Janji Allah

2 Korintus 4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

Firman Tuhan yang kita perkatakan dengan iman pasti terjadi. Jadi, firman apa yang harus kita perkatakan setiap hari?

1) Mazmur 91. Bagi orang yang hatinya melekat kepada Tuhan, jangan takut! Mazmur 91:7-8 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.

2) Mazmur 118:8 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Keadaan kita akan lebih baik jika kita berlindung kepada Tuhan!

Jika kita berharap (berlindung) kepada Tuhan maka kita akan menerima:

a) Kekuatan baru. Yesaya 40:30-31 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

b) Perkenanan Tuhan. Mazmur 37:23-24 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

c) Tidak kuatir dalam tahun kering. Yeremia 17:7-8 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Tahun 2020 adalah tahun dimensi yang baru. Dimensi yang baru adalah apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia. Dimensi didefinisikan sebagai ukuran, artinya Tuhan berjanji akan memberikan dimensi yang baru, yang lebih besar, yang lebih baik dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jangan lihat keadaan, lihatlah janji Tuhan!

Dimensi yang baru berbicara tentang:

a) 2 Korintus 3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. Bagaimana caranya? Intim dengan Tuhan. Semakin intim dengan Tuhan, maka akan semakin serupa kita dengan gambar-Nya, sehingga kemuliaan yang semakin besar ada dalam diri kita. Ini berkat secara rohani, ini yang penting.

b) Ulangan 28:13-14 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” Janji ini hanya diberikan kepada orang-orang yang serupa dengan gambar-Nya. Saya ingat ketika Bpk. Kim Seng (pendoa syafaat) sakit dan dibawa ke surga, Tuhan bilang kepada beliau: “Anak-Ku yang sungguh-sungguh dengan Aku, yang mengerti akan rencana-Ku, Aku akan memberikan kepada mereka berkat secara materi.” Setelah virus corona, akan muncul resesi ekonomi namun lihatlah bagaimana Tuhan membuat keadaan kita berlawanan dengan kondisi perekonomian dunia!

Sniper Allah

Dalam dunia militer, tentu semua prajurit mahir menggunakan senjata. Namun, hanya orang-orang tertentu yang terpilih sebagai penembak jitu, apalagi sniper.

Matius 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Wahyu 17:14b Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil [=prajurit], yang telah dipilih [=penembak jitu] dan yang setia [=sniper].”

Demikian halnya dalam peperangan rohani, ada 3 level pendoa syafaat sesuai dengan tingkat peperangan yang dihadapi, yaitu:

A. TERPANGGIL [PRAJURIT]

Mereka adalah pendoa syafaat yang lulus ujian kekudusan dalam peperangan tingkat dasar (fase remaja rohani).

B. DIPILIH [PENEMBAK JITU]

Mereka adalah pendoa syafaat yang lulus ujian motivasi dalam peperangan tingkat okultisme (fase pemuda rohani).

C. SETIA [SNIPER]

Mereka adalah pendoa syafaat yang lulus ujian iman dalam peperangan tingkat tinggi (fase dewasa rohani).

Bagaimana karakteristik seorang pendoa syafaat di level ini?

  • Sniper adalah penembak jitu yang memiliki kemampuan untuk membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan. Di level ini, pendoa syafaat memiliki kuasa dari ‘tempat tersembunyi’ (=tempat Bapa di sorga, Mat. 6:6) untuk melawan tipu muslihat Iblis dengan menggunakan perlengkapan senjata Allah (Ef. 6:11).
  • Istilah sniper muncul dari kata snipe, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati dan ditembak sehingga orang yang mahir memburu burung ini diberi julukan “sniper”. Matius 17:19-20 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. Ya, dengan lulus ujian iman maka tidak ada doa pendoa syafaat yang terlalu mustahil untuk terjadi!
  • Tujuan sniper dalam peperangan adalah mengurangi kemampuan tempur musuh dengan cara membunuh sasaran yang bernilai tinggi, yaitu: komandan tempur musuh. Perjuangan pendoa syafaat bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan sasaran yang bernilai tinggi, yaitu: pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, dan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12).
  • Sniper tergabung dalam tim sniper yang memiliki fungsi berbeda, yaitu: shooter (penembak), spotter (pengintai target yang harus ditembak oleh shooter), dan flanker (pemberi informasi tentang segala hal yang tidak dapat terlihat oleh shooter dan spotter sehingga tim sniper dapat bertahan). Shooter dan spotter bertugas secara bergantian, sedangkan flanker bertugas mengawasi keadaan. Dalam peperangan rohani, pendoa syafaat adalah shooter & spotter, dan Tuhan adalah flanker.
  • Sniper mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi dan pemakaian kamuflase agar tidak bisa dideteksi musuh, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Sniper dapat bertahan berhari-hari dalam kondisi yang sulit. Ini membuat sniper memiliki peran strategis dalam peperangan sehingga keberadaannya memiliki efek psikologis terhadap musuh. Ya, pendoa syafaat diperlengkapi (diproses) Tuhan sedemikian rupa hingga berada di level ini hanya demi satu tujuan, yaitu: menjadi serupa dengan Kristus sehingga keberadaan pendoa syafaat tsb membuat iblis gemetar.

Perbedaan level penembak jitu dan sniper:

  • Penembak jitu ditugaskan untuk menembak dalam jarak kurang dari 50 meter sehingga hanya diperlengkapi dengan senapan jarak dekat, sedangkan sniper ditugaskan untuk menembak dalam jarak hampir 2,5 kilometer sehingga diperlengkapi dengan senapan jarak dekat dan senapan jarak jauh. Secara profetik, di level penembak jitu pendoa syafaat diberi Tuhan pewahyuan sebagai solusi masa kini, sedangkan di level sniper pendoa syafaat diberi Tuhan pewahyuan baik mengenai masa kini maupun masa depan yang masih jauh.
  • Penembak jitu tidak diperlengkapi dengan kemampuan kamuflase karena tidak dilibatkan dalam peperangan besar, sedangkan sniper diperlengkapi dengan kemampuan kamuflase menyesuaikan dengan beratnya medan tempur yang dihadapi. Artinya, di level sniper pendoa syafaat sudah berfungsi sempurna sebagai garam dunia yang tidak nampak namun berdampak.
  • Penembak jitu diposisikan dalam tingkat regu, sedangkan sniper diposisikan dalam tingkat batalion. Tentu, pendoa syafaat di level sniper adalah kepala, bukan ekor!

Restorasi Pondok Daud

Kisah Para Rasul 15:16-18 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula.

Kita harus memaknai restorasi Pondok Daud sebagai DNA gereja kita. Hadirat Tuhan adalah harta terbesar kita.

Barangsiapa mengasihi Tuhan, tentu akan selalu menanti-nantikan perjumpaan dengan Tuhan dalam setiap pertemuan ibadah (bukan dengan motivasi yang lain). Ya, penggenapan restorasi Pondok Daud dimulai dari setiap hati yang mengasihi Tuhan. Kiranya kita menangis karena merindukan keselamatan jiwa-jiwa, bukan karena sedang dalam pergumulan saja.

Kisah Para Rasul 12:5 Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

– Jemaat menandakan sebuah kumpulan yang berdoa bersama-sama (bukan berdoa sendirian).
– Berdoa dengan tekun artinya sungguh-sungguh, tidak asal-asalan, ngotot kepada Tuhan.
– Berdoa kepada Allah artinya kita bertemu Allah dalam doa-doa kita, belum bertemu Allah artinya belum berdoa.

Dengan demikian, ketika kita melangkah keluar setelah berdoa maka hidup kita akan mengalirkan air kehidupan bagi orang lain (menjadi pembawa pesan Pentakosta ke-3).

Mengandalkan Tuhan

Yeremia 17:7-8 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Ciri orang yang mengandalkan Tuhan, yaitu:

  1. Memiliki iman yang kuat. Daniel 3:16-18 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
  2. Tidak kuatir tentang apa pun juga. Filipi 4:6-7 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Facing Your Future

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Amsal 23:18 Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Bagaimana menghadapi masa depan?

Filipi 3:13-14 aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

  1. Forget (melupakan masa lalu). Kita tidak dapat memasuki masa depan jika selalu terperangkap dalam masa lalu. Kita harus melupakan kesalahan orang lain tetapi harus mengingat kebaikan Tuhan dan tanggung jawab kita. Yeremia 31:34b sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Yusuf memberi nama anak sulungnya Manasye (artinya lupa) dan memberi nama anak keduanya Efraim (artinya berbuah), secara rohani bermakna pertama-tama kita harus melupakan masa lalu (mengampuni) maka dengan demikian kita dapat berbuah.
  2. Foward (melangkah maju). Ibrani 12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
  3. Focus (menetapkan fokus). Ibrani 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Semakin Serupa Dengan Yesus

Dimensi yang baru berbicara tentang perubahan hidup yang semakin hari semakin serupa dengan Yesus. 1 Yohanes 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Teladan terbaik untuk menjadi seorang Kristen sejati adalah Tuhan Yesus, dan semua itu kita bisa pelajari dalam kitab-kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes).

Matius 19:16-24 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya [=orang yang fokusnya kepada harta duniawi] untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Hal yang harus kita lakukan jika kita mau bertumbuh ke arah Kristus, yaitu:

  1. Hidup dalam kebenaran (turutilah segala perintah Allah). Masuk surga merupakan kasih karunia Tuhan, bukan karena kesalehan kita (Yes. 64:6). Sebagai orang Kristen, kita berbuat baik karena kita sudah menerima kebaikan dari Tuhan (yaitu keselamatan kekal), bukan karena kita mengharapkan imbalan dari manusia ataupun Tuhan. Dengan demikian, perbuatan baik kita tidak tergantung dari imbalan, karena baik ada atau tidak ada imbalan kita tetap berbuat baik. Yosua 1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.
  2. Hidup dalam iman. Ketika kita melakukannya (memberi), standar kekayaan kita naik ke level standar kekayaan surga (bukan standar kekayaan bumi lagi). Perintah Tuhan diberikan kepada kita karena ia mengasihi kita (bukan untuk membuat kita ‘mati gaya’) dan ketika Tuhan memberikan perintah maka Ia pun menjamin upah bagi kita yang mentaatinya. God provide the path, God provide everything to walk the path.
  3. Hidup dalam fokus Kerajaan Allah. Orang yang lebih mementingkan perkara duniawi (bukan perkara surgawi), sulit masuk dalam Kerajaan Allah.

Kehendak Allah

Dimensi yang baru berbicara tentang kapasitas tanpa batas, yaitu serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Kor. 3:18).

Memperbesar kapasitas memerlukan proses. Pengurapan minyak dimaksudkan agar kita semakin diberdayakan oleh Roh Kudus sebagai tanda merendahkan diri bahwa kita tidak mau berjalan jika tidak dituntun Tuhan. Dengan keyakinan yang seperti ini, kita merupakan orang yang paling berbahagia di dunia ini!

Kita harus memperhatikan perkataan kita agar sesuai dengan Firman Tuhan, apa yang kita deklarasikan menentukan masa depan kita.

Mazmur 118:8 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.

Kita harus banyak mengucap syukur di tengah-tengah segala kondisi yang sedang terjadi. Bijaklah dalam menerima informasi: jika kita mempercayai perkataan iblis (hoax) berarti kita sedang tidak berlindung kepada Tuhan seperti Adam & Hawa.

1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Ketika kita mengucap syukur berarti kita sedang melakukan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah prioritas tertinggi dalam hidup kita. Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Bahagia ditemukan ketika kita mengucap syukur atas apa yang kita punya.

Yesaya 41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Mazmur 91:14 “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.

Tidak perlu takut akan malapetaka jika hati kita melekat kepada Tuhan sebab malapetaka adalah bagian orang fasik!

Menjadi Teladan

Matius 8:27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Tidak ada seorang pun dapat menjadi Yesus, tetapi seperti Yesus adalah acuan kita.

Orang yang membuat heran hanyalah orang yang sudah “beres” dengan dirinya sendiri. Orang seperti itulah yang dapat menjadi teladan seperti Yesus Kristus bagi orang lain dan memenangkan jiwa. Menjadi teladan seharusnya adalah standar hidup kita sebagai orang Kristen.

Bagaimana agar menjadi teladan?

Kita harus menjadi yang pertama berubah menjadi lebih baik, khususnya di dalam keluarga. Matius 8:23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. (TB) And when he was entered into a ship, his disciples followed him. (KJV) Kata “was entered into” bermakna dilibatkan, artinya kita harus melibatkan Yesus dalam segala aspek kehidupan. Orang yang hidupnya melibatkan Tuhan pasti hidupnya penuh damai sejahtera.

Menanti-nantikan Tuhan

Ibu Yulianawati (Kanit. Sekretariat Dept. Doa)
Dengan berbagai goncangan besar yang terjadi di awal tahun ini, baik dalam hidup kita sendiri maupun bangsa-bangsa, tentu hal ini menimbulkan ketakutan (kelesuan) akan masa depan. Yesaya 40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Akhir-akhir ini semakin banyak beban-beban doa yang Tuhan taruhkan bagi kita, semakin kita harus banyak menghabiskan waktu di hadirat Tuhan (bukan di tempat lain). Peperangan rohani semakin dahsyat sehingga kita tidak dapat mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk menghadapinya. Nantikanlah Tuhan hingga kekuatan-Nya dilimpahkan atas kita!

Yeremia 17:5, 7-8 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Hidup dalam kelimpahan cenderung membuat kita tidak terlalu mengandalkan Tuhan, namun keterbatasan hidup membuat kita semakin mengandalkan Tuhan. Bagaimanapun prediksi tentang masa depan dunia ini, tetapi orang yang mengandalkan Tuhan tidak perlu kuatir sebab mendapat jaminan penyediaan dari Tuhan dalam segala hal.

Matius 2:11b Mereka (orang-orang majus) pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

1) Emas berbicara tentang pemurnian. Tahun ini akan banyak hal-hal tidak terduga akan terjadi sebab Tuhan sedang memurnikan umat-Nya. Mungkin tanpa sadar kita merasa motivasi kita datang kepada Tuhan sudah murni, tapi Tuhan Maha Mengetahui kedalaman hati kita dan setiap motivasi yang tidak murni harus dibenahi.

2) Kemenyan berbicara tentang persembahan yang harum. Ketika kita dipakai Tuhan dan mendapat pujian dari manusia, itu bukan persembahan yang harum bagi Tuhan. Menerima segala pujian membuat kita menjadi sombong dan terjatuh, karena itu segala pujian harus kita kembalikan kepada Tuhan kareja hanya Ia saja yang layak dipuji. Wahyu 5:12-13 katanya dengan suara nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” Roma 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

3) Mur berbicara tentang sesuatu yang pahit. Kita doakan agar rekan-rekan yang sedang dimurnikan oleh Tuhan agar tidak menjadi pahit hati sehingga dapat lulus pemurnian dengan kemenangan.

Pdp. Tonny Soesanto (Kadept. Doa)
Yesaya 30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

Tuhan begitu menanti-nantikan saatnya untuk memberikan kasih-Nya kepada kita, namun hal itu hanya akan diterima oleh orang yang mau menanti-nantikan Dia (menghabiskan waktu di hadirat-Nya).

A Prayer Of Passion

Kita adalah pembawa pesan Pentakosta ke-3 (messenger of the 3rd Pentecost). Sebagaimana halnya messenger dalam kehidupan sehari-hari (seperti JNE, Tiki, FedEx, dsb) kita bertugas menyampaikan pesan Pentakosta ke-3 ke alamat yang dituju sembari mengenakan atribut surgawi (sesuai citra perusahaan) tanpa perlu memusingkan persoalan kehidupan sebab ketika kita hidup sesuai kehendak surga maka kehidupan kita dijamin penuh oleh surga.

Bagaimana agar doa kita selaras dengan kehendak Tuhan? A prayer of passion, yaitu doa yang menyertakan ‘keresahan hati’ kita didalamnya. Keresahan hati tsb merupakan hal-hal yang melampaui kepentingan pribadi kita semata, yaitu suatu kerinduan terhadap perubahan hidup orang banyak ke arah yang lebih baik. Bukan melalui orang lain, melainkan Tuhan akan memakai kita sendiri untuk menjadi jawaban doa tsb. Karena itu, jangan mengabaikan keresahan hati kita sekecil apa pun itu.

Salomo memiliki keresahan hati untuk bijaksana memimpin bangsa Israel yang begitu besar.
2 Tawarikh 1:7-13 Pada malam itu juga Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Berkatalah Salomo kepada Allah: “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada Daud, ayahku, dan telah mengangkat aku menjadi raja menggantikan dia. Maka sekarang, ya TUHAN Allah, tunjukkanlah keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku, sebab Engkaulah yang telah mengangkat aku menjadi raja atas suatu bangsa yang banyaknya seperti debu tanah. Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?” Berfirmanlah Allah kepada Salomo: “Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau, maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.” Lalu pulanglah Salomo dari bukit pengorbanan yang di Gibeon itu, dari depan Kemah Pertemuan, ke Yerusalem dan ia memerintah atas Israel.

Daud memiliki keresahan hati untuk menjaga dua tiga ekor kambing domba yang dipercayakan kepadanya (meskipun harus bertaruh nyawa), maka Tuhan memilih Daud menjadi gembala atas umat-Nya.
1 Samuel 17:28-36 Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.” Tetapi jawab Daud: “Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!” Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia. Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

Musa memiliki keresahan hati untuk menolong bangsanya, maka Tuhan memakai Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Keluaran 2:11-15 Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: “Mengapa engkau pukul temanmu?” Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkara itu telah ketahuan.” Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur.