HEAVENOUS

Melayani & Tidak Ditolak

Posted on: April 30, 2016

Kita percaya bahwa ada orang yang terlebih dahulu mendoakan kita sehingga kita bisa mengenal Tuhan sekarang, maka kita pun “berhutang doa” untuk mendoakan keselamatan orang lain.

Mazmur 4:6 Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!

Persembahan yang “benar” bukan sekedar persembahan yang “baik”. Kita bisa “menipu” orang lain dengan ibadah-ibadah kita yang terlihat baik tetapi Tuhan yang tahu hati kita yang menilai apakah ibadah kita “benar” atau tidak di hadapan-Nya.

1 Korintus 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Karunia rohani dari Tuhan kepada kita, tidak akan Ia ambil kembali. Kita mungkin masih bisa “melakukan mujizat” (contoh: karunia kesembuhan) meski kita sedang berdosa. Mengapa? Karena Tuhan melihat “pasien” (orang-orang yang harus disembuhkan), bukan melihat kita (hamba yang dipercayakan karunia kesembuhan meski sedang berdosa). Tuhan pun bisa saja memakai batu, minyak, air atau benda lain untuk menyembuhkan orang. Jangan kira setelah kita banyak melakukan mujizat dan perkara-perkara besar, lalu kita akan masuk surga. Tuhan tetap melihat karakter hati kita, jangan sampai setelah banyak membawa jiwa bagi Tuhan lalu kita sendiri ditolak Tuhan.

Pesan Tuhan melalui Pak Tonny saat mengajar di Proskuneo beberapa hari lalu:
“Camkan anak-Ku, Aku perlu “angka kegenapan”. Aku percayakan kalian (para pendoa syafaat) sebagai angka kegenapan-Ku. Angka kegenapan itu seharusnya penuh, tetapi menjadi tidak penuh karena kalian sendiri.”
Maksudnya: Tuhan begitu menanti setiap kita dalam setiap pertemuan-pertemuan ibadah. Misal, harga 1 barang adalah 1.000.000 tetapi karena uang yang kita miliki hanya 999.000, maka tetap saja kita tidak bisa membeli barang tersebut. Hal ini terjadi ketika kita berkata “Gak apa-apa, saya ijin pir, saya ga datang pertemuan, gak apa-apa…karena masih banyak yang lain yang hadir. Gak ada saya juga gak apa-apa. Nanti saya bisa beli DVD kotbahnya atau menunggu ringkasan kotbahnya saja.” Nah, karena “ulah kita” yang seperti inilah angka kegenapan yang Tuhan kehendaki tidak tergenapi dan sadarilah betapa kita sangat mendukakan Tuhan karena hal ini. Mari kita sebagai pendoa syafaat “menaikkan standar” ibadah kita di hadapan Tuhan. Ibadah pada Tuhan karena ingin mendekat pada-Nya, menghargai hubungan kita dengan-Nya, tanpa motivasi lain, atau karena “paksaan absen”. Apakah karakter mempelai Kristus itu ada pada kita? Biarlah kita siap kapan pun rapture tiba, meskipun mendadak.

Category

%d bloggers like this: