Mengalami Pembebasan Seutuhnya

Mari kita mengambil hikmah dari kisah orang-orang yang “terikat” hingga mereka mengalami “pembebasan”, yaitu:
1) Mengutamakan Tuhan seperti janda Sarfat (1 Raja 17:12-16). Dengan segala keterbatasan hidupnya (terikat kemiskinan), janda Sarfat tersebut tetap memilih untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan melalui nabi Elia (padahal ia sendiri pun membutuhkan). Akhirnya, ia mengalami kelimpahan setelah memberikan satu-satunya hal yang ia miliki.
2) Taat meski tak mengerti seperti Naaman (2 Raja 5:10-14). Secara logika, banyak sungai lain yang lebih baik untuk Naaman mentahirkan diri (dari keterikatan sakit-penyakit) tetapi tuntunan yang ia dapat adalah ke sungai Yordan, dan ia taat. Akhirnya, ia disembuhkan.
3) Tidak membatasi/meragukan kuasa Tuhan. Matius 13:55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? | Orang-orang yang mengenal Yesus meremehkan kemampuan Yesus, sehingga tak banyak mujizat yang Yesus lakukan di tempat asalnya. Seringkali kita meremehkan orang-orang yang latar belakang kehidupannya kita anggap tidak lebih baik dari kita, namun tak ada alasan bagi kita untuk meremehkan Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi. Secara sosial, Yesus terikat dengan gambar diri yang rendah di mata orang-orang sekitarnya, tetapi Ia memilih untuk yakin akan siapa Ia di hadapan Allah, sehingga kuasa Allah pun nyata atas diri-Nya untuk melakukan mujizat. Bersama Allah, kita pun tak terbatas melakukan apa yang mustahil menurut pandangan manusia.

Advertisements

Proses Dalam Kehidupan

Shalom!  Penyembahan kepada Tuhan adalah suatu pengagungan kepada Tuhan karena Tuhan layak disembah meskipun keadaan kita tidak baik, bukan karena kita menginginkan sesuatu dari Tuhan. Tuhan tidak perlu segala talenta ataupun kekayaan kita, tetapi sebuah penyembahan dari kita sangatlah menyukakan hati Tuhan karena kerinduan Tuhan adalah dekat dengan kita. Proses adalah suatu keadaan yang harus dilalui untuk sebuah keadaan yang lebih baik lagi, namun sayangnya banyak orang tidak menghendakinya karena memiliki paradigma yang salah tentang proses, yaitu sebagai sebuah kesukaran. Sebagai orang yang telah lahir baru di dalam Kristus seharusnya kita memiliki paradigma yang baru, yaitu tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan (proses). Proses membawa kita naik ke level kehidupan yang selanjutnya (lebih baik), karenanya marilah kita belajar untuk mencintai sebuah proses kehidupan. 2 Korintus 1:8-9 berkata “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Tidak ada manusia super di dunia ini, semua orang pasti pernah mengalami proses yang menyakitkan, tetapi yang harus kita pahami adalah bahwa proses tersebut berujung kebaikan bagi diri kita masing-masing dan kita tak pernah dapat menyelami pikiran-pikiran Tuhan namun satu hal yang pasti adalah penyertaan-Nya sempurna dan rancangan-Nya penuh damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Mazmur 73:3-12 berkata “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati. Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!” Begitulah pemazmur meratap tentang ‘ketidakadilan hidup’ yang ia alami, namun setelah ia mengalami pembaharuan pikiran dari Tuhan maka mazmurnya pun berubah seturut pikiran Kristus yang ditaruhkan padanya, sebagai berikut: “sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.” (Mazmur 73:17-20) Masa lalu kita memang selalu menjadi sejarah kehidupan kita tetapi hal tersebut tidak selalu harus membuat masa depan kita menjadi sama seperti masa lalu kita ketika kita memutuskan untuk hidup lebih baik seperti kehendak Tuhan. Tuhan menggunakan ketidaksempurnaan kita untuk menolong banyak orang percaya kepada Tuhan Yang Sempurna. Tujuan Tuhan dalam setiap proses yang menyakitkan itu adalah agar kita semakin rendah hati dan dapat dijadikan bejana-Nya, poin penting dalam menghadapi setiap proses kehidupan ini adalah menyelaraskan cara pandang kita terhadap proses tersebut sesuai dengan cara pandang Tuhan, karena jika kita tidak memiliki cara pandang yang sama dengan Tuhan pastilah yang kita lakukan hanyalah sebuah tindakan keputusasaan. Marilah kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap proses kehidupan ini, semua adalah rencana Tuhan yang indah bagi kita.

Iman

Shalom! Setiap orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan pasti mengalami perubahan menjadi lebih baik. Yang akan dipertanyakan oleh Tuhan ketika kedatangan-Nya yang kedua kelak adalah iman dan buah dari talenta kita. Lukas 18:8 berkata “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”” [Tetapi apabila Anak Manusia datang, apakah masih ditemukan orang-orang yang percaya kepada-Nya di bumi ini? – BIS] Di akhir zaman, iman merupakan suatu hal yang langka untuk ditemukan karena kejahatan akan semakin berkuasa di bumi ini sehingga banyak orang percaya akan meninggalkan imannya kepada Yesus. Kita harus tetap mempertahankan iman dan menanti-nantikan kedatangan Tuhan dengan iman yang teguh. Kita harus tetap melekat kepada Tuhan agar peka mendengar suara-Nya, karena akhir-akhir ini banyak terjadi penyesatan tentang Firman Tuhan yang mana mengajarkan jemaat tentang ‘sekali selamat tetap selamat’ dan mengentengkan makna dosa sehingga ‘nyaman’ bagi kedagingan manusia. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7) “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,” (Efesus 2:8) “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” (Yudas 1:3) Iman dalam bahasa aslinya tertulis ‘pistis’ yang berarti kepercayaan atau keyakinan, ini adalah hal yang harus kita jaga dalam hidup dengan sungguh-sungguh. Lukas 18:1-8 berkata “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”” Tahun ini adalah tahun pelipatgandaan mujizat sekaligus tahun pelipatgandaan goncangan, namun sebagaimana yang dialami janda dalam ayat di atas…marilah kita dengan tak jemu-jemu tetap berharap kepada Tuhan. Kita memang tak selalu benar di hadapan Tuhan, karenanya marilah kita selalu mengintrospeksi diri di hadapan Tuhan. Jika hakim yang tak mengenal Tuhan saja bisa luluh hatinya, apalagi Tuhan yang sangat mengasihi kita. Jika kita tetap mempertahankan iman kepada-Nya, percayalah Tuhan akan segera menolong indah pada waktu-Nya. Dalam masa kesesakan tersulit sekalipun, kita harus tetap mempertahankan iman kepada-Nya karena Tuhan tidak sekalipun pernah meninggalkan orang-orang yang beriman kepada-Nya, pertolongan-Nya pasti nyata dalam hidup kita. Mujizat masih ada! Tuhan dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.

Tuntunan Seorang Bapa Kepada Anak-Nya

Shalom!
Setiap perjumpaan dengan Tuhan pasti membawa perubahan dalam hidup kita. Tahun Ayin Hey 5775 (24 September 2014 – 13 September 2015) menggambarkan bagaimana seorang hamba memandang kepada tangan tuannya hingga mendapat belas kasihan tuannya. Mazmur 32:8 berkata “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” Tuhan rindu untuk menuntun kita hidup seturut kehendak-Nya tetapi hal tersebut tergantung kita apakah kita bersedia untuk hidup dituntun oleh Tuhan atau tidak. Ulangan 8:5 berkata “Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.” Amsal 3:1 berkata “Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku”  
MENGAJAR 
Pentingnya ajaran Tuhan bagi kita, yaitu:
1) Agar kita tidak menyimpang dari hukum Tuhan. “Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.” (Mazmur 119:102) 2 Timotius 3:16 berkata “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 
2) Agar kita memiliki hati yang bijaksana. Mazmur 90:12 berkata “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
3) Untuk menerangi jalan kehidupan kita. Amsal 6:23 berkata “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan”
4) Agar kita memiliki Bapa maupun Anak (Tuhan Yesus). 2 Yohanes 1:9 berkata “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.” Mazmur 119:12 berkata “Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.”  
MENUNJUKAN JALAN 
Matius 7:13-14 berkata “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”” Akhir-akhir ini banyak orang memilih jalan yang menyenangkan bagi daging mereka, tetapi Tuhan menghendaki agar kita memilih jalan Tuhan meskipun itu berat. Jangan menyangka bahwa kita bisa hidup tanpa Tuhan, yakinlah bahwa kita akan keluar sebagai pemenang ketika kita berjalan bersama Tuhan. Mazmur 119:2-3 berkata “Berbahagialah [diberkatilah] orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.” God is not the light at the end of the tunnel, but He is the light in the tunnel. Tuhan selalu dekat dengan kita, hendak menunjukan setiap langkah-Nya bersama kita.  
MEMBERI NASIHAT 
Amsal 9:9a “berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak”
Amsal 19:20 “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” 
Mazmur 73:24 “Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan

Jatuh Cinta Kepada Tuhan

Shalom!  Tahun 2015 adalah tahun pelipatgandaan mujizat. Kiranya kita semua mengalami pelipatgandaan mujizat dan kelak masuk surga. Masuk surga tidak mudah, kita harus hidup seperti gadis-gadis bijaksana yang pelitanya selalu menyala, membawa cadangan minyak dan siap ketika Mempelai Pria datang menjemput. Matius 7:21-23 berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”” Orang yang dapat masuk surga adalah orang yang dikenal Tuhan dan melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa harus menjadi prioritas utama hidup kita. Markus 12:30-31 berkata “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”” Kita harus benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, bukan sekedar cinta biasa. “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wahyu 2:4) Jika kita mencintai Tuhan, kesukaan Tuhan pun akan menjadi kesukaan kita, yaitu keselamatan jiwa-jiwa dan mempermuliakan nama Tuhan. Tahun ini adalah tahun double Sabbath dimana kita harus banyak beristirahat di dalam hadirat Tuhan dan semakin berharap kepada-Nya, bukannya mengandalkan kekuatan sendiri. Marilah kita mementingkan perkara-perkara Tuhan, bukan yang di bumi. Kita harus menghormati perjamuan kudus Tuhan, yaitu dengan “membereskan” diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum menerima perjamuan kudus tersebut. Matius 6:14 berkata “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

P A S K A H

Keluaran 12:14

“Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.”

Shalom!

Kata ‘paskah’ berasal dari kata ‘pesah’ (Ibrani) atau ‘passover’ (Inggris) artinya melewati atau melalui. Inti dari Paskah, yaitu:

1)      Kasih karunia yang menyelamatkan. Kita diselamatkan bukan karena kebenaran kita sehingga kita layak diselamatkan, namun semata-mata karena kasih karunia Tuhan saja. “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu.” (Ulangan 7:7-10) “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

2)      Pengorbanan. Tuhan Yesus tidak berdosa sedikitpun tetapi Ia menyerahkan dirinya dengan sukarela untuk disalib menggantikan kita yang notabene berdosa. Namun, tidak sampai disitu saja pengorbanan-Nya, Tuhan Yesus benar-benar bangkit di hari ke-3 yang mana menyatakan hanya Dialah satu-satunya Allah yang sanggup berkorban secara sempurna bagi umat-Nya, yaitu mati dan bangkit bagi kita sehingga kepercayaan kita kepada-Nya tidak sia-sia sebab Ia sanggup mengalahkan kuasa maut melalui bukti kebangkitan-Nya. “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:17-22) Maka kebangkitan Kristus sungguh bermakna bagi kita, yaitu:

  1. Memberikan kita kuasa untuk menjadi umat yang lebih dari pemenang. “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15:57) “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37)
  2. Memberikan perubahan dalam hidup kita yang awalnya seorang pendosa menjadi seorang yang sungguh-sungguh mengikuti Tuhan Yesus sehingga hidup kita lebih berarti.
  3. Memberikan pengharapan dan kepastian iman bahwa kita telah diselamatkan dengan sempurna sesuai janji-Nya juga pengharapan akan kebangkitan tubuh kita kelak yang akan diubah menjadi tubuh kemuliaan.

Pilihan Orang Bijaksana

Shalom!

Kebijaksanaan adalah kemampuan atau hasil dari tindakan berpikir dan bertindak sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, pengertian dan hati nurani atau kemampuan manusia didalam memilih dan memutuskan suatu keputusan yang terbaik di dalam beberapa pilihan sehingga mendapatkan hasil yang baik, benar dan sesuai harapan.

1 Raja-Raja 3:9 berkata “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”” Berarti kebijaksanaan mutlak harus ada dalam diri kita sebagai anak Tuhan.

Matius 25:1-13 membandingkan gadis-gadis bodoh dan gadis-gadis bijaksana. Hal ini menggambarkan keadaan orang-orang Kristen dalam penantian akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kelak. Dalam terjemahan Yunani dikatakan bahwa gadis-gadis bodoh tersebut tidak tertidur lelap melainkan baru saja mulai tertidur, kemudian datanglah utusan mempelai pria dan gadis-gadis bijaksanalah yang kedapatan siap.

Ada hal-hal esensi yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain melainkan harus dilakukan oleh diri kita sendiri secara pribadi kepada Tuhan, yaitu hubungan kita dengan Tuhan, iman percaya, dan hal-hal kerohanian. Banyak dari kita yang menganggap bahwa Tuhan tidak datang segera, tetapi percayalah bahwa kedatangan Tuhan Yesus sudah sangat-sangat singkat; akan tiba saatnya ketika kita tak diberi lagi kesempatan untuk bertobat dan mendekat kepada Tuhan.

Hal yang harus diperhatikan sebagai orang yang bijaksana dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus, yaitu:

  1. Waspada dan tetap berjaga-jaga dalam kehidupan kita. Matius 24:42 berkata “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”. Ketidakmampuan kita untuk melihat apa yang terpenting (prioritas) dalam hidup adalah bahaya terbesar yang membuat kita mengikuti arus dunia. Ketika kita lebih memilih mengikuti logika kita yang bertentangan dengan Firman Tuhan, perlahan-lahan kita sedang mematikan hati nurani kita sendiri. Satu-satunya hal yang membuat kita dapat menikmati hidup adalah dengan bersyukur.
  2. Memiliki persiapan dalam hidup. Persiapan bagi masa depan kita selama hidup di bumi memang penting tetapi terlebih penting lagi untuk mempersiapkan diri kita ketika kita telah meninggalkan bumi ini (meninggal) bukan hanya melakukan persiapan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kelak. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Kesetiaan

Amsal 20:6

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”

Shalom!

Kita beroleh kasih karunia Tuhan karena sebuah kesetiaan. Kesetiaan adalah hal yang mutlak ada dalam segala aspek kehidupan kita karena ketidaksetiaan akan menghancurkan sebuah kesepakatan. Galatia 5:22 menyebutkan bahwa kesetiaan merupakan salah satu buah Roh. Kesetiaan adalah berpegang teguh pada janji, pendirian, patuh dan taat bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Kesetiaan dalam bahasa aslinya menurut Alkitab Perjanjian Lama menggunakan kata ‘emunah’ yang artinya kokoh, tidak tergoyahkan, tidak berubah (steady, truly, truth, fairly). Sedangkan dalam Alkitab Perjanjian Baru kesetiaan menggunakan kata ‘pistos’ yang berarti dapat/layak dipercaya, taat, orang percaya (trustworthy, believe, sure, true). Kehidupan manusia bagaikan sebuah buku, apakah lembar demi lembar isi buku tersebut ‘menarik’ untuk dibaca?

Apa janji Tuhan bagi orang yang setia? Ulangan 28:1 berkata “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.”

Syaratnya agar janji Tuhan tersebut digenapi dalam kehidupan kita, yaitu “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14)

Setia bukan saja dalam hal-hal yang besar namun belajarlah untuk setia mulai dari perkara yang kecil, percayalah bahwa Tuhan memperhatikannya dan janji-Nya untuk mengangkat kita menjadi ‘kepala’ akan digenapi.

Bagaimana akibatnya jika kita tidak setia? Ulangan 32:20 berkata “Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan.”

Ciri-ciri orang yang setia, yaitu:

  1. Tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri (consistent). Tetap konsisten di jalan Tuhan dan mencari pertolongan hanya kepada Tuhan. “Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.” (ulangan 5:32-33)
  2. Bertahan sampai akhir (persisten). “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10b)

Kesetiaan harus sempurna (100%), karena kesetiaan yang tidak sempurna berarti ketidaktaatan terhadap Tuhan dan hal tersebut akan mendatangkan kutuk atas kehidupan kita (contoh: Saul, Petrus, Yudas) sedangkan kesetiaan yang sempurna (tetap setia kepada Tuhan meskipun harus mengorbankan nyawa) akan mendatangkan berkat bagi kehidupan kita (contoh: Sadrakh, Mesakh, Abednego, Paulus). Teladan yang paling sempurna akan kesetiaan adalah Tuhan Yesus Kristus yang setia melakukan kehendak Bapa demi kesempurnaan keselamatan kita. Setialah sampai akhir karena mahkota kehidupan akan menjadi upah kita!

Hidup Dalam Kasih Karunia Tuhan

Lukas 15:19

“aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”

Shalom!

Kasih karunia berarti kita mendapatkan sesuatu yang tidak layak untuk kita dapatkan (keselamatan) sekaligus tidak mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan (hukuman atas dosa). 1 Tawarikh 17:16b berkata “Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: “Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”

Jika kita merenungkan, sepertinya tidak ada satupun hal yang layak untuk dibanggakan dari diri kita. Namun, Mazmur 75:7-8 berkata “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.” Tuhan melihat hati kita, Ia tahu kapan saatnya untuk mengangkat kita.

Hal yang dilakukan Daud atas kasih karunia Tuhan yang ia alami dalam hidupnya adalah mengucap syukur. “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.” (Mazmur 77:12)

Orang yang hidupnya mengandalkan kekuatannya sendiri pasti berada di luar kasih karunia Tuhan, pada akhirnya ia akan lelah dengan hidupnya dan putus asa. Orang yang hidup di dalam kasih karunia Tuhan pasti memiliki kerendahan hati. Ia menyadari segala keterbatasannya dan mengakui bahwa segala hal yang ia miliki adalah anugerah Tuhan. Orang seperti ini akan benar-benar mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Satu hal yang luar biasa adalah ketika ia jatuh, Tuhan akan mengangkatnya sehingga ia menjadi seorang pribadi yang lebih tegar dan hidup penuh dengan ucapan syukur.

Kasih karunia Tuhan yang kita alami dalam kehidupan kita, yaitu:

  1. Kasih karunia keselamatan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9)
  2. Keadaan yang baik. 1 Korintus 15:10 berkata “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Tanpa kasih karunia Tuhan, kita akan jatuh ke dalam berbagai hal yang tidak berkenan kepada-Nya.
  3. Kesempatan untuk melayani Tuhan. Talenta yang Tuhan beri untuk kita melayani Tuhan adalah sebuah kepercayaan. Melayani Tuhan adalah suatu kehormatan, bukan beban.

Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap kasih karunia Tuhan?

  1. Janganlah keluar dari kasih karunia Tuhan, tetapi tetaplah tinggal dalam kasih karunia Tuhan agar penyertaan-Nya sempurna dalam kehidupan kita.
  2. Hargai kasih karunia Tuhan, jangan sia-siakan kasih karunia-Nya dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.

Menjadi Seperti Kristus

Shalom!

Bapa di Surga menghendaki agar kita sebagai anak-anak-Nya “mirip” seperti Dia. Roma 8:29-30 berkata “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ayat tersebut menyatakan tujuan Tuhan menciptakan kita di bumi ini, yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

Kejadian 1:26-27 berkata “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti kita:

  1. Memiliki kesamaan dengan Allah dalam karakter (pikiran, perasaan) dan sifat-sifat-Nya (kudus, adil, benar). Sesungguhnya gambar dan rupa Allah telah ada dalam diri kita secara natural, namun karena manusia telah berdosa maka gambar dan rupa Allah itu harus dipulihkan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
  2. Diberikan kemampuan yang sama untuk berkuasa atas alam ini. “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” (Kejadian 1:28-29)
  3. Kita berharga dan istimewa di mata Tuhan. Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk mencipta, kita memiliki kemampuan khusus yang spesial.

1 Yohanes 2:6 berkata “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Ciri orang yang telah serupa dengan Kristus yaitu bahwa ia menjadi ciptaan yang baru dalam Tuhan. Kolose 3:8-10 berkata “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” Menjadi seperti Kristus memerlukan proses yang terus menerus dilakukan dengan disiplin hingga kita benar-benar memiliki karakter Kristus.

 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5)