuhan yang sempurna dalam hidup kita. Karenanya, kita harus selalu mengingat-ingat kebaikan Tuhan di sepanjang hidup kita agar kita tidak mudah melupakan-Nya dan terpengaruh pencobaan si iblis.

Bagaimana kita menghindari pencobaan tersebut? Pertama, kita harus berdoa agar dijauhkan dari pencobaan (seperti yang Yesus doakan dalam Doa Bapa Kami). Kedua, ada pencobaan yang memang tidak bisa dihindari dan kita harus menghadapinya untuk entering the next level.

Entering the next level à kata ‘entering’ merupakan kata kerja dalam Bahasa Inggris yang sedang berlangsung, memiliki arti ‘sedang memasuki’. Kata ini menggambarkan suatu sikap yang aktif (terus bergerak, tidak berhenti di tempat). Seperti yang Gembala Pembina sampaikan, bahwa tahun 2013 adalah tahun peperangan rohani yang dahsyat, kita memang sedang dibawa untuk terus bergerak agar tidak diam di ‘zona nyaman’. Orang yang sudah nyaman di zona nyamannya, hanya akan ‘bersungut-sungut’ ketika kegerakan Tuhan dimulai karena tidak suka zona nyamannya terganggu. Ini adalah salah satu pengaruh iblis agar orang-orang tersebut tidak entering the next level dan ‘menghambat’ kegerakan Tuhan di akhir zaman.

Bagaimana kita mengatasi pencobaan tersebut?

  1. Memiliki pandangan yang benar tentang diri sendiri (mengerti bahwa kita masing-masing memiliki kelemahan-kelemahan dalam hal tertentu yang rentan akan pencobaan).
  2. Jangan menempatkan diri kita dalam situasi yang gawat, tetapi menjauhlah dari kemungkinan untuk dicobai.
  3. Mengertilah bahwa tidak ada satu manusia pun yang kebal akan pencobaan, jadi jangan mencobai!

 

Karena itu tunduklah kepada Allah [bukan tunduk pada uang, manusia ataupun keadaan], dan lawanlah Iblis [lakukan doa peperangan rohani karena kita memiliki otoritas Allah], maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” (Yakobus 4:7-8)