A Prayer Of Passion

Kita adalah pembawa pesan Pentakosta ke-3 (messenger of the 3rd Pentecost). Sebagaimana halnya messenger dalam kehidupan sehari-hari (seperti JNE, Tiki, FedEx, dsb) kita bertugas menyampaikan pesan Pentakosta ke-3 ke alamat yang dituju sembari mengenakan atribut surgawi (sesuai citra perusahaan) tanpa perlu memusingkan persoalan kehidupan sebab ketika kita hidup sesuai kehendak surga maka kehidupan kita dijamin penuh oleh surga.

Bagaimana agar doa kita selaras dengan kehendak Tuhan? A prayer of passion, yaitu doa yang menyertakan ‘keresahan hati’ kita didalamnya. Keresahan hati tsb merupakan hal-hal yang melampaui kepentingan pribadi kita semata, yaitu suatu kerinduan terhadap perubahan hidup orang banyak ke arah yang lebih baik. Bukan melalui orang lain, melainkan Tuhan akan memakai kita sendiri untuk menjadi jawaban doa tsb. Karena itu, jangan mengabaikan keresahan hati kita sekecil apa pun itu.

Salomo memiliki keresahan hati untuk bijaksana memimpin bangsa Israel yang begitu besar.
2 Tawarikh 1:7-13 Pada malam itu juga Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Berkatalah Salomo kepada Allah: “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada Daud, ayahku, dan telah mengangkat aku menjadi raja menggantikan dia. Maka sekarang, ya TUHAN Allah, tunjukkanlah keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku, sebab Engkaulah yang telah mengangkat aku menjadi raja atas suatu bangsa yang banyaknya seperti debu tanah. Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?” Berfirmanlah Allah kepada Salomo: “Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau, maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.” Lalu pulanglah Salomo dari bukit pengorbanan yang di Gibeon itu, dari depan Kemah Pertemuan, ke Yerusalem dan ia memerintah atas Israel.

Daud memiliki keresahan hati untuk menjaga dua tiga ekor kambing domba yang dipercayakan kepadanya (meskipun harus bertaruh nyawa), maka Tuhan memilih Daud menjadi gembala atas umat-Nya.
1 Samuel 17:28-36 Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.” Tetapi jawab Daud: “Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!” Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia. Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

Musa memiliki keresahan hati untuk menolong bangsanya, maka Tuhan memakai Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Keluaran 2:11-15 Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: “Mengapa engkau pukul temanmu?” Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkara itu telah ketahuan.” Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur.

Harta Sejati & Dekade Pey

2 Samuel 11:1 Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.

2 Raja-raja 13:20 Sesudah itu matilah Elisa, lalu ia dikuburkan. Adapun gerombolan Moab sering memasuki negeri itu pada pergantian tahun.

2 Tawarikh 24:23 Pada pergantian tahun tentara Aram maju menyerang Yoas dan masuk ke Yehuda dan Yerusalem. Dari bangsa itu semua pemimpin habis dibunuh mereka dan segala jarahan dikirim mereka kepada raja negeri Damsyik.

Pergantian tahun Timur Tengah (termasuk Israel) adalah bulan Tishri (September/Oktober) dihitung sejak Adam keluar dari Taman Eden, tetapi pergantian tahun Israel secara rohani adalah bulan Nisan (Maret/April) yaitu ketika Musa mulai membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.

Karena itu setiap September/Oktober (=pergantian tahun) terjadi krisis ekonomi (=peperangan), maka belilah komoditas di waktu-waktu ini karena paling murah dan berkualitas dibandingkan waktu-waktu yang lain.

Karakteristik harta sejati dari Tuhan, yaitu:
1) Terpendam (tidak menyilaukan) dan tidak cepat datang/pergi. Kekayaan Firman Tuhan itu memerlukan waktu untuk direnungkan. Matius 13:44 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
2) Ada pembelajaran di dalamnya sehingga tidak akan digunakan dengan sia-sia. Matius 13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
3) Melepaskan ikatan dosa (jika dengan harta tsb kita semakin jauh dari Tuhan maka sejatinya harta tsb bukan dari Tuhan). Matius 19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
4) Dipercayakan kepada kita dan tidak ada yang bisa mengambilnya dari kita. Matius 25:14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yohanes 3:27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.

Permata safir merupakan salah satu jenis batu berharga yang sangat mahal di dunia. Kata safir berasal dari kata “saphar” dalam bahasa Paleohebrew (bahasa paling tua di dunia) yang artinya deklarasi, proklamasi, menyatakan, mengujarkan, memperkatakan. Jadi, memperkatakan Firman Tuhan sama berharganya dengan memiliki permata safir.

5770 – 5779 (tahun ayin/mata) merupakan dekade untuk melihat, memperhatikan, dan merenungkan Firman Tuhan.

5780 – 5789 (tahun pey/mulut) merupakan dekade untuk memperkatakan Firman Tuhan.

Hendaklah hidup kita diselaraskan dengan tema dekade yang sedang berjalan jika ingin berhasil dan beruntung. Disebut dimensi yang baru karena merupakan momentum perpindahan dari dekade “duduk diam” (merenung) ke dekade “beraksi” (mencipta dalam perkataan).

Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Efesus 5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

Kolose 4:6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Amsal 18:21 Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Berbicaralah seperlunya! Berkat bisa rusak karena perkataan yang buruk. Jika tidak bisa memperkatakan Firman, paling tidak jangan menolak Firman. Kalau ada orang berkata mustahil, sebenarnya yang mustahil itu bagi dia (bukan kita) sebab Allah beserta kita!

Pencurahan Roh Kudus Sebelum Kedatangan Tuhan

Kejadian 8:6-14

Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. [Diperkirakan banjir kala itu setinggi 9 kilometer, lebih tinggi dari puncak gunung tertinggi di seluruh dunia.]

Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi. [Burung gagak melambangkan kuasa kegelapan, demikianlah kuasa kegelapan ‘wara-wiri’ di atas bumi.]

Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. [Burung merpati melambangkan Roh Kudus. Pelepasan burung merpati yang pertama melambangkan Pentakosta ke-1.]

Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera; menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. [Hal ini melambangkan Pentakosta ke-2. Pohon zaitun tingginya sekitar 3 meter, artinya banjir (=goncangan) langsung surut drastis hanya dalam waktu 7 hari setelah Roh Kudus dicurahkan.]

Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. [Hal ini melambangkan Pentakosta ke-3.]

Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering. [Ketika goncangan datang, lepaskanlah Roh Kudus bagi hidup kita, itulah satu-satunya senjata ampuh kita!]

Bahkan sampai banjir surut dari atas bumi, burung gagak (=kuasa kegelapan) tetap wara-wiri. Burung gagak bukanlah hewan yang jinak, namun satu-satunya orang yang di hadapannya burung gagak dapat tunduk adalah Elia. Hal ini menandakan bahwa kuasa kegelapan tunduk di hadapan orang yang penuh dengan urapan Tuhan (=Roh Kudus).

Dunia dengan segala kecanggihannya berusaha mengumpulkan segala informasi tentang penduduk bumi sehingga tidak ada yang dapat ditutupi dari kehidupan mereka (=telanjang). Seperti Adam & Hawa telanjang baik ketika di Taman Eden maupun setelah jatuh dalam dosa, hal yang membedakannya adalah covering hadirat Tuhan ketika di Taman Eden (sebelum jatuh dalam dosa). Hanya dalam hadirat Tuhanlah tempat persembunyian kita!

Matius 16:13-16 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: (1) Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: (2) Elia dan ada pula yang mengatakan: (3) Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah (4) Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Jadi fasenya:

(1) Yohanes, melambangkan pemulihan dari orang berdosa menjadi orang yang dibenarkan oleh Tuhan.

(2) Elia, melambangkan perlawanan terhadap penyembahan berhala (ibadah palsu).

(3) Yeremia, melambangkan orang-orang yang meluruskan generasinya untuk menyembah Tuhan sebelum kedatangan Mesias.

(4) Mesias, melambangkan kedatangan Tuhan yang ke-2 kelak.

Fokus Mengusahakan Talentamu!

Hal-hal yang harus kita persiapkan menuju akhir zaman, yaitu:

  1. Readiness (kesiapan). Kita harus siap dengan segala perubahan zaman yang begitu cepat sebab Iblis akan memanfaatkan titik di mana kita sulit untuk beradaptasi dengan hal-hal baru.
  2. Responsibility (tanggung jawab). Untuk masuk surga kita harus bertanggung jawab (lulus) dalam ujian iman dan pelipatgandaan talenta.

1 Korintus 15:45 Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Kita adalah manusia surga yang hidup di bumi, maka cara kita hidup di bumi harus sesuai dengan prinsip surga. Adam adalah manusia pertama, Alkitab mencatat bahwa tidak pernah ada percakapan antara Adam dan Iblis (bisa dibilang bahwa Adam tidak pernah ditemui oleh Iblis), juga Adam merupakan satu-satunya ciptaan Tuhan yang jika bermasalah tidak memiliki rekan untuk bertukar pikiran, selain Tuhan. Adam tercipta begitu serupa dengan gambar Allah (sebelum jatuh dalam dosa). Lalu, bagaimana cara Adam mengerjakan tanggung jawabnya di bumi sebagai manusia surga?

Kejadian 2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

Berdasarkan peta, terlihat Eden berbentuk seperti mezbah, artinya Tuhan menetapkan kita selalu berada di mezbah (hidup dalam hadirat Tuhan).

Kejadian 2:9, 15 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, namun menempatkan Adam di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara hanya taman itu (bukan seluruh bumi). Artinya tidak semua hal yang terjadi di bumi perlu kita urus, yang Tuhan kehendaki agar kita hanya fokus mengurus ‘taman eden’ kita (yaitu talenta kita). Eden artinya delight (sukacita), jadi talenta adalah hal yang menjadi kesukaan kita.

Perlu diingat bahwa taman Eden telah Tuhan sediakan (Tuhan yang membuat) untuk kita usahakan dan pelihara. Kesalahan terbesar kita adalah berusaha membuat taman kita sendiri yang tak pernah bisa terselesaikan. Hidup di luar talenta yang telah ditetapkan Tuhan adalah awal dari semua kekacauan, sebab hal tersebut merupakan tindakan mengambil apa yang bukan bagian kita.

Lalu, apa yang ada di taman Eden? Kejadian 2:10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.

  1. Kejadian 2:11-12 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Pison artinya kelimpahan. Di tempat ini, emas terletak dekat damar bedolah dan batu krisopras (emas tidak terletak dekat ‘rongsokan’) artinya bersahabatlah dengan orang-orang yang berkualitas jika kita ingin menjadi seorang yang berkualitas. We are what we friend.
  2. Kejadian 2:13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Gihon artinya kemenangan. Kemenangan kita tergantung Tuhan, bukan tergantung jerih payah manusia. Kita tidak perlu mencari kemenangan karena kita tercipta sebagai pemenang!
  3. Kejadian 2:14a Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Tigris artinya sebuah keinginan untuk berlari dengan cepat untuk memeluk (intim). Dalam hal ini, ada keintiman dengan Tuhan.
  4. Kejadian 2:14b Dan sungai yang keempat ialah Efrat. Efrat artinya subur, menandakan bahwa apa yang kita kerjakan akan berhasil berkali lipat ganda.

Dalam hidup ini ada hal yang bisa kita kendalikan (faktor internal) dan ada hal yang tidak bisa kita kendalikan (faktor eksternal).

A. Faktor internal, meliputi hal yang kita sukai dan menjadi mahir ketika kita lakukan berulang-ulang. Fokuslah terhadap faktor ini! Ketika kita menyukai suatu hal dan mahir mengerjakannya, itulah passion (ada sepenuh hati).

B. Faktor eksternal, meliputi hal yang orang lain butuhkan dan bersedia membayarnya. Serahkanlah faktor ini kepada Tuhan! Ketika orang lain membutuhkan hal yang menjadi passion kita dan bersedia membayarnya, terciptalah lapangan pekerjaan.

Faktor internal dan eksternal harus seimbang, artinya ada unsur: suka, mahir, butuh, dan bersedia membayar. Berikut relasi antara faktor internal dan eksternal yang tidak seimbang:

  • Ketika kita menyukai suatu hal tapi tidak mahir, dan ada orang lain yang membutuhkan untuk melakukan hal tsb tapi tidak bersedia membayar, ini yang disebut misi kemanusiaan.
  • Ketika kita menyukai suatu hal dan mahir mengerjakannya, juga ada orang lain yang membutuhkan untuk melakukan hal tsb dan bersedia membayar, ini yang disebut sebagai profesi.
  • Ketika kita tidak menyukai suatu hal tapi mahir mengerjakannya (karena tekun atau ada tanggung jawab moral), juga ada orang lain yang membutuhkan untuk melakukan hal tsb dan bersedia membayar, pada satu titik kita akan mengalami kehampaan hidup karena terus-menerus melakukan hal yang tidak disukai.
  • Ketika kita menyukai suatu hal tapi tidak mahir mengerjakannya, juga ada orang lain yang membutuhkan untuk melakukan hal tsb dan bersedia membayar, kita akan merasa tidak aman (takut kehilangan pekerjaan, takut tergantikan oleh orang lain yang lebih mahir dan berpotensi menghalalkan segala cara demi mempertahankan pekerjaan tsb).
  • Ketika kita menyukai suatu hal dan mahir mengerjakannya, juga ada orang lain yang bersedia membayar tapi tidak ada yang membutuhkan hal tsb, pada satu titik kita akan merasa seperti seorang yang tidak berguna. Inilah tantangan akhir zaman! Perubahan kebutuhan manusia menuntut kita harus bisa fleksibel menghadapinya.

Titus 3:14 Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.

Kehidupan yang berbuah berawal dari “belajar” [dalam hal ini mengasah talenta]. Ketika kita fokus pada talenta kita seperti Adam fokus mengusahakan dan memelihara taman Eden, maka kita akan menikmati sungai kelimpahan, kemenangan, keintiman, dan keberhasilan berkali lipat ganda selama masih ada lapangan pekerjaan bagi passion kita!

Saul VS Daud

Kisah Para Rasul 13:22, 36 Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.

Mengapa Saul harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum Daud diangkat menjadi raja?

1 Samuel 13:19-22 Seorang tukang besi tidak terdapat di seluruh negeri Israel, sebab orang Filistin berkata: “Jangan-jangan orang Ibrani membuat pedang atau tombak.” Jadi semua orang Israel harus pergi kepada orang Filistin untuk mengasah mata bajaknya, beliungnya, kapaknya atau aritnya masing-masing — adapun bayarannya ialah dua pertiga syikal untuk mata bajak dan beliung, dan sepertiga syikal untuk mengasah kapak dan untuk memasang kusa — sehingga pada hari pertempuran itu sebilah pedang atau lembing pun tidak terdapat pada seluruh rakyat yang ada bersama Saul dan Yonatan. Tetapi Saul dan Yonatan, anaknya itu, masih mempunyainya.

Perkakas dari besi memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan orang Israel, seperti bertani, berperang, dll. Namun semua itu harus dapat diperoleh di tanah orang Filistin. Ini menggambarkan orang-orang Kristen yang sebagian besar menggunakan cara-cara dunia untuk bertahan hidup. Ketika tak ada satu pun senjata pada rakyat tetapi Saul dan Yonatan memegang senjata menandakan bahwa Saul adalah raja yang hanya mementingkan keselamatan keluarganya sendiri, tanpa mempedulikan keselamatan rakyat.

Dari cara kerja, cara mencari makan, dan cara menghasilkan uang, serta profesi yang digeluti seseorang, tercermin apakah orang tsb hidup berkenan kepada Tuhan atau tidak. Kekristenan bukan soal lambang salib yang nampak kepada orang banyak, melainkan tentang bagaimana orang lain dapat melihat bukti ketaatan kita kepada Tuhan melalui perbuatan kita sehari-hari.

1 Tawarikh 8:33 Ner memperanakkan Kish; Kish memperanakkan Saul; Saul memperanakkan Yonatan, Malkisua, Abinadab dan Esybaal.

Saul memberi nama 3 anak pertamanya dengan sebuah makna yang menandakan rasa syukurnya kepada Tuhan, tetapi anak ke-4 nya ia beri nama “Esybaal” (esy = manusia, baal = dewa sembahan orang Filistin). Ini menandakan bahwa Saul “menghilangkan” identitasnya sebagai anak Tuhan demi mempertahankan jabatannya (memilih untuk serupa dengan orang Filistin).

Di sisi lain, Daud pun bukan seorang yang sempurna tetapi selalu ada keinginan dalam hatinya untuk hidup seturut kehendak Tuhan (dan diusahakan). Karena itu, Tuhan lebih berkenan kepada Daud dibanding Saul.

Mengelola Keuangan Keluarga

ISHAK DI NEGERI ORANG FILISTIN (KEJADIAN 26:1-33)

Kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dengan mengerti step by step yang Ishak lalui ketika krisis keuangan terjadi, yaitu:

Step 1 – Ada krisis ekonomi dunia setelah pernikahan. Kejadian 26:1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. —Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Masalah keuangan bukanlah masalah zaman now, melainkan terjadi dari zaman dahulu. Selama melajang masalah keuangan tidak terlalu menjadi beban, tetapi setelah menikah masalah keuangan menjadi hal yang sangat vital. Mengapa? Karena ketika melajang semua dapat diputuskan sendiri, tetapi ketika menikah tidak mudah menyamakan dua pikiran yang berbeda dalam mengelola keuangan.

Step 2 – Sepakat untuk “banting stir” atas perintah Tuhan. Kejadian 26:2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Jangan pergi ke Mesir artinya jangan mengandalkan cara manusia ketika krisis menimpa. Ishak pergi kepada Abimelekh, hal ini serupa dengan yang dilakukan Abraham ketika terjadi krisis di masa lalu. Hal yang harus kita perhatikan adalah pentingnya sejarah krisis hidup orang tua (bukan hanya sejarah keberhasilan) diceritakan kepada anak agar suatu saat ketika anak mengalami hal serupa pun akan meneladani apa yang pernah dilakukan orang tuanya untuk kembali ‘menyelamatkan hidup’. Jika teladan di kala krisis tidak diceritakan, anak hanya tahu bagaimana menikmati hidup dalam kekayaan tapi tidak tahu bagaimana membangun hidup dalam kemiskinan. Prinsip keuangan dimulai dari didikan keluarga.

Step 3 – Berkemah bukan menetap (konsep persiapan). Kejadian 26:3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Tinggal sebagai orang asing berarti menjadi seorang perantau di negeri orang. Prinsip orang perantau yang tidak dimiliki oleh orang menetap, yaitu prinsip persiapan sesuatu untuk masa depan. Abraham, Ishak, dan Yakub adalah perantau; dan terbukti bahwa orang-orang perantau sebagian besar lebih sukses dibandingkan orang-orang yang menetap. Miliki mindset “berkemah” karena kita tidak selamanya menetap di bumi. Tanpa persiapan untuk keluar dari “zona nyaman”, tak akan ada kemajuan (malah kehancuran). Hidup harus ada persiapan, jangan ber-mindset “gimana nanti lah” tapi harus ber-mindset “nanti gimana?”.

Step 4 – Menjaga hubungan keluarga. Kejadian 26:8 Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, isterinya. Dari hal ini terbukti bahwa dalam keadaan krisis sekalipun, hubungan Ishak dan isterinya tetap harmonis. Uang gampang bocor jika keluarga tidak harmonis.

Step 5 – Mulai menabur untuk usaha. Kejadian 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Tidak ada seseorang yang menanam buah kemudian memanennya di tahun yang sama. Ini artinya Ishak menerima unusual miracle. Jika Alkitab mencatat bahwa unusual miracle pernah terjadi, pasti kita pun bisa mengalaminya. Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (=berkat itu tidak sama sepanjang waktu melainkan ‘bermusim’), dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Step 6 – Mencari sumur di padang pasir. Kejadian 26:19-22 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: “Air ini kepunyaan kami.” Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.” Esek artinya perdebatan, Sitna artinya perselisihan; Rehobot artinya tempat yang luas. Hal ini menandakan bahwa memperluas suatu usaha bukanlah hal yang mudah, selalu penuh perjuangan dan persaingan.

Step 7 – Sumur Abraham, yaitu Bersyeba. Kejadian 26:23,26-33 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka: “Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?” Jawab mereka: “Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN.” Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: “Kami telah mendapat air.” Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang. Ada saja orang yang iri ketika Tuhan telah memberkati kita berlimpah-limpah, kita harus berdamai dengan mereka.

JANJI TUHAN YESUS

  1. Matius 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang (suami istri) dari padamu di dunia ini sepakat (dengan yakin, juga harus sama-sama tahu dan mau) meminta (bersifat rahasia) apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
  2. Matius 19:5-6 Dan firman-Nya: Sebab itu lakilaki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (jika suami istri telah sepakat maka tak ada satupun kuasa manusia yang dapat membatalkannya)

SEPAKAT

Suami istri harus sepakat secara roh, jiwa dan tubuh. Jika tidak demikian, tentu berpengaruh terhadap 4 hal vital kehidupan manusia, yaitu: KEUANGAN, KESEHATAN, HUBUNGAN, DAN EMOSI. Keempat hal tersebut harus seimbang komposisinya, sebab akan menjadi penentu maju atau tidaknya kehidupan kita.

Contoh: ketika masalah KEUANGAN terjadi, jika tidak menjaga hati tentu suami istri akan mudah EMOSI sehingga HUBUNGAN menjadi renggang dan berdampak pada menurunnya kualitas KESEHATAN.

Jika salah satu dari keempat hal vital tersebut hancur, maka 3 hal lainnya pun turut hancur. Jadi, jika ada 1 hal diantaranya sedang bermasalah, pertama-tama kita harus mendoakan 3 hal lain yang sedang tidak bermasalah, terakhir kita doakan 1 hal yang sedang bermasalah. Jika dari awal kita hanya fokus mendoakan 1 hal yang sedang bermasalah tersebut tanpa memperhatikan 3 hal lainnya, tentu setelah 1 hal yang bermasalah tersebut membaik sebenarnya 3 hal lain yang tidak ‘terperhatikan’ sudah diserang selama masa pemulihan 1 hal yang bermasalah tadi. Tentu kita tidak menginginkan “1 sembuh, 3 kambuh”.

KONSEP TURUNAN

  1. Milik bersama – WE concept (bukan ME concept), artinya semua barang milik masing-masing bebas pakai tanpa perlu izin tertulis. Suami istri adalah satu tubuh, jadi mindset-nya: jika saya salah maka pasangan saya jadi korban, jika pasangan saya salah maka saya jadi korban. Dengan demikian, suami istri akan saling menjaga barang-barang milik pasangannya. Jangan saling menyalahkan!
  2. Keterbukaan informasi dan akses keuangan (saling tahu income masing-masing). Lukas 12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Pernikahan bukanlah dua pribadi yang hidup sendiri-sendiri tapi tinggal bersama, dalam pernikahan segala sesuatunya harus sepengetahuan bersama.
  3. Tidak ada gaji menggaji antara suami istri. Total gaji adalah uang bersama, harus bisa saling mengambil uang. Yang menjadi pengatur keuangan adalah yang paling bisa mengelola uang (tidak mesti harus selalu istri). Suami istri tidak bisa menyatu dalam hal-hal lain jika tidak bisa bersatu dalam hal keuangan. Nasihat orang tua yang berkata, “Perempuan itu harus bisa cari uang sendiri, nanti kalau suami macem-macem tinggal tendang, ga rugi!” itu salah besar, sebab menanamkan prinsip pemisahan keuangan antara suami dan istri. Puji Tuhan jika suami istri sama-sama menghasilkan nafkah, tapi tidak boleh ada pemisahan keuangan.
  4. Tidak ada saling pinjam bahkan hutang. Tidak ada istilah hutang kepada diri sendiri. Jika suami istri adalah satu, tentu tidak bisa saling berhutang.
  5. Pembagian tugas dan beban. Suami istri harus saling berbagi pemahaman agar sama-sama mengerti dalam mengerjakan suatu hal bisa saling back-up. Jangan sampai saling tidak mau tahu tentang pekerjaan masing-masing, justru suami istri harus saling mendukung (meskipun bukan ahli di bidang yang digeluti oleh pasangan). Menjadikan orang lain sebagai ‘tangan kanan’ kita lebih dari pada pasangan kita (dalam hal kepercayaan, pemahaman, penolong dalam pekerjaan) sangat tidak dianjurkan karena bisa merenggangkan hubungan suami istri bahkan menimbulkan perselingkuhan.

Masalah keuangan muncul akibat komunikasi yang tidak baik antara suami dan istri. Komunikasi yang baik lahir dari suami istri yang sepakat dan bersatu.

POLA KEUANGAN

Pola keuangan adalah masalah input & output. Input (pemasukan) harus lebih banyak dibandingkan output (pengeluaran). Jangan besar pasak dari pada tiang!
INPUT

  1. MENGGALI SUMUR. Ini tahap ketika Ishak menggali Esek & Sitna hingga memperoleh Rehobot, kita harus memiliki:
    • Calling (panggilan), diperoleh dari Tuhan maka harus banyak berkomunikasi dengan Tuhan. Jangan “buka sumur” tanpa panggilan Tuhan!
    • Competency (kompetensi/talenta), diperoleh dari kelas-kelas pengembangan diri baik formal maupun informal. Semakin kita mengenal talenta kita maka semakin kita mengerti panggilan kita karena talenta akan mengisi panggilan kita.
    • Courage (keberanian), diperoleh dari pengalaman demi pengalaman akhirnya kita berani mengambil suatu keputusan untuk melangkah lebih maju dalam karir kita (ada instinct).
    • Coaching (mentoring), diperoleh dari komunitas yang saling membangun dalam karir. Jaga jarak terhadap orang-orang yang ‘tidak bermanfaat’ dalam mengembangkan karir kita, contoh: teman-teman yang selalu ajak ngerumpi dan nongkrong tanpa memikirkan masa depan.
  2. MENJAGA SUMUR, di tahap ini kita harus memiliki:
    • Kegigihan/ketangguhan (persistensi)
    • Keyakinan (jangan ada keraguan dalam melangkah)
    • Standar kualitas (kita harus kreatif dalam berkarir tapi tidak melenceng dari standar yang telah baku)
  3. MENGEMBANGKAN SUMUR. Kesuksesan dalam kekristenan itu bertahap didaki seperti tangga, bukan cepat naik turun seperti roda. Hanya perkenanan Tuhan-lah yang membawa kita bisa sampai ke tahap ini, sehingga kita memiliki:
    • Karakter
    • Koneksi
    • Komunikasi
    • Keteraturan (manajemen doa)
    • Kreativitas
  4. MEMBANGUN NILAI. Ini tahap ketika Ishak tiba di Bersyeba, kita harus membangun:
    • Komunitas sosial (selain komunitas bisnis)
    • Nilai keluarga dan pribadi (sesuai panggilan yang Tuhan taruhkan di hati kita, contoh: membiayai anak-anak putus sekolah, mengunjungi panti jompo, dll)

OUTPUT (utamakan poin 1,2 dibandingkan poin 3,4,5)

  1. Belanja rohani, seperti: persepuluhan, menabur bagi pembangunan rumah gereja, mengikuti kelas pemahaman Alkitab, membeli CD lagu rohani, dll.
  2. Tabungan & investasi. Tabungan sifatnya menahan uang agar tidak terpakai tapi nilai uang tidak berkembang (bahkan cenderung berkurang jika terpotong biaya administrasi bank ataupun tergerus inflasi), sedangkan investasi sifatnya mengembangkan uang di instrumen-instrumen yang dapat menambah nilai uang kita sehingga tidak tergerus inflasi (contoh: membeli tanah, saham, membeli alat musik akustik – yang mana semakin lama harga barang-barang tersebut akan semakin naik, bukan turun). Hindari membeli barang-barang yang nilai jualnya semakin lama semakin turun. Paling tidak 10% dari pendapatan kita selalu disisihkan untuk keperluan masa depan. Don’t put you eggs in one basket!
  3. Belanja gaya hidup, seperti membeli mobil dan handphone (jangan melampaui investasi).
  4. Belanja rutin, seperti beras, shampoo, listrik, dll.
  5. Belanja investasi tak berwujud, seperti: memasukkan anak ke les menggambar (belum tentu anak akan sukses di bidang menggambar), memasukkan anak ke sekolah tari (belum tentu anak akan bekerja sebagai penari). Maka kita harus menyesuaikan kelas-kelas kursus dengan talenta yang dimiliki agar tidak sia-sia (anak pun tidak terpaksa mengikutinya).

PERTANYAAN AWAL USAHA

Sebelum memulai sebuah usaha, kita harus tanyakan kepada diri sendiri:

  1. Produknya barang atau jasa, atau keduanya? Harus disesuaikan dengan talenta.
  2. Siapa pembelinya? Harus ada komunitas yang berpotensi menjadi konsumen.
  3. Siapa pengendalinya? Ini berhubungan dengan manajerial dan pemilihan lini produk. Contoh: dari sebuah usaha bakmi ayam, ada banyak bagian yang bekerja sama, yaitu produsen mie, produsen mangkuk, petani sayuran sawi, pemasok ayam, dll. Fokus kita mau “pegang” bagian yang mana? Mulailah dari hal-hal kecil.
  4. Ketersediaan waktu? Kita akan terjun langsung ke lapangan (usaha utama) atau hanya sebagai ‘pendukung’ (usaha sampingan)?
  5. Pioneer atau pengikut? Perlu originalitas jika hendak menyandang gelar pioneer, dan perlu kreativitas atau modifikasi jika kita menjadi pengikut.

FOKUS KEGIATAN USAHA

Bisnis kita ditopang oleh 4 hal berikut, yaitu:

  • MAN (sumber daya manusia), harus ada orang yang bertalenta.
  • MONEY (uang), harus ada manajemen agar semua teratur.
  • MACHINE (mesin penggerak), harus ada karakter yang kuat untuk menopang kesuksesan kita.
  • METHOD (metode), harus ada jejaring. Apakah kita akan terus terjun di lapangan ketika usaha semakin berkembang sedangkan tenaga kita semakin merosot akibat faktor usia? Apakah cara menjual kita akan selalu face to face sedangkan zaman berubah dengan cepat dan semua dituntut untuk online? Kita harus memikirkan bagaimana mewariskan skill pada orang yang bisa dipercaya dan memperbaharui strategi penjualan kita agar bisnis tidak bangkrut.

“Pernikahan merupakan panggilan mulia dari Tuhan. Karena itu, seharusnya hidup kita semakin naik setelah menikah, bukan semakin turun.”

Financial Outlook

Firman sanggup menjadikan yang tidak ada menjadi ada, berarti firman juga sanggup menjadikan yang ada menjadi tidak ada.

Background yang bagus (usia peradaban, sumber daya alam, ras, cara berbisnis) tidak menjamin bahwa suatu negara akan bernasib bagus (menjadi negara kaya) di masa depan. Contoh: Mesir memiliki peradaban tertua di dunia namun Eropa memiliki negara-negara yang lebih kaya dibandingkan Mesir, Belgia adalah penghasil cokelat paling enak sedunia tetapi negara pengekspor cokelat terbesar bukanlah Belgia, Amerika memiliki lebih banyak orang-orang cerdas dibandingkan Afrika, tetapi pernah dipimpin oleh Obama yang berasal dari Kenya. Jadi, suatu negara kaya atau miskin ditentukan oleh sikap dan perilaku (attitude) warga negaranya (bukan backgroundnya).

Hal yang menentukan sikap dan perilaku kita adalah:

  1. Edukasi, yaitu kondisi di mana kita selalu bertemu dengan orang-orang yang memberikan berita ter-update yang bermanfaat bagi hidup kita.
  2. Kultur (budaya), yaitu gaya hidup keluarga yang berulang-ulang membentuk mindset kita.

Pola tindakan negara-negara maju:

  1. Etika
  2. Integritas (bisa dipercaya)
  3. Tanggung jawab
  4. Respek pada hukum dan regulasi
  5. Mencintai pekerjaan
  6. Dorongan untuk menabung dan investasi
  7. Keinginan untuk menjadi produktif
  8. Ketepatan waktu

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan negara-negara maju tsb sesuai dengan prinsip Alkitab. Maka jangan melawan firman Tuhan jika kita ingin sukses! Kemiskinan bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena kurang sikap bijak.

Markus 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (kasih kita kepada Tuhan harus secara penuh diwujudkan dengan 4 hal tsb, tidak boleh kurang)

Kita perlu uang untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Bagaimana cara mendapatkan uang? Dari:

1) Talenta. Amsal 18:16 Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar. Talenta itu kudus dan tidak bisa diubah; perlu waktu untuk menemukan talenta yang tersembunyi.

2) Karakter. Amsal 18:9 Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak. Amsal 22:7 Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi. Karakter dapat dibentuk sesuai kebenaran, tetapi harus ada tekad untuk itu.

3) Urapan. Amsal 10:22 Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Urapan adalah inisiatif Tuhan yang harus kita responi. Jika urapan Allah ada dalam kita, maka sejatinya kita menyatu dengan Allah. Maka tidaklah benar jika berkat malah menjauhkan kita dari Allah.

Tahun ini Tuhan curahkan urapan kreatif di tengah kesesakan seperti yang diterima oleh Yakub, Yusuf dan Daniel yang mana melepaskan kita dari krisis, jebakan, penolakan, tekanan waktu dan tipu kecerdikan manusia.

Semua sektor kehidupan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi, karena mereka berprinsip: berinvestasi pada teknologi/pengetahuan (bukan diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif semata). Contoh: uang tabungan digunakan untuk membeli buku, bukan mobil mewah yang nilai investasinya semakin menurun.

Hakim-hakim 7:5-7 Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum.” Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

Ayat di atas mengingatkan kita tentang pengendalian diri dalam sebuah situasi berkat (air diperoleh dengan cuma-cuma, tanpa suatu usaha). Tahun 2018 adalah tahun terbaik untuk memulai hal-hal yang baru, tahun penuh anugerah besar (=perekonomian Indonesia membaik) sebelum penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir terjadi. Cara kita menikmati berkat Tuhan menentukan apakah kelak Tuhan akan mengikutsertakan kita atau tidak dalam rencana-Nya. Tuhan mengasihi semua orang tapi untuk sebuah maksud tertentu, Tuhan memilih seseorang (tidak semua orang).

Hari Akhir

Yoel 2:28, 30 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia (=pada orang percaya Tuhan, juga pada orang yang belum percaya Tuhan agar mereka bisa bertobat), maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Aku akan mengadakan mujizat-mujizat (=mofet) di langit dan di bumi: darah (=aniaya) dan api (=kerusuhan) dan gumpalan-gumpalan asap (=perang).

Kata mujizat tertulis dalam 2 makna, yaitu:

1) seymayon: mengarah ke mujizat kesembuhan, kelepasan, dsb

2) mofet: mengarah ke pertanda fisik di alam untuk memberitahukan kedatangan Tuhan

Firman Tuhan sangat sah, jadi tidak boleh diragukan/diuji. Tetapi penglihatan/mimpi/nubuatan harus diuji apakah sesuai dengan firman Tuhan atau tidak.

Seorang anak kecil menggambar pedang ksatria “yang baru”/pedang lain selain pedang Roh yang sudah ada (atas tuntunan Tuhan), arti profetiknya: Ini pedang emas. Lukas 22:38 Kata mereka: “Tuhan, ini dua pedang.” Jawab-Nya: “Sudah cukup.” Menjelang akhir zaman, kita harus memiliki 2 pedang.

Penjelasan pedang lebih detail:

– Pedangnya putih terang dengan pegangan dari emas

– Bilah pedang berupa petir yang dapat langsung membunuh musuh (jadi jangan gunakan pedang Roh/firman Tuhan untuk ‘membunuh’ sesama)

– Bilah petir tsb tidak boleh terkena wajah kita karena bisa fatal, artinya tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan (kita ini faceless & nameless)

– Pembawa pedang adalah malaikat tentara putih terang, bertubuh sangat tinggi besar dengan wajah sangat marah pada musuh (pakaiannya tertulis 4 pola pengajaran pertanda gereja sehat: keselamatan, berkat kesembuhan Ilahi, Roh Kudus, second coming). Malaikat tsb menolong kita berperang (menggunakan pedang), sedangkan Tuhan melihat dari atas dan memberikan kita “skor kemenangan” (hanya yang menang yang akan masuk surga).

Tuhan berbicara kepada anak tsb:

– Jika kita hidup benar, kita diberi otoritas atas bangsa-bangsa

– Hanya prajurit yang gaya hidupnya doa pujian dan penyembahan yang akan diberi pedang oleh Tuhan, bukan diberi pedang dahulu baru menjadi prajurit

– Mereka yang tidak mendapat pedang akan kalah dan meninggal karena serangan musuh

– Mereka yang menerima pedang akan menang, juga karena bantuan para malaikat

– Tgl 5 Mei 2017, pedang diberikan untuk tentara manusia. Jika musuhnya mati, maka tentara diberi sayap untuk naik ke surga. Di lain tempat (yg mana mereka tidak saling mengenal), ternyata Rabi di Israel pun mendapatkan penglihatan tentang Elia (pertanda Mesias segera datang bagi orang Israel) & melihat 5 pintu anugerah (4 pintu sudah tertutup, tinggal 1 pintu masih ditahan oleh Elia sambil berkata “cepat, cepat, waktu semakin singkat!”).

Mujizat besar, tentu goncangan besar juga. Goncangan membuat gereja Tuhan dari semua denominasi bersatu berdoa untuk suatu hal yg baik (unity).

Pesan Tuhan:

– Beberapa anak Tuhan yang telah “selesai tugas” akan dibawa pulang ke rumah Bapa

– Kaum Kedar akan kembali pada panggilan Tuhan (=tuaian besar)

– Anak Tuhan diminta membereskan hati dan memperhatikan pemulihan keluarga (menjadi Elia, mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan)

– Akan muncul lawatan di luar nalar manusia karena pekerjaan Roh Kudus

– Tuhan menghendaki pertobatan di akhir zaman (urgent)

– Jika fokus hidup kita mencari uang, lama-kelamaan kita akan terhisap ke dalam jebakan iluminati dan diinfuskan chip Antikris (jadi penyembah berhala dan diikat/didampingi oleh seorang setan). Kita jangan menilai manusia berdasarkan uang, kita harus mengutamakan hidup benar. Yang akan rapture hanya orang Kristen yang sukacita.

– Tulisan tangan seorang anak menuliskan “AMX TUHAN”, artinya tank baja versi AMX. Akan ada perang besar-besaran di dunia.

– Banyak foto-foto yg diambil oleh Pak Aruna & tim memperlihatkan naga di langit beberapa kota di Indonesia, ini pertanda kita harus berdoa lebih sungguh-sungguh. Jaga anak-anak kita, ini bukan saatnya melepaskan mereka sesuka hati! Jika suatu tempat doanya kuat, maka naga tsb akan menjadi lemah dan mati (kemudian mencari teman untuk bersatu di tempat lain). Tapi jika doanya lemah, maka naganya akan semakin kuat dan bertelur.

Raja Salman memberi pedang emas saat berkunjung ke Indonesia pertanda bahwa “perang dimulai”.

Peperangan itu dilakukan dalam skala besar (bersama-sama) tetapi problema hidup yg harus dihadapi sendiri merupakan pergumulan (bukan peperangan). Dalam peperangan harus ada strategi & unity.

Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda hidup benar bagi Tuhan secara total!

Membalas Dengan Hikmat Tuhan

Apakah hukum Taurat masih berlaku sekarang?

– hukum moral masih berlaku, contoh: jangan mencuri

– hukum sipil masih berlaku tapi dimodifikasi, contoh: aturan jual beli tanah

– hukum seremonial sudah tidak berlaku, contoh: mempersembahkan korban bakaran

Matius 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Jika kita menerima perlakuan jahat dari orang lain, kita harus membalasnya dengan perbuatan baik (bukan berdiam diri atau bahkan membalas dengan perbuatan jahat).

Perihal menampar dalam budaya orang Yahudi memiliki aturan sbb:

– punggung tangan digunakan untuk menampar orang yang lebih rendah kedudukannya, sedangkan telapak tangan digunakan untuk menampar orang yang setara kedudukannya

– jika sudah menampar orang menandakan telah merendahkan orang, maka sebuah tamparan harus diganti dengan uang tebusan setara gaji 8 bulan kepada orang yang telah ditampar

Matius 5:39 diberitakan Yesus kepada para budak untuk memerdekakan mereka, kemerdekaan adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh seorang budak sebab perihal menjadi budak adalah pekerjaan turun-temurun (seumur hidup tak bisa lepas dari generasi ke generasi, kecuali dibebaskan oleh tuannya). Yesus mengajarkan apabila tuan mereka menampar pipi kanan mereka, maka berilah pipi kiri untuk ditampar lagi oleh tuannya, dengan begitu:

– tuan menganggap budak tsb setara kedudukannya dengan sang tuan (berarti si budak bebas/merdeka dari perbudakan tuannya)

– selain memerdekakan budak tsb, sang tuan harus membayar uang tebusan sebesar gaji 8 bulan pada mantan budaknya tsb

Jadi, budak tsb bebas + mendapat upah.

Tuhan datang dalam hidup kita untuk membebaskan, memulihkan dan memberi mujizat seperti yang dialami budak tsb (bebas + upah). Maka ketika kita “ditampar” oleh berbagai permasalahan yang ‘merendahkan’ kita, kita harus bertindak/melawan dengan hikmat Tuhan sebab ketika kita bertindak itulah mujizat, pembebasan dan pemulihan terjadi (kita bebas dari perbudakan masalah). Sebagai anak Tuhan, adakalanya kita harus menghadapi masalah dengan berdiam diri dan berdoa, tapi adakalanya kita pun harus bertindak dengan hikmat Ilahi untuk alami mujizat-Nya.

Sinyal Tuhan

– 21 Agustus 2017 seluruh dunia (bukan hanya belahan bumi tertentu) akan melihat kejadian alam yang sangat langka, yaitu: gerhana matahari total yang garisnya membelah benua Amerika menjadi dua

– 23 September 2017 jika langit cerah, kita dapat melihat rasi bintang yang menggenapi firman Tuhan dalam Wahyu 12:1-2 (pertanda awal masa kesusahan besar), kita harus sudah siap rapture sebelum ini

– Yoel 2:28 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia (baik yg sudah percaya Tuhan maupun yg belum percaya, supaya mereka bisa menerima Tuhan sebagai Juruselamat), maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. 

– Bulan September/Oktober 2017 Dewan Keamanan PBB akan mengadakan voting kedua untuk menyatakan bahwa Israel membuat tindakan ilegal karena telah membangun perumahan Yahudi di tanah Palestina; 70 negara (termasuk Indonesia) mengusulkan agar Israel dibagi 2, sesuai firman di Yoel 2, Tuhan berkata barangsiapa yang mencerai-beraikan Israel akan digoncang. Negara-negara penuntut Israel ini jadi dipersulit untuk berwisata ke Israel.

– Kita harus punya hati yang mengerti “sinyal Tuhan” melalui kegoncangan demi kegoncangan. Tanda-tanda alam sedang berjalan sesuai firman Tuhan, maka kita pun harus berjalan sesuai firman Tuhan.

– Masalah kita memang belum selesai, tetapi kita sudah mendapat janji Tuhan bahwa semuanya beres. Jadi hati kita tetap tenang di tengah goncangan. Sinyal seperti inilah yang harus kita miliki, jangan acuh dgn “pertanda2 kecil” dan baru sadar saat kehidupan kita sudah “diluluhlantahkan” Tuhan, segera bertobat dan perbaiki diri!

– Saat murid-murid menangkap 153 ikan setelah semalam-malaman gagal, mereka tidak bertanya Tuhan “siapakah Engkau?” sebab mereka mengerti angka 153 secara gematria dalam Bahasa Ibrani artinya “Akulah Tuhan”. Dalam kisah Yesus memberi makan dengan 5 roti dan 2 ikan, murid-murid tak banyak tanya lagi setelah Yesus bilang “suruh orang-orang itu duduk berkelompok-kelompok, masing-masing 50 orang per kelompok” sebab angka 50 mewakili kalimat “Akulah Penebus, Akulah Pemberi Makan” sehingga murid-murid dengan iman bertindak. Dari 2 kisah ini kita belajar, Tuhan tidak gamblang menyatakan Diri-Nya tapi dengan sinyal-sinyal maka kita harus peka dengar suara Tuhan.