Bersinergi Dengan Tuhan

Shalom!  Hal yang paling menyenangkan hati Tuhan adalah ketika kita bisa bersinergi dengan Tuhan. Tahun ini adalah tahun pelipatgandaan mujizat. Kita menyadari bahwa ketika kita membutuhkan mujizat, itu adalah karena kita sedang dalam goncangan. Dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan alam semesta tanpa bantuan siapapun, inilah kebenaran yang harus kita yakini yaitu bahwa Allah Maha Kuasa, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Begitu banyak tokoh-tokoh Alkitab yang menjadi contoh bagi kita untuk tetap percaya kepada Tuhan di tengah goncangan. Mujizat terjadi dalam hidup para tokoh Alkitab tersebut ketika mereka hidup bersinergi dengan Tuhan, yaitu berjalan sesuai tuntunan Tuhan. Mujizat masih ada! Mujizat itu terjadi ketika Allah berfirman memberikan tuntunan-Nya dan kita sebagai manusia mau mendengarkan serta melakukan tuntunan tersebut. Ketaatan adalah modal kita untuk bekerjasama dengan Tuhan dalam mendatangkan mujizat, meskipun dalam banyak hal Tuhan sanggup melakukannya sendiri. Ketika Allah menghendaki kita untuk ikut serta dalam mendatangkan mujizat, berarti Allah menghormati kita maka pastikanlah bahwa kita bukan orang yang menghalangi Tuhan dalam menyatakan mujizat-Nya. “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23b) Roma 12:2 berkata “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Hal pertama yang harus berubah dalam diri kita agar tidak menjadi penghalang Tuhan dalam menyatakan mujizat-Nya, yaitu roh kita karena Roh Allah bersatu dalam diri kita. Hal berikutnya yang harus kita ubah adalah pikiran kita. Pikiran kita harus seturut dengan pikiran Kristus, yaitu percaya akan setiap janji-Nya meskipun hal tersebut mustahil. Kita harus memperbaharui pikiran kita: tidak ada yang mustahil bagi Allah dan bagi orang percaya! Banyak mujizat (hal-hal diluar logika) terjadi ketika pikiran kita diperbaharui seturut pikiran Kristus. Iman kita bertumbuh ketika kita konsisten membaca Firman Tuhan dan sedang dalam pergumulan. Ketika kita memiliki pengharapan, hal itu seperti kita datang kepada Tuhan dengan membawa sebuah ruangan kosong. Iman bekerja seturut dengan pengharapan, dan Tuhanlah yang akan mengisi ruang kosong pengharapan tersebut hingga penuh sehingga kita bersemangat hidup. Tetapi, hal yang menentukan besar/kecilnya iman kita tergantung dari pola pikir kita. Mari kita perbaharui pikiran kita dengan memasukan sistem yang baru, yaitu nilai-nilai Firman Tuhan. Ketika kita memperbaharui pikiran kita, berarti kita sedang memperbesar kapasitas kerohanian kita. Jika kita tidak memperbaharui pikiran kita berarti kita sedang membatasi hal-hal terbaik dari surga masuk dalam kehidupan kita. Kita harus membaca Alkitab setiap hari meskipun tidak mengerti, karena Roh dan pikiran kita harus diperbaharui dengan ‘roti kehidupan’ agar terus bertumbuh dan menggantikan semua paradigma yang salah dalam hidup kita dengan paradigma yang benar. Setelah itu kita harus mendisiplinkan pikiran kita. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8) Fakta/kenyataan hidup seringkali menghalangi pikiran kita untuk percaya akan Firman Tuhan. Ketika kita hidup beriman, sebenarnya Tuhan sedang mengajar kita untuk hidup bersandar kepada-Nya bagaimanapun realita kehidupan yang kita lihat. Kita bisa melihat fakta sebentar, kemudian fokus kepada Tuhan dan terus pegang janji-Nya bahwa mujizat masih ada. “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7) Amsal 4:23 berkata “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kehidupan memerlukan hati, membangun hubungan dengan Tuhan pun memerlukan hati. Jika kita ingin melihat masa depan yang baik, pastikan hati kita beres di hadapan Tuhan. (Kolose 3:15) Terjemahan lain mengatakan “Hendaklah keputusan-keputusanmu ditentukan oleh kedamaian yang diberikan oleh Kristus di dalam hatimu.” Mari siapkan diri kita untuk mengalami mujizat Tuhan juga menjadi saluran mujizat-Nya bagi orang lain!

Advertisements

Let’s Celebrate The Problem!

Kejadian 1:28 berkata Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”” Kata ‘taklukan’ mengandung unsur perjuangan dalam pencapaiannya dan tidak mudah sebab ada tantangan yang harus dilalui. Namun, sebelum Tuhan memberi manusia perintah untuk menaklukan bumi, Ia terlebih dahulu memberkati kita karena ketika kita hidup dalam berkat Tuhan maka ada kemampuan untuk menaklukan bumi. Karenanya, kita harus hidup bersinergi (bekerja sama) dengan Tuhan agar berkat tersebut tidak terhalang bagi hidup kita, yaitu dengan tidak hidup dalam dosa dan kejahatan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2)

Masalah adalah alat Tuhan yang sangat efektif untuk membuat manusia semakin canggih karena melalui masalah kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan dan muncullah potensi maksimal kita. Bahkan dapat dikatakan bahwa masalah adalah teman setia kita, karena ia selalu menyertai kita hingga hari kematian kita. Namun, Tuhan tidaklah pusing dengan segala masalah kita, yang ia pusingkan adalah respon kita dalam menghadapi masalah tersebut. Yang Tuhan kehendaki adalah agar kita merayakan masalah tersebut, yaitu dengan cara menikmatinya bukan lari dari kenyataan. Kita ibarat sebuah pasta gigi yang terus-menerus ditekan hingga benar-benar mengeluarkan ‘pasta’ (hal yang bernilai), jika kita belum benar-benar mengeluarkan ‘pasta’ di tengah tekanan masalah (bersungut-sungut, masih sombong, tidak bersyukur, kedagingan) maka Tuhan tidak akan berhenti untuk ‘memproses’ kita. Nikmatilah segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dengan cara yang positif, karena dibalik semua itu sebenarnya Tuhan sedang melakukan sesuatu yang indah bagi kita. Tuhan sedang melatih kita untuk mempunyai daya tahan lebih disaat sedang tertekan.

Inilah yang Tuhan kehendaki ketika kita sedang dalam masalah:

  1. “Bersukacitalah senantiasa.” (1 Tesalonika 5:16). Kata ‘senantiasa’ dalam ayat tersebut berarti bersukacita itu tidak tergantung oleh keadaan. Tuhan berkehendak agar kita bersukacita di dalam Tuhan dan dalam pengharapan. “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 3:1, Filipi 4:4) “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12) 1 Korintus 10:13 berkata “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Lingkungan mempengaruhi kita untuk cenderung merespon masalah secara negatif namun kita harus selalu berada dalam dimensi yang positif sehingga kita dapat melihat pintu jalan keluar yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Persiapkanlah diri kita karena Tuhan selalu ingin bekerja sama dengan kita untuk menyatakan mujizat-Nya! Isilah hati kita dengan iman dan harapan-harapan yang positif!
  2. “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17). Berdoalah dengan konsisten, berkata-katalah kepada Tuhan bukan kepada manusia. Tak perlu mencari ‘kambing hitam’ dari setiap permasalahan kita, namun berdoalah dalam Roh sehingga Roh-lah yang akan menguatkan dan menenangkan kita dalam menghadapi masalah tersebut sebab menampilkan keadaan diri yang murung ditengah masalah hanya akan melemahkan iman orang sekitar kita. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21) Tuhan berjanji bahwa pintu mujizat dibuka bagi kita, namun kita juga perlu menyadari bahwa tidak ada mujizat tanpa didahului masalah. Mujizat Allah tidak akan terhambat terjadi bagi kita jika kita memiliki respon yang benar ditengah masalah. Percayalah bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
  3. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Bersyukur berarti menerima segala keadaan yang kita alami. Hal ini akan membuat kita mampu memandang realita kehidupan yang pahit dari ‘kacamata Allah’. Bersyukurlah dengan adanya masalah sebab itu berarti Tuhan akan menyatakan mujizat-Nya dalam hidup kita. Persiapkan hati kita untuk tidak bertindak sebagai ‘sutradara kehidupan’ tetapi untuk menerima mujizat Tuhan sesuai cara yang Tuhan kehendaki. Berdoalah agar Tuhan tetap beri kekuatan seandainya masalah tersebut memang harus kita lalui dan dimampukan untuk memilih respon yang benar ditengah masalah. It’s not the time to cry the problem, but it’s the time to celebrate the problem!

Romantic

Seseorang menikah karena “CINTA” kepada kekasihnya yang kini jadi pasangannya.

Banyak kali karena kesibukan, dinamika hidup dan anak yang Allah percayakan membuat perhatian kita kepada pasangan menjadi berkurang bahkan dengan berjalannya waktu, “cinta” kita kepada pasangan menjadi kurang “gregetnya” bahkan cenderung mulai “memudar”. Hati-hati!!!

HIDUPKANLAH KEMBALI “ROMANTISME” ANDA!!! HOW?

  1. Pikirakan tentang hari-hari ketika Anda berkencan. Apa yang membuat “kekasih” Anda merasa istimewa?
  2. Temukan cara-cara baru untuk menyenangkan pasangan Anda.
  3. Bawa pasangan Anda pergi untuk sesuatu yang istimewa. Simpan tujuan Anda sebagai kejutan. Pergi berdua seperti “pacaran” lagi.
  4. Jangan menganggap rendah nilai sebuah “pelukan dan senyuman”.

Menghargai Pasangan

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Allah menciptakan 2 jenis manusia dan tentunya jenis manusia ini (setelah jatuh dalam dosa) punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda dan mempunyai kebutuhan yang mendasar, di mana salah satunya adalah “kebutuhan dihargai”.

Bagaimana “menghargai” pasangan?

  1. Menerima keanehan satu sama lain. Kita mempunyai “keanehan” itu dalam diri kita, mengapa kita tidak menerima keanehan itu sebagai bagian dari diri pasangan kita? Dengan demikian kita tidak akan merasa jengkel bila keanehan-keanehan tersebut muncul dalam hidup kita sehari-hari.
  2. Temukan apa yang membuat pasangan kita tergerak.
  3. Belajar dari pasangan.
  4. Tertawalah bersama (tetapi jangan saling menertawakan) kelemahan-kelemahan kita berdua.

Tahun Awal Pernikahan MENENTUKAN

Aga tercipta kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga, kita harus memiliki hal-hal berikut setelah menikah:

  1. Kemampuan BERKOMUNIKASI. Hal-hal yang mengganjal sebaiknya dibicarakan dengan pasangan agar tidak menumpuk, namun harus dilakukan dengan komunikasi yang baik.
  2. Kemampuan bersikap fleksibel/toleransi. Karena perbedaan latar belakang, gaya bicara, kebiasaan atau tindakan pasangan dapat menjadi masalah.
  3. Kemampuan menjalankan tugas dan peran masing-masing. Suami mungkin masih senang bermain game online, olahraga ataupun berkumpul dengan teman-temannya. Istri mungkin tidak bisaaa bangun pagi-pagi, menyiapkan makanan, mencuci ataupun melakukan tugas-tugas rumah tangga lainnya. Hal-hal ini dapat memicu terjadinya pertengkaran.
  4. Keputusan untuk selalu mengampuni. Sadarilah bahwa pasangan hidup bukanlah manusia sempurna sehingga punya peluang berbuat salah secara disengaja maupun tidak disengaja.

The Magic Word –LOVE–

Ketika kita sudah menikah, kita harus selalu MENGATAKAN & MENGINGAT kata “LOVE”

Listen – beri waktu dan kesempatan untuk mendengarkan pasangan

Offer Yourself – ketika memutuskan untuk menikah berarti kita memutuskan untuk memberikan sepenuhnya

Value & Honor – keharmonisan rumah tangga dimulai dengan keputusan untuk menghargai dan menghormati pasangan

Embrace (kemesraan) – ketika sudah menjadi pasangan suami-istri, jangan lupa untuk selalu melakukan tindakan-tindakan CINTA agar selalu mesra

Melanggengkan Hubungan

 “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” (Efesus 5:31)

Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya. Dari dua pribadi yang berbeda dalam segalanya (cara berpikir, tempramen, sifat/karakter, kualitas hati, dsb), mereka bersatu menjadi suami istri.

Mereka HARUS BERUPAYA untuk membuat hubungan tersebut menjadi langgeng sampai akhir. Dibutuhkan SIFAT-SIFAT ALLAH untuk melanggengkan hubungan suami istri:

  1. Kasih Allah. Ulangan 7:8 …karena Tuhan mengasihi kamu…telah membawa keluar…dari rumah perbudakan… Allah tidak pernah berbuat sesuatu akibat dorongan kepentingan diri dan egoism semata-semata tetapi karena Kasih Ilahi. Bukan sekedar daya tarik fisik yang mempertautkan seorang laki-laki dan seorang perempauan. Diantara keduannya perlu ada Kasih Ilahi yang bukan didasarkan atas situasi dan kondisi luar.
  2. Kesetiaan. Kesetiaan satu terhadap yang lain haruslah jadi tujuan pasangan suami-istri yang terikat ikrar pernikahan.
  3. Pengampunan. Pengampunan haruslah menjadi prinsip yang dijalankan dalam ikrar pernikahan yang sukses. Pengampunan berarti membebaskan dari hutang (Roma 3:25).
  4. Tidak mementingkan diri sendiri. Sifat tidak mementingkan diri sendiri haruslah ada di dalam hati suami-istri.

Keluarga Bahagia Walau Istri Bekerja

Modernisasi membuat kehidupan manusia semakin sibuk, bahkan kebutuhan pun meningkat, sehingga banyak istri yang bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga. Kalau tidak hati-hati keluarga akan menjadi korban…!!!

HAL YANG PERLU KITA PERHATIKAN:

  1. Utamakan Tuhan di dalam keluarga. Kita diciptakan untuk kesukaan Allah, dimana Allah rindu bersekutu dengan kita. Jadi kita harus memastikan tiap hari kita membangun keintiman dengan Allah.
  2. Prioritaskan keluarga ketimbang pekerjaan. Bagaimanapun sibuknya, ingat bahwa keluarga adalah yang terutama. Kita sering mendengar perkataan “Saya pergi pagi sekali dan pulang larut malam karena bekerja/berusaha demi keluarga”, tetapi ketika itu terjadi banyak kali kita justru kehilangan keluarga…!!!
  3. Atur jadwal dengan baik. Kita tidak bisa mengulangi ‘waktu’ tetapi kita harus mulai mengembangkan kemampuan untuk ‘memanage waktu’ dengan baik.
  4. Sediakan waktu khusus untuk berdua dengan pasangan. Cinta terhadap pasangan harus dipelihara, karena kesibukan, kurang komunikasi, kurang perhatian membuat kita menjadi asing bagi pasangan.

Aku Dan Dia Berbeda

Efesus 5:31-32…bersatu dengan…menjadi satu…

Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya dan menjadi satu. Bisa bayangkan, dua pribadi yang berlatar belakang berbeda akhirnya disatukan! Kita mungkin akan terpancing untuk selalu menjadi sama dengan pasangan kita, tetapi kenyataannya kita berbeda dengan pasangan kita! Kita harus memberanikan diri “sepakat” untuk “tidak sepakat” dengan pasangan. Harus dengan lapang dada menerima pasangan apa adanya.

CARA MENGHADAPI “PERBEDAAN”:

  1. Jangan mempersulit perkara-perkara kecil. Perkara kecil hilangkan, perkara besar dikecilkan. Bertoleransi terhadap kelemahan-kelemahan pasangan yang tidak penting.
  2. Ubah pikiran-pikiran “ku” menjadi pikiran-pikiran “kita”. Jangan berusaha memenangkan sebuah argument, tetapi pikirakan bagaimana kita dapat melayani Allah dan pasangan.
  3. Pertimbangkan konsekuensi-konsekuensinya. Hanya karena kita memikirkan sesuatu, tidak berarti itu harus dicetuskan lewat mulut kita.
  4. Saling menyeimbangkan. Saling mengangkat dimasa-masa sulit, sertakan akal sehat dalam hal hubungan dan keuangan.
  5. Bermimpi, berencana dan berdoa. Allah menanti kita untuk meminta nasihat-Nya. (Amsal 16:9)