Mengenal 3 Bentuk Serangan Iblis

Shalom! Matius 6:9-13 berkata “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)” Berdoa adalah suatu hal yang bersifat pribadi tanpa liturgi, tetapi merupakan suatu hubungan yang intim antara kita dan Bapa di surga. 1 Petrus 5:8 berkata “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum [mengintimidasi] dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Hari-hari ini pekerjaan si jahat semakin merajarela sehingga kini dosa dianggap sebagai hal yang biasa. Hari-hari ini yang menjadi esensi bukan masalah antara kudus atau tidak kudus, tetapi seberapa kudus kehidupan kita. Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan. Berikut adalah tiga bentuk serangan iblis, yaitu: Penganiayaan dan kenikmatan hidup. Lukas 8:14 berkata “Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.” Orang Kristen yang tidak berbuah pasti ‘dipotong’. 2 Timotius 4:5 berkata “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”  Kedagingan dan keduniawian. 2 Timotius 4:10 berkata “karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.” Roma 7:19 berkata “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Seringkali kita ingin melakukan hal yang baik (umumnya untuk menyenangkan orang lain) tetapi hal tersebut malah menjerat kita untuk mewujudkannya dengan cara yang tidak baik, dan hal tersebut mendatangkan dosa. Pengajaran sesat. 1 Timotius 4:1-2 berkata “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.” Pengajaran sesat terjadi sejak zaman Adam dan Hawa (Kejadian 3:1), terus terjadi sampai akhir penuaian jiwa-jiwa (Matius 24:24-30), juga sebagai tanda akhir zaman (2 Tesalonika 2:3 – Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa). Kita hidup harus berdasarkan Firman Tuhan, bukan atas dasar perasaan atau pun logika pribadi agar tidak mudah disesatkan. Pengajaran sesat melegalkan apa yang Firman Tuhan larang sehingga ‘nyaman’ bagi kedagingan kita, karenanya kita harus waspada dan semakin intim dengan Tuhan. Kita harus benar-benar mengenal Tuhan secara pribadi, bukan sekedar apa kata hamba-hamba Tuhan. Kita harus sadar sejak dini karena penyesatan itu ‘samar-samar’ (melenceng sedikit dari Firman Tuhan). Keselamatan itu gratis, tetapi mahal karena Tuhan mengorbankan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Lalu bagaimana menghadapi 3 bentuk serangan iblis tersebut? 2 Tesalonika 2:15 berkata “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” Kita harus berdiri teguh, yaitu tahu di mana posisi kita sekarang agar kita tak mudah tergoyahkan (berdiri di atas batu karang: Yesus Kristus). Keselamatan bisa hilang jika kita tidak setia sampai akhir.

Advertisements

Fase Panggilan Allah

Shalom!
Matius 20:1-8 berkata “”Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.”
Tujuan Tuhan menampakan diri setelah kematian-Nya adalah untuk menguatkan iman murid-murid-Nya. Peristiwa 40 hari ini adalah peristiwa penting sebelum kenaikan Tuhan ke surga. Ketika melihat Tuhan Yesus disesah, seketika itu juga segala pengajaran yang telah diterima murid-murid-Nya ketika Yesus hidup hilang sehingga Yesus harus meyakinkan murid-murid-Nya akan kebenaran Firman-Nya melalui kebangkitan-Nya dari kematian. Filipi 2:5-7 berkata “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Makna fase panggilan Allah berdasarkan keterangan waktu dalam Matius 20:1-8, yaitu:
1) Pagi-pagi benar (jam 6 pagi). Hal ini merupakan karya Roh Kudus di zaman mula-mula. Pekerjaan Roh Kudus dalam seluruh Perjanjian Lama, yaitu bekerja pada seseorang dan berdampak maksimal hanya kepada keluarga intinya saja. Satu orang bertobat, maka seluruh isi rumah diselamatkan.
2) Kira-kira pukul 9 pagi. Hal ini merupakan karya Tuhan Yesus selama hidup-Nya di Yerusalem. Pekerjaan Roh Kudus terjadi di upper room dan dialami oleh 120 orang murid Yesus. Sejak Pentakosta pertama ini, Roh Kudus diam dalam diri kita sehingga seseorang yang memiliki Roh Kudus dapat berdampak kepada keluarga besarnya.
3) Kira-kira pukul 12. Yohanes 4:5-6 berkata “Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.” Wanita Samaria yang berdosa ini berubah hidupnya ketika ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus sehingga karya Roh Kudus dalam dirinya berdampak pada keselamatan seluruh kota. “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”” (Yohanes 4:39)
4) Pukul 3 petang. Dalam hal ini, karya Roh Kudus berdampak bagi tuaian yang besar bagi bangsa lain. Kisah Rasul 10:3 berkata “Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!”” Kisah Rasul 19:10 berkata “Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani.” Inilah awal dari Pentakosta kedua dan tentunya penuaian bagi bangsa-bangsa harus dimulai dari diri kita sendiri, yaitu ketika kita dikaruniai Bahasa Roh. Bahasa Roh ini merupakan komunikasi kita dengan Bapa di surga.
5) Kira-kira pukul 5 petang (1 jam sebelum Matahari terbenam/berganti malam – karena malam hari adalah saatnya kuasa kegelapan bekerja). Fase ini merupakan waktu yang kritis karena saatnya penuaian jiwa besar-besaran terjadi, yang juga merupakan penuaian jiwa yang terakhir. Inilah Pentakosta ketiga, yaitu hari-hari ini. Ini adalah tugas kita. Tidak ada waktu lagi, karenanya kita harus semakin giat diantara orang-orang yang bersiap ingin berhenti melakukan tugas ini. Tak ada kesempatan bagi orang-orang yang sering menunda waktu. Waktu itu segera tiba, kita harus bersiap-siap untuk rapture! Hanya Roh Kudus-lah yang memampukan kita untuk itu.