DNA Pondok Daud

Kisah Para Rasul 15:16  Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,
Pondok Daud berbicara tentang:
1) Sebuah ruangan yang di dalamnya ada Tabut Perjanjian Allah (hadirat Tuhan). Hadirat Tuhan adalah hal utama yang harus kita kejar. Daud bukanlah orang yang sangat suci namun Allah berkenan kepadanya karena sikap hatinya yang benar di hadapan Tuhan, yaitu mengejar hadirat Tuhan meskipun harus mengorbankan dirinya (dimana pada zamannya hanya imam besar saja yang boleh masuk ruang Maha Kudus). Datanglah beribadah kepada Tuhan dengan motivasi hati yang murni, yaitu hanya ingin hadirat Tuhan.
2) Melepaskan ‘mahkota’ kita. …Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”…  (Matius 19:16-22) Daud tak pernah mengganggap dirinya raja di dalam hadirat Tuhan, bahkan ia rela menari-nari bagi Tuhan meskipun mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Pondok Daud berbicara tentang Yesus, bukan tentang siapa kita. Target kita tahun ini adalah mendapatkan Yesus, bukan mendapatkan harta berlimpah.
3) Rumah Bapa (home), yaitu tempat kita kembali dari segala kejenuhan hidup kita. …Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,… (Lukas 15:11-32) Terobosan terjadi ketika kita kembali kepada DNA kita dalam beribadah. supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, (Kisah Para Rasul 15:17)

Advertisements

Worshipper’s Attitude

Attitude of worship is about your true motivation, key of successful life (attitude determines altitude) and expression of your true love for God.

“My Resolution”

Resolusi adalah kebulatan pendapat berupa tuntutan atau permintaan yang ditetapkan untuk dilaksanakan. 1 Timotius 4:7-8 berkata “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Di tahun baru ini, marilah kita menuntut (memaksa diri) untuk beribadah demi hidup yang lebih baik di masa depan. Prioritas hidup kita menentukan masa depan kita. Melalui Filipi 3:10, kita diajarkan untuk mengutamakan 4 tujuan hidup berikut, yaitu: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya

  1. Mengenal Dia. Matius 7:22-23 berkata “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”” Banyaknya kegiatan pelayanan kita tidak menjamin bahwa kita benar-benar mengenal Tuhan jika kita tidak memiliki motivasi yang tulus mencintai-Nya. Kita harus kembali kepada kasih mula-mula dan berkomitmen untuk lebih intim mengenal-Nya sebab itulah esensi dari kekristenan.
  2. Kuasa kebangkitan-Nya. “A man who won’t die for something is not fit to live.” -Martin Luther King, Jr. Mengenal kuasa kebangkitan-Nya berarti kita memiliki hidup yang berpengharapan karena meyakini bahwa Allah yang kita sembah itu berkuasa atas kehidupan dan kematian.
  3. Persekutuan dalam penderitaan-Nya. Kisah Rasul 14:22 berkata “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Hardship often prepare ordinary people for extraordinary destiny. Bersyukurlah sebab mujizat kreatif itu nyata ditengah-tengah penderitaan kita!
  4. Serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Matius 26:41 berkata “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Untuk menjadi serupa dengan Kristus, kita harus  mematikan kedagingan kita dengan lebih mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan diri kita sendiri.

 

CATCH THE DREAM!

Sebagai generasi muda, kita harus memiliki mimpi bahwa suatu hari nanti hidup kita akan lebih baik meskipun sekarang sepertinya hal tersebut tak mungkin. Namun, mimpi seperti apakah yang dikehendaki Tuhan? Mimpi yang dimulai dari iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. (Ibrani 11:1,3) Jadi, segala sesuatu yang ingin kita raih di masa depan, harus berdasarkan iman. Iman berhubungan dengan Firman Tuhan karena iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan. Dalam bahasa aslinya, kata ‘firman’ di Alkitab menggunakan kata ‘logos’ dan ‘rhema’. Logos adalah keseluruhan Firman Tuhan yang tertulis di Alkitab, sedangkan rhema adalah Firman Tuhan tertentu yang menjadi jawaban bagi kita di masa tertentu. Rhema Firman Tuhanlah yang memberikan kita semangat baru untuk meraih mimpi sebab itu adalah janji Tuhan yang pasti akan digenapi bagi kita. Jadi, kita tidak bisa sembarangan bermimpi dan memperkatakan Firman Tuhan yang tidak Tuhan taruhkan di hati kita sebab pasti hal tersebut akan mengecewakan. Saya tidak pernah tergerak oleh apa yang saya dengar maupun yang saya lihat, saya hanya tergerak oleh Firman Tuhan yang saya yakini –Smith Wigglesworth. Mazmur 121:1-2 berkata Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Milikilah ketetapan hati untuk berjalan sesuai iman akan rhema Firman Tuhan dalam meraih mimpi meskipun sekarang keadaannya terlihat mustahil, namun percayalah bersama Tuhan…kita menjadi lebih dari pemenang! Let’s say: “I have a dream, one day…”

THANKSGIVING

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Bersyukur dalam segala hal bukan berarti mengucap syukur untuk segala hal. Maksudnya ialah hendaklah kita bersyukur atas segala hikmah dibalik setiap kejadian yang buruk, bukan bersyukur atas terjadinya kejadian buruk tersebut.

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28 –TB)

“Therefore, since we are receiving a kingdom which cannot be shaken, let us have grace, by which we may serve God acceptably with reverence and godly fear.” (Hebrews 12:28 –NKJV)

“Therefore, since we are receiving a kingdom that cannot be shaken, let us be thankful, and so worship God acceptably with reverence and awe” (Hebrews 12:28 –NIV)

Dari perbandingan ayat tersebut, kita menemukan bahwa ada suatu hubungan antara bersyukur (thankful) dan anugerah (grace), yaitu orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak bisa menerima anugerah Tuhan.

Jadi, mengapa kita harus selalu mengucap syukur?

  1. Ucapan syukur membuka jalan kepada Tuhan. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” (Mazmur 100:4) Ketika kita mendapatkan Tuhan, kita pasti akan merasakan hadirat-Nya dan perkenanan-Nya pun ada atas kita.
  2. Ucapan syukur akan membuka alam spiritual dalam hidup kita sehingga kita mengalami pemulihan kehidupan yang seutuhnya dari Tuhan. dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan [made well] engkau.”” (Lukas 17:13-19) Kata ‘menyelamatkan’ di ayat tersebut dalam terjemahan lain diartikan sebagai pemulihan dalam seluruh aspek kehidupan kita (bukan sekedar tubuh, jiwa dan roh kita tetapi juga pemulihan seluruh keluarga dan karir kita).
  3. Ucapan syukur disaat kita terpuruk sangat berharga di mata Tuhan. Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 107:22) Korban menggambarkan suatu hal yang tidak mengenakan kita ketika kita melakukannya tetapi itulah yang menyenangkan Tuhan. Percayalah, suatu hari kelak ‘korban’ tersebut akan menjadi berkat tidak hanya bagi kita pribadi bahkan orang lain juga.

Perabot Rumah Yang Mulia

“Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua,” (Yohanes 2:23-26) Jadi, apa yang membuat Tuhan mempercayakan diri-Nya kepada kita?

2 Timotius 2:19-21 berkata “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

Lalu, bagaimana cara kita menyucikan diri? Yaitu dengan: “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda [dosa yang menggoda anak muda, lebih menuruti hawa nafsu], kejarlah keadilan, kesetiaan [keputusan hati untuk tetap bertahan dalam segala perubahan keadaan], kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan [menuntun orang lain datang kepada Tuhan], sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” (2 Timotius 2:22-26)

Guys, tahun 2013 akan segera berakhir. Mari kita introspeksi diri tentang apa yang telah kita perbuat sepanjang tahun ini: sudahkah kita menjadi “perabot rumah untuk maksud yang mulia”? Kemauan dan kerelaan diri untuk ‘dibentuk’ oleh Tuhan adalah kunci kehidupan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

a FRIEND for…

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati” (Kisah Rasul 2:46)

FRIEND adalah komunitas kecil yang merupakan bagian dari sebuah komunitas besar (gereja). Mengapa kita harus terlibat dalam FRIEND?

  1. FRIEND membuat hidup kita lebih maksimal dan diberkati karena dengan tulus memberikan petunjuk yang tidak menyesatkan hidup kita
  2. FRIEND mencegah kita mengalami kematian rohani karena kita saling menopang di dalam Roh
  3. FRIEND membuat kita hidup lebih baik di masa depan dengan menerima kita di saat terpuruk dan menyemangati kita untuk tetap mengejar destiny Ilahi

FRIEND is a place where we take and give. Itulah esensi dari kehidupan rohani kita, yaitu bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, kita memerlukan orang lain untuk bertumbuh dan membangun orang lain untuk sama-sama bertumbuh.

“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” (Roma 15:1,2,7)

UNITY

Unity dalam pelayanan terjadi jika kita saling sepakat untuk memiliki nilai (kualitas) pelayanan yang sama, yaitu fokus melayani untuk kepentingan Tuhan bukan melayani untuk kepentingan diri sendiri. Ada sebuah nilai yang diteladankan Yesus melalui hal membasuh kaki para murid, dimana membasuh kaki disini mengandung pengertian sebagai berikut:

  1. Love each other unconditionally. “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” (Yohanes 13:1)
  2. Saling melayani dengan rendah hati. “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” (Yohanes 4,5,12-17)
  3. Saling mengampuni. Hal ini tersirat melalui teladan Yesus yang tetap membasuh kaki Yudas Iskariot meski tahu bahwa ia akan mengkhianati Yesus.
  4. Kekudusan. “Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.”” (Yohanes 13:10)

NEEDS

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (Kisah Rasul 2:44-45)

Jadi, gereja ada bukan hanya untuk melakukan ibadah dalam lingkupnya sendiri saja tetapi gereja dipanggil keluar untuk menjadi berkat dengan saling memenuhi kebutuhan manusia. DR. Abraham Maslow menyebutkan bahwa kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah sandang, pangan dan papan. Jika kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi, maka kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti keamanan, kasih sayang, serta penghargaan dan pengakuan diri manusia pun tidak akan terpenuhi.

Lalu, bagaimana cara kita memenuhi kebutuhan orang lain?

  1. Melalui perbuatan baik. Galatia 6:9 berkata “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Berbuat baik itu murah dan mudah, percayalah jika kita menabur banyak maka kelak kita pun akan menuai banyak. “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 13:16)
  2. Dengan memperhatikan ‘orang-orang hina’, yaitu mereka yang tidak dianggap oleh dunia, tidak diperhatikan, miskin, sengsara, lemah dan tidak berdaya. Kepedulian terhadap orang-orang yang tidak dipedulikan ini berhubungan dengan penghakiman terakhir kelak dimana Tuhan akan memisahkan ‘kambing’ dan ‘domba’. Ketika kita memberi makan mereka yang lapar, memberi minum yang haus,  memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada yang tidak berpakaian, serta mengunjungi mereka yang sakit dan terpenjara sebenarnya kita sedang melakukannya untuk Tuhan sehingga kita termasuk kawanan ‘domba-Nya’ yang akan menerima warisan Kerajaan Surga (Matius 25:31-46) sebab “siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17)

Fulfill people’s needs means give solution to their life’s problems. We should have ‘sense of care’ first!

Komunikasi

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:9-10)

Friend Campaign 2013 bukanlah sekedar event tetapi sebagai gaya hidup anak-anak Youth eXcellent Generation yang memiliki sebuah nilai kehidupan yang Alkitabiah. Nilai kehidupan tersebut dapat tercermin salah satunya dengan berbuat baik.

Yohanes 2:23-24 berkata “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua,

Melalui ‘Relate Campaign’, kita diharapkan mampu menjalin hubungan yang baik dengan siapa saja. Kunci utama dalam membangun hubungan baik adalah komunikasi yang baik. Tidak hanya sekedar menyapa, tetapi diperlukan tindakan-tindakan baik, kejujuran hingga pengertian akan isi hati lawan bicara sehingga kedua belah pihak bisa ‘nyambung’ dalam berkomunikasi; karena kesalahan dalam berkomunikasi menyebabkan misunderstanding.

Komunikasi dimulai dengan sebuah percakapan ‘klise’ atau obrolan-obrolan ringan sebagai perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai fakta-fakta dan informasi yang dimiliki kedua belah pihak sehingga masing-masing pihak akan memberikan pendapat atau penilaiannya akan hal tersebut. Komunikasi yang lebih intim disertai dengan keakraban akan melibatkan perasaan dan emosi yang lebih mendalam, bahkan memerlukan kejujuran yang maksimal antar kedua belah pihak yang berkomunikasi.

Keintiman komunikasi kita dengan Tuhan mencerminkan kemampuan kita berkomunikasi dengan sesama. Sudahkah kita intim dengan Tuhan hingga Ia mempercayai kita dan kita pun mengerti isi hati-Nya? Because relationship is about communication and communication needs a trust.