HEAVENOUS

From Needs To Seeds

Posted on: August 7, 2016

Bersama Tuhan bukan berarti kita “dikecualikan” dari tantangan hidup, tetapi kita masih bisa berbuah di tengah tantangan karena segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.

Filipi 4:13, 19  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 

Ketika kita meyakini Firman Tuhan tetapi kehidupan kita tidak juga berubah, berarti ada yang salah dalam diri kita yaitu salah memahami Firman Tuhan. 

Yohanes 11:3, 6, 17  Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 

Mengapa Yesus “menunda” untuk menyembuhkan Lazarus? Tuhan menghendaki mereka mengalami pertumbuhan rohani melalui penundaan dan berusaha membuat mereka lebih kuat. Tuhan tidak menghendaki kita terus menjadi “bayi Kristen”, Tuhan menghendaki kita menjadi Kristen yang dewasa. Bayi terus fokus kepada dirinya sendiri sedangkan orang dewasa peduli akan kehidupan orang lain.

Kita memiliki berbagai kebutuhan tetapi bagaimana agar kita menjadi Kristen yang tidak fokus kepada persoalan pribadi terus? 

Filipi 4:10  Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Banyak kesempatan yang Tuhan ciptakan agar kita mengalami pertumbuhan rohani tetapi seringkali kita tidak peka karena terlalu fokus kepada masalah, bukan maksud Tuhan dibalik masalah tersebut.

Sangat wajar jika kita mengalami kekurangan tetapi adalah salah jika kita memiliki pola pikir yang berkekurangan. Tuhan merespon iman kita, bukan kebutuhan kita. Karenanya, jadilah orang beriman bukan ‘pengemis’ berkat Tuhan.

Kebahagiaan dan rasa cukup pada diri sendiri adalah proses pertumbuhan kekristenan kita yang berhubungan dengan pola pikir kita, tidak berhubungan dengan keadaan lahiriah kita. Jika kita rindu diberkati Allah, maka kita harus memiliki pola pikir yang benar terlebih dahulu, yaitu: di dalam Kristus, kita selalu bisa.

Filipi 4:17  Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kristen yang dewasa, bertanggung jawab dan peduli kepada orang lain adalah buah yang Tuhan kehendaki, bukan terus-menerus menjadi Kristen anak-anak yang egois.

Lalu, bagaimana untuk berpindah “from needs to seeds”?

1) Menjadi penabur, menjadi pemberi. 2 Korintus 9:10  Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; Kuasa Allah akan melipatgandakan benih yang kita tabur untuk mencukupkan segala kebutuhan kita bahkan berkelimpahan. Allah sanggup menyediakan segala kebutuhan kita. Allah menyediakan benih bagi kita sebagai “modal” untuk kita lebih diberkati dan menjadi berkat bagi orang lain. Kita menabur bagi kebaikan kehidupan kita di masa depan, bukan masa kini. Karenanya jangan “berpikir instan” bahwa Tuhan akan segera mengembalikan benih yang kita tabur. Jadikan menabur sebagai gaya hidup. Makin besar kita menabur, makin besar kita menuai.

2) Memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu. Filipi 2:4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Orang yang egois seringkali “melewatkan” berkat Tuhan. Mari kita meneladani seorang anak kecil yang merelakan bekalnya untuk kepentingan orang banyak, sehingga mujizat dalam kisah 5 roti dan 2 ikan terjadi dalam hidup kita. Fokus anak itu adalah menolong orang lain terlebih dahulu, di atas kepentingannya sendiri. Kita harus rindu agar bukan hanya kebutuhan kita yang tercukupi, tetapi kebutuhan orang lain juga.

3) Mencari Tuhan sebagai satu-satunya sumber dan penyedia kehidupan kita, bukan manusia. Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menyediakan segala kebutuhan kita secara supranatural. Matius 6:33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Jika kita fokus kepada Sang sumber berkat, maka kita tak akan dipusingkan oleh segala kekurangan kita.

Let’s be a ‘seeds Christian’, not a ‘needy Christian’. It’s not about what you need but it’s about what you have for God’s Kingdom. Kita akan tiba di suatu tempat di mana Tuhan mencukupkan segala kebutuhan kita. Tuhan sangat rindu memberkati kita.

Category

%d bloggers like this: