Nostalgia

Filipi 1:3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu (=bernostalgia).

Nostalgia adalah kenangan manis (moment indah) di masa lalu. Tidak semua hal indah terjadi di masa lalu, namun adalah keputusan kita untuk menilai masa lalu tsb indah atau buruk. Jika hati kita baik, semua hal dapat kita syukuri tetapi jika hati kita pahit, segala hal baik pun terasa buruk.

Dalam nostalgia ada mujizat, pemulihan dan kekuatan, yaitu ketika kita bernostalgia tentang kebaikan Tuhan. Contoh:

  1. Perjamuan Kudus. 1 Korintus 11:23-25 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
  2. Ketika Daud hendak melawan Goliat. 1 Samuel 17:37 Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Lupa artinya lepas dari ingatan, tercatat sebanyak 118 kali di Alkitab. Sedangkan kata “ingat” (kata dasar dari “peringatan”) tercatat sebanyak 345 kali di Alkitab. Ini artinya kita harus lebih banyak mengingat hal-hal indah dan melupakan kenangan buruk. Lebih baik fokus pada sejumlah kebaikan dibanding fokus pada setitik kesalahan.

Melupakan kebaikan Tuhan akan berakibat fatal, seperti bangsa Israel yang telah mengalami mujizat menyeberangi Sungai Nil yang kering namun bersungut-sungut hanya karena air pahit di Mara (Keluaran 15:22-24, mengingat ‘black spot’), akhirnya mereka tidak dikenan Tuhan untuk masuk Tanah Kanaan.

Advertisements

Imajinasikan masa depanmu!

Natal bermakna Tuhan menjadi manusia, sedangkan Paskah membawa manusia kepada Tuhan.

Dosa (Yun: harmatea) berarti meleset (tidak tepat sasaran). Manusia menjadi seorang penyembah karena percaya bahwa ada kuasa yang lebih besar dari dirinya. Dosa membuat penyembahan manusia meleset dari Tuhan. Maka dari itu, kematian dan kebangkitan Yesus mengembalikan penyembahan manusia tepat kepada Tuhan.

Roma 1:21

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap [=meleset]. (TB)

Because that, when they knew God, they glorified [him] not as God, neither were thankful; but became vain in their imaginations, and their foolish heart was darkened. (KJV)

Imajinasi adalah

  1. Daya cetak. Imajinasi kita membawa kita kepada tujuan yang kita bayangkan.
  2. Melihat dengan mata jasmani yang tidak bisa kita lihat.
  3. Menarik masa depan kepada masa kini. Kita didesain untuk masa depan, maka jangan terjebak dengan masa kini.

Imajinasi bukan hal murahan, melainkan sebagian dari iman. Kematian dan kebangkitan Yesus membuat kita mengimajinasikan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8).

Ibrani 12:2

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (TB)

Looking unto Jesus the author and finisher of [our] faith; who for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God. (KJV)

Million Of Meanings (Jutaan Arti)

​Yohanes 20:5-7  Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.

Yohanes 20:11-16  Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

Kita boleh saja memperkatakan iman sesuai dengan Firman Tuhan meskipun kenyataan hidup tidak demikian. Ingatlah bahwa ada kain  peluh sebagai “tanda” bahwa Yesus masih ada dan akan kembali bagi kita. Berapa banyak kita sekarang sedang menangis karena berbagai pergumulan hidup dan merasa Yesus meninggalkan kita? Ingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Ia akan segera kembali untuk memulihkan kita. Ketika Ia mengenal nama kita, itulah kunci dari surga (master key of our life). When God knows our name, it’s everything. It’s million of meaning: a greatest blessing of heaven.
Sukses adalah melibatkan diri kita dalam rencana Tuhan bukan melibatkan Tuhan dalam rencana kita. 

Yohanes 10:1-3  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

2 Tawarikh 1:7-12  Pada malam itu juga Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Berkatalah Salomo kepada Allah: “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada Daud, ayahku, dan telah mengangkat aku menjadi raja menggantikan dia. Maka sekarang, ya TUHAN Allah, tunjukkanlah keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku, sebab Engkaulah yang telah mengangkat aku menjadi raja atas suatu bangsa yang banyaknya seperti debu tanah.  Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?” Berfirmanlah Allah kepada Salomo: “Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau, maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.” 

Fokus kita yang utama adalah memiliki hikmat Tuhan untuk menggembalakan jiwa-jiwa, maka berkat kelimpahan akan mengikuti kita – bukan minta hikmat untuk mendapat kekayaan.

1 Tawarikh 14:2  Lalu tahulah Daud, bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel, sebab martabat pemerintahannya terangkat tinggi oleh karena Israel umat-Nya.

Black Spot (Noda Hitam)

1 Samuel 10:1, 6-7  Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri: Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain. Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau. >> Saul menjadi raja atas “pilihan Tuhan” bukan “undian”. Hendaklah kita menjadi “manusia baru” setelah diurapi Tuhan. Jangan meremehkan moment-moment bersama Tuhan.

1 Samuel 10:21-23  Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan. Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: “Apa orang itu juga datang ke mari?” TUHAN menjawab: “Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.” Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. >> Saul memiliki “black spot”, yaitu bahunya lebih tinggi dari orang sebangsanya sehingga ia merasa rendah diri di hadapan orang banyak. Setiap black spot yang tidak diserahkan kepada Tuhan akan menghambat kehidupan kita sehingga tidak maksimal, padahal Tuhan menghendaki kita mengalami kemaksimalan hidup. Jika kita mau membereskan black spot tersebut dengan Tuhan, Ia sanggup mengubahkan kita menjadi manusia baru.

1 Samuel 10:24, 26-27  Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa itu: “Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorang pun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu.” Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: “Hidup raja!” Saul pun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah. Tetapi orang-orang dursila berkata: “Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!” Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.

Setiap orang memiliki “black spot”-nya masing-masing yang tidak ingin disinggung oleh orang lain sehingga ia menjadi rendah diri, cenderung minder dan memilih untuk menghidar dari banyak orang sebagai zona nyamannya. Jika black spot itu dibereskan dengan Tuhan, hidup kita pasti diubahkan dan apapun yang kita perbuat pasti berhasil.

Last Runner

Ibrani 11:39-40 (TB)  Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.
Hebrews 11:39-40 (AMP) And all of these, though they won divine approval by [means of] their faith, did not receive the fulfillment of what was promised, Because God had us in mind and had something better and greater in view for us, so that they [these heroes and heroines of faith] should not come to perfection apart from us [before we could join them].
Kita berada di akhir zaman dan berada di etape terakhir perjuangan iman. Kitalah penentu kesuksesan mereka karena kitalah pelari terakhir dalam estafet ini. Lalu, siapakah yang termasuk dalam golongan ‘view for us’ ini?
Ibrani 12:1 (TB)  Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Hebrews 12:1 (MSG) Do you see what this means—all these pioneers who blazed the way, all these veterans cheering us on? It means we’d better get on with it. Strip down, start running—and never quit! No extra spiritual fat, no parasitic sins.
Allah sudah menetapkan masing-masing perlombaan dalam kehidupan kita, meskipun kita mempunyai kehendak bebas, tetapi kita tak dapat memilih untuk tidak melakukan kewajiban ini. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, terkadang kita lemah tetapi bersyukurlah karena ‘para pendahulu’ kita selalu menyemangati kita. Jangan berada di luar lintasan perlombaan yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita ataupun membuat lintasan perlombaan sendiri. Kita tak boleh santai lagi, start running and never quit!
No extra spiritual fat | Jangan kelebihan “lemak rohani” (semua berkat dinikmati sendiri), agar kita bisa berlari lebih cepat.
No parasitic sins | Jangan menjadi parasit: yang hanya mengambil buah berkat semata tetapi tidak memiliki kontribusi (menghasilkan buah dalam pelayanan). Jangan menjadi “beban Kerajaan Allah”, tetapi jadilah “aset bagi Kerajaan Allah” (berjasa dan memenangkan peperangan rohani).
Kita spesial, karena kita diberi kehormatan menjadi “pelari terakhir” dalam pertandingan iman, melanjutkan perjuangan para pahlawan-pahlawan iman sebelumnya (Ibrani 11). So, running fast and never quit! Win this championship of faith!

Damai Sejahtera Sebagai Embrio Kehidupan

Embrio adalah titik awal segala sesuatunya, baik itu kehidupan, mujizat, dll. Tidak pernah ada output (mujizat, berkat, kesuksesan)  jika tidak ada input (embrio).
Hakim-hakim 6:16-24  Berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.” Maka jawabnya kepada-Nya: “Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku. Janganlah kiranya pergi dari sini, sampai aku datang kepada-Mu membawa persembahanku dan meletakkannya di hadapan-Mu.” Firman-Nya: “Aku akan tinggal, sampai engkau kembali.” Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya. Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: “Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya.” Maka diperbuatnya demikian. Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya. Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: “Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.” Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! (Peace unto thee | KJV) Jangan takut, engkau tidak akan mati.” Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan (Jehovah-shalom | KJV). Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer.
Salam “Shalom-Shalom” berarti nothing is broken (yang di dalam tidak ada yang rusak), nothing is missing (yang di luar tidak ada yang hilang), karena semua dalam perlindungan Tuhan.
Damai sejahtera Ilahi memampukan kita mengalahkan iblis, ketika kita memiliki damai pasti kita memiliki kuasa. Roma 16:20  Semoga Allah, sumber damai sejahtera, (God of Peace | KJV) segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu! Jangan anggap remeh damai sejahtera! Hal pertama yang iblis ambil dari kita ketika mengalami goncangan adalah damai sejahtera, karena damai sejahtera adalah embrio kehidupan kita.
Markus 4:35-37  Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang. (Gerasa: stranger drawing near)” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
Berdasarkan ayat tersebut, jelas bahwa ketika kita ingin melakukan kebenaran Firman Tuhan, iblis tidak tinggal diam dan berusaha menggagalkannya.
Markus 4:38  Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Tuhan Yesus tenang menghadapi goncangan karena Ia memiliki damai sejahtera Ilahi di hati-Nya. Kita akan mampu menghadapi goncangan ketika kita senantiasa memiliki damai sejahtera dalam hadirat Tuhan.
Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
John 14:27 (AMP) Peace I leave with you; My [own] peace I now give {and} bequeath to you. Not as the world gives do I give to you. Do not let your hearts be troubled, neither let them be afraid. [Stop allowing yourselves to be agitated and disturbed; and do not permit yourselves to be fearful and intimidated and cowardly and unsettled.]
Damai sejahtera berarti memiliki hubungan baik dengan Tuhan dan sesama, selain itu damai sejahtera Ilahi membuat kita yakin dalam mengambil setiap keputusan hidup. Tidak ada Allah lain seperti Tuhan Yesus!
Sudahkah kau miliki damai di hatimu? Sudahkah kau miliki sukacita di hatimu? Hanya Yesus yang sanggup memberikan semua itu. Jadikanlah Dia Raja di hidupmu.

The Kingdom Attitude

Shalom!
Mazmur 69:32 berkata “Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!” Attitude determines altitude. Keberhasilan hidup kita di masa depan ditentukan oleh sikap hati yang benar. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23) Prinsip Kerajaan Surga berbicara tentang bagaimana keadaan dalam diri (inside) mempengaruhi keadaan luar diri (outside).
Kadangkala kita memang hidup bahkan melayani Tuhan namun hati kita ‘mati’. Hal tersebut ditandai dengan ketidakpedulian kita terhadap keselamatan orang lain, hubungan yang tidak baik dengan sesama, tak lagi merasakan hadirat Tuhan dan hanya melakukan kewajiban sebagai rutinitas semata tanpa gairah untuk menyenangkan Tuhan namun hanya sebagai ‘self-service’. Jadi, banyaknya aktivitas kita tidak menjamin bahwa hati kita ‘hidup’ bahkan segala aktivitas tersebut hanyalah ‘topeng’ yang menutupi ‘kematian hati’ kita. Ketika hati kita ‘hidup’, apapun yang kita lakukan bagi Tuhan pasti maksimal.
Hati yang hidup akan bersukacita untuk memenangkan jiwa sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan jiwanya terlebih dahulu. Hati yang hidup pasti memiliki hati yang berbelaskasihan kepada jiwa-jiwa yang terhilang.
2 Raja-Raja 7:3 berkata “Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: “Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati.” Lalu pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke tempat perkemahan orang Aram. Tetapi ketika mereka sampai ke pinggir tempat perkemahan orang Aram itu, tampaklah tidak ada orang di sana. Sebab TUHAN telah membuat tentara Aram itu mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar, sehingga berkatalah yang seorang kepada yang lain: “Sesungguhnya raja Israel telah mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan kita, supaya mereka menyerang kita.” Karena itu bangkitlah mereka melarikan diri pada waktu senja dengan meninggalkan kemah dan kuda dan keledai mereka serta tempat perkemahan itu dengan begitu saja; mereka melarikan diri menyelamatkan nyawanya. Lalu pergilah mereka menyusul orang-orang itu sampai ke sungai Yordan, dan tampaklah seluruh jalan itu penuh dengan pakaian dan perkakas yang dilemparkan oleh orang Aram pada waktu mereka lari terburu-buru. Kemudian pulanglah suruhan-suruhan itu dan menceritakan hal itu kepada raja. Maka keluarlah penduduk kota itu menjarah tempat perkemahan orang Aram. Karena itu sesukat tepung yang terbaik berharga sesyikal dan dua sukat jelai berharga sesyikal, sesuai dengan firman TUHAN.” Orang kusta di zaman itu adalah orang yang hidup terkucil dan mendapat makanan hanya dari belas kasihan orang lain yang sehat. Namun menarik sekali sikap hati dari orang-orang kusta di ayat tersebut, yaitu hati yang hidup sehingga sebuah bangsa diselamatkan oleh orang-orang yang dikucilkan bangsanya sendiri bahkan hidup orang-orang kusta tersebut dipulihkan secara sempurna (2 Raja-Raja 8:4-5).

The Kingdom Facility

Shalom!

Sia-sialah apa yang kita capai dalam perjalanan iman jika pada saat terakhir kita gagal untuk setia, karenanya setialah sampai akhir. Kasih  karunia memampukan kita untuk sampai kepada tujuan akhir, bukan mempersingkat perjalanan iman kita. Dalam perjalanan menuju garis akhir pertandingan iman, Tuhan telah menyediakan fasilitas Kerajaan Surga bagi kita. Fasilitas Kerajaan Surga itu adalah ‘rest area’, sebuah tempat untuk memulihkan energi kita dan memantapkan kembali perjalanan kita.

Lukas 5:15-16 berkata “Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Tuhan Yesus mengetahui waktu yang Tuhan tentukan untuk Ia beristirahat dan menyendiri bersama Bapa (Matius 5:1). Itulah sebabnya Yesus bukannya memegahkan diri dan melayani banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti Dia di tengah-tengah ‘ketenaran-Nya’ (Matius 4:24-25), karena bagi-Nya “God’s rest area” adalah tempat terindah dibanding tempat lain di dunia ini. Hanya dengan menyendiri di hadirat-Nyalah kita bisa mengatasi kejenuhan hidup karena semua kebutuhan kita tersedia di ‘rest area’ Kerajaan Allah.

Mazmur 91:2-16 adalah janji pertolongan Allah untuk anak-anak-Nya, dan kuncinya adalah “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mazmur 91:1)

“He that dwelleth in the secret place of the most High shall abide under the shadow of the Almighty (Psalms 91:1 –KJV) Percayalah bahwa ketika kita berada di ‘secret place’ Tuhan, maka kita akan menikmati kebaikan-Nya yang sempurna ‘under the shadow of the Almighty’. Bersyukurlah ketika kita ada dalam sebuah titik di mana kita merasa sendirian karena disaat itulah kita bisa menyendiri bersama Tuhan dalam ‘rest area’.

Kejadian 2:1-3 berkata “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”

Berdasarkan ayat tersebut, kita mengetahui bahwa Tuhan yang kapasitasnya tak terbatas saja mengetahui kapan Ia harus ‘berhenti’. Percayalah bahwa ketika kita berhenti dan masuk ‘rest area’ bukan berarti kita menjadi tidak produktif dan  mengalami kemunduran tetapi itu adalah saat dimana kita melakukan ‘investasi’ untuk pemantapan meraih sesuatu yang lebih besar lagi di masa depan karena disaat itulah kita menikmati kesempurnaan berkat Tuhan dan dikuduskan oleh-Nya. Ketika kita mengetahui kapan kita harus ‘berhenti’, percayalah bahwa kita akan memiliki energi lebih untuk tetap setia sampai akhir. To be a workaholic doesn’t mean that you will be blessed, but only in His rest area you will be blessed exceedingly abundantly.

Cermin Kerajaan Allah

Yohanes 1:16-17

“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”

Shalom!

Kita bisa bercermin melihat siapa diri kita dari berbagai aspek kehidupan kita. Hal yang penting dalam naik level adalah mengetahui posisi kita sedang berada di anak tangga “level” mana.

Prinsip dasar kekristenan adalah percaya dan menerima Yesus di dalam kehidupan kita. Iman berarti percaya bahwa Yesus ada di dalam kehidupan kita sehingga ketika Kristus semakin besar di dalam kita dan kita semakin kecil, melalui kepenuhan-Nyalah kita menerima kasih karunia akan kesempurnaan iman. Ketika Allah memenuhi kehidupan kita, maka kita yang terbatas menjadi tidak terbatas.

Kasih karunia adalah mendapatkan apa yang seharusnya kita tidak dapatkan, yaitu pengampunan tetapi sekaligus kita tidak mendapatkan yang seharusnya kita dapatkan, yaitu penghukuman. Semakin kita hidup dalam kasih karunia seharusnya kita hidup semakin bertanggung jawab karena kasih karunia bukan legalisasi dosa.

Hukum Taurat sama seperti cermin, yaitu bekerja dengan memberitahukan ‘kelemahan’ kita namun tidak menyelesaikan ‘kelemahan’ tersebut. Tetapi dengan cermin Kerajaan Allah, kita bisa melihat kasih karunia Allah dalam hidup kita dan mendapat semangat kehidupan yang baru untuk penyelesaian segala ‘kelemahan’ kita.

Yohanes 9:1-2 berkata “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?””

Di mata manusia kita menerima cermin ‘penghakiman’ tetapi Yesus menggunakan cermin Kerajaan Allah, yaitu dengan tidak menghakimi kelemahan seseorang melalui intimidasi akan dosa-dosanya. “Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yohanes 9:3)

Melalui 1 Raja-Raja 17:17-22 kita bercermin tentang diri kita yang terkadang merasa terintimidasi oleh kesalahan kita di masa lalu sehingga merasa tak layak di hadapan Allah, tetapi bersyukurlah sebab Tuhan Yesus telah membayar lunas segala dosa kita sehingga kita memperoleh kasih karunia Tuhan. Tanpa mempermasalahkan siapa kita, Tuhan berinisiatif memulihkan kehidupan kita jadi kita pun tak perlu ‘pusing’ dengan segala intimidasi tersebut. Tuhan Yesus memberkati.

The Kingdom Formula

Kisah Rasul 10:1-4

“Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: “Ada apa, Tuhan?” Jawab malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.”

Shalom!

            Untuk kita meraih sukses yang sempurna dalam kehidupan tentu ada formulanya, bukan dengan cara yang asal. Ketika kita bisa berjalan dengan formula Kerajaan Allah, kita akan mampu meraih hasil yang maksimal dengan tenaga yang sama. Puji Tuhan karena dara Tuhan Yesus, kita dilayakan menjadi bangsa Israel secara rohani. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus intens sekali terjadi kunjungan Tuhan, kunjungan Roh Kudus, ‘angelic activity’ sehingga heavenly back-up sedang terjadi atas anak-anakNya di hari-hari terakhir, juga Allah mengingat kehidupan kita.

Formula Kerajaan Allah agar Surga terbuka bagi kehidupan kita, yaitu doa dan korban naik bersama-sama, tidak terpisah. “…dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah … “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.”” (Kisah Rasul 10:2&4). Di hari-hari terakhir kita akan mengalami sebuah ‘pertandingan yang tidak seimbang’ untuk merebut hati suatu bangsa dan sepertinya segala sesuatunya ‘tertutup’ dalam kehidupan kita meski sudah berdoa dengan seksama, tetapi percayalah ketika doa dan korban yang paling berharga dipersembahkan kepada Tuhan secara bersama-sama, Tuhanlah yang akan membela kita dan membukakan pintu-pintu yang tertutup itu bagi kita sampai kita tak bisa lagi menahannya dari Surga (1 Raja-Raja 18:30-39; 1 Samuel 1:10-11).

Bersyukurlah bahwa pewahyuan Tuhan dibukakan kepada kita hari ini karena hal itu langka. Ayub 1:1 berkata “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Ayub sungguh orang yang ‘spotless’ (tanpa cacat cela) (Ayub 1:5) namun ia mengalami suatu ujian terbesar dalam kehidupannya, yaitu ujian motivasi (Ayub 1:12-17). Ketika Tuhan mengizinkan iblis ‘menjamah’ Ayub, maka hal pertama yang diambil iblis adalah ‘korban’ Ayub agar doa Ayub ‘mandul’. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berjaga-jaga karena iblis senantiasa mengawasi kita untuk mendakwa kita (Ayub 1:9-11).

Bagaimana Ayub dipulihkan dan ‘dinaikan’ kembali oleh Allah? Pertama, Tuhan memulihkan ‘korban’ Ayub sehingga Ayub dapat berdoa dan memberikan koraba kepada Allah sehingga Tuhan mengabulkan doanya (Ayub 42:7-9). Akhirnya Ayub mampu menang dari ujian motivasi ketika ia mendoakan orang lain juga (Ayub 42:10-14). Ketika kita semakin memiliki hati untuk member, itu adalah tanda-tanda pemulihan. Tuhan Yesus memberkati.