HEAVENOUS

Fokus Pada Perkara Di Atas

Posted on: May 24, 2015

Shalom! Kolose 3:1-3 berkata “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Semua orang yang percaya kepada Kristus seharusnya memiliki orientasi hidup akan Kristus, yaitu perkara-perkara yang di atas. Ratapan 1:9 berkata “Kenajisannya melekat pada ujung kainnya; ia tak berpikir akan akhirnya, sangatlah dalam ia jatuh, [she never considered tomorrow, now she’s crashed royally] tiada orang yang menghiburnya. “Ya, TUHAN, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!”” Inilah mengapa kita harus hidup dengan terbiasa berfokus kepada perkara-perkara yang di atas, karena jika kita hanya memikirkan perkara-perkara di bumi maka suatu hari kita akan jatuh dengan cara yang memalukan dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Orang Kristen adalah orang yang berkualitas sebab merupakan pribadi yang memutuskan untuk meniru cara Yesus hidup. Memikirkan perkara-perkara yang di atas dan mencari Kristus adalah gaya hidup orang Kristen. Lalu, apa tanda bahwa kita sudah memiliki gaya hidup tersebut?
1) Ketika kita dengan sengaja (sadar) membuang segala hal-hal keduniawian yang membawa kita menjauh dari Tuhan. Kolose 3:5-8 berkata “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kita tak bisa melakukan keduniawian sambil menyembah Tuhan. Kejadian 22:9-12 berkata “Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” [terjemahan lain: Tuhan, tak cukupkah leher Ishak? Jika Tuhan mau leher saya juga, ini saya sembelih.] Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”” Selama kita tidak memiliki takut akan Tuhan, pasti kita tidak akan berani ‘dengan sengaja membuang keduniawian’. Takut akan Tuhan bukan karena takut dihukum, melainkan segan kepada Tuhan karena menghargai karya besar-Nya dalam hidup kita sehingga kita dengan sengaja dan sadar untuk ‘menyembelih’ hal-hal yang dibenci Tuhan, jika tidak tentulah kita akan mengalami kejatuhan demi kejatuhan dalam hidup kita.
2) Ketika kita menjadi seorang pribadi yang secara konsisten mengejar pengetahuan yang benar tentang Kristus sehingga manusia baru kita akan semakin diperbaharui dari hari ke hari menjadi seperti Kristus. Kolose 3:9-10 berkata “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Orang yang tidak mengalami pembaharuan hidup ke arah Kristus disebut sebagai ‘old fashioned man’ (manusia dengan gaya lama – tidak trendy). 2 Timotius 3:16 berkata “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Kita mencari Kristus bukan sekedar untuk diberkati, tetapi karena kehausan untuk diubah menjadi pribadi yang lebih berkualitas seperti Kristus. Semua orang yang terfokus pada kebenaran akan secara natural menjauh dari dosa.
3) Ketika kita menjadi orang yang memutuskan untuk hidup dalam kasih, karena kasih adalah bahasa dalam Kerajaan Allah. Kolose 3:13-14 berkata “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kegagalan kita dalam memikirkan perkara Kristus adalah hafal ayat Alkitab tanpa menjadi pelaku Firman Tuhan. “Your old life is dead. Your new life, which is your real life-even though invisible to spectators-is with Christ in God. He is your life.” (Kolose 3:3) Kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan Kristus yang sedang kita jalani. Kristus adalah kasih, itulah obat penyembuh segala luka di dunia. Ekspresi kasih, yaitu pengampunan tanpa batas [kita harus terbiasa mengampuni orang, sehingga Tuhan mengampuni kita – ini adalah syarat mutlak yang tak bisa diubah, jika kita tidak memiliki hal ini pasti hidup kita menjadi pemberontak. Kita dilengkapi Tuhan dengan kemampuan untuk mengampuni, kuncinya hanya mau atau tidak]. Kita harus terbiasa berdiri untuk hidup dengan standar kasih, jika tidak…kita pasti gagal mengasihi.

Category

%d bloggers like this: