Ibadah Yang Sejati

Roma 12:1-2

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Shalom!

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan harus mengerti kehendak Tuhan. Di dalam diri kita ada kehendak Tuhan, kehendak manusia dan kehendak bebas (jurang antara kehendak Tuhan dan manusia). Kehendak manusia selalu bertentangan dengan kehendak Tuhan, karenanya kehendak kita harus ditundukan kepada kehendak Kristus. Ketika kita tunduk kepada kehendak Tuhan, berarti kita adalah manusia yang terkendali (tidak liar) maka perkenanan Tuhan pun turun atas kita. Secara manusiawi, kita cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan dan mengandalkan kekuatan sendiri dalam menyelesaikan masalah; sedangkan kehendak Tuhan menginginkan agar kita selalu mengampuni dan mengandalkan Tuhan. Orang yang mengandalkan Tuhan tidak pernah mengenal ‘musim’ tertentu dalam hidupnya karena pasti semua musim dalam hidupnya adalah musim yang baik. Tuhan memang memberikan kita kehendak bebas tetapi Ia tidak menghendaki kita menggunakannya di luar jalan Tuhan.

2 Korintus 10:5 berkata Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” Pikiran Kristus adalah ide, maksud, tujuan dan konsep Ilahi. Ketika kita mengenakan pikiran Kristus pasti kita akan menjadi orang yang berbeda (orang yang di atas rata-rata) dan dimampukan untuk melakukan kebenaran. Ingatlah bahwa semua yang baik belum tentu benar, tetapi semua yang benar sudah pasti baik. Good idea is totally different with God’s idea. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33) Itulah inti dari kekristenan yang sejati. Ketika kita memulai sesuatu dengan Roh maka kita harus mengakhirinya dengan Roh pula, bukan dengan kedagingan. Kita boleh mempunyai visi kehidupan pribadi tetapi kita harus menyelaraskannya dengan visi Tuhan. Mungkin seakan ‘pintu tertutup’ bagi impian kita, namun percayalah bahwa rancangan Tuhan lebih tinggi daripada rancangan kita. Relakanlah ketika sepertinya mimpi kita tidak selaras dengan mimpi Tuhan, pilihlah untuk melaksanakan mimpi-Nya Tuhan karena Ia yang genggam kehidupan kita dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita, maka pastilah mimpi tersebut adalah jalan yang terbaik bagi kita. Bagian kita hanyalah berserah, percaya dan taat, selanjutnya adalah bagian Tuhan untuk mewujudkan Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9) Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58) Kita harus melakukan terobosan hidup tetapi bukan dengan kehendak manusia, kita harus mewujudkannya sesuai dengan kehendak Kristus. Iblis selalu berusaha melemahkan iman kita dan membuat kita ragu tetapi ketika kita mengenakan pikiran Kristus, maka kita akan selalu dikuatkan dan berjalan dalam iman kepada Kristus.

Advertisements

Perkataan Yang Membuka Pintu-Pintu Mujizat

Amsal 18:21

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”

Shalom!

Lidah itu seperti pedang bermata dua bagi kita. Ketika kita mengatakan hal yang baik, maka hal yang baik pulalah yang akan terjadi dalam kehidupan kita, begitu juga sebaliknya. Karenanya, kita harus dewasa dalam berkata-kata agar apa yang kita katakana bisa memberkati orang lain dan menyentuh hati Tuhan. Yakobus 3:1-12 berkata Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”

Hal yang harus kita perhatikan dalam berkata-kata agar perkataan kita membuka pintu-pintu mujizat, yaitu:

  1. Perkataan yang dewasa kepada Tuhan. Markus 7:24-30 berkata Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak [orang Yahudi asli] dan melemparkannya kepada anjing. [gentile: bukan orang keturunan Yahudi]” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.” Dari seorang perempuan Siro-Fenisia tersebut, kita dapat belajar bahwa ia memiliki iman kepada Tuhan Yesus meskipun ia bukan seorang Yahudi. Perempuan ini begitu percaya bahwa Tuhan Yesus yang telah melakukan mujizat-mujizat bagi orang lain, masih sanggup melakukan mujizat yang sama dalam hidupnya juga. Bahkan melalui perkataannya, kita tahu bahwa perempuan tersebut tidak hanya mengejar mujizat Tuhan semata tetapi mencari pribadi Yesus sendiri Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33) Segelap apapun keadaan hidup kita, percayalah bahwa pintu mujizat akan terbuka bagi kita ketika kita mengucapkan perkataan yang menyentuh hati Tuhan (perkataan yang penuh harapan kepada Tuhan). Kejarlah perkenanan-Nya! Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (Habakuk 3:17-19) Percayalah Tuhan pasti tepati janji-Nya bagi kita dengan cara-Nya yang ajaib ketika kita tidak membatasi cara-Nya bekerja dalam hidup kita!
  2. Perkataan yang dewasa kepada sesama. 1 Samuel 17:32-33 berkata Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”” Marilah kita belajar mengatakan hal yang membangun kepada sesama, bukannya perkataan yang saling melemahkan satu sama lain.
  3. Perkataan yang dewasa kepada diri sendiri. 1 Samuel 17:34-37 berkata Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”” Marilah kuatkan iman kita sendiri dengan tidak memberi diri untuk diintimidasi oleh perkataan yang melemahkan diri sendiri. Patahkan setiap kuasa perkataan negatif di dalam nama Tuhan Yesus!