Hal Kekuatiran

Matius 6:25-27, 31-34 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Kata “kuatir” di ayat tsb menggunakan Bahasa Yunani yang berarti cemas berlebihan, gelisah berlebihan, perhatian kita sepenuhnya tertuju kepada hal yang mengganggu.

Kalimat “hidup itu lebih penting” di ayat tsb didefinisikan sebagai:

  • Nafas hidup yang Tuhan berikan itu lebih penting dibandingkan segala kekuatiran yang berlebihan tsb.
  • Roh manusia (pikiran yang sehat) itu jauh lebih penting sebagai tanda seseorang tsb rohani, juga memiliki pertimbangan logis yang objektif (seimbang). Dengan demikian, akan mudah bagi kita untuk mempercayai firman Tuhan. Bilangan 23:19  Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Hal ini sudah terbukti dari generasi ke generasi, bahwa janji-Nya ialah ya dan amin.
  • Kekekalan jauh lebih penting bagi untuk diutamakan dibandingkan memusingkan perkara duniawi.

Kata “jauh melebihi” (=diafero, Yun.), berarti ditanggung dengan lebih sempurna.

Filipi 4:6-9 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Kuatir berasal dari pikiran yang tidak benar, yaitu tidak mempercayai firman Tuhan yang diwahyukan kepada kita. Jadi, kesadaran untuk berpikir benar berasal dari dalam diri kita dengan berprinsip bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara. Dasar kita percaya pada Tuhan, yaitu: janji-Nya sudah terbukti, Ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan, He is The Master Logic.

Medan pertempuran terbesar dalam hidup adalah di pikiran kita, jadi jika kita bisa memenangkan pikiran kita maka hidup kita merdeka dari kekuatiran. Kekuatiran hanya akan menghambat langkah kita dan tidak melihat hal-hal yang baik. Maka dari itu, kita harus mengenal siapa yang kita sembah agar secara natural dapat berpegang pada firman-Nya dan menerima janji-janji-Nya.

Kerajaan Allah menandakan bahwa pemerintahan Allah mutlak ada dalam kita, dengan demikian apapun yang kita butuhkan (bahkan tidak diminta) akan ditambahkan oleh Tuhan. Jangan biarkan perasaan mendominasi jalan hidup kita, maka kekuatiran akan menyingkir dengan sendirinya. Kita tidak bisa lari dari kenyataan atau menyerah pada kenyataan, maka biasakanlah untuk berpikir benar sesuai firman Tuhan.

1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Kata “serahkanlah” (=epiripto, Yun.), artinya melemparkan ke atas (jangan dipegang lagi). Kata “memelihara” artinya Ia peduli dan tertarik pada apa yang kita lempar. Tuhan Sang Pencipta gravitasi, maka tak ada gravitasi apapun yang dapat membuat Tuhan melepaskan hal yang sudah kita lempar kembali lagi ke bawah. Kita selalu butuh pertolongan Tuhan dalam segala hal sebab tak dapat kita menyelesaikannya sendiri.

Amsal 12:25 Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.

Kata “membungkukkan” (=saha, Ibr.) artinya membuat seseorang tertekan lalu lemah, juga membuat seseorang akan sakit hingga tumbang. Kata “perkataan yang baik” didefinisikan sebagai perkataan bijak yang bersumber dari Allah.

Advertisements