HEAVENOUS

The Art Of Character

Posted on: June 5, 2015

Shalom! Hidup kita tidak boleh dibangun diatas dasar karunia, tetapi harus dibangun diatas karakter Ilahi. Panggilan tertinggi kita adalah menjadi seperti Kristus. Rahasia urapan Allah ada atas kita adalah selalu menjaga hati. Bilangan 20:22-29 berkata “Setelah mereka berangkat dari Kadesh, sampailah segenap umat Israel ke gunung Hor. Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa dan Harun dekat gunung Hor, di perbatasan tanah Edom: “Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, sebab ia tidak akan masuk ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel, karena kamu berdua telah mendurhaka kepada titah-Ku dekat mata air Meriba. Panggillah Harun dan Eleazar, anaknya, dan bawalah mereka naik ke gunung Hor; tanggalkanlah pakaian Harun dan kenakanlah itu kepada Eleazar, anaknya, kemudian Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya dan mati di sana.” Lalu Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN. Mereka naik ke gunung Hor sedang segenap umat itu memandangnya. Musa menanggalkan pakaian Harun dan mengenakannya kepada Eleazar, anaknya. Lalu matilah Harun di puncak gunung itu, kemudian Musa dengan Eleazar turun dari gunung itu. Ketika segenap umat itu melihat, bahwa Harun telah mati, maka seluruh orang Israel menangisi Harun tiga puluh hari lamanya.” Eleazar bisa dikatakan anak yang ‘malang’ tetapi ia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya, itulah karakter Ilahi. Seseorang yang selalu tak pernah puas adalah orang yang masih memiliki kesombongan dihatinya. Mengalah bukan berarti tidak memiliki prinsip hidup, melainkan disitulah sumber kuasa Allah nyata bagi kita. Apa yang kita keluhkan, menunjukan siapa diri kita sebenarnya. Karakter Ilahilah yang membuat kita ‘stay on top’, bukan mujizat ataupun talenta. Hidup yang tidak dibangun diatas dasar karakter Ilahi pasti akan berakhir berantakan. Seseorang yang memiliki karakter Ilahi pasti tekun belajar dalam segala hal, termasuk belajar dari kesalahan di masa lalu. Apapun yang terjadi, kita tidak boleh mengeluh akan keadaan. Hal yang patut kita keluhkan adalah diri kita sendiri (introspeksi atas kekurangan diri kita). Hal terpenting yang harus kita wariskan kepada keturunan kita adalah warisan rohani, bukan harta semata. Harus ada ‘kematian kedagingan’ untuk menerima urapan khusus dari Tuhan. Kita harus hidup takut akan Tuhan sejak dini agar mampu hidup bijak (berhikmat) di masa mendatang dan menjadi berkat bagi banyak orang. Orang yang berhasil adalah orang yang memiliki kekuatan karakter Ilahi, bukan orang yang dilimpahi dengan segala kehebatan. Amsal 4:23 berkata “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Mazmur 37:37 berkata “Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan” Orang-orang yang tak memiliki karakter Ilahi akan mudah kecewa kepada Tuhan maupun orang lain lalu memberontak dan tentunya tidak layak menjadi pemimpin (karena pasti mudah terpengaruh oleh ketidakbenaran), sedangkan orang-orang yang memiliki karakter Ilahi pasti akan tetap menjaga hati di tengah kebenaran. Jika kita ingin ‘diangkat’ Tuhan, buktikan bahwa diri kita ‘layak’ untuk ditinggikan oleh-Nya. Orang yang tidak memiliki karakter Ilahi akan mudah mengutuki dan mempermalukan leluhurnya ketika mereka kepahitan, sehingga mereka hanya akan mendatangkan kutuk kepada keturunan mereka selanjutnya. “mendengar kepahitan” lebih berbahaya dibanding mengalami kepahitan tersebut sendiri, hal itu ibarat lebih berbahaya menjadi perokok pasif dibandingkan perokok aktif. Kita harus selalu menjaga hati untuk memiliki kehidupan yang terbaik di masa depan. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8) Jaga hati itu karena kita sadar bahwa kita “anak Terang” bukan karena menginginkan upah. Eleazar merupakan seorang pribadi yang “self-less” (tidak egois). Hal ini terbukti ketika Musa memilih Yosua untuk meneruskan kepemimpinannya dibandingkan Eleazar. Dibalik keberhasilan seseorang, selalu ada karakter Ilahi. Orang sabar akan menang dibandingkan orang yang gagah perkasa. Kemuliaan raja adalah menyimpan rahasia, karenanya jika kita anak Allah maka kita harus bisa menjaga rahasia. Jika kita tidak bisa menjaga rahasia, pasti kita tidak bisa menjaga pengurapan Tuhan. Karakter lebih penting dibandingkan karisma semata. Jangan pernah meremehkan diri kita sendiri sebab Tuhan pasti akan memberkati kita keturunan demi keturunan ketika kita setia kepada-Nya. Keturunan kita akan menjadi lebih hebat dibandingkan kita, kuncinya ada pada kita: menjadi leluhur yang menjaga hati bagi Tuhan. Tak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain, tetapi lakukan saja bagian kita maka kelak kita akan terheran-heran melihat keberhasilan keturunan kita yang gilang-gemilang. Dibalik kesuksesan seseorang, selalu ada leluhur yang hidup benar di hadapan Tuhan. Peperangan kita bukan hanya sekarang, tetapi taburlah yang benar agar kita menuai hal yang baik di masa mendatang. Kesuksesan tidak bergantung pada kekayaan (modal) kita, tetapi pada karakter Ilahi (mental) yang ada pada diri kita. Mungkin kita terlihat ‘biasa’, tetapi kita harus memiliki karakter Ilahi (hikmat & kejujuran) yang membuat diri kita ‘luar biasa’. Jangan terburu-buru untuk cepat kaya, tekunlah dalam perkara kecil. Yehezkiel 43:19 bekata “berikanlah kepada imam-imam orang Lewi dari keturunan Zadok seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus dosa, sebab merekalah yang boleh mendekat kepada-Ku untuk menyelenggarakan kebaktian, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Karakter Ilahi membuat kita menjadi “orang kepercayaan Tuhan” dan dipercaya oleh manusia juga. Orang pintar banyak tetapi itu bukanlah segalanya; melainkan orang yang menjaga kepercayaan Tuhan, tidak akan dibuang.

Category

%d bloggers like this: