Kelahiran Yang Baru

Yehezkiel 36:26-27 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Segala sesuatu di dunia ini adalah fana, tetapi hati kitalah yang akan sampai kepada kekekalan. Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Apa itu hati yang baru?

  1. Hati yang mengenal Tuhan. Yeremia 24:7a Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Kualitas kekristenan kita ditentukan dari seberapa dalam kita mengenal Tuhan, orang yang mengenal Tuhan tidak mudah goyah. Contoh: Matius 26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya.” [Yudas binasa karena mengenal Yesus hanya sebagai Rabi, bukan Tuhan.] Daniel 3:13-18 mengisahkan bagaimana Nebukadnezar memerintahkan rakyatnya untuk menyembah berhala, namun Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolaknya karena mereka mengenal Tuhan yang sanggup melakukan mujizat, seandainya pun Tuhan tidak mengabulkan doa dengan cara yang diinginkan mereka tetap percaya bahwa Tuhan berdaulat (kita hanya hamba, Tuhan ada Tuan)! Orang yang mengenal Allah memiliki keteguhan hati yang menghasilkan otoritas dan kuasa, memiliki damai sejahtera yang menghasilkan keberanian, mengalami penyertaan Allah secara sempurna. Dapur api tidak menghanguskan tetapi hanya mematangkan iman mereka.
  2. Hati yang bertobat. Yeremia 24:7b sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya. Pertobatan yang sejati itu penting, sebagai: respon kita terhadap kekayaan kemurahan, kesabaran dan kelapangan hati Tuhan (Roma 2:4), proses menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Kolose 3:9-10). Pertobatan sejati ditandai dengan adanya kesadaran, pengakuan dan perubahan. 2 Korintus 7:10 Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.
  3. Hati yang sanggup mengasihi Tuhan dengan kasih yang mula-mula. Ulangan 30:6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup. Yeremia 2:2b-3a Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. Ketika itu Israel kudus bagi TUHAN, sebagai buah bungaran dari hasil tanah-Nya.

Pernikahan & Keluarga

Tujuan pernikahan secara duniawi yaitu:

  • Seks (bagi pria), proteksi (bagi wanita).
  • Status.
  • Keturunan.
  • Kebahagiaan – romantisme.

Jika hal-hal tsb tidak tercapai maka impian pernikahan akan berakhir dengan kekecewaan, maka tujuan pernikahan yang benar di hadapan Tuhan seharusnya:

“Pernikahan bukanlah sekedar meraih dan menikmati kebahagiaan melainkan untuk tujuan yang lebih mulia dan kekal yaitu pengudusan hidup umat pilihan-Nya.” (Gary Thomas)

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Unsur-unsur pernikahan:

  • Perjanjian (covenant) – tidak ada kata “jika”.
  • Kasih tanpa syarat.
  • Kesatuan bukan kesamaan (bukan 2 keping papan yang disatukan dengan lem yang tidak tahan perubahan cuaca tapi peleburan intan yang tahan dengan berbagai tekanan).
  • Prioritas.
  • Seks.
  • Keuangan.

Kita harus menjalankan rumah tangga berdasarkan perjanjian pernikahan di hadapan Tuhan dan prinsip saling melayani & dilayani. Selain itu, masing-masing pasangan harus semakin intim dengan Kristus Sang Kepala.

Tentang perceraian:

Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Maleakhi 2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Akibat perceraian:

1 Korintus 7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus. Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.

Maleakhi 2:13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

Perceraian dan pernikahan kembali:

Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Matius 19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Pasangan Yang Sepadan

Kejadian 1:27-28 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Pertama-tama, laki-laki dan perempuan harus diberkati dalam pernikahan, kemudian beranakcucu dan bertambah banyak, bukan sebaliknya.

Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Selama masa penciptaan, Tuhan melihat semuanya baik kecuali ketika melihat manusia seorang diri saja. Jadi, pernikahan adalah ide Allah bukan manusia.

Kalimat ‘penolong yang sepadan’ [ezer keneg’do, Ibr.] memiliki arti:

  • Wanita adalah seorang penolong yang tepat bagi pria.
  • Tidak memiliki inferioritas maupun superioritas; wanita itu kedudukannya setara dengan pria.
  • Penolong berarti seseorang yang memberikan dukungan atau kekuatan, yang memungkinkan orang lain mencapai tujuannya.
  • Oposisi (lawan), yaitu penolong yang berlawanan; berarti seorang istri dapat menempatkan dirinya sebagai penyeimbang dimana pemikirannya harus didengar oleh suaminya, sekalipun berseberangan dengan suaminya.

Kejadian 2:22-25 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Bagaimana menemukan pasangan hidup?

  1. Memulai dari diri sendiri (berdoa – berusaha – bercermin).
  2. Pasangan hidup, pilihan atau ketentuan Tuhan? Pernikahan merupakan pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Tujuan pernikahan adalah proses pengudusan kita di hadapan Tuhan hingga serupa dengan Kristus.
  3. Prinsip pasangan yang sepadan (ezer keneg’do).
  4. Prinsip pasangan yang seimbang: 2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Beberapa tips dalam menemukan pasangan hidup:

  • Ujian waktu.
  • Ujian pertengkaran.
  • Ujian karakter dan sikap dalam hal seksualitas.
  • Suara hati menegur, nafsu seksual bangkit, melepaskan pakaian.
  • Hindari situasi yang menggoda (tentukan standar). Kidung Agung 8:8-9 — Kami mempunyai seorang adik perempuan, yang belum mempunyai buah dada. Apakah yang akan kami perbuat dengan adik perempuan kami pada hari ia dipinang? Bila ia tembok [tidak mudah ‘dimasuki’, punya standar hidup yang kuat], akan kami dirikan atap perak di atasnya [dipandang berharga]; bila ia pintu [mudah ‘dimasuki’, tidak punya standar hidup yang kuat], akan kami palangi dia dengan palang kayu aras [harus dibatasi gerak-geriknya]. Akibat tidak menentukan standar, yaitu: hilangnya damai sejahtera, hubungan dengan Tuhan terganggu, fungsi kita di hadapan Tuhan berkurang, prasangka buruk, kepahitan, hilangnya rasa hormat dan komunikasi, kecenderungan perselingkuhan, kehamilan di luar nikah, hukum tabur tuai.

Bagian Dari Rencana Allah

1 Tesalonika 3:3  supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu.

Kesusahan (Yunani: thlipsis), artinya: tekanan, saling menekan, penderitaan. Kata “kesusahan” yang sama terdapat juga dalam ayat 1 Korintus 7:28  Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. 

Lalu, apa yang menarik dari sebuah pernikahan? Tujuannya, yaitu: menjadi satu. Amsal 27:17  Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Kejadian 2:24  Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Gesekan antara suami istri membuat masing-masing akan semakin “tajam” (serupa dengan Kristus). 1 Petrus 3:4  tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Ketika suami istri bisa menerima kekurangan satu sama lain maka manusia batiniah yang tersembunyi itu akan semakin disempurnakan. Kita akan dapatkan kebahagiaan dalam pernikahan ketika kita setia menjalankan pernikahan sesuai prinsip Alkitabiah meskipun penuh pengorbanan dan penderitaan. Kunci pernikahan yang berhasil adalah ketika kita mengundang Yesus dalam pernikahan kita (contoh: pernikahan di Kana). Meskipun orang lain melihat begitu sulit yang kita hadapi tetapi kita akan bersukacita menjalaninya sebab kita tahu tujuan pernikahan kita, yaitu: menggenapi rencana Allah.

Lalu, apa saja yang harus diperhatikan dalam menjalani sebuah pernikahan?

1) Apa yang kita lihat?

    Secara berurutan, kita harus memprioritaskan: Kristus – pasangan – diri kita. Tak ada pernikahan yang kuat ketika kita selalu mengutamakan kebahagiaan diri sendiri, pernikahan kita kuat ketika kita mengutamakan kebahagiaan pasangan kita setelah Kristus.

    Filipi 2:3 

    …Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (TB)

    Put yourself aside, and help others get ahead. (MSG)

    2) Siapa yang kita dengar?

      Mendengarkan isi hati pasangan harus diusahakan (jangan dianggap sepele). Jangan egois mengutamakan diri sendiri saja yang harus selalu didengarkan dalam segala hal dan keinginan. 

      3) Di mana Anda memulai?

      Mazmur 101:2  Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. 

      Bahkan pernikahan yang diciptakan di surga pun, perlu cara memelihara yang membumi.

      Kerendahan hati dimulai dari rumah. Orang yang bisa hidup benar di rumahnya adalah orang yang kuat sebab ia bisa mengalahkan keegoisan dirinya sendiri untuk melakukan kebenaran firman Tuhan.

      Dalam pernikahan, kita bisa saling melukai. Tetapi jangan saling berpisah, karena tak ada kehidupan dalam kesendirian. Kasih Kristus membuat kita tetap kuat.

      Eternal Marriage (Pernikahan Yang Abadi)

      Shalom!
      Setiap orang pastilah mendambakan sebuah pernikahan yang abadi, tetapi pada kenyataannya kebanyakan masyarakat modern (termasuk anak Tuhan) mengalami kegagalan pernikahan. Semakin hari sebuah pernikahan di mata dunia bukanlah menjadi sesuatu yang sakral lagi, bukan menjadi sesuatu yang kudus lagi. Pesta pernikahan yang mewah bukanlah jaminan pernikahan yang bahagia, tetapi pernikahan yang sesungguhnya itu dimulai setelah pesta pernikahan berakhir. Pernikahan itu bukanlah hal yang instant dan mudah, tetapi pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang yang harus diperjuangkan meskipun banyak terjadi hal-hal yang tak terprediksi. Mari kita belajar dari kisah perkawinan di Kana. Yohanes 2:1-11 berkata “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” Anggur di pesta pernikahan orang Israel merupakan lambang kehormatan, sukacita dan kebahagiaan, begitu juga dengan pernikahan kita harus penuh dengan kehormatan, sukacita dan kebahagiaan; jangan sampai pernikahan kita sampai “kehabisan anggur”. Tuhan membenci perceraian, tidak ada kebahagiaan ketika kita melanggar kehendak Tuhan. Lalu, mengapa sebuah pernikahan gagal (kehabisan anggur)?
      1) Kurangnya persiapan. Perhatikan bahwa iblis berusaha menghancurkan pernikahan-pernikahan orang Kristen sehingga menghasilkan keturunan-keturunan yang lemah dan mudah jatuh dalam berbagai dosa, bukannya keturunan Ilahi yang kuat dan menjadi anak-anak Terang.
      2) Kejadian di luar dugaan. Mungkin saja terjadi hal-hal yang mendadak dalam menjalani pernikahan kita.

      Berikut adalah kriteria pernikahan yang sehat, yaitu:
      a) Bukannya berarti tidak pernah bertengkar namun bisa menyelesaikan pertengkaran sehingga tidak berlarut-larut. Yakobus 1:19-20 berkata “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”  Efesus 4:26 berkata “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” Kita harus menyelesaikan pertengkaran dengan pasangan kita dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
      b) Bukannya berarti tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, tidak pernah sedih, namun yang penting adalah setelah merasakan semua itu kita masih bisa menerimanya kembali. Roma 15:7 berkata “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” 
      c) Bukannya selalu mesra penuh cinta seperti dalam cerita, tapi lebih sering ada perasaan sayang, terutama kasih. Kolose 3:18-21 berkata “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

      Lalu bagaimana kita membangun sebuah pernikahan yang sehat? Suami dan istri masing-masing harus selalu mencari Tuhan dan semakin mendekat kepada-Nya agar kita pun semakin dekat dengan pasangan kita. Hubungan kita dengan Tuhan mempengaruhi hubungan kita dengan pasangan kita. Tuhan akan bekerja ketika kita semakin dekat dengan Tuhan, karenanya kita harus  mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Tuhan sanggup melakukan mujizat dalam ketidakberdayaan kita untuk mempertahankan pernikahan karena pernikahan adalah sebuah hal yang penting bagi Tuhan. Peristiwa pernikahan di Kana bukanlah sebuah mujizat biasa, namun hal yang berarti besar bagi Tuhan. Kita harus rela bayar harga dalam mempertahankan pernikahan kita tetap utuh dan teguh sehingga Tuhan pun berkenan.

      Pohon Badam

      Shalom!
      Yeremia 1:11-12 berkata “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” Lalu firman TUHAN kepadaku: “Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku.”” Pohon badam (almond tree) adalah jenis pohon yang mampu tumbuh dan bertahan di semua musim, khususnya di daerah Timur Tengah; juga berbunga lebih awal, disaat pohon-pohon lain masih ‘tidur’ pada musim dingin. Dalam Bahasa Ibrani tertulis ‘shaqed’ yang artinya ‘ yang berjaga, ‘yang bangun’, ‘yang siap’. Dalam kamus Bahasa Ibrani, kata ‘pohon badam’ dan ‘siap sedia’ memiliki kesamaan arti, yaitu berjaga-jaga. Inilah yang Tuhan kehendaki bagi kita, yaitu keadaan kita selalu siap sedia (berjaga-jaga) karena Tuhan selalu siap sedia melaksanakan Firman-Nya (datang kembali untuk keduakalinya). “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:35-37) Namun, ayat tersebut tidak bermaksud agar kita ‘tidak perlu berjaga-jaga’ karena kasih karunia Tuhan yang selalu ada bagi kita, seharusnyalah kita menghargai kasih karunia Tuhan tersebut dengan selalu berjaga-jaga agar tidak terjatuh dalam dosa. Mari kita belajar dari kegagalan Simson! Hakim-Hakim 14:5-6 mengisahkan kekuatan simson yang luar biasa ketika Roh Tuhan berkuasa atasnya. Namun, Simson akhirnya kalah bukan karena serangan musuh tetapi karena godaan seorang wanita. Simson tidak berjaga-jaga atas kelemahannya sehingga ia pun jatuh dalam pencobaan. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41) Lalu, apa istimewanya menjadi orang Kristen yang berjaga-jaga seperti pohon badam itu?
      1) Bilangan 17:5,7,8 berkata “Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.” Musa meletakkan tongkat-tongkat itu di hadapan TUHAN dalam kemah hukum Allah. Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.” Orang yang berjaga-jaga seperti pohon badam adalah orang yang dipilih oleh Tuhan. Berjaga-jagalah karena mungkin kita tidak memiliki kesempatan kedua untuk sungguh-sungguh mengikut Yesus.
      2)Kejadian 43:11 berkata “Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: “Jika demikian, perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam.” Orang yang berjaga-jaga adalah orang yang mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya untuk dipersembahkan kepada Raja segala raja.
      Lalu, bagaimana jika kita tidak berjaga-jaga?
      a) Memberi kesempatan kepada iblis. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:26-31)
      b) Tidak menyadari bahaya yang mengancam kehidupan kita. Menganggap enteng atau terlalu kuat sehingga kalah sebelum berperang. Mazmur 19:13 berkata “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.” Waspadalah karena sedikit penyimpangan dalam kehidupan kita merupakan awal ketersesatan kita di masa depan. Kita harus senantiasa berjaga-jaga dengan selalu berdoa dan membaca Firman Tuhan agar kehidupan kita selalu selaras dengan Firman Tuhan, tidak menyimpang sedikitpun. Orang bijak akan menghindari bahaya sehingga selamat sampai akhirnya.
      Bagaimana cara berjaga-jaga?
      a) Mazmur 1:1-3 berkata “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Alkitab adalah surat cinta dari Tuhan karenanya merenungkan Firman Tuhan adalah suatu kesukaan bagi umat yang mencintai Tuhan.
      b) Bunga badam disimpan dalam pelita emas (Keluaran 25:31-33). Pelita emas melambangkan Roh Kudus, karenanya kita harus selalu rindu dipenuhi oleh Roh Kudus. Kita harus taat akan tuntunan Roh Kudus agar kelak layak menjadi mempelai Kristus.

      Memelihara Kesatuan Dalam Keluarga & Tubuh Kristus

      1. Saling mendengar (Yoh 1:19)
      2. Saling membangun (Roma 15:2)
      3. Saling menerima apa adanya (Roma 15:7)

      Kunci Keberhasilan Daniel

      1. Keberanian untuk berkomitmen dalam hal kekudusan (Daniel 1:8)
      2. Kasih karunia Tuhan yang berlimpah (Daniel 1:9)
      3. Menghargai rekan sekerja (Daniel 2:17, 49)
      4. Berharap hanya kepada kasih Tuhan (Daniel 2:18)
      5. Tidak terikat dan tidak terpikat kepada harta duniawi (Daniel 5:17)
      6. Hidup dalam kebenaran (Daniel 6:5)
      7. Biasa hidup dalam doa (Daniel 6:11)
      8. Dikasihi Tuhan (Daniel 10:11)