Mengelola Keuangan Keluarga

ISHAK DI NEGERI ORANG FILISTIN (KEJADIAN 26:1-33)

Kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dengan mengerti step by step yang Ishak lalui ketika krisis keuangan terjadi, yaitu:

Step 1 – Ada krisis ekonomi dunia setelah pernikahan. Kejadian 26:1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. —Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Masalah keuangan bukanlah masalah zaman now, melainkan terjadi dari zaman dahulu. Selama melajang masalah keuangan tidak terlalu menjadi beban, tetapi setelah menikah masalah keuangan menjadi hal yang sangat vital. Mengapa? Karena ketika melajang semua dapat diputuskan sendiri, tetapi ketika menikah tidak mudah menyamakan dua pikiran yang berbeda dalam mengelola keuangan.

Step 2 – Sepakat untuk “banting stir” atas perintah Tuhan. Kejadian 26:2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Jangan pergi ke Mesir artinya jangan mengandalkan cara manusia ketika krisis menimpa. Ishak pergi kepada Abimelekh, hal ini serupa dengan yang dilakukan Abraham ketika terjadi krisis di masa lalu. Hal yang harus kita perhatikan adalah pentingnya sejarah krisis hidup orang tua (bukan hanya sejarah keberhasilan) diceritakan kepada anak agar suatu saat ketika anak mengalami hal serupa pun akan meneladani apa yang pernah dilakukan orang tuanya untuk kembali ‘menyelamatkan hidup’. Jika teladan di kala krisis tidak diceritakan, anak hanya tahu bagaimana menikmati hidup dalam kekayaan tapi tidak tahu bagaimana membangun hidup dalam kemiskinan. Prinsip keuangan dimulai dari didikan keluarga.

Step 3 – Berkemah bukan menetap (konsep persiapan). Kejadian 26:3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Tinggal sebagai orang asing berarti menjadi seorang perantau di negeri orang. Prinsip orang perantau yang tidak dimiliki oleh orang menetap, yaitu prinsip persiapan sesuatu untuk masa depan. Abraham, Ishak, dan Yakub adalah perantau; dan terbukti bahwa orang-orang perantau sebagian besar lebih sukses dibandingkan orang-orang yang menetap. Miliki mindset “berkemah” karena kita tidak selamanya menetap di bumi. Tanpa persiapan untuk keluar dari “zona nyaman”, tak akan ada kemajuan (malah kehancuran). Hidup harus ada persiapan, jangan ber-mindset “gimana nanti lah” tapi harus ber-mindset “nanti gimana?”.

Step 4 – Menjaga hubungan keluarga. Kejadian 26:8 Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, isterinya. Dari hal ini terbukti bahwa dalam keadaan krisis sekalipun, hubungan Ishak dan isterinya tetap harmonis. Uang gampang bocor jika keluarga tidak harmonis.

Step 5 – Mulai menabur untuk usaha. Kejadian 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Tidak ada seseorang yang menanam buah kemudian memanennya di tahun yang sama. Ini artinya Ishak menerima unusual miracle. Jika Alkitab mencatat bahwa unusual miracle pernah terjadi, pasti kita pun bisa mengalaminya. Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (=berkat itu tidak sama sepanjang waktu melainkan ‘bermusim’), dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Step 6 – Mencari sumur di padang pasir. Kejadian 26:19-22 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: “Air ini kepunyaan kami.” Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.” Esek artinya perdebatan, Sitna artinya perselisihan; Rehobot artinya tempat yang luas. Hal ini menandakan bahwa memperluas suatu usaha bukanlah hal yang mudah, selalu penuh perjuangan dan persaingan.

Step 7 – Sumur Abraham, yaitu Bersyeba. Kejadian 26:23,26-33 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka: “Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?” Jawab mereka: “Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN.” Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: “Kami telah mendapat air.” Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang. Ada saja orang yang iri ketika Tuhan telah memberkati kita berlimpah-limpah, kita harus berdamai dengan mereka.

JANJI TUHAN YESUS

  1. Matius 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang (suami istri) dari padamu di dunia ini sepakat (dengan yakin, juga harus sama-sama tahu dan mau) meminta (bersifat rahasia) apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
  2. Matius 19:5-6 Dan firman-Nya: Sebab itu lakilaki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (jika suami istri telah sepakat maka tak ada satupun kuasa manusia yang dapat membatalkannya)

SEPAKAT

Suami istri harus sepakat secara roh, jiwa dan tubuh. Jika tidak demikian, tentu berpengaruh terhadap 4 hal vital kehidupan manusia, yaitu: KEUANGAN, KESEHATAN, HUBUNGAN, DAN EMOSI. Keempat hal tersebut harus seimbang komposisinya, sebab akan menjadi penentu maju atau tidaknya kehidupan kita.

Contoh: ketika masalah KEUANGAN terjadi, jika tidak menjaga hati tentu suami istri akan mudah EMOSI sehingga HUBUNGAN menjadi renggang dan berdampak pada menurunnya kualitas KESEHATAN.

Jika salah satu dari keempat hal vital tersebut hancur, maka 3 hal lainnya pun turut hancur. Jadi, jika ada 1 hal diantaranya sedang bermasalah, pertama-tama kita harus mendoakan 3 hal lain yang sedang tidak bermasalah, terakhir kita doakan 1 hal yang sedang bermasalah. Jika dari awal kita hanya fokus mendoakan 1 hal yang sedang bermasalah tersebut tanpa memperhatikan 3 hal lainnya, tentu setelah 1 hal yang bermasalah tersebut membaik sebenarnya 3 hal lain yang tidak ‘terperhatikan’ sudah diserang selama masa pemulihan 1 hal yang bermasalah tadi. Tentu kita tidak menginginkan “1 sembuh, 3 kambuh”.

KONSEP TURUNAN

  1. Milik bersama – WE concept (bukan ME concept), artinya semua barang milik masing-masing bebas pakai tanpa perlu izin tertulis. Suami istri adalah satu tubuh, jadi mindset-nya: jika saya salah maka pasangan saya jadi korban, jika pasangan saya salah maka saya jadi korban. Dengan demikian, suami istri akan saling menjaga barang-barang milik pasangannya. Jangan saling menyalahkan!
  2. Keterbukaan informasi dan akses keuangan (saling tahu income masing-masing). Lukas 12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Pernikahan bukanlah dua pribadi yang hidup sendiri-sendiri tapi tinggal bersama, dalam pernikahan segala sesuatunya harus sepengetahuan bersama.
  3. Tidak ada gaji menggaji antara suami istri. Total gaji adalah uang bersama, harus bisa saling mengambil uang. Yang menjadi pengatur keuangan adalah yang paling bisa mengelola uang (tidak mesti harus selalu istri). Suami istri tidak bisa menyatu dalam hal-hal lain jika tidak bisa bersatu dalam hal keuangan. Nasihat orang tua yang berkata, “Perempuan itu harus bisa cari uang sendiri, nanti kalau suami macem-macem tinggal tendang, ga rugi!” itu salah besar, sebab menanamkan prinsip pemisahan keuangan antara suami dan istri. Puji Tuhan jika suami istri sama-sama menghasilkan nafkah, tapi tidak boleh ada pemisahan keuangan.
  4. Tidak ada saling pinjam bahkan hutang. Tidak ada istilah hutang kepada diri sendiri. Jika suami istri adalah satu, tentu tidak bisa saling berhutang.
  5. Pembagian tugas dan beban. Suami istri harus saling berbagi pemahaman agar sama-sama mengerti dalam mengerjakan suatu hal bisa saling back-up. Jangan sampai saling tidak mau tahu tentang pekerjaan masing-masing, justru suami istri harus saling mendukung (meskipun bukan ahli di bidang yang digeluti oleh pasangan). Menjadikan orang lain sebagai ‘tangan kanan’ kita lebih dari pada pasangan kita (dalam hal kepercayaan, pemahaman, penolong dalam pekerjaan) sangat tidak dianjurkan karena bisa merenggangkan hubungan suami istri bahkan menimbulkan perselingkuhan.

Masalah keuangan muncul akibat komunikasi yang tidak baik antara suami dan istri. Komunikasi yang baik lahir dari suami istri yang sepakat dan bersatu.

POLA KEUANGAN

Pola keuangan adalah masalah input & output. Input (pemasukan) harus lebih banyak dibandingkan output (pengeluaran). Jangan besar pasak dari pada tiang!
INPUT

  1. MENGGALI SUMUR. Ini tahap ketika Ishak menggali Esek & Sitna hingga memperoleh Rehobot, kita harus memiliki:
    • Calling (panggilan), diperoleh dari Tuhan maka harus banyak berkomunikasi dengan Tuhan. Jangan “buka sumur” tanpa panggilan Tuhan!
    • Competency (kompetensi/talenta), diperoleh dari kelas-kelas pengembangan diri baik formal maupun informal. Semakin kita mengenal talenta kita maka semakin kita mengerti panggilan kita karena talenta akan mengisi panggilan kita.
    • Courage (keberanian), diperoleh dari pengalaman demi pengalaman akhirnya kita berani mengambil suatu keputusan untuk melangkah lebih maju dalam karir kita (ada instinct).
    • Coaching (mentoring), diperoleh dari komunitas yang saling membangun dalam karir. Jaga jarak terhadap orang-orang yang ‘tidak bermanfaat’ dalam mengembangkan karir kita, contoh: teman-teman yang selalu ajak ngerumpi dan nongkrong tanpa memikirkan masa depan.
  2. MENJAGA SUMUR, di tahap ini kita harus memiliki:
    • Kegigihan/ketangguhan (persistensi)
    • Keyakinan (jangan ada keraguan dalam melangkah)
    • Standar kualitas (kita harus kreatif dalam berkarir tapi tidak melenceng dari standar yang telah baku)
  3. MENGEMBANGKAN SUMUR. Kesuksesan dalam kekristenan itu bertahap didaki seperti tangga, bukan cepat naik turun seperti roda. Hanya perkenanan Tuhan-lah yang membawa kita bisa sampai ke tahap ini, sehingga kita memiliki:
    • Karakter
    • Koneksi
    • Komunikasi
    • Keteraturan (manajemen doa)
    • Kreativitas
  4. MEMBANGUN NILAI. Ini tahap ketika Ishak tiba di Bersyeba, kita harus membangun:
    • Komunitas sosial (selain komunitas bisnis)
    • Nilai keluarga dan pribadi (sesuai panggilan yang Tuhan taruhkan di hati kita, contoh: membiayai anak-anak putus sekolah, mengunjungi panti jompo, dll)

OUTPUT (utamakan poin 1,2 dibandingkan poin 3,4,5)

  1. Belanja rohani, seperti: persepuluhan, menabur bagi pembangunan rumah gereja, mengikuti kelas pemahaman Alkitab, membeli CD lagu rohani, dll.
  2. Tabungan & investasi. Tabungan sifatnya menahan uang agar tidak terpakai tapi nilai uang tidak berkembang (bahkan cenderung berkurang jika terpotong biaya administrasi bank ataupun tergerus inflasi), sedangkan investasi sifatnya mengembangkan uang di instrumen-instrumen yang dapat menambah nilai uang kita sehingga tidak tergerus inflasi (contoh: membeli tanah, saham, membeli alat musik akustik – yang mana semakin lama harga barang-barang tersebut akan semakin naik, bukan turun). Hindari membeli barang-barang yang nilai jualnya semakin lama semakin turun. Paling tidak 10% dari pendapatan kita selalu disisihkan untuk keperluan masa depan. Don’t put you eggs in one basket!
  3. Belanja gaya hidup, seperti membeli mobil dan handphone (jangan melampaui investasi).
  4. Belanja rutin, seperti beras, shampoo, listrik, dll.
  5. Belanja investasi tak berwujud, seperti: memasukkan anak ke les menggambar (belum tentu anak akan sukses di bidang menggambar), memasukkan anak ke sekolah tari (belum tentu anak akan bekerja sebagai penari). Maka kita harus menyesuaikan kelas-kelas kursus dengan talenta yang dimiliki agar tidak sia-sia (anak pun tidak terpaksa mengikutinya).

PERTANYAAN AWAL USAHA

Sebelum memulai sebuah usaha, kita harus tanyakan kepada diri sendiri:

  1. Produknya barang atau jasa, atau keduanya? Harus disesuaikan dengan talenta.
  2. Siapa pembelinya? Harus ada komunitas yang berpotensi menjadi konsumen.
  3. Siapa pengendalinya? Ini berhubungan dengan manajerial dan pemilihan lini produk. Contoh: dari sebuah usaha bakmi ayam, ada banyak bagian yang bekerja sama, yaitu produsen mie, produsen mangkuk, petani sayuran sawi, pemasok ayam, dll. Fokus kita mau “pegang” bagian yang mana? Mulailah dari hal-hal kecil.
  4. Ketersediaan waktu? Kita akan terjun langsung ke lapangan (usaha utama) atau hanya sebagai ‘pendukung’ (usaha sampingan)?
  5. Pioneer atau pengikut? Perlu originalitas jika hendak menyandang gelar pioneer, dan perlu kreativitas atau modifikasi jika kita menjadi pengikut.

FOKUS KEGIATAN USAHA

Bisnis kita ditopang oleh 4 hal berikut, yaitu:

  • MAN (sumber daya manusia), harus ada orang yang bertalenta.
  • MONEY (uang), harus ada manajemen agar semua teratur.
  • MACHINE (mesin penggerak), harus ada karakter yang kuat untuk menopang kesuksesan kita.
  • METHOD (metode), harus ada jejaring. Apakah kita akan terus terjun di lapangan ketika usaha semakin berkembang sedangkan tenaga kita semakin merosot akibat faktor usia? Apakah cara menjual kita akan selalu face to face sedangkan zaman berubah dengan cepat dan semua dituntut untuk online? Kita harus memikirkan bagaimana mewariskan skill pada orang yang bisa dipercaya dan memperbaharui strategi penjualan kita agar bisnis tidak bangkrut.

“Pernikahan merupakan panggilan mulia dari Tuhan. Karena itu, seharusnya hidup kita semakin naik setelah menikah, bukan semakin turun.”

Advertisements