The Excellent Spirit

Di tengah kemustahilan hidup kita, Tuhan tetap sanggup mengubahnya jadi indah.

Daniel 6:4 Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa [excellent spirit]; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.
Ketika segala sesuatu kita lakukan dengan semangat yang terbaik untuk menyenangkan Tuhan, itulah excellent spirit. Excellent = exceedingly good [di atas rata-rata, melampaui yang baik, lebih dari yang diharapkan].

Matius 5:16  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik [excellent] dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Jika kita mau jadi terang, maka kita harus jadi excellent. Jika kita ingin diberkati dengan excellent, maka perlakukanlah Tuhan dengan excellent. Your excellency brings honor to God. 

The righteous is more excellent than his neighbour: but the way of the wicked seduceth them. (Proverbs 12:26 – KJV)

1) Kita harus excellent dalam pekerjaan. This also cometh forth from the LORD of hosts, which is wonderful in counsel, and excellent in working (Isaiah 28:29). Kolose 3:23  Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu [nyawamu] seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Excellency means give attention to detail. Jangan remehkan hal-hal sepele. Musuh terbesar dari excellency adalah tidak mau repot.

2) Kita harus excellent dalam attitude (karakter). Excellent spirit = exceptional quality, it’s about how tight you hold your principle of life (the word of God). Daniel 1:8  Daniel berketetapan [resolved not to defile, purposed in his heart] untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Tekadkan untuk berintegritas sesuai prinsip firman Tuhan, bukan sekedar mencapai kesuksesan duniawi. Output is determined by input, so fulfill your heart with the word of God. Integrity brings you to become an inspirator.

Daniel 6:11 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. 

Mujizat penuaian hanya bisa diraih oleh orang-orang yang berkarakter kuat, yaitu mereka yang intim berhubungan dengan Tuhan. Allah memakai kesulitan untuk memisahkan orang kerdil dan orang besar, untuk memunculkan terbaik kualitas kita.

Advertisements

Hidup Adalah Kesempatan

​Kisah Para Rasul 16:10  Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. 

Paulus ini meskipun postur tubuhnya kecil tetapi menghasilkan buah pelayanan yang besar, rahasianya yaitu “ia mencari kesempatan”. Kita harus meneladani Paulus dalam menghargai waktu hidupnya ke depan sebagai kesempatan dari Tuhan untuk menjalani hidup dengan bijaksana. Berikut adalah makna kata “kesempatan”, yaitu:

1) Topos: ada batasnya (waktu yang terbatas). Ibrani 12:17  Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata. Karena itu, kita tidak boleh menunda-nunda untuk memperbaiki diri sebab mungkin saja ini kesempatan terakhir kita. 2 Korintus 5:10  Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. 

2) Tura: pintu terbuka (pintu masuk). 1 Korintus 16:9  sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang. Paulus melihat ‘pintu terbuka’ dalam setiap tantangan hidupnya, karena itu kita jangan menyerah dalam kesulitan besar tetapi lihatlah itu sebagai peluang bagi Allah menyatakan mujizat-Nya sebab Allah kita adalah Allah yang optimis. Yesus Kristus adalah pintu terbuka di setiap penghalang hidup kita.

3) Kurios: waktu yang paling tepat/terbaik. Galatia 6:10  Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Maka janganlah menunda-nunda untuk berbuat baik kepada sesama kita sejahat apapun mereka.

Perhatikanlah Hidupmu!

Damai Sejahtera dalam Tuhan Yesus Kristus !

Tahun 2015 adalah Tahun Pelipatgandaan Mujizat. Mujizat yang pertama dan terbesar dalam hidup kita adalah Pribadi Yesus Kristus. Kita akan di bawa lebih untuk mengasihi Yesus. Pelipatgandaan Mujizat yang terjadi di tahun ini berbicara tentang perubahan dan penuaian jiwa bagi Tuhan Yesus Kristus. Apa yang harus kita perhatikan memasuki tahun 2015 ?

1. Perhatikan Mulutmu (I Petrus 3:10).

Di awal tahun 2015, kita harus belajar untuk memperhatikan perkataan kita. Jika kita ingin melihat hari esok yang baik, maka kita harus memperhatikan lidah/bibir kita dengan baik (Mazmur 8:2). Jangan anggap remeh perkataan kita, karena perkataan kita mempengaruhi kehidupan kita di masa depan (Amsal 13:2). Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21). Hari esok akan baik tergantung dari apa yang kita perkatakan dengan mulut kita. Jika kita ingin menang di musim yang baru, maka kita harus memiliki hidup yang baru; yang dikendalikan oleh perkataan Kristus. Setiap perkataan yang kita ucapkan setiap hari akan menciptakan hari esok.

Lepaskanlah kata-kata yang berkuasa, bukan hanya perkataan yang positif (Mazmur 39:1). Orang yang menjaga hati dan hidupnya selalu berkenan kepada Tuhan. Orang yang menjaga kelakuannya, maka mulutnya akan berkuasa. Mengucap syukurlah dan lepaskan perkataan yang baik serta membangun bagi orang-orang yang ada di sekeliling kita. Mari kita gemakan perkataan Kristus, maka mujizat akan nyata dalam hidup kita.

  1. Perhatikan Rohmu (Matius 25:8).

Standar dimata Tuhan adalah Roh yang menyala-nyala bukan roh yang redup bahkan padam. Orang yang menjaga rohnya tetap menyala-nyala tidak akan kaget dengan segala sesuatu yang terjadi dengan tiba-tiba. Jaga roh kita agar jangan redup di tahun 2015. Ketika Roh kita mulai meredup itu adalah suatu kebodohan. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam (Matius 25:8). Yang membuat roh kita redup adalah berkat. Fokuslah untuk menyenangkan hati Tuhan Yesus Kristus. Yang membuat roh kita menyala-nyala adalah mengejar Yesus dan mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Tahun 2015 akan menjadi tahun yang dasyat jika kita selalu memikirkan untuk menyenangkan hati Tuhan Yesus.

Roma 12:11-12 mengatakan “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!.” Kunci agar roh kita tetap menyala-nyala adalah bersukacita dalam pengharapan. Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19). Kita bersukacita bukan karena diberkati dan mengalami mujizat, namun kita bersukacita karena pengharapan di dalam Yesus Kristus. Bersukacita dalam pengharapan berarti sukacita yang dibangun atas dasar pengharapan akan pribadi Yesus Kristus. Ombak dalam kehidupan kita boleh datang silih berganti, namun setiap orang yang berharap pada Tuhan Yesus Kristus dan firman-Nya akan menjadi kekuatan. Sukacita karena Tuhan dan pengharapan akan Firman Tuhan akan membuat roh kita menyala-nyala.

Roma 12:13 “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!” Menabur bukan hanya bagi orang yang banyak uang, banyak usaha. Menabur adalah milik orang-orang yang memiliki hati yang besar.

  1. Perhatikan Imanmu (II Raja-raja 2:9)

Elisa mendapatkan double blessing, karena ia berani meminta dan berani melihat jauh ke depan. Jika kita ingin melihat mujizat Tuhan terjadi di tahun 2015, maka kita harus berani untuk meminta. Matius 7:7 “”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Segala hal boleh hilang di masa yang lampau, namun kedudukan kita sebagai anak-anak Tuhan janganlah hilang. Kita tidak mendapatkan sesuatu, itu karena kita tidak berani untuk meminta (Yohanes 16:24). Jangan melihat keadaan kita yang sekarang, belajarlah untuk melihat jauh ke depan. Disaat kita tidak berdaya dan terbatas kita memiliki Yesus yang luar biasa. Beranilah meminta dan berani melihat jauh ke depan.

Dia Adalah Allah Yang Sanggup Mengubah Masa Yang Sulit Menjadi Masa Yang Indah

Pengkhotbah 3:11

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Shalom!

Ulangan 30:15 berkata “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” Tuhan Yesus adalah Allah yang sanggup mengubah masa yang sulit menjadi masa yang indah. Di saat-saat sulit, kita selalu diperhadapkan dengan banyak pilihan yang akan menentukan masa depan kita. Lalu, apa yang harus kita pilih?

  1. Pilihlah untuk tetap berharap kepada Tuhan. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:5) Sesulit apapun keadaan kita, seberat apapun situasinya, tetaplah berharap kepada Tuhan sebab Ia adalah Allah yang selalu setia menepati janji-Nya dan tak pernah meninggalkan kita. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:11) “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 43:5) Ayub 42:1-2 berkata “Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Ayub akhirnya mendapat berkat double portion ketika Ia memilih untuk tetap berharap kepada Tuhan ditengah masa sulitnya. “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.” (Mazmur 123:2)
  2. Pilihlah untuk tetap taat kepada Tuhan, bukan mengandalkan pemikiran diri sendiri dalam menghadapi persoalan. “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu,” (Ulangan 11:13-14) Kesulitan tidak membuat hidup kita semakin murah, tetapi membuat hidup kita semakin bernilai. Masa sulit adalah sebuah proses untuk memurnikan karakter kita menjadi semakin seperti Kristus, hal itu diperlukan ketaatan dan penundukan diri bukannya cepat panik/putus asa. Someone who seeks God will never afraid of problem, pain, and pressure; but their purity will come.
  3. Pilihlah untuk tetap beribadah kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya. “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,” (Ulangan 11:13) Kisah Rasul 8:27 berkata “Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.” Dari ayat tersebut, kita belajar bahwa apapun keadaannya dan bagaimanapun pengorbanannya…tetaplah datang beribadah kepada Tuhan dengan setia. Carilah Tuhan hingga kita menjadi semakin dalam masuk di hadirat-Nya, disitulah kita akan menemukan kekuatan dalam masa sulit. Kita harus melatih, mendisiplinkan bahkan memaksakan diri kita untuk selalu mencari Tuhan ditengah kesesakan.
  4. Pilihlah untuk tetap berbuat baik. “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu.” (Imamat 19:9) Benih yang kita tabur di masa sulit, akan menjadi buah-buah berkat di masa depan. Percayalah!

Semakin Lama, Semakin Kuat

Mazmur 84:6-8

“Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.”

Shalom!

Tekanan bisa membuat seseorang menjadi semakin lemah, juga sebaliknya bisa membuat seseorang menjadi semakin kuat. Tetapi sebagai umat Tuhan, Tuhan menjanjikan bahwa kita akan semakin kuat dalam setiap tekanan. “Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa,” (Ulangan 16:16) Secara jasmani, sebelum bangsa Israel menghadap hadirat Tuhan di tempat tinggi, mereka harus melewati sebuah lembah baka terlebih dahulu. Secara rohani, Tuhan menghendaki agar kita memperhatikan hidup kita. mungkin hari-hari ini kita sedang melewati “lembah baka”, maka percayalah bahwa tempat kita bukan di lembah baka tetapi di tempat tinggi bersama Tuhan. Orang yang berharap hanya kepada Tuhan akan semakin kuat dalam hidupnya, bukan semakin lemah. Hal yang kita butuhkan agar semakin kuat dalam tekanan, yaitu:

  • Kita butuh ‘penyegaran’ (air), yaitu Firman Allah dan Roh Kudus (air kehidupan). Kita harus ‘menggali’ air kehidupan tersebut lebih dan lebih lagi dengan konsisten menggali Firman Tuhan dan mengejar kepenuhan Roh Kudus lebih dari usaha sebelumnya. “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mazmur 19:8) “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” (Yakobus 1:21) Menemukan ‘air kehidupan’ tersebut tentu diusahakan oleh diri sendiri, bukan orang lain. Kita harus berusaha menjadi orang Kristen yang diatas rata-rata, bukan orang Kristen yang biasa saja. Jika kita terbiasa aktif untuk mengejar hadirat Tuhan melalui pendalaman Firman dan kepenuhan Roh Kudus sebagai yang utama dalam hidup kita maka karakter Kristuslah yang akan tertanam dalam diri kita. Ibrani 4:12 berkata “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Firman Tuhan & Roh Kudus yang akan menyegarkan kita ketika mengalami kekeringan di lembah baka. Kita harus terbiasa bersaat teduh sebelum kita menjalani hari-hari kita dengan memuji, menyembah, meminta ampun, mendoakan, membaca Firman, mendengarkan Roh Tuhan. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35) Orang-orang besar pastilah orang-orang yang memiliki waktu khusus bersama Tuhan (quality time), yaitu mereka yang dengan penuh kerinduan untuk mencari Tuhan dengan usaha ekstra (Mazmur 57:8). Ini harus menjadi gaya hidup yang kita lakukan dengan disiplin yang konsisten. Percayalah, mujizat masih ada!
  • Kita butuh ‘matahari’, yaitu penyertaan Ilahi. “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai;” (Mazmur 84:12a) Ketika Tuhan Yesus menyertai hidup kita, sesukar apapun keadaannya pasti kita akan selalu mengalami ‘surga’. Rahasia penyertaan Tuhan adalah percaya sepenuhnya pada Tuhan yang berkuasa mengendalikan seluruh kehidupan kita.
  • Kita butuh perkenanan Ilahi. “kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:12b) Ditengah lembah kekelaman sekalipun, kita akan mengalami kemenangan jika kita mendapat perkenanan Tuhan. “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehezkiel 33:11) Perkenanan Tuhan akan turun atas kita ketika kita melakukan pertobatan, bukan mencari kambing hitam dalam setiap masalah ataupun menggerutu.

V I S I O N

Kejadian 15:5

“Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.””

Shalom!

Akhir-akhir ini kita harus menjalani hidup berpasangan dengan Tuhan Yesus sehingga apapun pencobaan hidup yang kita alami, kita pasti akan bertahan dan menjadi pemenang. Sebagai pasangan Tuhan, kita harus mengerti dan menyesuaikan diri dengan ‘gaya bermain’ Tuhan disaat mengubah kekalahan kita menjadi kemenangan.

Hal pertama yang Tuhan lakukan sebelum membuka pintu-pintu mujizat-Nya bagi kita, yaitu memberikan visi kepada kita. 2 Raja-Raja 2:10 berkata “Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat [memvisualisasikan] aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.”” Ayat tersebut mengajarkan kita bahwa hal yang sukar (mujizat) bisa terjadi tergantung dari visi kita. “Bila tidak ada wahyu [visi], menjadi liarlah [hancur] rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” (Amsal 29:18) Visi Tuhanlah yang menguatkan kita ketika kita merasa lemah dalam meraih janji Tuhan dan membuat kita hidup berkemenangan.

Good vision brings good future. Tiga hal yang harus kita perhatikan sebagai gaya hidup Kerajaan Allah (kehidupan yang dipimpin oleh visi Tuhan) yang membawa kemenangan bagi kita, yaitu:

1)      Perbaiki visimu. Yeremia 1:11-12 berkata “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” Lalu firman TUHAN kepadaku: “Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku.”” Kita harus memperbaiki visi kita sebelum melakukan hal-hal yang lainnya dalam meraih mimpi, yaitu dengan memiliki gambaran/imajinasi yang baik seperti yang Tuhan lihat tentang masa depan kita. Situasi memang tidak memungkinkan, tetapi hiduplah dengan visi Ilahi yang baru. Jangan berpegang kepada apa yang kita pikirkan, tetapi bertanyalah kepada Tuhan tentang apa yang Ia ingin untuk kita pikirkan. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, hanya bersabarlah menanti waktu Tuhan.

2)      Perbesar visimu. “Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.” (2 Petrus 1:2) Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak pernah puas dengan kapasitas yang kita miliki sekarang, tetapi Ia akan selalu melipatgandakan kapasitas kita. Karenanya, kita tidak boleh menjadi seseorang dengan mental rata-rata tapi harus memiliki mental progresif yang visinya selalu mengalami kemajuan. Yesaya 54:2 berkata “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” Memperbesar visi berarti memperbesar kapasitas diri. Let’s believe the power of dream! Kita bisa kehilangan apapun, namun jangan biarkan kita kehilangan semangat dan mimpi karena kita bersama Allah Imanuel. Jangan berhenti berjuang dan belajar hingga visi Tuhan digenapi dalam hidup kita, always give the best! Ini waktunya untuk memperbesar visi kita untuk kemuliaan nama Tuhan.

3)      Percayakan visimu kepada Allah. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23) Jangan menyerah, tetap semangat dan tetaplah berpengharapan kepada Tuhan! Kejadian 15:5 berkata “Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”” Langit adalah simbol ‘tanpa batas’. Marilah kita memiliki visi global, bukan sekedar visi pribadi semata. Visi yang besar di mata Tuhan adalah keselamatan jiwa-jiwa.

Change Your Life Style, Change Your Future

Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun. Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.” (Keluaran 12:40-41) Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan menyebut mereka sebagai ‘pasukan Tuhan’ karena Tuhan ingin mengubah mentalitas mereka menjadi seorang pemenang ketika masuk Tanah Perjanjian tanpa mempedulikan masa lalu mereka sebagai budak. Wahyu 1:6 berkata dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, — bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.” Tuhan memberikan kita identitas sebagai imam dan raja, artinya kita harus memiliki gaya hidup (mentalitas) seperti seorang imam dan raja sehingga kita pun berhak menerima berkat dan urapan sebagai imam dan raja.

Mari kita belajar dari Daud sebagai contoh di Alkitab yang memiliki gaya hidup sebagai imam dan raja. Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: “Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia.”” (1 Samuel 16:18)

1)      RAJA. Seorang raja adalah seorang dengan gaya hidup sebagai prajurit, yaitu rela berkorban (bayar harga) dan memiliki penundukan diri terhadap otoritas di atasnya. Seorang prajurit melihat masalah sebagai ‘latihan peperangan’ tempat Tuhan mendisiplinkan dan mengoreksi dirinya, karenanya ia senang akan hal itu dan menganggapnya sebagai suatu keuntungan. Ia tahu bahwa dirinya akan menjadi semakin baik melalui ‘latihan demi latihan’ karena ia berfokus kepada sebuah kemenangan di masa depan, bukan kepada ‘beratnya beban latihan’. Seorang prajurit bermental pemenang akan terbiasa melatih dirinya dengan ‘beban-beban’ yang di atas standar rata-rata. Dari Daud. Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang” (Mazmur 144:1)

2)      IMAM. Mazmur 57:8-9 berkata Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!” Seorang imam memiliki gaya hidup yang menyembah Tuhan. Penyembahan kepada Tuhan memunculkan hadirat Allah dalam hidup kita sehingga kita menjalani hidup yang diberkati. Seorang imam bukanlah seorang yang tamak, melainkan seorang yang menjembatani jiwa-jiwa dengan Tuhan. Karenanya, hendaklah keselamatan jiwa-jiwa menjadi orientasi hidup kita.

Hidup Dalam Kuasa Perjanjian Ilahi

Shalom!

Sesulit apapun juga situasinya, apabila Tuhan sudah berjanji…pastilah hal tersebut akan digenapi dalam hidup kita karena kuasa perjanjian-Nyalah yang sanggup membuka pintu-pintu mujizat dalam hidup kita. Menepati janji-Nya dalam hidup kita, bagi Allah adalah suatu kebanggaan. Lalu, apakah kita ada di dalam kuasa perjanjian Ilahi? Apa rahasia hidup dalam kuasa perjanjian-Nya?

  1. Berkomitmen untuk hidup seperti Kristus. Efesus 2:12-13 berkata bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.” Oleh darah Kristuslah, maka kita masuk dalam perjanjian Ilahi namun bukan berarti hanya dengan menerima perjamuan kudus maka kita sudah hidup dalam kuasa perjanjian-Nya. Hanya dengan komitmen untuk hidup baru dan menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatanlah yang membuat kita masuk dalam kuasa perjanjian-Nya. Komitmen kita untuk hidup seperti Kristus dengan meninggalkan cara hidup yang lama (1 Yohanes 2:6), itulah yang membuat kita berharga. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18-19) Tuhan kita adalah Allah yang setia, ketika Tuhan telah berjanji pasti Ia akan menepati-Nya.
  2. Miliki mentalitas Kerajaan Allah, yaitu melakukan sesuatu dengan ‘ukuran’ Tuhan. Kejadian 24:18-19 berkata Jawabnya: “Minumlah, tuan,” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”” Ribka hanyalah seorang gadis biasa, namun ia memiliki kapasitas hati yang besar. Memiliki ‘ukuran Tuhan’ berarti melakukan sesuatu lebih dari yang diharapkan seperti tertulis dalam Matius 5:38-41, yaitu Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”
  3. Memiliki pola pikir yang memperkuat iman kita akan janji Allah, yaitu tetap percaya bahwa Allah berkuasa melakukan apa yang Ia janjikan tanpa melihat keadaan hidup yang sepertinya mustahil bagi janji Allah untuk digenapi. Roma 4:18-22 berkata Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.”
  4. Melakukan ketaatan yang sempurna akan perintah Allah meskipun hal tersebut sepertinya tidak logis. Kejadian 22:16-17 berkata kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri — demikianlah firman TUHAN –: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.”
  5. Menepati nazar kita kepada Tuhan (tidak menunda-nunda). Ulangan 23:21,23 berkata “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”” Ingatlah akan nazar yang pernah kita katakana kepada Tuhan dan tepatilah itu. Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian.” (Yehezkiel 16:59)

Doa Daud Dalam “Peperangan Rohani”

Shalom!

Akhir-akhir ini kita harus banyak belajar dari kehidupan Daud karena seperti Tuhan memberkati Daud, seperti itu jugalah Tuhan akan memberkati kita di tahun ayin dalet ini. Tiga hal yang Daud minta disaat ia mengalami peperangan, yaitu:

  1. Daud meminta kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, bukannya meminta agar musuhnya dihalau Tuhan. Mazmur 51:14-15 berkata “Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.” Tuhan tidak melihat masalah disaat kita breakdown tetapi Tuhan melihat apa yang kita kerjakan disaat kita breakdown, yaitu memilih untuk menghabiskan setiap kesempatan untuk berada di hadirat Tuhan, memperbaiki diri dan berbuat baik. Janganlah menunda-nunda melakukan hal-hal yang baik selama masih ada kesempatan agar kita tidak menyesal di kemudian hari (2 Samuel 19:31-40). Let’s go from breakdown to breakthrough!
  2. Daud mengerti bahwa kehidupan memiliki ‘musim’ tertentu dan setiap musim tersebut harus kita lalui dengan iman bahwa Tuhan selalu menyertai, karenanya Daud selalu meminta kekuatan yang dari Tuhan untuk dapat hidup berkenan kepada Tuhan dan tetap setia melayani-Nya –“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 24:13). Mazmur 28:7 berkata “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”  Musim peperangan rohani telah tiba dan tak terelakan, karenanya kita memerlukan kekuatan Tuhan untuk bisa bertahan sampai akhir. 1 Raja 18:1 berkata “Dan sesudah beberapa lama, datanglah firman TUHAN kepada Elia dalam tahun yang ketiga: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada Ahab, sebab Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi.”” Kita harus selalu menanti-nantikan Firman Tuhan disaat menghadapi peperangan rohani agar respon kita pun sesuai Firman Tuhan karena Firman telah terlebih dahulu membentuk mental kita, yaitu mental Kerajaan Surga (mental di atas rata-rata).  Respon kita di tengah goncangan adalah tolak ukur seberapa kuat kita menghadapi peperangan rohani. “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (1 Korintus 16:13) Tuhan izinkan kita mengalami ‘musim’ yang tidak enak untuk menunjukan ‘kualitas’ gereja-Nya yang tetap memiliki kekuatan Tuhan untuk bertahan di tengah goncangan sehingga nama Tuhan pun dipermuliakan melalui respon kita di ‘musim’ tersebut. Melalui goncangan dunia, Tuhan sedang mempersiapkan umat-Nya untuk beradaptasi dengan kehidupan yang penuh berkat kelak karena hanya Kerajaan Tuhan-lah yang tak tergoncangkan. Kita harus tetap kuat bertahan di tengah goncangan. “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” (Ulangan 8:18)
  3. Daud meminta kasih karunia (perkenanan) Tuhan. Mazmur 17:8 berkata “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” Belajarlah selalu rendah hati di hadapan Tuhan, karena kita bukanlah siapa-siapa tanpa-Nya. Ketika kita tidak mengharapkan apapun selain perkenanan Tuhan, akan tiba kelak saatnya Tuhan mengangkat kita menjadi kepala bukan ekor. “Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: “Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” (2 Samuel 7:18) Daud selalu membawa atmosfir unity di mana pun ia berada, bukan atmosfir perpecahan sehingga ia dikenan Tuhan (1 Samuel 30:23-24; Mazmur 133).

Menaklukan 3 Raksasa

“Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN. … Dan Kaleb menghalau dari sana ketiga orang Enak, yakni Sesai, Ahiman dan Talmai, anak-anak Enak.” (Yosua 14:12; Yosua 15:14)

Tuhan menetapkan kehidupan kita untuk semakin naik, bukan semakin turun. Jadi siapakah ‘raksasa’ yang harus kita taklukan dalam kehidupan kita agar kehidupan kita semakin diberkati Tuhan?

  1. Diri sendiri. “Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami. Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” (Bilangan 13:33; Bilangan 14:1-2) Mindset yang menganggap masalah lebih besar dari diri sendiri sehingga bersungut-sungut ketika mengalami pencobaan hanya akan menghalangi berkat Tuhan. Lalu bagaimana menaklukan diri kita sendiri agar tidak bersungut-sungut? 1 Tesalonika 5:18 berkata “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Persembahan yang terbaik bagi Tuhan adalah diri kita sendiri. Dengan mengorbankan diri sendiri (perasaan, logika, dll) melalui ucapan syukur ditengah pencobaan berarti kita sedang menaklukan diri sendiri sehingga diri kita memiliki ‘value’ di hadapan Tuhan. Ketika kita mengucap syukur ditengah pencobaan, disaat itulah atmosfir rohani kita berubah dan mempengaruhi atmosfir jasmani dari keadaan yang buruk menjadi baik. “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.” (Mazmur 30:12-13) 1 Samuel 7:12 berkata “Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.” Membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain hanya membuat kita tidak pernah puas dan sulit mengucap syukur. Berhentilah untuk terus ‘menganggap rumput tetangga lebih baik’ tetapi belajarlah menemukan ‘Eben-Haezer’mu dan mengucap syukurlah kepada Tuhan atasnya!
  2. “Gaza telah menjadi gundul, Askelon telah menjadi bungkam; hai Asdod, sisa orang Enak, berapa lama lagi engkau menoreh-noreh diri?” (Yeremia 47:5) Orang Enak berbicara tentang roh keduniawian, yaitu roh mamon (cinta uang). Matius 6:24 berkata “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Mamon berasal dari kata ‘mamonas’ yang berarti dia yang bisa kita andalkan. Sebagai ‘tuan’, Tuhan membandingkan diri-Nya dengan mamon karena setelah kejatuhannya akibat ingin disembah seperti Allah, iblis berkuasa di bumi melalui mamon. Maka dari itu, mamon dapat menjadi sebuah ‘spirit’ ketika kita tidak memiliki sikap yang benar dalam mengelolanya. “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5) Ciri seseorang yang terikat dengan roh mamon ini adalah minder. Lalu, bagaimana kita menaklukan roh mamon dalam diri kita? Yaitu dengan disiplin dalam menggunakan uang dengan tidak bersikap konsumtif atau berlebihan tetapi bersikaplah bersahaja dan tidak suka pamer karena toh kita sudah sangat dicintai oleh Tuhan Yesus, jadi nilai diri (value) kita tergantung dari berharganya nilai darah Yesus yang telah tercurah untuk menebus kita bukan dari harta benda tertentu. Kita adalah hamba Tuhan, bukan hamba uang. Ciri orang yang banyak memprioritaskan Tuhan adalah berani mengalah demi terciptanya damai sejahtera Ilahi meskipun merugi. Hal ini hanya dapat dilakukan jika kita kepenuhan Roh Kudus. Upah bagi hamba-Nya yang tidak cinta uang yaitu “Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” (Kejadian 26:13) Kata ‘kaya’ dalam terjemahan lain menunjuk kepada kualitas diri yang semakin baik (great), asset yang semakin bertambah, menjadi sangat terhormat dan terkenal, juga kapasitas dan pengaruh yang semakin diperbesar.
  3. Bilangan 13:33 berkata “Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” Roh ketakutan/kekuatiran adalah raksasa besar dalam diri kita yang mampu mengubah seorang pemenang menjadi pecundang. Tetaplah berfokus kepada Tuhan ditengah pencobaan sehingga atmosfir Ilahi tetap melingkupi kehidupan kita, karena berfokus kepada masalah hanya akan menimbulkan atmosfir ketakutan/kekuatiran. “Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”” (Matius 14:27) Percayalah bahwa Firman Tuhan tidak pernah gagal karena Firman Tuhan mengundang kuasa Allah dalam kehidupan kita. Perkataan Yesus akan menutup pintu neraka dan membuka pintu surga bagi kehidupan kita. Karenanya, taklukan ketakutan/kekuatiran dalam diri kita dengan kuasa Firman iman, yaitu iman yang muncul karena memperkatakan Firman Tuhan sehingga iman tersebut akan menjadi benteng Ilahi yang melindungi kita dari panah api si jahat (menggagalkan ketakutan/kekuatiran). Ingat, iman tak dibatasi oleh kekuatan manusia. “Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”” (Roma 10:8-11)