Penjaga Yang Berjaga

Malam berjaga-jaga di hadapan Tuhan merupakan alat-alat yang dipakai pada zaman dulu dan sampai dengan saat ini.
Berjaga-jaga di hadapan Tuhan pada dasarnya telah menjadi model doa yang dilupakan, karenanya alat ini perlu diasah kembali dan dipertajam.
Kegerakan Moravia pada tahun 1700an yang mendirikan sebuah desa di Saxony (bagian timur Jerman), bernama Herrnut, artinya berjaga-jaga di hadapan Tuhan.
Selama 100 tahun, mereka terus berdoa selama 24 jam.

Berjaga-jaga artinya: *Waspadalah! Sadarlah!*
Bahasa Yunani: “gregorio”, artinya sadar atau waspada.
Kamus Webster: tetap sadar agar bisa menjaga, memperhatikan dengan seksama, tengah waspada atau bersikap waspada.

Berjaga-jaga ada kaitannya dengan memiliki kekuatan untuk menang.
Kegunaan utama dalam berjaga-jaga:
a) Gambaran sebuah sikap rohani berupa kewaspadaan dalam hati seseorang.
b) Suatu bentuk doa tertentu.

Penjaga-penjaga profetik bisa disamakan dengan para penjaga yang berjaga-jaga di malam hari.
Ini merupakan senjata Roh Kudus dalam peperangan rohani dan suatu bentuk doa syafaat.
Sejak awal Roh Kudus telah bergerak dan tidak pernah berhenti bergerak (Kejadian 1:2). Iblis dan antek-anteknya juga terus bergerak (1 Petrus 5:8-9).

Markus 6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. [Dalam konteks ini kita tahu bahwa, para murid melihat Yesus sebagai hantu (masalah), bukan sebagai Tuhan (berkat). Berkaca dari ayat ini, sebagai pendoa syafaat kita harus memiliki roh yang peka membedakan sesuatu yang datang kepada kita apakah benar-benar dari Tuhan atau bukan.]
Para prajurit dipanggil untuk melaporkan apa yang mereka lihat.
Para penjaga rohani diperlukan untuk melindungi komunitas-komunitas orang percaya dari serangan musuh yang akan datang. Contoh: jika kita sebagai pendka syafaat, tetapi salah seorang keluarga terdekat kita “salah jalan”, maka jangan salahkan anggota keluarga tsb, sebab yang salah adalah kita yang tidak berjaga-jaga atas keluarga kita.

Dalam budaya Ibrani, waktu jaga dibagi menjadi 8 bagian:
– pk. 18.00 – 21.00
– pk. 21.00 – 24.00
– pk. 00.00 – 03.00
– pk. 03.00 – 06.00
– pk. 06.00 – 09.00
– pk. 09.00 – 12.00
– pk. 12.00 – 15.00
– pk. 15.00 – 18.00

Keluaran 14:24 Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu.
Pada pk. 00.00 adalah saat pertarungan di alam rohani, dukun-dukun melepaskan kutuk-kutuk mereka di malam hari. Di sinilah saatnya untuk mematahkan kuasa kegelapan dan berseru agar terang Yesus datang untuk mengalahkan kegelapan. Para pendoa syafaat Rayon 2 menjadi perisai doa bagi Gembala Pembina (Pdt. Niko Njotorahardjo) pk. 00.00 – 01.00 WIB.

Kita dipanggil lebih dari sekedar untuk melihat camp musuh, tetapi kita diajak untuk melihat ke dalam camp Tuhan dan melihat apa yang ingin Tuhan lakukan.Malam berjaga-jaga di hadapan Tuhan merupakan alat-alat yang dipakai pada zaman dulu dan sampai dengan saat ini.
Berjaga-jaga di hadapan Tuhan pada dasarnya telah menjadi model doa yang dilupakan, karenanya alat ini perlu diasah kembali dan dipertajam.
Kegerakan Moravia pada tahun 1700an yang mendirikan sebuah desa di Saxony (bagian timur Jerman), bernama Herrnut, artinya berjaga-jaga di hadapan Tuhan.
Selama 100 tahun, mereka terus berdoa selama 24 jam.

Berjaga-jaga artinya: *Waspadalah! Sadarlah!*
Bahasa Yunani: “gregorio”, artinya sadar atau waspada.
Kamus Webster: tetap sadar agar bisa menjaga, memperhatikan dengan seksama, tengah waspada atau bersikap waspada.

Berjaga-jaga ada kaitannya dengan memiliki kekuatan untuk menang.
Kegunaan utama dalam berjaga-jaga:
a) Gambaran sebuah sikap rohani berupa kewaspadaan dalam hati seseorang.
b) Suatu bentuk doa tertentu.

Penjaga-penjaga profetik bisa disamakan dengan para penjaga yang berjaga-jaga di malam hari.
Ini merupakan senjata Roh Kudus dalam peperangan rohani dan suatu bentuk doa syafaat.
Sejak awal Roh Kudus telah bergerak dan tidak pernah berhenti bergerak (Kejadian 1:2). Iblis dan antek-anteknya juga terus bergerak (1 Petrus 5:8-9).

Markus 6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. [Dalam konteks ini kita tahu bahwa, para murid melihat Yesus sebagai hantu (masalah), bukan sebagai Tuhan (berkat). Berkaca dari ayat ini, sebagai pendoa syafaat kita harus memiliki roh yang peka membedakan sesuatu yang datang kepada kita apakah benar-benar dari Tuhan atau bukan.]
Para prajurit dipanggil untuk melaporkan apa yang mereka lihat.
Para penjaga rohani diperlukan untuk melindungi komunitas-komunitas orang percaya dari serangan musuh yang akan datang. Contoh: jika kita sebagai pendka syafaat, tetapi salah seorang keluarga terdekat kita “salah jalan”, maka jangan salahkan anggota keluarga tsb, sebab yang salah adalah kita yang tidak berjaga-jaga atas keluarga kita.

Dalam budaya Ibrani, waktu jaga dibagi menjadi 8 bagian:
– pk. 18.00 – 21.00
– pk. 21.00 – 24.00
– pk. 00.00 – 03.00
– pk. 03.00 – 06.00
– pk. 06.00 – 09.00
– pk. 09.00 – 12.00
– pk. 12.00 – 15.00
– pk. 15.00 – 18.00

Keluaran 14:24 Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu.
Pada pk. 00.00 adalah saat pertarungan di alam rohani, dukun-dukun melepaskan kutuk-kutuk mereka di malam hari. Di sinilah saatnya untuk mematahkan kuasa kegelapan dan berseru agar terang Yesus datang untuk mengalahkan kegelapan. Para pendoa syafaat Rayon 2 menjadi perisai doa bagi Gembala Pembina (Pdt. Niko Njotorahardjo) pk. 00.00 – 01.00 WIB.

Kita dipanggil lebih dari sekedar untuk melihat camp musuh, tetapi kita diajak untuk melihat ke dalam camp Tuhan dan melihat apa yang ingin Tuhan lakukan.

Advertisements