HEAVENOUS

Eternal Marriage (Pernikahan Yang Abadi)

Posted on: September 27, 2015

Shalom!
Setiap orang pastilah mendambakan sebuah pernikahan yang abadi, tetapi pada kenyataannya kebanyakan masyarakat modern (termasuk anak Tuhan) mengalami kegagalan pernikahan. Semakin hari sebuah pernikahan di mata dunia bukanlah menjadi sesuatu yang sakral lagi, bukan menjadi sesuatu yang kudus lagi. Pesta pernikahan yang mewah bukanlah jaminan pernikahan yang bahagia, tetapi pernikahan yang sesungguhnya itu dimulai setelah pesta pernikahan berakhir. Pernikahan itu bukanlah hal yang instant dan mudah, tetapi pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang yang harus diperjuangkan meskipun banyak terjadi hal-hal yang tak terprediksi. Mari kita belajar dari kisah perkawinan di Kana. Yohanes 2:1-11 berkata “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” Anggur di pesta pernikahan orang Israel merupakan lambang kehormatan, sukacita dan kebahagiaan, begitu juga dengan pernikahan kita harus penuh dengan kehormatan, sukacita dan kebahagiaan; jangan sampai pernikahan kita sampai “kehabisan anggur”. Tuhan membenci perceraian, tidak ada kebahagiaan ketika kita melanggar kehendak Tuhan. Lalu, mengapa sebuah pernikahan gagal (kehabisan anggur)?
1) Kurangnya persiapan. Perhatikan bahwa iblis berusaha menghancurkan pernikahan-pernikahan orang Kristen sehingga menghasilkan keturunan-keturunan yang lemah dan mudah jatuh dalam berbagai dosa, bukannya keturunan Ilahi yang kuat dan menjadi anak-anak Terang.
2) Kejadian di luar dugaan. Mungkin saja terjadi hal-hal yang mendadak dalam menjalani pernikahan kita.

Berikut adalah kriteria pernikahan yang sehat, yaitu:
a) Bukannya berarti tidak pernah bertengkar namun bisa menyelesaikan pertengkaran sehingga tidak berlarut-larut. Yakobus 1:19-20 berkata “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”  Efesus 4:26 berkata “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” Kita harus menyelesaikan pertengkaran dengan pasangan kita dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
b) Bukannya berarti tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, tidak pernah sedih, namun yang penting adalah setelah merasakan semua itu kita masih bisa menerimanya kembali. Roma 15:7 berkata “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” 
c) Bukannya selalu mesra penuh cinta seperti dalam cerita, tapi lebih sering ada perasaan sayang, terutama kasih. Kolose 3:18-21 berkata “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

Lalu bagaimana kita membangun sebuah pernikahan yang sehat? Suami dan istri masing-masing harus selalu mencari Tuhan dan semakin mendekat kepada-Nya agar kita pun semakin dekat dengan pasangan kita. Hubungan kita dengan Tuhan mempengaruhi hubungan kita dengan pasangan kita. Tuhan akan bekerja ketika kita semakin dekat dengan Tuhan, karenanya kita harus  mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Tuhan sanggup melakukan mujizat dalam ketidakberdayaan kita untuk mempertahankan pernikahan karena pernikahan adalah sebuah hal yang penting bagi Tuhan. Peristiwa pernikahan di Kana bukanlah sebuah mujizat biasa, namun hal yang berarti besar bagi Tuhan. Kita harus rela bayar harga dalam mempertahankan pernikahan kita tetap utuh dan teguh sehingga Tuhan pun berkenan.

Category

%d bloggers like this: