HEAVENOUS

Tuhan, Gembala Yang Baik (The Good Shepherd)

Posted on: October 2, 2016

  • In: Uncategorized
  • Comments Off on Tuhan, Gembala Yang Baik (The Good Shepherd)

​Mazmur 23:1-3  Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar (jalan yang sepantasnya, jalan yang memang seharusnya) oleh karena nama-Nya. 

Mazmur tersebut mencatat tempat yang terbaik bagi domba, tetapi di ayat selanjutnya tercatat tempat yang tidak menyenangkan.

Mazmur 23:4  Sekalipun (‘sekalipun untuk itu’ – original context) aku berjalan dalam lembah kekelaman (bayang-bayang maut – English Version), aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 

Ingat, Tuhan adalah Gembala yang baik, jadi tak mungkin Ia punya tujuan yang buruk untuk domba-domba-Nya. Lembah kekelaman memang sangat menakutkan tetapi mari kita ambil keputusan untuk tidak takut bahaya. Mengapa? Karena harta utama seorang gembala adalah domba-dombanya, berarti kitalah harta yang paling berharga bagi Tuhan jadi tak mungkin Tuhan menghendaki kehancuran kita, pasti Ia menjagai kita hingga kita mencapai air yang tenang. Sebagai domba, kita harus tetap percaya pada Tuhan bahwa kita akan tiba di air yang tenang setelah melalui lembah kekelaman, lembah tersebut hanya ‘jembatan’ yang entah berapa panjangnya harus kita lalui dengan bersabar.

2 Tawarikh 17:6a  Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN.

Mari kita meneladani Tuhan Yesus ketika melalui lembah kekelaman! Lukas 22:52-53  Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.” (BIS – Tetapi inilah saatnya kalian bertindak, saat kuasa kegelapan memegang peranan.)

Lukas 23:25b Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

Tuhan Yesus berbuat sebaik apapun, tetap ada saja orang-orang yang berprasangka buruk (jahat) terhadap-Nya; dan sikap Yesus hanya ‘menyerahkan Diri’ untuk diperlakukan semau-maunya karena bagaimanapun Yesus melawan, Ia tak bisa melawan. Inilah yang dimaksud ‘lembah kekelaman’ itu, dan semua domba harus mengalaminya (tetapi dalam konteks: ‘masalah terjadi bukan karena kesalahan kita’).

Mazmur 22:1  Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. 

Ayat tersebut merupakan ‘nubuatan’ bahwa Yesus akan mengalami lembah kekelaman. Lembah kekelaman tidak masalah untuk kita lalui asalkan Tuhan tetap beserta kita. Tetapi bagaimana jika terjadi seperti ayat di atas, yaitu ketika kita ‘sudah jatuh, tertimpa tangga’ (seperti ‘ditinggalkan’ Tuhan saat dalam masalah)?

Mazmur 22:18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. 

Pakaian termasuk kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan, papan). Dalam hal ini bahkan Yesus ‘direbut hak-Nya’ tetapi Yesus tetap sabar, berbanding terbalik dengan sikap manusia pada umumnya yang akan melawan/membalas jika disakiti (Matius 26:51-52  Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.)

Mazmur 22:6 Tetapi aku ini ulat (Bahasa Ibrani: ulat Tola – bukan ulat hama yang merusak tanaman melainkan diambil dari tempat-tempat liar dan dibudidayakan di dalam istana untuk dimanfaatkan sebagai sumber pewarna pakaian anggota kerajaan) dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. 

Yesus saja menganggap dirinya sebagai ‘ulat Tola’, maka kita sebagai domba-Nya pun harus mengikuti teladan-Nya, yaitu tetap mengeluarkan kebaikan seperti Kristus ketika kita ‘ditekan’.

Kejadian 50:20  Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya (mengubah arah, membelokkan) untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 

Mungkin sekarang kita sedang merasa berada di ‘titik kritis’ hidup kita tetapi tetaplah percaya bahwa Allah kita sanggup ‘membelokkan keadaan’, mari responi setiap kejadian sesuai maksud Allah bagi kita! Kita bukan satu-satunya orang yang menderita, semua domba-domba Allah mengalaminya: Yusuf, Daud bahkan Tuhan Yesus pun mengalaminya. Akan tiba saatnya kita berada di air yang tenang itu setelah melewati lembah kekelaman ini.

Category

%d bloggers like this: