HEAVENOUS

Prioritas Tahun 5775

Posted on: May 9, 2015

Shalom!

Gembala kita terus mengingatkan agar kita terus berjaga-jaga dan membaca Mazmur 91. Pelipatgandaan mujizat disertai pelipatgandaan goncangan juga. Wahyu 6:12-14 berkata “Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut [gerhana matahari total] dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. [gerhana bulan total] Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.” Kita harus senantiasa bersiap-siap agar kelak ketika goncangan tersebut terjadi, kita ada dalam perlindungan Tuhan. Dunia selalu mengalami krisis setiap 7 tahun, yaitu di tahun sabbat (tahun dimana tahun Yahudi bulat dibagi 7). Hal itu terjadi karena perjanjian Tuhan dengan bangsa Israel. Meski begitu, bangsa Israel tetap mengalami perlindungan Tuhan dalam masa krisis karena mereka tahu bagaimana caranya menghadapi krisis berdasarkan Firman Tuhan, yaitu tahun Sabbath adalah tahun dimana mereka ‘praktek’ berharap kepada Tuhan. Tahun Sabbath, bangsa Israel tidak boleh mengolah tanah mereka, karenanya mereka bertahan hidup dengan mengolah usaha di bidang lain selain tanah, yaitu:

  • Ternak berfungsi sebagai korban bakaran bagi Tuhan. Secara profetik, kita harus memberikan ‘korban’ pujian penyembahan kepada Tuhan. Menyembah itu ‘mengangkat tangan’, hal ini berarti menyerah agar Tuhan menyelesaikan segala sesuatunya bagi Tuhan. Ketika kita ‘merasa bisa’ melakukan segala hal, ada baiknya untuk ‘mundur satu langkah’ agar Tuhan yang mengambil alih menyelesaikan segalanya lebih dari yang kita sanggup pikirkan ataupun doakan. Ketika kita merasa mampu melakukan segala hal, kita sulit untuk latihan iman. Ketika kita diizinkan Tuhan untuk mengalami ‘keterbatasan hidup’, disitulah muncul penyembahan kita.
  • Ikan berbicara tentang jiwa-jiwa. Apapun yang kita lakukan akhir-akhir ini, haruslah berdasarkan belaskasihan untuk jiwa-jiwa (apakah tindakan kita berdampak positif/menyelamatkan jiwa-jiwa atau berdampak negatif/’menghilangkan’ jiwa-jiwa).
  • Minyak zaitun, diperlukan agar pelita tetap menyala. Hal ini berbicara tentang pengurapan Tuhan. Urapan Tuhanlah yang menjadikan bangsa Israel begitu diurapi, dimana mereka bekerja dalam waktu yang sebentar tetapi menerima berkat berlimpah-limpah. Hal ini bukan berarti kita hanya mengandalkan urapan, tanpa berusaha. Berusaha boleh saja, tetapi tidak mengandalkan kemampuan sendiri. Semakin kita berfokus kepada perkara duniawi, semakin kita terlilit dalam goncangan. Kita harus tetap bertahan di tengah goncangan, ini saatnya bagi kita untuk ‘praktek iman’.

Category

%d bloggers like this: