Disiplin Rohani

1 Yohanes 2:3-6 (TB)  Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Standar kehidupan kita adalah memiliki karakter Kristus, yaitu kudus. Untuk itu, kita harus selalu memiliki waktu khusus bersekutu dengan Tuhan (saat teduh). Baik sebelum maupun sesudah pelayanan, Tuhan Yesus selalu memiliki waktu khusus bersekutu dengan Bapa (Markus 1:35 & Matius 14:23).

Markus 1:35 (TB)  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Matius 14:23 (TB)  Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Hasil dari persekutuan yang intim dengan Bapa itulah yang memampukan kita taat melakukan perintah-Nya. Dalam disiplin rohani, kita harus memiliki hati yang rela berkorban untuk meluangkan waktu khusus bersama Tuhan (saat teduh dan dimuridkan), memiliki tujuan hidup yang jelas (yaitu meraih mahkota kehidupan di surga) dan memiliki penguasaan diri untuk tetap fokus kepada Tuhan.

Advertisements

Tidak Kenal Menyerah

“Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” (Matius 15:21-28)

Ada pesan penting dari pelayanan Tuhan Yesus di Tirus dan Sidon, saat Ia melayani seorang perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan. Melalui pelayanan-Nya di daerah tersebut, Tuhan Yesus sebenarnya sedang mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa berita keselamatan itu bukan hanya untuk bangsa Yahudi saja, tapi juga untuk bangsa-bangsa lainnya. Kembali kepada permasalahan yang perempuan Kanaan itu hadapi, kita dapat belajar tentang beberapa hal tentang perempuan ini, yang akhirnya membuat mujizat kesembuhan dari Tuhan terjadi atas anaknya.

Renungkan tiga hal berikut tentang sosok perempuan Kanaan dalam kisah ini:

  • Dia memiliki kasih. Walaupun ia adalah seoranng kafir di mata orang Yahudi, namun ia memiliki kasih atas masalah dan penderitaan yang dialami anaknya. Kasihnya mendorong ia datang mendekat dan menyembah Tuhan Yesus. Orang yang memiliki kasih, pasti suka mendekat dan menyembah Tuhan. Kasihnya membuat ia rela menerima ‘kebisuan’ Yesus, namun ia tetap memohon. Orang yang memiliki kasih, tidak gampang putus asa. Kasihnya bisa beresiko mendatangkan penderitaan akibat penolakan, namun ia tidak berhenti. Orang yang memiliki kasih, tetap mengasihi walaupun belum mendapat jawaban. Kasihnya membuat ia mampu melihat kasih sayang di balik kata-kata Tuhan. Orang yang memiliki kasih, menyadari makna dari kata-kata yang sebenarnya bukan menghina atau merendahkannya.
  • Dia memiliki iman. Imannya berumbuh saat ia mulai berkomunikasi dengan Tuhan. Diawali saat ia memanggil Yesus dengan ‘anak Daud’, sampai diakhiri dengan memanggil-Nya ‘Tuhan’. Imanlah yang mengambil peran atas mujizat yang terjadi: ‘Imanmu menyelamatkanmu’ (Lukas 7:50); ‘Imanmu menyembuhkanmu’ (Markus 5:34); ‘Jadilah padamu menurut imanmu’ (Matius 9:29).
  • Dia memiliki sikap yang teguh. Ada kemauan keras dari perempuan Kanaan ini supaya anaknya sembuh. Ia tidak mau mendapatkan jawaban ‘tidak’. Orang seperti ini tidak kenal kata menyerah. Anak Tuhan pun harus gigih dan ulet, sampai mendapat jawaban atas berbagai pergumulan dalam doa-doanya.

Jika diperhadapkan dengan masalah seperti yang dialami perempuan tersebut, bagaimana tanggapan kita? Apa reaksi kasih kita? Apa reaksi iman kita? Bagaimana dengan keteguhan hati kita?

Allah adalah kasih. Datanglah pada-Nya dengan kasih. Kasih dapat mengalahkan segalanya. Tidak ada yang lebih kuat dan lebih dekat dengan Allah, selain kasih. Tentulah masalah atau persoalan yang kita hadapi itu ada jalan keluarnya. Jangan pernah menyerah. Tetaplah percaya, maka kita akan melihat pertolongan-Nya dan mujizat-Nya terjadi: seperti halnya akhir kisah dari perempuan Kanaan tersebut.

DOA

Doa kita tidak dijawab Tuhan karena:

  1. Dosa. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2)
  2. Kurang percaya. “Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:19-20)
  3. Tuhan hendak memurnikan iman kita. “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:8-9)

Lalu, bagaimana agar Tuhan menjawab doa kita?

  1. Berdoa dari hati dengan sungguh-sungguh (bernazar).
  2. Berdoa agar mengalami pertumbuhan rohani, bukan untuk memuaskan kedagingan.
  3. Menjadikan doa sebagai tindakan pertama ketika mengalami kesulitan, berarti meyakini sepenuhnya kuasa Tuhan, bukan mengandalkan manusia.
  4. Hidup benar dan setia kepada Tuhan.
  5. Berdoa dalam nama Tuhan Yesus Kristus. “dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”” (Yohanes 14:13-14)

Doa Yang Penuh Kuasa

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:14-16)

Bukankah tahun ini adalah tahun yang penuh mujizat? Tapi mengapa banyak anak Tuhan yang doanya belum dijawab? Yang minta jodoh masih tetap jomblo, yang butuh pekerjaan masih nganggur, yang minta kesembuhan masih tetap sakit. Mengapa itu masih terjadi? Bagaimana doa bisa menjadi sesuatu yang penuh kuasa dan mendatangkan berkat bagi kehidupan kita?

Doa yang penuh kuasa meliputi 4 hal:

  • Percaya total dalam nama Yesus. “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:11-14) Prinsip utama permohonan doa haruslah pada kuasa dan kebaikan Tuhan Yesus, yang kita yakini atau percayai sepenuhnya.
  • Jangan hidup dalam dosa. “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18) “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2) Dosa tidak berpadanan dengan Allah, sehingga walaupun baru pada sebatas hasrat jahat dosa, belum berbuah pada tindakan dosa, Allah tidaklah berkenan. Sebelum kita mengubah paradigma kita tentang pertobatan sejati dalam Tuhan, maka kita akan terperangkap dalam kehidupan yang dikuasai hidup yang lama.
  • Latihlah iman. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24) Apapun juga yang dilatih secara konsisten, pastilah mendatangkan suatu hasil. Demikian juga dalam hal melatih iman, kita akan menjadi semakin kuat secara rohani dalam meyakini jawaban yang akan kita terima melalui doa yang berdasar dari iman yang kuat pada Tuhan.
  • Mintalah menurut kehendak Tuhan. “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14) “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3) Kesalahan dalam doa yang tidak mendatangkan hasil, umumnya adalah karena meminta sesuatu yang bukan karena kehendak Tuhan, tapi karena nafsu kedagingan.

Mulai hari ini, tangkap kehendak Tuhan bagi hidup kita, dan mulailah berdoa sesuai kehendak Dia. Arahkan pikiran kita pada pikiran Tuhan, sehingga bisa mengetahui doa apa yang Ia ingin kita naikkan sehingga kita bisa menerima apa yang sebenarnya kita butuhkan. Kebutuhan yang Tuhan akan jawab adalah kebutuhan yang bukan untuk memuaskan hawa nafsu pribadi kita.

Pemberian Terbaik Buat Tuhan

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20)

Mengapa kita perlu memberikan yang terbaik buat Tuhan? Karena Tuhan telah lebih dulu memberikan yang terbaik buat kita, jauh melampaui apa yang menurut kita terbaik, yang dapat kita persembahkan kepada Dia. Tuhan bahkan sudah memberikan nyawanya buat kita, dan berakibat kehidupan kekal yang tidak lagi dikuasai maut, bagi yang percaya kepada-Nya. Kehidupan kita yang dikuasai dosa, telah dibeli dan dibayar lunas oleh Tuhan sendiri. Karena itu pemberian kita yang terbaik buat Tuhan adalah dengan cara memuliakan-Nya melalui kehidupan kita sekarang ini.

Pemberian yang terbaik buat Tuhan:

  • Melakukan ibadah yang sejati. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1) Artinya kita harus memberikan kehidupan kita buat Tuhan. Hiduplah kudus; jangan lagi hidup dalam dosa/di luar pertobatan. Bertumbuhlah kerohanian kita dan jadilah saksi-Nya. Jadilah pelaku firman Tuhan.
  • Mengubah pikiran kita seperti pikiran Tuhan. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2) Agar kita bisa memiliki kesepahaman dengan Tuhan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5) Sekalipun kita masih hidup dalam tubuh jasmani, kehidupan tidak lagi dikendalikan dengan pikiran kedagingan, tapi pikiran iman. “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)
  • Melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan. “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23) Maka kita bisa melakukan hal-hal yang terbaik; bukan saja dalam pelayanan, tapi juga dalam keseharian kita di berbagai aspek kehidupan. Sadari bahwa seluruh potensi dan keberadaan kita berasal dari Tuhan, dan itu semua ditujukan bukan untuk kemuliaan kita, tapi untuk kemuliaan Tuhan. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36) Prinsip ini mendatangkan berkat dari Tuhan sendiri. “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” (Efesus 6:5-8)

Sejauh mana kita sudah memberikan yang terbaik buat Tuhan? Dalam hal apa sajakah saudara berpikir bahwa saudara sudah melakukan hal-hal yang baik buat Dia selama ini? Adakah korelasinya dengan pokok pikiran firman Tuhan hari ini atau tidak?

Kehidupan tidak akan berlangsung selamanya. Ada waktunya kita harus kembali kepada Dia, atau akan tiba waktunya kesudahan segala sesuatu. Tubuh manusia adalah sementara, tapi kemuliaan Tuhan adalah kekal. Pilihlah untuk menjalani waktu kehidupan ini menurut kehendak Allah, bukan lagi menurut keinginan manusiawi kita. “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2), sehingga kita senantiasa mampu memberikan yang terbaik buat Tuhan selama kita hidup di dunia ini.

Bertahan Melalui Keadilan

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan” (Efesus 6:14)

Baju zirah adalah sebuah perlengkapan perang yang dikenakann untuk bertahan dari serangan yang dapat melukai, mencederai, atau bahkan membunuh si pemakainya. Salah satu perlengkapan senjata rohani dari Tuhan adalah “baju zirah keadilan”. Artinya, keadilan adalah hal yang harus kita kenakan dalam peperangan kehidupan yang kita jalani. Keadilan adalah salah satu kebenaran firman Tuhan yang penting buat kita pahami dan lakukan. Kebenaran firman Tuhan ini akan menghidupkan, menumbuhkan, dan menguatkan iman kita, sehingga kita bisa terlindungi dari tipu daya iblis. Hari ini kita akan minta hikmat dari Tuhan supaya kita bisa berlaku adil, tidak memihak, jujur dan tidak membedakan sesama.

Manifestasi keadilan:

  • Carilah keadilan. “Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.” (Zefanya 2:3) Carilah wajah Tuhan setiap hari. Arahkan hati kita pada-Nya setiap waktu, maka hikmat yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Adil akan dicurahkan atas kita. Jadilah orang yang rendah hati, sehingga kita bisa belajar dari kehidupan ini, dan mulai menggali berbagai pengalaman untuk menerapkan keadilan di manapun kita beraktivitas.
  • Lakukan keadilan. “Ia mengenakan keadilan sebagai baju zirah dan ketopong keselamatan ada di kepala-Nya;” (Yesaya 59:17a) Jangan berpihak pada manusia, tetapi kepada Allah, sehingga kita bisa jujur dengan hati nurani kita adalam memutuskan suatu kebenaran. Jadikan keadilan sebagai watak kita, seperti halnya karakter Tuhan Yesus.
  • Perilaku keadilan. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8) Tuhan minta kita untuk mengasihi Dia dan mengasihi sesama. Mengasihi sesama dapat ditunjukkan dengan cara peduli atas mereka. Namun demikian, kepedulian pun harus didasari oleh keadilan yang tidak membedakan status sesama kita. Wujudkan kasih yang berkeadilan secara berkesinambungan.

Sudahkan saudara menerapkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari kepada keluarga atau lingkungan terdekat, kepada relasi kerja, kepada rekan pelayanan, dsb? Adakah tantangan/kesulitan dalam bertindak adil?

Kehidupan ini adalah juga peperangan yang harus kita hadapi. Kenakan terus baju zirah keadilan, supaya kita bisa bertahan dan memenangkan pertempuran. Terapkan kebenaran firman Tuhan sepanjang kehidupan kita, maka kita akan terus terlindungi oleh kuasa-Nya. Perilaku adil pasti menghasilkan kehidupan yang damai.

Injil Yang Menyelamatkan

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

Keselamatan menurut konsep agama adalah hal-hal tentang hidup yang baru, kehidupan yang berdamai dengan Allah, beroleh pengampunan dosa, penyucian dari dosa, dan kehidupan yang kekal; namun semuanya itu tidak akan menjadi berarti jika di luar nama Yesus! Isi dari Injil adalah berita/kabar baik tentang Yesus! Dunia dipenuhi kabar buruk tentang kejahatan, bencana, kecelakaan, perang, dll. Segala hal yang berasal dari dunia adalah ketidakpastian, tapi segala hal yang berasal dari Injil adalah kepastian. Ada jaminan dan kepastian dari Injil. Injil berisi hal-hal yang tetap, bukan sementara. Injil berisi hal-hal yang pasti, bukan yang mungkin. Hal yang pasti itu adalah keselamatan yang hanya ada di dalam Yesus. Itulah anugerah terbesar dari Tuhan, yang dapat diterima dengan iman kita.

Hakekat tentang keselamatan:

  • Keselamatan adalah anugerah. Anugerah adalah pemberian cuma-Cuma yang diberikan kepada seseorang yang tidak layak menerimanya. Anugerah adalah kasih karunia dari Tuhan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8)
  • Keselamatan diterima dengan iman. Iman adalah percaya “telah” menerima, bukan percaya “akan” menerima. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24)

Percayakah saudara telah menerima keselamatan? Ataukah saudara percaya akan diselamatkan? Jika kita berpikir ‘semoga’ selamat (masuk surga), itu artinya kita belum selamat; itu artinya kita masih meragukan berita Injil! Yang manakah yang saudara percayai dari pengertian tersebut?

Saat ini, tugas kita adalah mengabarkan Injil pada suami, istri, anak, orang tua, mertua, rekan dan kerabat kita. kabarkan berita sukacita ini. Rampaslah mereka dari api kebinasaan. Jagalah keselamatan yang telah kita miliki. Sampai akhir hidup kita, biarlah keselamatan tetap jadi miliki kita.

Sadar & Berjaga

Keselamatan memang gratis tetapi mengerjakan keselamatan perlu bayar harga, salah satunya dengan menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang mencemari diri dan menjauhkan kita dari Tuhan. Lalu, apa saja yang harus kita jaga?

1)      Pikiran. Pikiran adalah medan peperangan rohani yang utama karena manusia cenderung menggunakan logikanya (percaya apa yang dilihat mata jasmani) dibanding percaya kepada Firman Tuhan (iman berarti percaya apa yang belum terlihat oleh mata jasmani) sehingga iblis dengan mudah menyesatkan manusia melalui pikirannya. Kita harus memiliki pikiran Kristus (membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus) agar tidak terpengaruh oleh segala kekuatiran kita ataupun mudah berprasangka buruk terhadap orang lain.

2)      Mata. Ada hal-hal yang memang tidak perlu kita lihat (pornografi, kekerasan, pertunjukan gaib) maka sebaiknya kita tidak perlu sedikitpun melihatnya agar tidak mencobai diri sendiri. Namun, ada juga hal-hal yang boleh kita lihat namun dapat membuat kita berdosa jika tidak diresponi dengan benar (menginginkan milik orang lain yang kita anggap lebih baik dari milik kita), untuk hal-hal tersebut adalah lebih baik jika kita bersyukur dengan apa yang kita miliki.

3)      Lidah. Apa yang diucapkan manusia berasal dari hatinya, karenanya kita harus menjaga hati tetap murni di hadapan Allah agar kelak kita pun memakan buah yang baik dari perkataan baik yang kita ucapkan.

Kuasa Roh Kudus

Kita disebut sebagai orang Kristen, karena kita adalah pengikut Yesus Kristus. Dalam hidup-Nya, Tuhan Yesus menunjukan suatu contoh bagi kita untuk melakukan dan menerima pembaptisan, yaitu baptisan air dan baptisan Roh Kudus. Kedua hal tersebut pun harus kita lakukan selaku murid-Nya. Baptisan air kita terima sebagai tanda pertobatan dan kematian dari manusia lama kita. Kita ‘dilahirkan’ kembali dan bangkit menjadi ‘manusia baru’. Sebagai manusia baru, Tuhan memperlengkapi kita dengan ‘sesuatu’ yang dari Surga, yang memampukan kita untuk menjalani kehidupan yang tidak sama lagi dengan kehidupan yang lama. Tuhan memperlengkapi kita dengan Roh Kudus-Nya. Tuhan mengaruniakan Roh Kudus bagi kita. Kita bukan saja perlu menerima baptisan Roh Kudus, tapi bahkan kita juga harus dipenuhi dengan Roh Kudus setiap saat.

Apa yang terjadi atas seseorang yang dipenuhi Roh Kudus?

1)      Menerima tugas sebagai saksi Kristus. Pekerjaan saksi Kristus adalah menjadikan orang lain menjadi murid Kristus juga dengan cara memberitakan kabar baik tentang kuasa dan kasih Allah melalui Yesus.

2)      Diperlengkapi kuasa selaku saksi Kristus. Kuasa untuk mengalami dan mendatangkan mujizat, kuasa untuk berbahasa Roh, kuasa untuk mengusir setan dan kuasa untuk menyembuhkan penyakit.

Menerima baptisan Roh Kudus adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan seorang percaya. Melalui kuasa Roh Kudus-lah maka seorang percaya dapat mengalami kehidupan yang bermakna karena menerima mandat yang mulia dari Surga, yaitu menjadi saksi-saksi Kristus yang berkuasa dan mengalami kehidupan yang berkemenangan.

Manusia Butuh Roh Kudus

Roh Kudus adalah pribadi Allah yang nyata perannya dalam kehidupan kita. Roh Kudus dikaruniakan sehingga kita dapat lebih mengenal dan memahami pribadi Allah dengan benar. Roh Kudus memiliki sifat yang menyatakan pengetahuan, kehendak dan kuasa Allah.

Berikut adalah peran Roh Kudus dalam kehidupan kita, yaitu:

1)      Sebagai Penolong. Hikmat dari Roh Kudus akan menolong kita saat menghadapi masalah apapun. Roh Kudus menunjukan bagaimana kita harus bertindak dalam mengatasi masalah.

2)      Sebagai Penghibur. Sebagai orang percaya, kita harus sungguh-sungguh bersyukur karena kita memiliki penghibur sejati saat mengalami kesedihan dalam kehidupan ini. Roh Kudus adalah penghibur kita. Dia sanggup menguatkan setiap mereka yang mengandalkan-Nya.

3)      Sebagai Kebenaran. Disaat kita melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya, Roh Kudus akan mengingatkan/menegur kita dengan hilangnya damai sejahtera dari hati kita. Saat kita peka, bertobat dan kembali mengikuti tuntunan-Nya, maka Roh Kudus pasti mengarahkan kita untuk kembali pada kebenaran Firman-Nya.

Tuhan Yesus berhasil menyelesaikan kehidupan yang berkemenangan dengan cara melakukan kehendak Bapa-Nya dengan sempurna. Untuk itu Tuhan Yesus harus senantiasa taat mengikuti tuntunan Roh Kudus, yang adalah Roh Bapa-Nya sendiri, sehingga Ia mampu memahami tujuan kehidupan-Nya. Demikian juga kita sebenarnya sangat membutuhkan Roh Kudus untuk menjalani kehidupan ini. Kita yang tidak berarti ini menjadi sangat berarti oleh karena kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri kita.