Enter The Gate

Kisah Para Rasul 3:1-10 Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: “Lihatlah kepada kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.

Hari-hari yang berlalu adalah pintu-pintu gerbang kehidupan yang Tuhan beri sebagai kesempatan baru bagi kita. Rutinitas dapat “melumpuhkan” kehidupan kita, baik secara jasmani maupun rohani. Lumpuh dimaksudkan hidup namun tanpa pergerakan/terobosan. Hal yang harus kita lakukan agar tidak dilumpuhkan oleh rutinitas, yaitu:

  1. Menyadari waktu Tuhan. Kita harus menjadi orang yang semakin rohani di hadapan Tuhan, itulah kunci keberhasilan kita.
  2. Mengharapkan mujizat. Hidup kita tergantung mata kita, Lukas 11:34 Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Mata kita harus tertuju pada Tuhan. 

    Kita ada di “Gerbang Indah Bait Allah”, jangan biarkan hal-hal indah berlalu dilumpuhkan oleh rutinitas kita.

    Advertisements